Thursday, 3 December 2015

The Way My Heart Beats, Part 1

The Way My Heart Beats


Part 1: Pair of Idiots

“Benar-benar gay.” Por tertawa disebelahku saat kami sedang berdiri di depan kelas.

“Ya.” Dengan sedikit tersenyum, aku setuju dengannya tapi aku sebenarnya tidak menganggap itu lucu. Aku senang untuk Ohm dan Nong Mick karena mereka sudah saling memberitahu. Aku iri pada mereka. Bukan tidak sengaja (aku harap) mereka memberitahukannya pada satu sekolah, tapi akhirnya perasaan mereka telah kembali. Dan lagi, itu bisa saja bukan sebuah hal yang ‘tidak disengaja’ oleh Ohm. Dia pasti sudah merencanakannya agar semua orang di sekolah tau kalau Mick sudah melewati batas kewajaran. Aku tau kalau dia melakukan hal itu banyak sekali ejekan yang akan menghampirinya karena hal itu.

“Hei, Por. Apa kau sudah menyelesaikan laporannya?” Suara yang tidak asing bagitu tiba-tiba mengganggu dan aku merasa menggigil di kulitku. Seorang yang tinggi, kurus dengan sebuah pengeras suara dengan tangannya yang ada di dalam saku. Dia sedikit melihat kearahku dan tidak mengucapkan apapun saat lewat didepanku.

“Ya, Kau?” Por meluruskan pertanyaanku setelah dia melihat handphonenya.

“Sudah.” Seorang pria menjawabnya dengan sebuah anggukan dan sebuah pandangan sekali lagi mengarah kepadaku sebelum dia berjalan melewatiku.

Semua ini sudah terjadi sejak pertengkaran kami di kemah Pharma. Pete, teman baikku, bertingkah seperti aku tidak ada. Tidak ada lagi sapaan baiknya. Kami tidak duduk bersebelahan lagi dikelas, saat makan siang, atau bahkan saat kami ada di perpustakaan jika dia bisa membantu. Aku tidak lagi bisa merasakan senyuman hangatnya atau merasakan nafasnya saat dia bersandar di bahuku. Semuanya sudah hilang dan itu adalah salahku. Aku mengakuinya.

Aku bisa bilang itu adalah kegilaanku pada Noh, orang yang aku sukai sejak lama dan orang yang sudah benar-benar menolakku. Itu semua adalah bagiannya, tapi itu bukanlah segalanya. Pete yang dekat dengan Yuri membuat ku merasa tidak enak dan aku pikir karena dia adalah mantan pacar Noh jadi aku mencoba untuk mengingatkannya untuk menjauh dari Yuri. Saat dia meminta ijin Noh untuk mendekatinya, sesuatu terasa sakit terasa di dalam hatiku dan aku sangat marah. Aku mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak aku katakan dan aku menggunakan alasan tentang pertemananku dengan Noh. Dan akhirnya itu membuat Pete marah. Sebuah pertemanan yang seharusnya selalu bersama berakhir hanya karena kata-kata.

Aku mengakuinya sungguh memalukukan aku menggunakan Noh sebagai alasan. Semuanya bisa melihat kalau dia hanya untuk Phun, jika kau tidak menyadarina, Phun akan membuatnya jelas. Sebuah pemikiran kalau aku adalah saingan Phun, itu hanya sebuah lelucon bagi Noh. Aku tidak pernah punya kesempatan dan tidak juga Yuri. Apa yang kukatakan pada Pete sungguh tidak masuk akal dan jika aku mengatakannya, itu sungguh menggelikan. Aku sangat marah dan aku mencambuknya dengan kata-kataku tanpa berpikir dan aku harus membayar kosekuensinya.

Aku mencoba untuk bersikap biasa padanya saat aku bertemu dia di sekolah setelah kejadian itu tapi dia sudah berubah terhadapku. Setiap saat itu menyakitikan lebih dari yang sebelumnya. Mencoba untuk memberinya makanan tidak berhasil dan itu berakhir dengan aku sendiri yang memakannya, kecuali donat yang dia hempaskan dari tanganku. Aku membiarkan burung yang memakannya. Sekarang, ini sudah sangat lama dan menyebatkan sebuah rasa sakit di dadaku yang terasa dingin, kosong dan terasa memalukan.

Saat aku melihat Pete berbelok saat dia mewati perempatan ke arah toilet, aku menyadari ada satu hal yang belum kulakukan. Ini bisa saja jadi pergerakan yang tidak berguna saat ini dan dia bisa saja pergi menjauh dariku lagi, tapi ada satu hal yang harus aku katakan padanya. Sesuatu yang sudah seharusnya aku katakan sejak lama.

“Hei…Hei, apa kau tau cara memainkan ini?” Sambil memegang handphonenya, Por mencoba mengambil perhatianku dan dia merasa kesal dengan responku. “Kau bertingkah seperti di sebuah MV lagi. Ada apa?”

“Aku pikir… aku sudah melakukan…” Pemikiran yang sama sekali terlintas di benakku saat aku mencoba menjawab dia. Dengan sebuah tatapan kearah temanku yang bingung, aku dan berbalik dan pergi berjalan mengikuti Pete.

“Pete!” Aku langsung memanggil namanya saat aku membuka pintu toilet. Dia agak sedikit kaget dengan mata menyipit kepadaku. Dia sedang buang air kecil, syukurlah dia masih menyiramnya di tempat yang benar dan tidak mengarah ke lantai. Ini sebenarnya bukan tempat yang tepat tapi aku harus mengatakannya, jika aku menunggu, aku takut aku akan benar-benar kehilangan dia selamanya. Sambil berjalan kesampingnya, aku memegang bahunya jadi dia tidak bisa memalingkan tubuhnya dariku.

“Aku minta maaf. Aku selalu melihatmu seperti toilet. Selalu lalu mendapat hal buruk.” Mataku secara otomatis mengarah kebawah dan aku menyadari dde nya Pete masih ada di tangannya. Aku dengan segera aku melihat kearah wajahnya, berjalan kearah satunya dan bersandar kedinding. Pete sekali lagi memalingkan badannya dariku. Aku mencoba untuk menguakkan diriku untuk mengatakan sebuah kata yang sudah seharusnya akau katakan. “Maaf, Aku benar-benar minta maaf.”

“Ya, begitulah.” Sebuah senyuman kecil yang cukup mengerikan keluar dari wajahnya dan setelah itu dia merapikan bajunya.

“Apa kau tidak marah padaku?” Itu? Hanya itu yang ia katakan?

“Tidak.” Jawabannya begitu simpel saat dia berbalik terhadapku, sambil mengelap tangannya dibajuku. Sungguh menjijikan, tapi aku tidak mengucapkan satu katapun soal itu. Aku tidak bisa. Pete berjalan kearah tempat cuci tangan untuk mencuci tangannya.

“Bagaimana dengan semua yang telah aku katakan padamu? Tidakkah kau marah padaku?” Aku benar-benar sudah melakukan banyak hal buruk padanya tahun ini. Perasaan bersalahku sudah benar-benar besar dan aku mengharapkan respon yang lebih darinya.

“Tidak.” Pete menjawab lagi. “Karena kita adalah teman baik.”

Mendengarnya mengatakan suatu yang berbeda. Kita bukan hanya sekedar ‘Teman’. Itu tidak cukup atau tidak cukup kuat untuk mencangkup semua ini.

“Kau bukan hanya sekedar teman biasa.” Aku berjalan mendekatinya, aku berkata dengan nada serius. “Kau adalah si berengsek!”

“Hey! Kau menghinaku?” Pete terdengar terkejut saat dia bertanya padaku, suaranya terdengar seperti tersakiti. Rupanya, humorku tidak dimengerti olehnya.

“Maksudku teman yang, yang benar-benar aku cintai.” Aku pikir itu bisa membuat Pete mengerti seberapa pentingnya pertemanan kami bagiku tapi semuanya sudah jelas dari kata-kataku. Aku merasa sangat bebas setelah mengatakan semua itu dan aku bisa tersenyum bahagia. Pete berhenti merapikan rambutnya dan melihat kearahku dengan tatapan terkejutdan perlahan-lahan dia menurunkan tangannya. Kedua matanya begitu lembut saat dia melihat ku, mulutnya terbuka seperti ia ingin mengatakan sesuatu tapi kembali tertutup. Itu seperti memberiku getaran dan sebuah kalimat keluar dari mulutku. “Dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”

“Aku pikir….” Sambil mempertimbangkan perkataanku, Pete terlihat tidak yakin untuk menjawab apa dan menghela nafas. “Kita harus keluar dari sini. Ini bau sekali.”

“Ya.” Ini benar-benar bau sebenarnya. Maksudku ini adalah toilet pria.

“Dan kenapa kau memilih berbicara padaku disini, huh?” Sambil memasukkan tangannya di saku, Pete melihat kesekitar ruangan.

“Aku takut aku tidak bisa bertemu denganmu diwaktu yang tepat untuk meminta maaf.” Aku menjawabnya dengan sangat jujur, aku merasa sedikit canggung saat mengakuinya dan aku panik.

“Tidak perlu terburu-buru.” Pete mengayunkan rambutnya melewatiku dengan sebuah senyuman geli.

Aku tertawa pada diriku sendiri, aku menggelengkan kepalaku dan pergi mengikutinya keluar dari toilet. Ini bukanlah tempat yang bagus atau waktu yang tepat, tapi aku tidak masalah dengan ini. Secara detail ini tidak penting karena Pete sudah kembali kehidupku dan aku merasa hangat lagi.

Hari berganti begitu cepat setelah kami berdua telah kembali ke diri kami yang biasanya. Ketika hari tes sudah dekat, kami menghabiskan waktu bersama untuk belajar. Hampir semua informasi yang kudapat adalah informasi yang diberikan Pete kepadaku. Dia tidak perlu belajar dengan giat, tapi dia selalu bilang membantuku secara tidak langsung akan membuatnya mendapatkan top skor. Waktu belajar kami biasa kami lakukan hingga larut malam dan pada akhirnya kami tertidur di kasurku.

Setelah beberapa hari tanpa Pete, aku tidak bisa merasaan perasaanku yang ada padanya. Walaupun kami sudah menghabiskan waktu bersama hampir setiap hari, setelah kami berpisah, aku ingin melihat wajahnya sekali lagi. Ini tidak pernah cukup dan setiap hari ini menjadi semakin buruk dan aku menjadi sedikit serakah. Aku akhirnya menerima kenyataan setelah tes akhir kami dan aku tidak punya alasan lagi untuk bisa bersama Pete. Gejala ini memang biasa tapi perasaannya yang berbeda. Aku senang bisa berada di dekat Noh tapi aku tidak pernah merasakan kebutuhan seperti ini disaat aku berada bersama Pete. Noh membuat jantungku berdetak kencang tapi Pete membuat sebuah detakan begitu kencang dan gila. Perasaanku pada Noh sudah hilang. Perasaan kepada Pete semakin kuat. Tidak ada yang salah dengan ini. Aku benar-benar sudah jatuh cinta dengan sahabatku.

Sambil berbaring di kasur saat aku dirumah, aku mendengarkan sebuah lagu yang mengekspresikan keadaanku. Beruntungnya, Ibu dan Ayah sedang pergi selama seminggu, pergi ke sebuah seminar atau apalah itu, jadi aku menjadi pemilik rumah ini. Aku begitu mencintai ibuku tapi aku benar-benar tidak mau dia bertanya padaku kenapa aku bertingkah aneh. Sambil memutar musik di handphoneku, aku menutup mataku dan terbenam dalam alunan musik.

Setelah beberapa lagu, lagu handphone tiba-tiba berubah menjadi ringtoneku dan aku menggulingkan badanku kedekat handphoneku yang ada di meja disamping kasurku. Handphoneku bergetar begitu kencang saat aku mencoba untuk melihat siapa orang yang menelponku dan aku langsung duduk. Ini Pete, Pete sedang menelponku. Dengan gugup, aku mencoba untuk mengangkatnya dan mengusap handphone ku dengan jariku untuk menerima panggilannya.



“Earn, aku sudah tau siapa dia, ketika aku dekat dengannya, hatiku berdetak dub dub dub dub.” Pete berbicara begitu cepat setelah aku mengangkat telepon itu. Ingatan pembicaraan kami tentang detak jantung kembali muncul di benakku. Aku melihat ke arah mejaku dan teringat itu belum lama terjadi. Hatiku terasa tenggelan karena aku tau dia akan memberitahuku dan aku menunggu dia untuk menyebut nama Yuri. “Bisa aku datang kerumahmu?”

“Tentu.” Aku bingung kenapa dia tidak bilang saja kepadaku melalu handphone tapi aku tidak bertanya padanya jika ia ingin datang. Aku duduk disini merindukannya. Tidak peduli siapa yang dia suka, dia tetap Pete. Setelah semua yang aku lakukan padanya, aku tidak punya hak untuk menolaknya. Dia tetap teman baikku, tidak peduli dengan apa yang hatiku katakan tentang dia.

Setelah beberapa saat, ada sebuah ketukan dari pintu kamarku dan suara yang ku suka saat memanggilku terdengar dari sisi lain. “Hei, Earn! Apa kau didalam?”

“Itu tidak dikunci.” Aku menjawabnya dari tempat kesukaanku di depan pintu kaca geserku. Sambil melihat keluar, dan aku sangat mengagumi langit terang yang begitu biru. Ini adalah ledakan untuk hatiku yang hancur saat aku mendengar Pete membuka pintu. Aku tetap memperhatikan langit yang biru, aku tidak mencoba untuk berbalik. “Hei, Pete.”

Aku mendengar suara langkah kaki melewati ruangan kamarku dan berhenti dibelakangku. Pete berhenti dibelakangku dan menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Aku hanya bisa menunggu kata-kata yang akan menghancurkanku, lalu aku menyandarkan diriku di depan pintu dan melihat keluar. Jika aku melihat kearahnya, aku tau aku akan terpesona. Tiba-tiba sebungkus cumi-cumi goreng muncul di depan wajahku, dan itu mengejutkanku, dan aku berbalik. “Apa….”

Kata-kataku terhenti oleh sepasang bibir hangat. Aku terdiam, mataku sangat sulit melihat dan mencoba untuk melihat sebuah wajah yang sangat dekat denganku. Pete, Dia Pete, dia menciumku. OH MY GOD! Pete menciumku! Aku bisa merasakan baunya yang seperti permen Mint.

Ketika aku tidak mencoba untuk melawan, Pete berjalan mendekat dan tangannya naik melingkari leherku, menarikku lebih dekat. Dia memiringkan kepalanya dan sedikit mengigip bibir bawahku. Aku menutup mataku dan aku bisa merasakan panas yang menjalat dari perutku dan mengarah kesemua tubuhku. Saat aku mencoba untuk membalas ciumannya, Pete melepaskan ciumannya. Aku bisa melihat pipi dan telinganya memerah. Sambil mengambil tanganku, dia menaruhnya di dadanya dan aku bisa merasakan sebuah detak jantung dengan ritme yang begitu kencang. Sebuah detakan dengan ritme yang sama dengan ritmeku. Dan dia memberiku sebuah senyuman malu-malu.

“Apa itu untukku?” Aku bukan berimajinasikan? Pete benar-benar ada disini, berdiri di depanku, memegang tanganku di dadanya? Jika ini hanya mimpiku di siang hari, aku akan menghentakkan kepadalu ke dindin di sebelahku. Ini tidak bukan sebuah mimpi.

“Bukankah tidak ada lagi ketua tim penyorak tampan bernama Earn yang berdiri disini.” Dia berbicara sambil mengangkat tanganku ke depan wajahnya dan dia mencium tanganku dengan lembut.

“Beri aku sebuah jawaban yang jelas, kau jalang.” Aku sedikit mendorongnya, bukan bermaksud untuk mendorongnya menjauh. “Aku tidak mau lagi ada kesalahpahaman diantara kita karena sebuah asumsi bodoh. Ini terlalu penting bagiku. Kau terlalu penting.”

“Sial. Aku ingin mumukulmu saat kau memanggilku jalang dan kau baru saja mengatakan semua itu.” Sambil menghela nafas, Pete berjalan mendekatiku dan memelukku. Dia menyandarkan keningnya di keningku dan mengambil sebuah nafas panjang. “Ayo kita lihat apa aku bisa menghilangkan semua kebingungan ini. Jantungku selalu berdetak kencang di dadaku saat aku memikirkanmu, ketika aku tau aku akan pergi melihatmu, ketika aku dekat denganmu. Waktu dimana kita berpisah sudah membuktikan semuanya… Aku mencintaimu. Aku mencintai semua hal dari mu dan aku sudah menyadarinya sejak lama. Jadi, pertanyaan yang tersisa adalah, Apa yang kau rasakan padaku?”

Aku tidak bisa berpikir. Pete sudah menyatakan semua hal yang aku harapkan dari dia, tapi aku tidak pernah menyangka aku tidak bisa bergerak seperti ini. Aku menatapnya, aku mencoba membuka mulutku tapi tidak ada apapun yang keluar dari mulutku. Setelah beberapa waktu, Pete menutup matanya dan memelukku lebih erat lagi.

“Kau tau, sekarang adalah waktu yang tepat untuk menjawabku.” Dia membuka matanya, lalu dia melihat ke arah mataku. “Kau bisa mengatakan yang sejujurnya, apapun itu. Aku bisa menerimanya, bahkan jika kau merasakan apa yang aku rasakan.”

“Bodoh.” Hanya kata itu yang terpikirkan oleh ku dan keluar dari mulutku begitu saja. Aku akan menghadapi situasi ini.

“Huh?” Mata Pete terlihat merasakan sakit yang begitu dalam dan dia mencoba untuk menjauh dariku.

“Sudah pasti kau adalah orang bodoh.” Sambil menariknya kembali kedalam dekapanku, Aku memberinya sebuah ciuman lembut sebelum aku melepaskannya dan memberinya sebuah senyuman manis. “Semua orang bisa melihat seperti apa perasaanku padamu, kecuali kau. Bahkan Noh, orang yang hampir terlupakan di planet ini saja bisa mengetahuinya. Jadi, tentu kau adalah seorang idiot… tapi kau adalah idiotku. Aku mencintaimu.”

“Kau pikir hanya aku yang tidak bisa melihatnya dari wajahmu?” Sebuah senyuman bahagia terlihat diwajahnya dan matanya terlihat begitu bersinar. “Aku sudah mulai menyukaimu sejak sebulan yang lalu dan semua orang mengetahuinya kecuali kau. Jika aku adalah seorang yang idiot, begitu juga kau.”

“Aku bisa hidup dengan itu.”

“Aku juga”

Terima kasih, jangan lupa untuk komen

No comments:

Post a Comment