Sunday, 5 June 2016

"Aku Menyesal" by Robynokio [Short Story]



Aku Menyesal
By. Robynokio

Beritahu aku, bagaimana aku harus memulainya. Mereka mengatakan ini tak akan semudah jemariku, yang hampir setiap hari bercerita tentangmu.

Hanya mereka yang berjiwa besar, yang cukup kuat untuk menerima sebuah penyesalan yang telah mengakar. Kurang lebih begitu aku memaknai perasaanku.

Sebab sungguh, aku menyesal mengenalmu. Aku mengenal betul kelemahanku, yang tak mungkin secepat itu melupakan sesuatu. Mengenalmu, mengajariku banyak hal tentang menghargai waktu. Tentang hal-hal sepele yang ternyata menjadi sebuah penentu. Satu menit di dekatmu, menjadi penentu bagaimana menit-menit selanjutnya berlalu. Akhirnya aku tak pernah mau jauh darimu. Semenit itu, memberiku banyak alasan untuk tak pergi darimu. Salah satu alasannya ialah senyummu.

Aku menyesal, telah menyayangimu. Sebab aku tahu betul siapa aku, yang sulit membuka diri, namun ketika itu terbuka, siapa pun yang masuk tak akan semudah itu melarikan diri. Menyayangimu, memberiku banyak rasa yang sulit kusebutkan satu per satu.

“Buatlah dirimu nyaman di dalam sini”, ketika kau tak tahu jalan pulang, ingatlah dada sebelah mana yang jariku ketuk, ketika mengatakan itu. Di sanalah tempatnya hati. Di sanalah tempat yang sudah lama kau tinggali.

Aku sungguh menyesal atas apa yang telah terjadi padaku. Aku sungguh menyesal karena telah sering mengganggumu. Maafkan aku, jika telah lancang menyematkan namamu di dalam do’a tanpa meminta ijin padamu sebelumnya. Tuhan tersenyum kala itu, dan Ia membalasku dengan sebuah bahagia ketika kutemukan namamu di notifikasi telepon genggamku, pesan kerinduanmu.

Seandainya takdir bisa lebih bersahabat denganku, dan memberi kesempatan untuk dapat memilikimu lebih dari harapanku. Atau setidaknya, ijinkan aku menjadi bagian dari bahagiamu. Sebab bahagiaku sudah terenggut oleh kenyataan bahwa aku bukan siapa-siapamu. Aku ingin sekali lagi menyesal telah berharap lebih, menggantungkan harap terlalu tinggi.

NB: Maaf sudah bikin ulah sebelumnya, tulisanku yang lalu perihal romantis itu. Sungguh aku menyesal, melibatkan namamu disana. Kadang aku suka lupa, bahwa kita ini hanya teman biasa. Kadang aku terlalu percaya diri setelah menerima pesan darimu, jadi aku harap kamu bisa mengerti kesalahku yang kamarin melibatkan namamu sebelum ijin terlebih dahulu. Bahagialah.. Aku juga bahagia melihatmu bahagia. Buat kamu.. Lovelo.

From : Cerita Kaum Pelangi

No comments:

Post a Comment