I LIVE MY LIFE FOR YOU
By. Lovelo ♡
Pernahkah kau mencintai seseorang sepenuh hati, sampai kau merasa napasmu berasal dari hembusan napasnya? Pernahkah kau mencintai seseorang sepenuh hati, sampai kau merasa siangmu sepekat malam jika dia tak datang? Pernahkah kau mencintai seseorang sepenuh hati, sampai kau merasa ingin mati saat dia meninggalkanmu sendiri?
Jika belum, sini aku beritahu bagaimana rasanya mencinta dengan caraku.
Aku Pilar Rajasa, mencintai Chandra Tsabit sejak pertama kali melihatnya sampai kini setengah tahun berlalu dan dia menjadi kekasihku, tak bisa berhenti meski hanya sedetik, karena aku tak pernah ingin berhenti mencintainya. Aku bahkan berjanji dalam hatiku akan mencintainya sampai aku mati.
Katakan aku konyol, bodoh atau gila, inilah jalan yang aku pilih. Dengan kehidupanku yang nyaris sempurna secara fisik dan materi aku memilih menghabiskan hidupku dengan mencintainya, seorang lelaki sepertiku. Di saat orang-orang memandang sebelah mata karena hubungan seperti kami tak memiliki masa depan, aku tetap dengan pilihanku, mencintai Chandra dan hidup bersamanya. Meninggalkan rumah yang hanya berisikan pembantu karena Mama pergi entah ke mana sejak mengetahui perselingkuhan Papa. Dan Papa yang sibuk luar biasa tak pernah mempunyai waktu meski hanya untuk sekedar menyapa. Papa yang hanya memberiku uang saat aku ingin ditemani makan malam. Yang hanya memberiku uang saat aku ingin bicara tentang kuliahku, yang hanya memberiku uang saat aku rindu, dan tak pernah mencariku meski aku tak pulang berminggu-minggu.
Dan ketika akhirnya aku menemukan cinta pada diri seorang Chandra, aku merasa kembali hidup. Merasakan kembali apa itu bahagia, tertawa. Chandra seperti udara buatku, aku sangat membutuhkannya dan selalu berusaha menjaganya agar dia selalu di sampingku.
I live my life for you
I wanna be by your side in everything that you do
And if there's only one thing you can believe is true
I live my life for you
Aku menutup catatan harianku ketika mendengar suara pintu kamar dibuka dari luar. Seseorang masuk dengan tas ransel yang masih tergantung di bahunya.
"Pilar, aku dapat kerjaan!" serunya penuh kegembiraan. Dilemparkannya ranselnya ke atas tempat tidur lalu ikut duduk bersamaku di karpet yang penuh dengan kertas-kertas tugasku.
"Kerjaan apa?" tanyaku pelan berusaha menyembunyikan perasaan tak suka mendengar berita darinya.
"Kamu kenal Feri kan? Anak kedokteran yang kemarin pulang bareng aku itu, dia kasih kerjaan buat aku," Chandra tersenyum.
Iya, bagaimana mungkin aku tidak kenal dengan lelaki yang masuk dalam daftar orang-orang yang sangat ingin aku bunuh karena membuatku cemburu itu? Kataku dalam hati.
Aku mengangguk. Kualihkan kini semua perhatianku pada Chandra.
"Dia kan punya usaha jualan sepatu, dia bilang kalo aku mau, aku bisa jualan sepatu dengan mobilnya, sistemnya aku mencari keuntungan sendiri dari harga yang udah dia tentukan. Aku ambil ya, lumayan buat tambahan uang saku," Chandra menatapku penuh harap agar aku mengijinkannya.
Aku menghela napas sebelum akhirnya mengangguk.
"Kuliahmu?"
"Aku jualan sepulang kuliah, dan malamnya aku masih bisa ngerjain tugas," Chandra meyakinkanku.
Lalu waktu untukku? Tentu saja itu hanya terucap dalam hatiku. Aku tidak ingin melarang apa pun yang ingin Chandra lakukan, aku tidak ingin dia merasa terkekang, bosan dan akhirnya pergi meninggalkanku, aku tidak mau itu terjadi, toh aku bisa membeli semua waktunya kalau aku mau. Aku punya banyak uang untuk membuatnya berada di dekatku.
"Tapi aku nggak mau kamu capek," dengan lembut kusentuh pipinya. Chandra memejamkan mata sekejap menikmati belaian jemariku.
"Aku akan minum vitamin biar nggak gampang capek," sorot mata Chandra seperti mengucapkan terima kasih karena aku telah mengijinkannya.
"Kalo sekarang kamu lagi capek nggak?" tanyaku sambil menyusuri bibirnya yang terlihat basah seperti menggodaku.
"Pertanyaan macam apa itu? Hmm?" Chandra menaikkan sebelah alisnya.
"Haruskah aku jawab setelah satu minggu ini kamu sibuk praktikum dan menelantarkan aku? Hmm?" aku balas menaikkan sebelah alisku. Chandra tertawa lalu berlari menghindar. Aku tersenyum karena aku tau dia tidak sungguh-sungguh menghindar, hanya menggodaku biar aku mengejarnya. Dan sore ini berakhir dengan peluh yang membasahi tubuh kami berdua. Chandra lelap dalam dekapanku yang telanjang setelah membuatku mengangkasa tanpa batas. Hanya dia yang mampu membuatku mencinta dengan cara yang tak biasa.
Aku mencoba memejamkan mata, tidur dengan debar cinta yang masih tersisa.
♡
♡
Aku menurunkan kaca mata hitamku, menatap ke satu arah di depanku. Kekasihku ada di sana, baru saja selesai memajang sepatu-sepatu sport di atas kap mobil dibantu seorang lelaki yang aku perkirakan berusia 30 tahun. Dia yang tadi aku lihat menyetir mobil berwarna hitam itu.
Chandra terlihat bersemangat. Dia berdiri di samping mobil menunggu pembeli yang berminat dengan sepatu berwarna-warni itu. Aku terus menatapnya, meredakan rinduku yang tak pernah usai. Kusandarkan tubuhku di jok mobil mewah hadiah dari Papa sebulan yang lalu. Terasa nyaman, sedangkan beberapa meter dari tempatku kini, kekasihku sedang bekerja untuk tambahan uang sakunya. Setengah tahun menjalin hubungan denganku, Chandra tidak pernah tau kalau aku adalah anak seorang pengusaha tambang yang namanya sering menjadi pemberitaan karena kesuksesannya dan skandal yang dilakukannya. Aku menyembunyikan jati diriku, selama ini yang Chandra tau aku adalah mahasiswa yang kerja paruh waktu sebagai penyanyi kafe.
Dan tentang Chandra, yang aku tau hanyalah dia seorang mahasiswa sederhana yang datang dari pinggiran kota, dan kuliah karena mendapat beasiswa. Dia tidak pernah kulihat mendapat telepon dari orang tuanya. Pribadi Chandra sangat sulit kukenali, kadang dia begitu hangat, manja dan romantis. Beberapa hari yang lalu dia mengikat tubuhnya dengan pita, nyaris seperti mumi, hanya saja mumi yang ini berwarna-warni dan sangat wangi. Dia bilang tak punya cukup uang untuk membelikanku kado ulang tahun jadi dia menyerahkan tubuhnya sebagai hadiah untuk ulang tahunku. Aku tak bisa berkata apa pun selain hanya meneteskan air mata karena bahagia mendapat hadiah seindah dia. Tapi di waktu yang lain, aku mendapati Chandra begitu dingin, datar dan pendiam. Saat dia sedang asik dengan buku atau kertas tugas misalnya, dia akan mengabaikanku sampai aku merasa sangat frustasi. Satu kali aku mengajaknya bicara, dia hanya diam, yang kedua kalinya aku mengajak bicara dia hanya bergerak sedikit, melumat bibirku sekejap, lalu kembali dengan bukunya. Kalau sudah seperti itu aku harus ikhlas dia abaikan, nonton TV sendiri sampai aku tertidur tanpa pelukan atau ucapan selamat malam darinya.
Tapi apa pun yang dia lakukan, apa pun yang dia katakan tak pernah membuatku ingin berhenti mencintainya. Sudah aku katakan di awal tadi kan? Aku akan mencintainya sampai aku mati, dan sekarang aku ingin mengatakannya sekali lagi, aku Pilar Rajasa, akan mencintainya sampai aku mati.
Aku menghela napas panjang, masih setia menatap ke satu arah. Wajah Chandra terkasihku. Wajah tampan yang kini dihiasi tetes-tetes keringat di sekitar keningnya, yang sesekali diusap dengan punggung tangannya. Aku ingin sekali turun dari mobilku, menyeka keringatnya dengan jemariku, dan mengajaknya pulang. Tapi aku tau, bukan ini yang diinginkan Chandra. Chandra bukan tipe orang yang senang dibantu, dia pernah marah dan mendiamkanku waktu aku membayari uang kostnya yang nunggak dua bulan. Dan dua hari tanpa bicara dengannya membuatku nyaris bunuh diri. Aku tak akan melakukan apa pun lagi yang membuatnya marah padaku. Rumah minimalis yang kami tempati kini adalah rumah yang aku beli untuk tinggal dengannya. Aku bohong dengan mengatakan pemilik kafe tempatku bekerja memintaku untuk menempati rumahnya karena dia akan bepergian ke luar negeri dengan waktu yang tidak bisa ditentukan kapan akan kembali. Chandra bersedia tinggal dan dia selalu berusaha mencari pekerjaan paruh waktu karena dia ingin membantuku membayar listrik dan kebutuhan rumah.
Kulirik jam tanganku, hampir dua jam berlalu tapi Chandra belum mendapatkan satu pembeli pun. Wajahnya kulihat masih bersemangat, tapi terlihat lelah. Aku tak bisa menunggu lebih lama lagi, kepalaku sakit melihat kekasihku berdiri dan berkeringat.
Kuhubungi seseorang dengan ponselku, memberinya penjelasan sedikit dan memintanya segera datang untuk memenuhi perintahku.
Tak lama sebuah mobil berhenti dan parkir di samping mobil tempat Chandra berjualan. Seorang lelaki dengan pakaian rapi turun dan melihat-lihat sepatu yang dipajang. Chandra dengan semangat melayaninya, dan aku tersenyum ketika melihat Chandra tertegun seperti tidak percaya ketika lelaki itu mengatakan ingin membeli semua sepatu yang dijualnya. Menit berikutnya aku melihat Chandra sibuk dengan nota penjualan dan menghitung berapa yang harus dibayar oleh lelaki itu. Setengah jam kemudian, semua sepatu warna-warni itu berpindah tempat menyesaki mobil mewah sang pembeli.
Drrt..
Ponselku bergetar. Aku melihat nama Chandra di display layar ponselku. Aku tersenyum dan segera menjawab panggilannya.
"Ya Sayang?"
"Pilar, sepatunya terjual semua!!" suara Chandra terdengar begitu senang.
"Benarkah?" aku pura-pura tak percaya.
"Iya, dia bilang sepatunya buat dia jual lagi, ya ampun Pilar, aku senang banget, keuntungan buatku banyak banget Pil, Feri juga pasti nggak nyangka kalo di hari pertama aku jualan semuanya habis terjual!" Chandra masih dengan kegembiraannya menceritakan keberuntungannya.
"Kalo gitu kamu bisa pulang cepat dong? Ayo jalan-jalan, kamu harus traktir aku makan malam,"
"Kamu nggak ke kafe?"
"Nggak, hari ini semua Player punya janji kencan, jadi aku juga diliburkan,"
"Waah kebetulan sekali, ayo kita juga kencan!" serunya penuh semangat. Aku menutup telepon setelah bilang akan menunggunya di rumah.
Tepat setelah aku memasukkan ponselku ke saku baju, ponsel berdering lagi. Aku memakai headset bluetoothku lalu melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
"Iya Pak Yudi?"
"Tugas dari Mas Pilar sudah saya selesaikan, sekarang harus saya bawa ke mana 100 pasang sepatu ini?"
"Terserah, mau Bapak bagikan sama orang-orang kantor silahkan, atau mau Bapak jual lagi juga boleh, ambil uangnya untuk Pak Yudi," jawabku datar lalu mematikan sambungan telepon sebelum karyawan Papa itu bicara lagi. Aku ingin cepat sampai di rumah, aku harus menyiapkan kencan istimewaku dengan Chandra. Memikirkannya membuatku terus tersenyum. Cinta kamu Chandra, sumpah!
♡
♡
"Mobil siapa Pil?" Chandra mengerutkan keningnya ketika aku membukakan pintu mobil untuknya.
"Mobil si Boss, aku pinjam buat jalan sama kamu malam ini," aku menepuk bahunya pelan, dan mendorongnya lembut agar mau masuk ke dalam mobilku.
"Kenapa harus pinjam mobil sih? Kan ada motor? Nanti kalo mobilnya kenapa-kenapa gimana kita harus ganti?" tanyanya cemas setelah aku duduk di belakang kemudi. Kupasangkan sabuk pengaman untuknya.
"Tenang aja, aku akan hati-hati," aku tersenyum lalu mendaratkan sebuah kecupan singkat di pipinya sebelum aku melajukan mobilku.
"Lain kali nggak usah ya? Aku lebih suka naik motor, bisa peluk kamu dari belakang," Chandra menoleh padaku.
"Siap Jenderal!" aku meletakkan satu tangan di atas keningku, Chandra tertawa lalu memukul bahuku pelan.
"Kita mau makan malam di mana?" Chandra menyalakan musik di perangkat audio mobilku.
You know you're everything to me
And I could never see the two of us apart
And you know I give my self to you
And no matter what you do.. I promise you my heart
"Aku suka lagu ini," bisik Chandra samar saat lagu milik Firehouse mulai terdengar. Aku menoleh padanya yang sedang membuang pandangannya ke luar jendela.
Itu lagu tentang perasaanku untukmu Chand, aku meninggalkan egoku, emosiku, amarahku, kesenanganku, semuanya tentang hidupku, aku meninggalkan semuanya untukmu, untuk bisa bersamamu, untuk bisa membuatmu bahagia berada di dekatku.
"Kita makan di sini ya?" mobilku memasuki halaman parkir sebuah restoran Jepang.
"Boleh, malam ini aku yang traktir," Chandra tersenyum lebar. Aku menggandeng tangannya memasuki restoran yang siang tadi sudah aku pesan. Chandra sedikit rikuh saat aku merangkul bahunya. Tapi aku malah mengeratkan rangkulanku.
Tak ada yang akan melihat kita di sini, Sayang, hanya ada kita. Karena aku sudah membayar mahal untuk mengosongkan restoran ini selama kita makan malam di sini.
"Malam minggu kok sepi ya, Pil?" Chandra mengerutkan keningnya.
"Iya, tapi enak seperti ini kan?" aku mengedipkan mataku yang langsung dibalas Chandra dengan senyumannya yang sangat manis.
"Enak sih, nggak berisik, tapi aneh aja, ini kan restoran yang selalu ramai bahkan di hari biasa, sekarang malam minggu malah nggak ada satu pun pengunjung?" cetusnya heran.
"Mungkin orang-orang udah pada bosan makan di sini?" jawabku asal.
"Tapi waktu nonton kemarin juga, cuma ada kita berdua di ruangan bioskop, masa sih kamu nggak ngerasa aneh sedikit pun?" Chandra mengetuk-ngetukkan jari telunjuk di bibirnya tanda dia sedang memikirkan sesuatu. Aku memang membeli semua tiket saat Chandra ingin menonton film Penguins of Madagascar saat itu.
Aku menyembunyikan senyumku, lalu mengalihkan perhatiannya dengan buku menu.
Makan malam yang sangat indah, hanya ada aku dan Chandra dengan lagu-lagu romantis yang mengalun syahdu.
♡
♡
Ketika semua terlihat baik-baik saja dan kami berdua dipenuhi kebahagiaan, prahara itu datang, mengoyak garis senyuman yang selalu kupahat di lengkung indah bibirnya. Chandra menemuiku di depan laboratorium dengan wajah yang basah oleh air mata. Aku tertegun, jantungku berderap kencang serupa badai. Entahlah, aku belum tau apa yang membuat Chandraku menangis, tapi firasatku mengatakan ini buruk untuk kami berdua.
"Sayang? Kamu kenapa?" tanyaku setelah berhasil menenangkannya dalam pelukanku. Aku tidak perduli semua mata memandang jengah. Persetan dengan pandangan orang lain tentang kami.
"Pilar, antar aku, aku harus bertemu Mama..." isaknya dengan suara terbata.
"Mama kamu? Kenapa dengan Mama?" kuusap pelan punggung Chandra.
"Mama masuk Rumah Sakit," Chandra mengeratkan rangkulannya di leherku.
"Tanteku bilang seseorang berusaha membunuh Mama, sekarang Mama kritis!" jeritnya dengan tangis yang semakin menyayat.
"Ya Tuhan, Chandra tenang ya Sayang, aku antar kamu sekarang, stop crying please, Mama kamu akan baik-baik aja, okey?" aku mencoba menguatkan meski tubuhku sendiri gemetar.
Aku melupakan praktikum dan mengabaikan pertanyaan teman-teman saat aku meninggalkan laboratorium tanpa pamit pada mereka. Aku bergegas menuju mobil yang aku parkir di belakang halaman gedung rektorat. Chandra yang duduk di sampingku masih terus menangis, membuatku sakit melihatnya.
Tak ada penghiburan yang bisa aku berikan selain mengusap lengannya selama aku mengemudikan mobil menuju Rumah Sakit Daerah yang terletak cukup jauh dari pusat kota.
Ponselku berdering. Papa menelponku. Aku tertegun, antara senang akhirnya layar ponselku menampilkan nama Papa, juga perasaan heran karena ini tidak biasa.
Aku memutuskan akan menelpon balik setelah aku sampai di Rumah Sakit. Aku tidak bisa membagi konsentrasiku dengan banyak hal, Chandra lebih penting dari apa pun juga, bahkan Papa sekali pun.
Setelah menempuh jarak selama hampir dua jam, kami sampai di Rumah Sakit. Chandra langsung berlari menuju ruang ICU karena Tantenya memberitahu kalau Mamanya berada dalam perawatan intensive. Aku mengikuti dari belakang dengan hati yang tak kalah cemasnya.
Aku membiarkan Chandra masuk ke ruangan ICU sementara aku menunggu di kursi yang disediakan di ruang tunggu. Dalam hati aku berdoa semoga Mamanya Chandra akan baik-baik saja, karena aku tidak ingin kekasihku sedih jika sesuatu yang buruk terjadi pada Mamanya.
Tiba-tiba aku teringat pada Mamaku. Mama yang sangat aku sayangi, yang akhirnya meninggalkan aku saat aku sedang butuh sosok Mama sebagai orang tua. Saat aku menyadari ada yang tak biasa dengan perasaanku tentang cinta, saat aku butuh Mama sebagai pendamping untuk keluar dari sisi kelamku, Mama tak ada, pergi bersama egonya.
Suara pintu dibuka mengejutkan lamunanku tentang Mama. Seorang lelaki berpakaian putih keluar dari ruangan ICU tempat Mama Chandra di rawat. Sepertinya dia adalah dokter yang menangani Mamanya Chandra. Aku tertegun, bukan hanya karena dia keluar dari ruangan dengan wajah yang berduka, tapi karena di sampingnya ada seseorang yang sangat aku kenal.
"Papa?" aku memanggilnya pelan, tapi Papa mendengarku. Wajahnya yang juga terlihat berduka menatapku terkejut.
"Pilar? Kamu di sini Nak?"
"Kenapa..." belum selesai aku bertanya pada Papa, terdengar suara pintu dibuka, Chandra keluar dari sana dengan isak tangis yang menyayat hati, dia menghambur ke pelukanku. Jantungku berdegup tak karuan.
"Pilar, Mama meninggal!" teriak Chandra sambil memelukku erat. Ya Tuhan, akhirnya terjadi juga hal yang sangat tidak aku inginkan.
"Chandra, aku ikut berduka. Kuatlah, aku tau apa yang kamu rasakan," kudekap Chandra dalam pelukan.
"Kalian saling mengenal?" suara Papa membuat pelukan kami terurai. Chandra memeluk lengan Papaku, meneruskan isaknya di sana dan Papa menepuk bahu Chandra pelan, sementara dengan jantung yang berdetak menggila aku menatap Papa dan Chandra bergantian.
"Pilar, kenalkan ini Papaku," Chandra menghapus sisa air matanya dengan punggung tangan. Tak juga disadarinya kalau aku menatapnya dengan mata terbelalak lebar.
Katakan ini hanya mimpi, Tuhan, aku mohon! Seseorang, siapa pun! Tolong bangunkan aku!
"Papa, Papa tolong jelaskan apa ini?" tanyaku terbata. Suaraku tercekat. Aku nyaris tidak bisa mendengar suaraku sendiri. Aku berusaha tetap berdiri di atas kakiku yang gemetar. Chandra melepaskan pelukannya di lengan Papa, lalu menatapku dengan wajahnya yang sembab. Matanya kini penuh tanya, ditatapnya aku dan Papa bergantian seperti yang tadi aku lakukan.
"Pilar, dia Chandra, adikmu," suara Papa pelan saja tapi terdengar seperti suara petir yang menggelegar. Chandra mendekap mulutnya, matanya terbelalak, sementara aku seperti tak berpijak pada bumi.
Tuhan, tolong jangan bercanda seperti ini, aku mohon...
"Maafkan Papa baru memberitahu kalian di saat seperti ini, tapi melihat kalian seperti berteman baik, Papa jadi lega, bagaimana pun kalian satu darah meski Mama kalian berbeda," suara Papa terdengar sayup, aku menekan dadaku yang terasa sesak, sementara Chandra jatuh tersungkur di atas lututnya. Tanpa sadar aku melangkah mundur sambil menggelengkan kepalaku, membalikkan tubuhku lalu berlari, berlari meninggalkan Papa yang muram dan Chandra yang menangkupkan kedua tangan ke wajahnya.
Yang Papa ketahui mungkin hanya yang terlihat dari luar, bahwa aku dan Chandra terpukul mengetahui kenyataan kalau ternyata kami adalah kakak beradik. Papa tidak tau apa yang terjadi selama ini dan apa yang kami berdua lakukan.
Aku berlari menuju tempat aku memarkirkan mobilku. Kuhempaskan tubuhku di sandaran jok. Menangis dan berharap semua ini hanya mimpi, dan ketika terbangun semua kenyataan pahit yang aku dapatkan hari ini menguap seiring mataku yang terjaga, tapi sepertinya ini nyata.
Kuraih tas ransel milik Chandra yang tertinggal di jok depan. Hal yang selama ini tabu aku lakukan, kini aku melanggarnya. Kubuka dompet Chandra. Aku melihat Kartu Tanda Mahasiswa, KTP, dan SIM-nya, tercetak jelas namanya di sana, Chandra Tsabit Rajasa.
Ini bukan mimpi. Badai tak juga reda dalam dadaku. Selama ini aku memang tak pernah mengakui jati diriku di depan Chandra karena aku tak ingin dia nanti pergi ketika tau aku adalah putera dari Rajasa, pengusaha kaya raya yang terlibat banyak skandal dengan perempuan-perempuan cantik. Ternyata, Chandra juga melakukan hal yang sama, dia menyembunyikan jati dirinya sebagai anak dari Rajasa. Bodohnya aku tak pernah menyadari betapa miripnya mata Chandra dengan mata Papa.
Aku berkali-kali menggigit bibirku dan rasanya sakit, ini bukan mimpi. Tuhan aku sadar ini bukan mimpi, jadi tolong aku Tuhan, aku harus apa?
♡
♡
Aku sampai di depan rumahku, rumahku dan rumah Chandra, rumah kami berdua. Seperti linglung aku masuk ke kamarku, kamarku dan kamar Chandra, kamar kami berdua. Kutatap nanar setiap sudutnya, tak ada yang berubah, masih sama seperti saat pagi kami tinggalkan untuk berangkat kuliah. Kamar yang selalu rapi karena tangan Chandra yang ajaib tak pernah membiarkan ranjang pengantin kami kusut setelah kenakalanku mengacaukannya.
Aku menatap foto kami berdua yang terpajang di dinding dengan ukuran yang sangat besar. Foto yang aku ambil sebulan yang lalu dengan latar sunset di pantai Kuta, aku sedang mengangkat tubuh Chandra yang tertawa. Dadaku bergemuruh melihatnya. Air mata menetes perlahan, jatuh satu-satu seperti benang bening yang mengalir di pipiku.
Lelaki yang aku cintai dengan seluruh hidupku, lelaki yang dengannya ingin kuhabiskan sisa usiaku, ternyata adalah kenyataan pahit yang mau tak mau harus aku terima. Dia, Chandraku, keindahan yang membutakan mataku, yang dengannya aku tak inginkan apa pun lagi untuk hidupku, yang dengannya kuhabiskan malam-malam penuh cinta, dia, Chandra Tsabit kekasihku, ternyata adalah adikku.
Aku mencintai adikku sendiri, aku menikmati tubuhnya dengan penuh cinta, bahkan manis yang kukecap dari bibirnya semalam masih bisa aku rasakan kini, bagaimana bisa aku menerima kenyataan ini? Sedangkan debar cinta di dadaku masih untuknya semua.
Ponselku berdering. Untuk kesekian kalinya Papa mencoba menghubungiku tapi aku tak berniat untuk mengangkatnya. Berulang kali pula Chandra menelponku tapi aku abaikan. Aku masih belum tau harus berbuat apa? Aku tidak tau apa yang harus aku katakan padanya? Bagaimana caraku menanggung semua dosa terkutuk ini? Tiba-tiba aku merasa lelah sekali.
Tak bisa menghubungiku dengan panggilan telepon membuat Papa mengirimkan pesan pendek untukku.
Sender: Papa
Papa harus mengurus pemakaman jenazah, kau pergilah ke kantor polisi 851 untuk menemui Mamamu, Papa sudah mengutus pengacara untuk mendampingi kasus pembunuhan yang dilakukan Mamamu pada Mama Chandra. Nanti Papa menyusul.
Sepertinya takdir belum puas mempermainkanku.
Aaaaaaaargh!!!
Kupukul cermin di dinding kamar dengan buku-buku jariku, agar dia tak sempat menertawakan aku. Pecahan kacanya bertaburan, menyisakan jejak merah yang berasal dari lukaku. Aku berteriak seperti kesetanan.
Takdir kejam padaku, pada Chandra, pada Mama kami berdua. Takdir tak lagi menyisakan tawa untuk kami. Lalu masih adakah alasanku untuk tetap hidup sementara kelam sudah membayang di depan mata? Maafkan aku Chandra, maafkan aku..
Kuambil pecahan kaca yang berserakan di sekitar kakiku. Kugoreskan dalam-dalam ke nadiku. Seketika darah berhamburan menggenangi lantai. Aku jatuh terduduk. Menahan sakit yang merajai seluruh tubuhku.
Ponselku kembali berbunyi, dengan tangan yang mulai kehilangan kekuatannya aku membuka pesan dari Chandra.
Sender: Cinta
Jangan pernah tinggalkan aku, nggak akan ada yang berubah Sayang, aku akan selalu mencintai kamu.
Jika ini adalah kutukan, ayo jalani kutukan ini bersamaku. Jangan ke mana-mana. Tunggu aku Pilar..
Aku tersenyum di antara denyut terakhir di nadiku.
Aku cinta kamu Chandra. Jika ini adalah kutukan, biar kutebus sendirian, karena aku mencintaimu.. Sangat mencintaimu.
♡
♡
♡
End
Dedicated to :
Tawa
Kak Gia Teresa
Kadek Yasa
Riy Muhibban
Bimbim
Ari Setiawan
Nunna Vea
Lovelocious
Stroberi Kiss
Readers New CKP
Lots of love,
♡
~Lovelo ~
From : Cerita Kaum Pelangi

No comments:
Post a Comment