Friday, 19 August 2016

"Bertemu Denganmu (Lagi)" by Robynokio [Short Story]



Bertemu Denganmu (Lagi)
By. Robynokio

Canggung.

Dalam benakku lama tertanam sejuta bayangan dirimu.

Aku terdiam terpaku. Mengenyahkan detak jantung yang berdebar kencang ketika mendapati dirimu di depan sana. Aku menggenggam erat-erat tanganku, menghilangkan gemetar yang dari tadi merasuk jemariku.

Redup terasa cahaya hati mengingat apa yang tlah kau berikan.

Entah sudah berapa lama aku terdiam. Tepatnya karena tidak ada yang bisa kulakukan, padahal benakku sudah terbelah. Di satu sisi ingin segera menghamburkan diri ke hadapanmu. Di sisi lain ingin mengundurkan diri dan pergi sejauh-jauhnya karena ketidakrelaan ini. Terlalu banyak yang kau berikan, terlalu banyak yang harus kulupakan.

Waktu berjalan lamban mengiring dalam titian takdir hidupku.

Berkali-kali helaan nafas panjang kubutuhkan sebelum kukerahkan segala tenagaku untuk melangkah. Kutemukan senyum yang selalu melambungkan hatiku di wajahmu. Selalu begitu. Can’t you stop that sweet smile, baby?

Cukup sudah aku tertahan dalam persimpangan masa silamku.

Di waktu lalu, aku ingat sikapmu yang cuek atau aku yang sering mengomel panjang lebar, atau kadang-kadang pun kau keras kepala dan aku tak mau mengalah. Tapi kini semua berubah, waktu mendewasakanmu… dan aku juga. Kusadari kemudian, kali ini aku harus bangkit.

Kucoba tuk melawan getir yang terus kukecam, meresap ke dalam relung sukmaku.

Tersadarlah aku, tidak boleh kutawarkan sesuatu yang sudah kau miliki. Betapa aku menginginkanmu, betapa menyenangkannya bersamamu, dan betapa menyakitkannya memikirkanmu. Nyaris aku kehilangan logika, ketika matamu tak lagi menatapku.

Kucoba tuk singkirkan aroma nafas tubuhmu mengalir mengisi laju darahku.

Maka aku memilih cara paling aman; menyingkirkan segala tentangmu yang dulu kumiliki di saat-saat kejayaanku. Aku punya semuanya, tanpa kuminta. Tapi kini, sungguhkah aku tak lagi berhak memintanya? Ternyata iya.

Semua tak sama tak pernah sama, apa yang kusentuh apa yang kukecup.

Kalau bukan kamu, semuanya terasa beda.

Sehangat pelukmu selembut belaimu, tak ada satupun yang mampu menjadi sepertimu.

Jadi dimana harus kutemukan penggantimu?

Apalah arti hidupku ini memapahku dalam ketiadaan.

Lalu sesuatu itu menghampiriku, kehampaan. Saat seseorang yang kau anggap separuh jiwamu pergi, maka yang kau dapatkan hanyalah kekosongan, yang entah kapan akan terisi lagi.

Segalanya luruh lemah tak bertumpu, hanya bersandar pada dirimu.

Dengan kehampaan itu, aku terus membawa diriku kemana-mana. Tujuanku satu, mencari sesuatu atau seseorang yang mampu menawarkan kepedihanku, tapi entah kenapa hal itu selalu berhenti di kamu?

Kutak bisa, sungguh tak bisa mengganti dirimu dengan dirinya.

Aku tak ingin mengakuinya, tapi aku tak pernah benar-benar bisa menempatkan orang lain di sudut hati yang pernah kau huni dulu. Hatiku terasa sakit ketika aku tidak berdaya untuk mengendalikan perasaanku sendiri.

Sampai kapan kau terus bertahan? Sampai kapan kau tetap tenggelam? Sampai kapan kau mesti terlepas? Buka mata dan hatimu.

Kecuali kali ini, aku bangkit sesudah terdiam entah sejak kapan. Kedatanganku kali ini memang menegaskan sebuah penyelesaian, walaupun dalam hatiku nyaris hancur mempertanyakan sungguhkah kisah kita akan selesai?

Aku berhenti. Kita bersilang tatap di jarak sedekat itu. Lurus matamu yang tanpa perasaan itu—tidak ada kebencian, juga tidak ada rasa sayang—melunturkan gemetar yang sedari tadi kusembunyikan. Tapi aku segera meraih tangannya, melingkarkan lenganku di bahunya—kekasihmu. Pada saat yang sama, banyak rasa yang bermain di hatiku, tapi tak lagi ingin kusia-siakan kesempatan ini.

“Selamat ya. Berbahagialah.” Ucapku.

“Dan kamu juga.” Balasmu menyalamiku.

Samar-samar suaramu, tapi cukup keras dalam ruang pendengaranku, cukup kuat menancap dalam benakku. Dan kuyakinkan pada diriku sendiri, setelah ini aku harus bisa…

Relakan semua.

From : Cerita Kaum Pelangi

No comments:

Post a Comment