Setengah Hati
By. Robynokio
Malam itu, aku kembali tertegun. Membatu selayaknya karang yang tak goyah diterpa hempasan ombak. Terpaku tak mampu melangkah, pun mengucap.
Aku sangat terdiam malam itu, melihat segala kemungkinan-kemungkinan bahwa kau akan pergi meninggalkanku– dan kau sendiri tak sedikitpun menyadari akan hal itu. Mungkin kau pikir aku tidak tahu, namun saat itu adalah kali pertama dimana tatapanku kembali kosong sekosong hati yang cintanya mulai terkuras lagi karena rasa kecewa.
Dalam diamku, tak henti-hentinya aku mencaci-maki diri sendiri. Betapa bodohnya aku yang terlalu berharap. Betapa bodohnya aku yang terlalu merasa. Betapa bodohnya aku yang terlalu sombong berfikir bahwa suatu saat nanti kamu akan datang dengan cinta yang selayaknya aku punya.
Ntah apa yang merasukiku siang itu, ketika aku dan kamu memutuskan untuk kali pertamanya bertemu. Harusnya saat itu aku menyadari, jika aku terlalu jatuh hati, maka sakit adalah resiko yang mau tak mau harus aku hadapi nanti.
Mendengar langkahmu yang perlahan pergi meninggalkanku, seakan perih kini terbuka lagi. Aku sadar, harusnya tak kupaksakan pena berjalan menulisi kisah ini. Harusnya aku sudahi saja kisah ini dari pertama kali hal itu terjadi. Tapi ntah mengapa aku merasa ada seribu magnet yang menarikku untuk terus mengikuti alur cerita yang kau perankan.
Harusnya, rasa ini tidak aku paksakan jika pada akhirnya kamu akan melukaiku.
Lagi.
.
===
.
Mungkin kita memang ditakdirkan untuk bertemu, bukan bersatu. Dan mungkin aku tak akan pernah bisa menjadi satu-satunya orang yang kau rindukan dikala kau terlunta-lunta tak punya arah dan tujuan.
Mungkin aku dengan segala cintaku ini tetap tak akan pernah bisa menjadikan dirimu sebagai seorang kekasih yang utuh mencintaiku. Yang satu padu dalam sanubariku.
Aku menyadari bahwa aku yang bersalah dalam sisi ini. Aku yang melawan takdir Tuhan. Aku yang dengan bodohnya berani melewati garis yang seharusnya tak pernah aku lewati. Dan mungkin ini adalah sepenggal cerita duka yang dengan berat hati harus mau aku terima.
.
Untukmu, Tuan.
Resapilah kalimat terakhirku ini.
Jika kelak kau mengingat aku. Ingatlah aku sebagai seseorang yang rela dicintai hanya setengah hati olehmu.
Dan jika kelak kamu berharap kembali padaku. Harapkanlah aku yang masih belum menyadari bahwa ada sosok yang lebih baik dari kamu dan ada sosok yang mampu mengertimu selayaknya aku yang setulus hati mencintai kamu.
From : Cerita Kaum Pelangi

No comments:
Post a Comment