Thursday, 15 December 2016

Forelsket - Part 02 - [Part Story]



Forelsket Part 2
By. DewaSa

Io memainkan makanannya. Sepertinya Ia masih malu terhadapku. Wajahnya merah padam, pipinya merona.

"Makanlah. Jangan merajuk hanya karena salah menebak namaku." bujukku.

"Ya, Aku tak habis pikir, mengapa Ia semudah itu membohongi orang yang baru saja Ia kenal?"


"Mbak Sum orang jujur, Kau saja yang terlampau bodoh."

Aku tertawa lagi, Aku masih teringat saat ini dengan percaya dirinya mengucapkan "Den Bagus Kenang." Aku ingat wajahnya, wajah sok misterius dengan matanya yang hanya tersisa sedikit untuk menengok diriku. Kau harus tahu seberapa sipitnya Dia.

"Aku tidak suka di tertawakan." ungkapnya.

"Baiklah-baiklah. Aku minta maaf. Sebaiknya Kau memakan makananmu, Aku benci suara dentingan sendok dan garpu di atas meja makan."

"Lalu, siapa Den Bagus Kenang itu?" tanyanya.

"Pacarmu? Mantan mungkin? Atau? Orang yang akan Kau temui secara diam-diam tanpa sepengetahuanku?" Ia mengintrogasi.

"Nama kecilku."

"Aha! Aku tak salah menebak, dirimu saja yang mengelak." Ia menuduhku dengan riang, apa-apaan? Dia memainkan sendok dan garpu yang ada ditangannya di udara sama seperti keponakanku saja.

"Sudah Aku duga, feelingku ini tajam." Ia masih memandangku dengan antusias.

"Makanlah." Aku membujuknya sekali lagi.

"Baiklah." tanpa aba-aba Ia langsung menyantap orek tempe dengan ayam bacem yang sudah disiapkan oleh Mbak Sum. Pipinya naik turun saat mengunyah, menggembung, lalu mengempes begitu Ia menelannya. Aku ingin mencaplok pipinya itu. Tidak. Ia imut sekali.

Saat Ia menghabiskan makanannya barulah Aku bercerita latar belakang 'Den Bagus Kenang' kepada dirinya. Aku menjelaskan kepadanya jika semua anak-anak Semarang mendapatkan nama itu. Maksudku, panggilan itu tak menunjukkan siapa namamu. Panggilan untuk semua anak laki-laki. Sama seperti "mbak", "mas", "teteh", "mamang", atau pun "uda" yang di miliki oleh orang kelahiran padang, dan panggilan apapun yang lain. Ia mengangguk mengerti dan menganggap diriku ini sebagai pembohong. Benar sih, sedikit. Jika Aku teruskan perdebatan di meja makan itu Ia takkan menyentuh Makanannya barang sebiji nasipun. Aku tahu Ia tak pernah makan apapun saat dalam perjalanan. Itu mengkhawatirkan. Ia merajuk kepadaku malam ini.

**

Aku meninggalkannya dikamar utama. Membiarakannya sendiri dan melihat siapakah yang menang malam ini. Untuk orang asing, mungkin rumah tua ini terlihat angker, menyeramkan, dan atmofernya bahkan menyerupai wahana rumah hantu. Bagiku rumah ini surga, menenangkan, hangat, dan nyaman tentu saja.

Aku mendengar langkah kaki yang mendekat, pelan dan perlahan. Sama seperti maling yang ingin aksinya di ketahui oleh orang sekampung. Aku dapat mendengarnya dari ubin kayu jati yang sengaja dipasang di lantai dua ini agar timbul kesan hangat kekeluargaan. Lampu gantung di langit-langit berkedip, sekali, dua kali, berkali kali, dan akhirnya padam. Sial.

Aku hanya diam, tak mungkin ada pemadaman karena Aku dapat melihat dengan jelas lampu taman rumah neneku ini masih berpendar tenang. Aku bergelung di sofa, tidak merasakan takut sedikitpun karena ini rumahku sendiri. Tak mungkin ada yang lebih menyeramkan daripada Mbak Sum yang tersinggung ketika makanannya tidak dihabiskan. Serius.

Aku mendengarnya lagi, langkah kaki itu sepertinya mulai tak sabaran. Langkahnya menjadi sedikit cepat dan terdengar seperti berlari dan diiringi suara berdebam keras menumbuk lantai. Sosok itu sepertinya ingin menumbuk lantai menjadi serbuk. Ia berlari, berlari kearahku dengan suara cicitan yang menyerupai tikus kecil.

"Arrrgh, Aku takut. Aku takut. Aku takuut." Io menerjang kearahku dan menenggelamkan kepalanya kedadaku.

**

Ternyata Io-lah yang memainkan lampu itu. Aku hanya tertawa mendengar cerita dari saksi sekaligus sebagau pelaku kejahatan itu sendiri. Ia masih merasa jengkel dengan masalah 'Den Bagus Kenang', ditambah lagi Aku yang mendiamkannya sesaat dan meninggalkannya tanpa permisi di kamar utama. Ia jengkel, mukanya memerah, pipinya menggembung.

"Hentikan." Ia menyilangkan kedua tangannya untuk menginterupsi tawaku. Aku tak menggubris dirinya, Aku masih sibuk tertawa. Sedikit tak masuk akal ketika mengingat dirinyalah yang memuat keadaan menjadi sedikit mencekam dan dirinya juga yang ketakutan. Dia ternyata mengidap nyctophobia.

"Baiklah." Ia menyandarkan diri di dinding kamar tanpa memperhatikan diriku lagi. Matanya menerawang hingga jauh, kedua lengannya memeluk lutut dan menempelkan dagu diatas lututnya.

"Jangan merajuk." Ia masih tak ingin bergerak, bergeming. Aku memasang senyum dan duduk bersila di depannya. Mengusap rambut di dahi dan terus naik sampai puncak kepalanya.

"Ada apa? Aku tahu Kau sedang tak baik." Aku membuka suara.

"Aku hanya merasa kesepian."

"Tidak, Aku baru saja menyadari jika Aku ternyata merasa kesepian." buru-buru Ia meralat ucapannya.

"Aku, Aku tak apa." lanjutnya.

Mata itu lagi, mata yang Aku sukai. Aku tahu Ia menyimpan kesedihan di sorot matanya. Ia hanya tak ingin orang lain mengetahuinya. Namun, Ia telah gagal saat ini, Aku mengetahuinya.

"Kau bisa membaginya sedikit kepadamu jika mau."

Aku merenggut kedua tangannya dan menggenggam erat keduanya. Aku berharap dapat menyalurkan hangat sampai di hatinya yang mulai jadi dingin itu. Kehangatanku memang tak seberapa, mungkin hanya seperti lilin yang kemudian mati saat Ia tiup. Hanya seperti lilin yang melelehkan dirinya sendiri hingga habis untuk orang lain. Aku ingin jadi seperti itu untuknya. Perasaan apa ini? Aku justru ingin Ia memercayaiku. Untuk apa? Aku tidak tahu.

"Tidak, Aku hanya mengantuk." Ia memalingkan wajahnya. Dia berbohong, Aku tahu itu.

"Baik, tidurlah."

Aku beranjak dari kasur dan mematikan lampu.

"Kau tak ingin Aku berteriak lagi dan memelukmu lagi secara tiba-tiba kan?"

Aku menggeleng.

Bohong.

Nyatanya, Aku ingin.

"Kemarilah, Aku butuh seorang teman." tawarnya sambil menepuk-nepuk bagian kasur yang ada di sampingnya.

Entahlah, rasa-rasanya Aku ingin sekali menguncinya didalam kamar tanpa penerangan apapun agar Aku bisa merasakan terjangan dan pelukannya saat Io membenamkan kepalanya ke dadaku lagi.

**

Lampu yang sudah dipadamkan sejak tadi masih membayangi pikiranku. Aku jadi heran, sebenarnya apakah yang sedari tadi Aku pandangi selain langit-langit kosong? Tak ada bintang ataupun bulan diatas sana. Untuk yang pertama kalinya Aku merasa sumpek. Aku ingin keluar mencari udara yang mungkin, aku harap masih terasa segar.

Pukul 2.00 dan Aku mencoba melepaskan pelukannya ke lenganku sebagai ganti guling untuknya. Aku tak bisa membayangkan jika Ia ngiler di lenganku. Tidak, itu menjijikan. Mungkin beda cerita ketika Aku merasakannya langsung dari bibirnya. Ha! Dengar? Kedua hal itu sama-sama menjijikan.

Perlahan. Perlahaaaaan. Hap! Dia mencari-cari lenganku saat Aku berhasil melepaskan pelukannya. Semuanya mudah, Aku tinggal turun dari sini dan berjalan berjinjit menggunakan kedua belah jempolku sama seperti kucing. Semuanya Aku lakukan dengan perlahan. Hal yang paling sulit adalah, ketika dirinya mendesah panjang saat mencari-cari guling kesayangannya. Aku cepat-cepat menggantinya dengan benda apapun itu, harus. Sebelum Io terbangun. Cagak lampu tidur pertinya bagus.

Aku tak mengira jika Akan terus bersamanya. Aku hanya beberapa hari saja di sini, mungkin tiga sampai empat hari sebelum Aku kembali membangun kembali karierku. Mengingat hal itu membuat dadaku sakit saja, seperti menghirup remahan kayu yang baru saja di serut dan serpihan-serpihan kecilnya itu menancap di paru-paru milikku. Perih. Pendengar yang selama ini Aku kira adalah "supporter" paling top nyatanya justru menjelma jadi "hater" paling top juga saat menjatuhkanku. Namaku sudah tercemar di dunia boardcasting, Aku tak tahu jika Radio-radio lain juga akan melakukan hal yang sama terhadapku dan Aku harap mereka belum ingin melakukannya. Setidaknya, masih ada harapan barang satu sampai dua minggu untuk menyadarinya.

Aku merindukan kursiku yang berderit saat Aku memainkannya. Aku merindukan isyarat Bang Fatah yang menyuruhku untuk shalat tapi tak pernah Aku menggunakannya. Aku merindukan Tupperware milik Tika yang berisi Macha Latte kesukaannya. Aku merindukan suara pendingin ruangan yang berdengung konstan karena sudah minta diisi freon lagi. Aku rindu. Aku rindu program siaranku.

Tanganku kembali menggapai-gapai tak tentu. Mencoba menggapai malam diatas balkon dengan kursi bambu panjang yang memprotes saat aku merebahkan diri. Tanpa sadar Aku sudah berhasil menghitung bintang dari atas sini. Jumlahnya satu. Ya, hanya satu. Sebenarnya banyak jika Aku tak cukup malas menunggu jutaan tahun cahaya untuk menghitungnya. Tidak, yang Aku hitung bukanlah bintang di langit kota ini tapi Dia yang sedang tertidur pulas dalam lautan mimpinya. Dia yang menyuruhku memanggilnya Pistachio. Aku rasa bintang redup yang satu itu saja sudah cukup untukku saat ini.

Aku tersenyum, andai Ia menjadi bintang di atas sana. Tak peduli, jutaan, milyaran, atau pun triliyunan cahaya dari bumi pun akan Aku jabani. Aku akan menunggunya. Lalu Aku akan tersenyum seraya menyambut mahluk dari galaksi lain itu dan berkata 'Bukan kah Aku selalu menemukanmu, Pistachio? Bintang dari semesta yang lain.'

-BERSAMBUNG-

[Next]

From : Cerita Kaum Pelangi

No comments:

Post a Comment