Forelsket Part 4
by. DewaSa
Aku bisa apa? Aku hanya memandanginya saat dia terburu-buru menaiki tangga. Ia marah, tentu saja. Siapa yang tak marah ketika wajahnya kena tonjok?
Menyusulnya bukan langkah yang tepat saat ini. Membiarkan dirinya sendiri dan memercayai pepatah "time heals everyting" adalah cara yang paling baik. Membuatnya berdamai dengan hatinya sendiri, memberikannya waktu untuk tenang, dan memberinya kebebasan.
Aku tak menyusulnya.
Demi Tuhan, Aku merasa sangat bersalah. Aku sudah memberikan cacat pada wajah tanpa celanya. Mungkin saat ini bibirnya masih berdenyut dan terasa panas. Aku tak habis pikir dengan diriku sendiri, Aku merasa hilang saat itu.
Aku rebahkan tubuhku diatas sofa setelah mengunci pintu. Mencoba menerawang pada remang yang sengaja Aku ciptakan. Lampu berwarna kuning semu jingga ini manakutiku sewaktu kecil, anehnya saat ini Aku justru merasa tenang dibuatnya.
Lenganku, tanganku kini malah mengais-ngais tak jelas di udara. Aku tak tahu apa yang sedang coba Aku raih. Aku hanya mengulurkannya keudara dan mencoba mengabil hampa untuk disimpan.
Keningku basah dan Aku masih merasakan adrenalin itu memuncak saat memukul wajahnya, meski saat ini Aku tak yakin jika hormon tersebut masih sesering tadi. Punggung, tengkuk, juga pakaianku masih basah oleh keringat. Dingin. Aku bisa masuk angin sepertinya, Aku tak peduli. Aku hanya lelah dan Aku ingin tidur. Sebentar saja, hingga Aku tahu jika perbuatan sadarku saat itu hanyalah mimpi. Aku menyesal.
**
Aku jatuh. Jatuh kedalam pelimbangan bersama air coklatnya. Pakaianku basah dan ada noda lumpur yang sepertinya sebentar lagi akan mengering. Tarik napas, tahan, dan keluarkan. Aku coba mengendalikan diri. Ini hanyalah mimpi. Ini hanyalah mimpi, dimana Aku tak bisa berharap suatu hal apapun. Takkan mungkin ada seseorang yang mau membawakan Aku baju ganti atau air bersih untuk berbilas. Aku harap Aku salah. Namun, inilah kenyataannya. Ia hadir membawa pakaian bersih dan membilas lumpur di sekujur badanku yang mulai berkerak. Aku diam, entah antara pasrah atau Aku yang tak sanggup bergerak. Terpatri pandanganku kearahnya, Aku tak bisa mengalihkan mataku barang sepermilisekon pun. Pistachio, ampun. Aku membatu dalam tatapan matanya. Aku rasa Ia sudah jadi medusa untukku dan Aku jadi batu karenanya. Ataukah Ia adalah sang ibu dan Aku hanyalah seorang Malin Kundang?
Ya Tuhan. Aku akui, Aku jatuh cinta padanya.
Mata itu memandangku, Ia teduh. Wajahnya tersiram cahaya kuning khas lampu bohlam yang membuatku sulit untuk melihatnya. Ia hampir menindihku jika kedua tangannya tak menyangga beratnya sendiri. Jarak yang kami miliki mungkin hanya sejengkal, Aku bahkan bisa merasakan napas yang Ia hembuskan. Aku juga merasakan jika kami tengah berbagi napas.
Ia tersenyum.
"Hai."
Ini pasti mimpi. Aku mengerjap beberapa kali dan mengucek kedua mataku. Namun, saat Aku ingin melakukannya lagi, tangan kanannya mencegahku dan mengembalikan posisinya seperti semula.
"Ini bukan mimpi." Sepertinya Ia bisa membaca pikiranku.
Nyawaku masih belum terkumpul saat ini. Aku masih setengah tidur dan mencoba untuk tersadar sepenuhnya. Aku juga tak tahu untuk apa lenganku memeluknya. Membuatnya menindihku dan menenggelamkan kepalaku di pundaknya. Menghirup bajunya yang berbau seperti pewangi pakaian yang bercampur dengan aroma keringatnya membuatku nyaman. Aku bahkan ingin melelapkan sadarku dan tak membiarkannya menguasaiku lagi. Ia merengkuh kepalaku. Hangat. Ah, sialan. Ini seperti candu.
"Maaf." ucapku.
"Bukan untuk memperbaiki keadaan. Untuk penyesalanku. Aku tak seharusnya memukulmu."
"Aku tahu." Ia menjawab.
"Kau bisa memukulku nanti, Aku takkan mengelak. Aku janji."
"Tidak, itu bisa menyakitimu. Sudah cukup buruk melihatmu seperti ini. Maafkan Aku, Aku tak bermaksud menghukummu dengan diamku."
Aku tersenyum. Entah dia merasakannya atau tidak yang terpenting adalah Aku sudah mendapatkan pundak yang paling nyaman untuk bersandar dan menenggelamkan sadarku.
Ia bangkit yang kemudian duduk bersila di sampingku, Aku mengikutinya.
"Jangan pandangi Aku seperti itu, mesum!"
"Tidak, Aku hanya ingin memastikan Kau baik-baik saja."
"Setelah semua ini? Yah Aku baik. Kecuali rasa darah yang di kecap oleh lidahku."
"Maafkan Aku."
"Tidak, Aku bercanda. Tak seharusnya Aku mengejek keparcayaanmu. Maafkan Aku." Ia menunduk, menyesal.
Ia tersenyum lagi dan membuatku membatu. Membuatku seperti ingin bersujud dan memuja senyumannya. Sekali lagi Aku tersenyum edan di buatnya. Tanganku menyentuhnya, pipi miliknya. Ibu jariku menelusuri lengkung bibirnya dan mengusap luka miliknya. Aku melakukannya selembut mungkin agar tak membangkitkan rasa sakit yang ada di sana.
"Bolehkah Aku?" Aku meminta izin kepadanya yang Aku yakin Ia sudah mengerti maksudku.
Ia memejamkan mata sebagai sinyal jika Ia juga mengartikan hal yang sama sepertiku. Aku mengecupnya. Sekali saja, tanpa lumatan. Aku hanya ingin merasakan lukanya, merasakannya meski tak berarti Aku juga merasakan sakit yang sama. Andai dia tahu, Aku juga merasakan luka. Aku melukai diriku dengan cara mencintainya. Aku membiarkan diriku jatuh kearahnya tanpa berharap jika Ia akan menangkapku. Munafik. Aku sangat berharap Ia juga merasakan hal yang sama.
Aku sudah tak menghitung dalam ditungan detik lagi. Entah sudah berapa kali enam puluh detik yang terlewat saat mata kami terpejam. Aku menyerah dan mengurai kecupan kecilku hingga jadi sekecil debu.
Aku belum berani melihat matanya.
"Terima kasih." ungkapku.
Ia mengangkat wajahku sejajar dengannya dan memaksaku untuk melihat mata yang membuatku gila itu. Ia tersenyum lagi. Ia membuatku edan lagi.
"Kau mencuri ciuman pertamaku." akunya.
Ia memejamkan mata lagi dan Aku mengerti. Aku tak tahu hal mana yang Aku pilih antara meredam nafsu yang berarti menolaknya atau kembali membiarkan Aku hilang. Mengapa tidak keduanya? Namun, Aku tak berjanji bisa mengendalikan diri.
**
Io ingin Aku membawanya ke taman ria. Gila, Semarang bukan kota yang penuh dengan hiburan seperti Jakarta atau Bandung. Semarang bukan tempat untuk bersenang-senang, untuk hal yang ada di dalam benaknya Semarang bukan kota yang penuh hiburan.
"Aku mohon, Aku sudah tak ingin pulang lagi setelah kehadian itu."
"Mau kemana? Disini tak ada taman ria." Aku mulai kesal saat sifat ngeyelnya itu muncul.
Ia memutar badan dan menghadap ke smartphonenya. Sedikit gerakan saja Aku bisa mengintipnya. Namun, Aku urung mengintipnya. Oh sial, Aku mulai di kuasai rasa ingin tahu karena kepedulian yang perlahan mulai muncul ini. Parahnya lagi, Aku mulai paham sedikit mimiknya tanpa pernah tahu kapan Aku mempelajarinya.
Aku melihat sebuah laman dengan lingkaran kecil diatasnya yang berputar-putar. Sedang memuat sepertinya. Perlahan laman berubah menjadi sedikit gelap, sebuah Blog lokal sepertinya. Tidak, Aku menarik napas. Tidak, Aku tak berharap Ia mulai tertarik dengan artikelnya. Tidak.
"Bagaimana dengan Wonderia?"
Aku tak tahu harus bagaimana.
"Tidak."
"Mengapa?"
"Terserah Kau saja lah." Aku mengalah.
Aku membawanya menggunakan angkutan umum dan turun tepat di depan Wonderia.
"Kau yakin?" Aku memastikan.
"Kenapa tidak?"
"Lihat, Aku bahkan ragu jika taman ria ini masih buka."
"Lihatlah, Loketnya saja bertuliskan BUKA. Jadi, yah Aku rasa mereka masih beroperasi."
Wonderia adalah taman ria yang dulu, dahulu sekali sempat kondang di Semarang. Aku yakin, semua warga Semarang pasti pernah mengunjunginya. Yah, terkecuali almh. nenek yang lebih suka berurusan dengan dapur ketimbang dengan malaikat maut yang mengintai disana. Pamornya redup saat berbagai kecelakaan yang merenggut nyawa berulang kali terjadi. Aku heran, kenapa pemerintah Kota Semarang tak menutupnya saja? Sumpah, mereka bertahan tahun demi tahun dengan segelintir pengunjung yang membeli tiket mereka untuk memastikan "oh, masih buka ya?"
"Aku ingin naik Roller Coaster." Ia memohon.
"Tidak Io, kali ini tidak."
"Aku bayar sendiri."
"Bukan masalah ini uang siapa atau seberapa besar uang yang akan Aku bayarkan untukmu."
Pikiranku terlempar ke beberapa tahun silam, saat aku masih SMP. Aku mendengar rumor yang mengatakan jika ada seorang pengunjung yang terlempar dari wahana tersebut. Meski hanya rumor, hal itu masih saja membuatku ngeri setengah mati.
"Keselamatan. Ayolah, kita bisa naik yang lebih aman atau kita bisa pindah destinasi. Sampokong mungkin? Kota lama?" ungkapku.
"Cinno, Aku mohon."
"Aku tak ingin Kau naik kereta maut diatas lintasan berkarat itu. Jawabannya tidak. Kita naik komedi putar saja."
**
Ia memandangku kesal tanpa memedulikan cahaya kelap-kelip yang memandikan kami. Cahaya itu sedikit redup karena kalah dengan matahari.
"Terserahlah." Ia menyilangkan tangannya.
"Berpeganganlah, nanti Kau jatuh." godaku.
"Hah, Aku tak mungkin jatuh dari sini."
Aku tertawa, melihat dirinya dengan kuda putih bertanduk di puncak kepalanya. Ia imut sekali.
"Hey, dengar." Aku mencoba menginterupsi tawaku sendiri.
"Apa Kau mendengarnya?"
"Apa?" Ia menatapku serius dan memajukan sedikit wajahnya kearahku.
"Komedi putar ini sudah mulai protes saat kita menaikinya. Suaranya berkeriet karna karat. Apa Kau tak membayangkan jika Kau yang tengah duduk manis di roller-coaster kemudian besi penyangga, atau bantalan rel-nya berkeriet dengan bunyi tak wajar saat mereka memacunya dengan kecepatan yang mampu melawan gravitasi, apa yang akan terjadi?"
"Aku akan jatuh?"
"Tepat sekali."
Ia memandangku sejenak dan mengangguk setelahnya. Mungkin Aku sama seperti kakak yang memiliki adik yang punya pikiran 'bocah' dan sedang memberikan wejangan-wejangan payah tentang kehidupan.
"Baiklah, Aku mengerti." ucapnya sambil menaruh perhatian pada moncong kuda putihnya itu.
Aku menyukai ekspresi yang baru saja Ia tunjukan. Ekspresi yang berlangsung kurang dari sedetik itu.
Lagu yang berhenti mengisyaratkan kami-sebagai pengunjung tunggal-untuk meninggalkan wahana yang atapnya bisa roboh kapan saja. Lantainya sudah berkarat dan bunyi berdebam karena hentakan sepatu saja rasanya sanggup menjebol lantai logam itu.
"Terima kasih." saat ini Ia mulai berani menggaet tanganku secara terang-terangan.
"Untuk semuanya." ucapnya.
"Aku berhutang satu ciuman kepadamu."
Aku tak tahu pernah memberinya hutang semacam itu tapi Aku berharap jika Ia membayarnya tepat waktu beserta bunganya.
Sekali lagi, Aku tersenyum. Mungkin Aku bahagia.
BERSAMBUNG
[Next]
From : Cerita Kaum Pelangi

No comments:
Post a Comment