Thursday, 15 December 2016

Forelsket - Part End - [Part Story]



Forelsket Part End
By. DewaSa

**

Sebelum mengakhirinya, Aku mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada kalian yang sudah membacanya. Forelsket diambil dari bahasa Norwegia yang berarti "perasaan aneh yang pertama kali muncul ketika kau jatuh cinta.", itupun kalua kalian kepengen tahu.

Sejujurnya, pesan ini sudah Aku buat sebelum kalian memutuskan untuk membaca tulisanku ini. Aku bukan peramal yang bisa menduga dengan tepat seperti apa tanggapan kalian. Oh ya, maaf atas ending yang seperti ini. Aku sendiri tak puas dengan apa yang telah aku perbuat. Ejek saja, Aku akan terima. Intinya, terima kasih karena sudah menjadi pembaca yang baik. Salam.

**

Apa yang membuat Pistachio melambung tinggi? Aku? Salah. Lana! Apa yang membuat Pistachio tersentak sekali hentakan dan Kau sudah dampai di bumi? Lana? Salah. Aku!

Orang yang menamai dirinya dengan nama kacang itu tertawa canggung menyembunyikan kebahagiaannya. Ia mengguncang bahuku dan memaksaku untuk berbalik melihat sosok yang tak ingin aku lihat wujudnya.

Tinggi, semampai, jenjang, apalagi? Kakinya indah.

Dengan cepat Lana berlari kearahku, maksudku ke arah Pistachio lantas memeluknya. Membenamkan wajahnya dan memunajatkan seribu kata maaf. Tak tinggal diam, Pistachio menarik tangannya untuk mengelus kepala Lana.

Tubuhku tak mampu bergerak. Punggungku dingin, telapak tanganku dingin, tengkukku dingin, hatiku membeku, dan mataku panas. Rasanya seperti berdiri diatas tumpukan duri dan kau dipaksa untuk melangkahkan kaki. Sepertinya Aku tak cocok dengan cara reuni keluarga ini.

**

Mereka duduk bersebelahan, sementara barang bawaannya diletakkan di bangku kosong sebelahku. Memandangi dua orang ini membuatku mual. Perutku seperti di sodok oleh benda super menjijikkan yang baunya sampai ke hidungku.

Lan bergelendot mesra mengabaikan bakso yang dipesankan Io untuknya. Aku? Sibuk mengabaikan mereka dan memilih untuk menekuni bakso yang ada di hadapanku. Ah, apa Aku sudah menjadi pembohong sekarang? Kau pikir Aku kuat untuk mengabaikan momen yang menyayat hatiku ini? Aku berani bersumpah saat ini Aku tengah memelototi mereka berdua. Aku ingin melihat seberapa tak berbentuknya hatiku setelah ini.

Berulang kali Io mengecup kening Lana yang membuat perutku semakin terasa sakit. Aku merasa bahwa pukulan tujuh milyar manusia ditujukan padaku. Mataku masih berair. Sesekali Lana menanyakan hal-hal yang sepele kepadaku dan melengos setelah Aku menjawabnya. Io tersenyum getir.

Aku memejamkan mata dan membayangkan jutaan bintang tengah meledak di depan mataku. Aku ingin buta saja. Hamburannya, Aku ingin hamburannya melesat kearahku dan menonjok perutku hingga berlubang, Aku tak ingin perasaan ini terus tinggal. Perasaan mual yang bisa saja membuatku memuntahkan hingga melesatkan beberapa butir baksonyang tak sempat ku kunyah tadi. Ke arah Lana.

"Aku menyukai hadiahmu." Ia menyunggingkan sneyum, senyum termanisnya.

"Orang yang ada di hadapanmu yang memilihkannya." Io, Pistachio mengisyaratkan matanya kearahku.

Lana tersenyum berterimakasih kearahku dan langsung tidak memedulikanku.

"Terima kasih, Aku mencintaimu." ucapnya.

Aku muak.

Aku pergi, Aku tak ingin mengganggunya. Aku menarik napas panjang dan mencoba melelehkan es yang entah sejak kapan sudah menjadi pasak yang menancap di kakiku. Pasak yang menahan langkahku, bukan untuk tetap tinggal. Namun, pasak yang menyerot seluruh tenagaku meski itu hanya memindahkan kakiku barang sesenti saja. Hatiku? Mungkin hancur. Untungnya Ia sudah menjadi es super keras dan menunggunya meleleh untuk melihat wujudnya bukan pilihan yang bijak.

Dadaku sesak seperti menyerot habis kepulan asap hitam dan menyisakan bintil hitam di paru-paruku. Paru-paruku mengempis karna saking panasnya dadaku ini. Anehnya, ribuan sel alveolusku ini justru meletus, meletup hingga aku merasa kekurangan udara. Langkahku diam seperti kucing, menumpukan berat pada tumit lantas keseluruh permukaan kakiku untuk mengutangi suara yang ditimbulkannya.

"Cinno." panggilnya. Aku kepergok.

Aku terpaku, bergeming, dan tak kuasa untuk berbalik melihatnya. Aku lupa sudah masuk hitungan berapakah langkahku tadi. satuan? lusinan? kodi? atau justru ribuan rim yang telah ku paut untuknya. Aku mendengar derap sepatunya yang menghantam susunan paving di peron ini, semakin cepat. Langkahnya hampir mirip suara debam yang Io timbulkan saat mencoba menakutiku malam itu. Sama persis. Bedanya, Aku tahu bahwa setelah ini Ia tak bakal memelukku dan menenggelamkan wajahnya. Aku tahu persis.

"Maafkan Aku." Ia meraih tanganku yang bebas.

Sekali lagi aku menghela napas panjang, teramat panjang. Rasa-rasanya Aku seperti terkurung di dalam silo pengap dan hanya hamburan sekam yang kunhirup sebagai ganti oksigenku. Sesak.

"Dimana Lana?"

"Aku menyuruhnya untuk menungguku di sana." Aku berbalik dan melihat Lana tengah asyik memainkan handphonenya.

"Maaf."

"Tak apa."

"Lihat Aku." ucapnya.

Aku menolak dan menarik tanganku dari genggamannnya. Aku tak mau bodoh!

"Aku harus pulang."

"Umm, baiklah. Aku akan mencarimu!"

"Tak perlu."

"Kenapa? Kau marah padaku?"

"Aku yakin jika aku sudah mengerti apa yang kita ributkan semalam. Aku merasakannya saat ini. Aku yakin aku sudah jauh lebih mengerti."

Aku meninggalkannya.

Pistachio? Kau tahu? Aku lemah. Kau membuat hatiku bergetar hebat sekaligus meretakkannya. Saat melihat binar matamu Ia retak menjadi retakan besar. Saat mendengar suaramu memunajatkan namanya, Ia pecah dan serpihannya menghambur di udara. Saat meninggalkanmu serpihannya melayang di udara. Aku berusaha keras agar tak menjatuhkannya. Namun, semuanya sia-sia saat Kau berhasil menyusulku, meraih tanganku, dan menggenggamnya. Serpihannya berserakan di lantai. Semuanya berakhir, berakhir ketika kau membisikkan kata maaf, hatiku seperti debu yang ditiup angin.

"Frappucinno!" Ia menarik paksa lenganku.

"Dengarkan Aku!" bujuknya. Ia mengguncang bahuku untuk membangunkan Frappucinno yang Ia maksud. Nyatanya, saat ini Frappucinno yang Ia maksud sudah mati. Frappucinno itu sudah kehilangan sadarnya.

"Aku bukan Frappucinno. Pergilah!"

"Tapi.."

"Nah! Itu! Mata itu, persis! Persis sekali dengan mata yang membuatku membawamu dari stasiun. Jangan menunjukkan mata itu! Aku lemah dengan mata itu, mata itu membuatku menghancurkan hatiku sendiri!"

"Aku mencintaimu!"

"Aku tidak!"

"Cinno!" Ia meraih lenganku dan mencengkeramnya.

"Aku mencintaimu. Aku yakin ini cinta."

"Hentikan omong kosongmu. Kau hanya merasa bersalah kepadaku lalu mengatakan cinta untuk memperbaiki suasana kan? Aku tahu."

"Tidak kau salah." lirih. Ia kulai mengusap pelupuk matanya dengan punggung tangan miliknya.

"Sekarang, dengarkan Aku. Dua orang yang bertemu dalam keadaan hati yang patah lalu saling merasakan nyaman, lalu dengan naifnya Kau mengatakan cinta. Kau terlalu naif Pistachio! Rasa ini masih terlalu muda, masih terlalu dini untuk di sebut cinta. " tuturku.

"Kembalilah kesana dan berhentilah menyakitiku!"

Ia tak menyerah, Ia memelukku lagi, hangat. Tubuhku seperti tersetrum saat menerima pelukkannya. Ia seperti mentransferkan ribuan energi yang sudah terenggut dariku, menghancurkan pasak yang menacap di kakiku, melelehkan hatiku yang sudah seperti daging beku dalam freezer, dan menembak seluruh gagak imajiner yang bertengger di otakku. Aku rindu pelukan ini.

"Maaf."

"Aku benar-benar minta maaf. Aku tak bermaksud."

"Kau melukaiku." Aku mengaku.

"Maafkan sifatku yang keras kepala."

Kali ini Ia mendekapku dan memaksaku mendengar ritme jantungnya. Sekali, dua kali, tiga kali, dan kali-kali yang terus berlanjut Aku baru memahami jika jantungku juga melakukan harmoni terhadapnya, senada. Jantung kami bercengkrama, menyesap teh sembari menunggu hujan, dan menanti pelangi.

"Lantas?"

"Seperti yang Aku katakan, biarkan kita saling menemukan."

"Aku tak ingin pisah."

"Kalau begitu, jangan mencoba mencariku."

Ia melepas pelukannya.

"Lihat! matamu merah." ucapnya. Aku buru buru menghapus embun yang sudah terkumpul menjadi tetesan air mata ini untuknya.

"Lihat! bibirmu merah." balasku sambil tersenyum sebisaku.

Ia mengecupku. Lalu beralih ke puncak kepalaku.

"Hentikan!"

"Kenapa? Kau menyukainya atau justru tak menyukainya?"

"Tidak keduanya."

Ia menelengkan kepalanya, tanda tak mengerti.

"Aku lebih menyukai jika Aku yang mengecupmu."

**

Apa Kau tahu yang membuatku melambung begitu tinggi meski Aku tak punya sayap? Cinta. Cinta menjadi sayapku selama ini. Apa Kau tahu yang membuatku membuatku hilang tenaga meski Aku tahu jika tenaga itu hanyalah hal yang maya untukku? Cinta. Ia menumbuhkan sayap di punggungku. Namun, Ia sendiri yang merobek sayapku hingga bulu-bulu halusnya bertebaran.

Aku terjatuh. Seketika. Ke arahnya.

Aku terjatuh. Seketika.

Aku terjatuh.

Ke arahnya.

Cinta.

Aku menyetujui dirinya, ini cinta.

-End-

From : Cerita Kaum pelangi

No comments:

Post a Comment