Thursday, 15 December 2016

Forelsket - Part 05 - [Part Story]



Forelsket Part 5
By. DewaSa

Aku mengajaknya istirahat di seputaran taman KB yang ada di dekat Wonderia. Tidak terlalu dekat jika Kau sanggup memacu kakimu hingga pegal tapi terlalu dekat jika Kau memutuskan untuk naik mikrolet yang kadang memasang tarif gila-gilaan. Ya, Aku mengajaknya jalan-jalan dengan kendaraan umum agar Ia mengenal Semarang, kota kelahiranku.

"Kau tahu? Kadang Aku merasa rindu." ungkapnya.

Aku menyerot sedikit es doger yang baru saja kami beli saat perjalan kemari. "Rindu? Dengan siapa?"

"Lana." jawabnya singkat.


"Pengantinmu tempo lalu?"

Ia tak menjawab, anggukannya mengisyaratkan jika Ia memang benar-benar rindu.

"Aku juga tak mengerti mengapa Aku perlu merindukannya."

Aku mulai menyimak kisahnya, sedikit terluka.

"Mungkin Ia adalah caraku untuk menutupi tentangku, tentang orientasiku. Aku harap semua kepura-puraan ini tak membuatku benar-benar mencintainya. Namun, sepertinya Aku salah."

Ia berdeham tak nyaman sambil menutup kedua mata dengan tangannya yang bebas.

"Ada apa?"

"Tidak, mungkin Aku sedang menolak keadaan. Aku menolak keadaan jika Aku sedang merindukannya. Lana, tak ada indahnya sama sekali. Hanya wanita doyan shoping, tak lebih."

"Maaf, Aku tak bisa membantu."

"Aku tahu."

Hening. Hening bertengger diatas dahan gundul terangkat yang menaungi kami. Ia bersiul mengejek mengapa sulit sekali membuka mulut daat menghadapi kenyataan ini. Kenyataan apa? Bukan Aku yang ada di dalam hatinya, Pistachio.

"Mengapa Kau tidak menelponnya?"

"Aku tak ingin Ia menemukanku. Aku, Aku hanya tak tahu ingin berkata apa. Cinta? Tidak, perasaan ini terlalu hambar jika disebut cinta. Rindu? Tidak juga tapi itu kenyataannya."

"Mengiriminya kartu pos, mungkin? Ada kantor pos di dekat sini, sekitar tiga atau empat blok. Mau mampir?"

"Aku bilang, Aku tak mau Ia menemukanku."

"Tidak, paling tidak Ia akan menemukanmu setelah Kau kembali ke Jakarta. Aku janji. Kau tahu kan cara kerja post? Ambil saja paket yang paling murah."

Ia menatapku ragu, Aku merasakan jika hatinya bimbang. Ia bingung. Ia hilang. Pantas saja Ia mau menciumku. Naasnya, Ia tak merasakan hati yang Aku taruh di sela-sela bibir kami yang berpagutan saat itu.

"Yakinlah, Kau hanya perlu mengungkapkannya. Mengakui perasaan yang terus-terus menggondeli hati dan memberatkanmu saja. Setelahnya, semua akan kembali seperti semula." bujukku.

"Kau tahu?" tanyanya.

"Hmm? Apa?"

"Aku hanya tak ingin melukaimu, Frappucinno." Ia tersenyum getir setelah mengeja namaku dengan terbata.

Aku merasa biasa saja. Maksudku, sebisa mungkin Aku merasa biasa saja. Berusaha menutupi perasaan kikuk yang tercipta setelah Ia mengungkapnya. Bahagia? Sedikit.

"Kita bisa mampir dulu di toko suvenir terlebih dulu ketimbang hanya mengiriminya selembar kertas mengilap bergambarkan lawang sewu."

"Kertas mengilap dengan tulisan rinduku saja sepertinya sudah cukup." ucapnya murung.

"Ayolah manis. Lana kan spesial, sudah semestinya Kau memberikan hal yang sama spesialnya dengan dirinya."

"Ya sudahlah, Aku ikut Kau saja." putusnya.

**

Panasnya membuat peluhku meleleh hingga rembes kebalik kaos yang Aku kenakan. Pendingin ruangan yang dipasang tak mengubah apapun di sini. Panasnya bahkan sampai mengukus toko kecil ini hingga menguap, Aku rasa.

"Bagaimana?" Io menunjukan sepasang boneka kayu yang mengenakan baju adat, seperti sepasang mempelai di atas pelaminan.

"Panas, Io." jawabku sambil mengipas-ngipaskan kaosku yang sudah basah ini.

"Serius No. Bagaimana?"

"Emm, Kau masih berharap padanya?"

"Tidak, maksudku entahlah. Bagaimana Kau bisa tahu?"

"Hadiah yang Kau pilih. Sepasang kayu yang hendak menikah dengan dirimu yang gagal menikah. Aku hanya menarik korelasinya dari sana."

"Aku tak tahu jika Kau sepintar ini." Ia mengerlingkan ke arahku.

"Yah, Kau pandai memilih hadiah."

Aku menunggunya di kursi panjang yang ada di dekat etalase paling depan bagian toko. Ada sebuah pendingin ruangan yang sepertinya sudah kehabisan freonnya, Aku jadi ingat ruang siaranku. Pendingin ruangan ini menghembuskan napas tersengalnya yang membuat kemarau masuk kedalam ruangan ini. Tak lama Ia berjalan kearahku sambil menunjukan senyumnya. Bukan senyumnya yang membuatku edan tapi senyum yang sepertinya dimiliki oleh pasien rumah sakit jiwa.

"Ada apa?"

"Tidak, Aku hanya membelikanmu sedikit hadiah."

"Apa? Kau membelikan orang semarang suvenir khas Semarang?"

"Ya, tepat sekali. Aku berani bersumpah jika Kau tak punya gantungan kunci bertuliskan 'SEMARANG'."

"Ya memang."

"Nah, ironis sekali."

"Aku tidak memandangnya sebagai sebuah ironi."

"Yah, terserahlah. Terima dan simpan saja." Ia menyerahkan sebuah goodie bag mungil berwarna coklat kepadaku, mendorongnya hingga dadaku sedikit terdesak tepatnya. Aku mengintip isi bawaanku.

"Apa ini?" Aku mengambil benda berdiameter sekitar 5cm itu dari tempatnya.

"Aku tak tahu. Lihat saja."

Aku mencermatinya. Bentuknya seperti koin transparan dengan namaku disana. Frappucinno tentunya, bukan nama asliku. Aku membalik sisinya dan menyadari ada sebuah ukiran motif bunga di balik namaku. Bunga seroja sepertinya.

"Jangan pernah berpikir itu benda murahan. Aku membayar lebih untuk namamu itu." Ia memperingatkan.

Aku setuju dengannya. Koin ini di buat dari kaca yang sepertinya tak mudah pecah. Bahannya tebal, pasti sulit untuk mengukirnya dan lihat, ada namaku disana. Aku menerka seberapa dalam kocek yang sudah Ia rogoh untukku. Limapuluh? Seratus? Ah tak penting.

"Terima kasih. Aku kira ini gantungan kunci bergambar denok dan kenang dengan tulisan SEMARANG diatasnya." ucapku akhirnya.

"Berhentilah menjadi menyebalkan."

"Iya manis. Terima kasih." godaku.

"Sama-sama." Ia tersipu.

**

Aku melihatnya berdiri dihadapan perempuan cantik yang membuatnya tersenyum. Aku bahkan rela menjadi normal untuk wanita semanis dia. Mungkin Pistachioku juga punya pikiran yang sama. Aku mengamati perempuan tersebut, Aku menduga jika Ia sedang menawarkan paket-paket pengiriman yang tersedia. Aku memilih ke kantor logistik lokal karena kantor pos sudah kehabisan jam kerjanya saat ini.

Ia membungkus sepasang kayu tak bernyawa itu menggunakan kertas kado berwarna merah-jingga dengan lambang hati di sekujur permukaannya. Seleranya buruk. Namun, Aku menyukai warna latarnya. Merah-jingga yang orang barat sana sering menyebutnya dengan nama "scarlet", warna merah senja.

Aku menghampiri dirinya yang mulai sibuk dengan pulpen dan kartu pos yang Ia beli di toko yang suvenir tadi. Sesekali Ia menilik langit-langit dan memejamkan matanya, untuk berpikir Aku rasa.

"No, rasanya begitu sulit." ujarnya.

"Kau tak perlu kalimat yang manis. Utarakan saja, tak mengapa jika bakal menjadi surat cinta paling buruk sepanjang masa. Toh, Kau bukan pujangga."

Wanita yang ada di hadapan kami ngengir saat mendengar pembicaraanku dengan Io. Senyum dengan lesung pipinya tak kalah manis dengan lesung pipi Io. Hanya saja, Aku tak menginginkannya. Aku hanya ingin Io.

Setelah berkutat dengan pikirannya sendiri, akhirnya Ia menuliskan surat cinta yang akan Ia selipkan di sela lipatan bungkus kadonya. Empat kalimat yang sempat menggetarkan hatiku saat Aku mulai mengejanya. Empat kalimat yang akan membuatku melambung jika ditujukan kepadaku. Namun, empat kalimat itu justru menggetarkan hatiku hingga retak.

"Sebenarnya Aku merindukan dirimu." begitu.
Pupus harapan? Mungkin iya jika membaca empat kalimat yang Io tujukan kepada Lana. Mungkin juga tidak jika mengingat ciumannya yang telah Aku renggut darinya.
Hatiku limbung, kacau. Aku perlu pegangan saat ia mulai menarikan jemarinya membentuk lambang hati memagari nama Lana yang ada di dalamnya.
**
"Sekarang mau kemana?"

"Aku lelah." jawabku, berbohong.

"Salah sendiri, kenapa kau tak membawa sepeda motor berisikmu itu?"

Aku tak menjawab, Aku lebih bersimpati mengamati matahari yang mulai turun di ufuk barat. Langit menampilkan beberapa warna sekaligus tanpa sekat apapun, indah. Tidak, menakjubkan. Ada segores warna kebiruan yang disisakan siang untuk senja dan ada semu ungu yang diajukan malam kapada senja. Semua itu bercampur tanpa ada pembatas yang membuat warna-warna itu terlihat berlebihan.

"Apa yang kau pikirkan?"

"Tak ada." jawabku singkat.

"Kau tak pandai berbohong. Sesampainya, Aku akan menyelesaikannya. Entah dengan kecupan atau memar yang akan tersisa. Aku harus mengetahuinya." tukasnya.

Aku mengabaikannya.

**

Ia memaksaku untuk tetap terjaga meski hari sudah selarut ini. Sudah pukul sembilan, yah memang belum terlalu larut. Tapi, Ya Tuhan Aku ingin tidur saja.

"Apa? Jangan memandangiku seperti itu." protesku.

"Ada apa?"

"Tidak, tidak ada."

"Aku tahu ada yang salah."

"Aku merasa baik-baik saja."

"Tentu. Terserahlah" Ia menyerah.

Terkadang Aku membenci lampu kuning yang ada di kamar ini. Ia memberikan nuansa menyedihkan. Memaksaku untuk menghirup udara jauh lebih dalam dan memaklumi emosi yang terhanan ini kudu ambyar saat Io mulai menyandarkan kepalanya di lututku. Aku mengusapnya lembut. Ia mengerjap dan memandangku dengan mata sedikit memicing karena harus berhadapan langsung dengan cahaya.

"Ada apa?" Aku balik bertanya.

"Tidak ada."

"Kau tak pandai berbohong."

"Kau hanya mengembalikan pertanyaanku sebelumnya. Curang."

"Kau yang tak baik." Aku tersenyum dan tak peduli apakah Ia melihatnya atau tidak.

"Benar. Aku tak baik. Bisakah kita hentikan pembicaraan ini?"

"Aku harus mengetahuinya. Harus. Entah kecupan atau justru pantatmu yang akan memberikan jawabannya kepadaku."

Ia tersenyum sinting.

**

Tentu saja Aku tak melakukannya. Aku hanya menggodanya. Sumpah demi apapun, Ia masih suci dariku. Yah, kecuali bibirnya. Aku masih menikmati sensasi mengelus kepalanya saat ia mulai terganggu dengan cahaya redup yang sengaja Aku tutup saklarnya. Bukan apa-apa, Aku menyukai nuansa hangat.

"Umm, Frappucinno." panggilnya lirih.

"Ada apa?"

"Perasaan apa ini?"

"Perasaan yang seperti apa?" Aku balik bertanya.

"Yang ada di sini." Ia menunjuk dadanya lalu mengetuk-ngetuknya dengan jari tulunjuk yang Ia miliki.

"Aku tak tahu. Memangnya bagaimana rasanya?"

"Apakah orang yang sedang rindu pantas berbahagia?"

"Mungkin, jika rindu itu tersampaikan."

"Aku merindukan Lana, entahlah aku sendiri tak tahu. Namun, Aku bahagia saat ini. Seharusnya perasaan bahagia ini tak ada jika aku benar-benar merindukannya. Kau tahu? Aku sangat-sangat bahagia."

"Baguslah, Aku turut senang." ujarku.

"Tidak, agaknya ini bukan rindu. Bukan rindu kepada Lana atau rindu kepada siapapun." Ia mulai bangkit dan meletakkan pipinya diatas lutut yang sedari-tadi ku peluk. Matanya padam, Aku tak pernah menyadari jika mata miliknya itu segelap ini.

"Kau pernah jatuh cinta?"

"Pernah, hingga detik ini." yakinku.

"Baguslah, itu artinya Aku tak perlu menjelaskan rasanya kepadamu karena Aku sedang merasakannya saat ini. Aku jatuh cinta dan Aku benar-benar bahagia." Ia tersenyum dan memeluk diriku. Aku tak tahu, senang atau justru sedih? Yang menyenangkan adalah perasaanku berbalas dna yang membuatku tersenyum gerir ialah Ia mengucap cinta di saat ia sedang merindukan seseorang. Tragis sekali.

Kau tak pandai berbohong. Aku membatin.

Bersambung

[Next]

From : Cerita Kaum Pelangi

No comments:

Post a Comment