Thursday, 15 December 2016

Forelsket - Part 01 - [Part Story]



Forelsket Part 1
By. DewaSa

**
Sekilas saja.

Cerita ini adalah salah satu cerita lanjutan dari ceritaku yang sebelumnya, yaitu "Hai, Orang Asing." Sekali lagi, ini cerita lanjutan. Dalam cerita ini Aku terinspirasi oleh novel laris karangan Songkalot Bangyikhun yang berjudul Two Shadows in Korea. Saking larisnya, novel tersebut hingga di angkat menjadi film layar lebar dan mendapat berbagai penghargaan di negara asalnya, Thailand.

Filmnya adalah film Thailand bergenre "Straight" terbaik setelah film You Are The Apple of My Eye. Yah, meskipun itu menurut versiku sendiri. Oh iya, judul filmnya Hello Stranger. Film yang patut kalian tonton.


Ceritaku ini jauh, dan sangatlah jauh dari novel yang Aku sadur idenya. Aku baru menyadari jika Aku hanya seorang remaja yang hobi menulis, bukan seorang penulis yang benar-benar ingin menulis. Jadi jangan banyak protes mengenai ide cerita ini dan maaf jika cerita ini sedikit hambar, dan maafnya lagi sudah membuang waktu kalian. Namun, kritik dan saran tetap di terima. Sebisanya Aku akan membaca setiap komentar yang masuk. Terima kasih. Selamat membaca.

DewaSa

**
Untuk kalian yang sudi membacanya, terima kasih.

Untuk Kai Febrian yang sudah menjadi teman yang sangat baik. Aku merindukanmu.

Untuk seseorang yang sudah membuatku jatuh hati berkali-kali tanpa ada satu semesta pun yang tahu, Aku pernah mencintaimu.
**

"We are two heartbroken people who meet each other, abroad – cold and lonely. Perhaps this feeling between us is just a temporary illusion."
_Songkalot Bangyikhun_

"Jadi, Kau pemilik akun Frappucinno?" Lelaki itu membuka suara tanpa mengalihkan pandangannya dariku sedetikpun. Matanya teduh, Aku menilai.

"Iya, Kau?" Aku balas bertanya.

"Kaukan sudah tahukan? Aku Si Pemuda yang belum pernah ML." jawabnya dengan mengisyaratkan sebuah tanda petik yang Ia bentuk dari kedua jarinya. Aku tertawa, kali ini tak membuat semua orang menatapku sinis, cukup membuat lelaki dihadapanku ini tersenyum saja Aku sudah puas.

"Jadi, Aku harus memanggilmu Frappucinno? Atau Fap-fap? Atau Cinno?" Aku terkekeh geli mendengar usulannya, apakah ia tahu arti 'fap-fap' yang sebenarnya? Tidakkah Ia terlihat sangat polos?

"Cinno nama yang bagus." putusku.

"Apakah itu karena Kau menyukai segelas penuh frappucinno ukuran Grande?"

"Yap, Kau benar tapi sejujurnya Aku lebih menyukai Ventie." Aku berterus terang. Jujur, Aku selalu puas menikmati takaran whipped-cream yang mereka berikan untuk ukuran Ventie, meski Aku sendiri lebih menyukai Toll yang ukuran gelasnya jauh lebih hemat dari ukuran Ventie. Yah, punya hobi nongkrong di coffee-shop super mahal membuat kantongku ambles minggu demi minggu.

"Aku menyukai es krim rasa kacang pistachio. Kau boleh memanggilku Io." Ia tersenyum simpul. Manis sekali, tak ada yang cacat sedikitpun dari senyumannya. Meskipun itu ada, Aku tetap akan menganggapnya sebagai anugrah.

"Hai, Io. Perkenalkan, Aku Cinno. Maafkan salam yang membuatmu tak nyaman di awal tadi." Aku meraih tangannya.

"Oh hai Cinno, Aku Io." Ia memulai, menyunggingkan senyum getirnya.

"Ehm yeah, Aku.. Aku seseorang yang baru saja patah hati." tukasnya, gugup.

Ia menceritakan masalahnya, Aku masih tak mengerti jika kejujuran bisa saja membuang hidupmu. Atau justru Kaulah yang membuang hidupmu karena kejujuran. Masalahnya hampir mirip sepertiku, kami di bully habis-habisan setelah come-out. Bedanya, Ia come-out kepada calon pengantinnya, tentu saja wanita. Mencoba terbuka kepada seseorang yang bakal mengisi hari-harinya. Mencoba mengenalkan masalalunya kepada masa depannya. Namun, Ia gagal. Aku bisa mengerti jika kebanyakan masyarakat terlalu was-was terhadap gerak-gerik kaum marginal, kaum gay. Mereka mencoba mengotak-kotakan masyarakat seperti 'yang normal sebelah kanan' dan 'yang, apapun itu selain normal silakan ke kiri.' Setelahnya mereka mengadakan Study Tour tanpa memandang sisi kiri mereka. Mereka bahkan tak mau melihat kita. Iya kan?

Sementara Aku? Dibully karena mendukung pernikahan sejenis yang telah disahkan oleh pemerintah Amerika. Aku dibully oleh pendengarku sendiri, Aku tahu mereka kecewa saat secara tak sengaja, Aku mengakui jika Aku juga seorang pelangi. Pendengar menutut radio tempatku bekerja, menuntut bosku, menuntut untuk menghentikan izin siaranku saat itu juga. Yah, singkat cerita Aku kalah. Keluarga? Entahlah, Aku menggunakan nama samaran saat bekerja dan Aku harap tak ada satupun pihak keluargaku yang mengetahuinya. Aku harap.

"Lantas apa yang membuatmu kemari?" tanyaku padanya.

"Aku kabur, pernikahan dibatalkan. Semua orang membenciku." jawabnya murung.

"Semarang? Mengapa Semarang? Kota panas yang tak memiliki satupun objek wisata yang menarik."

"Aku tak tahu. Aku hanya ingin kabur, bukannya berlibur." Ia menyimpulkan senyumnya lagi, kali ini berbeda. Aku bisa merasakan luka dibibirnya. Aku ingin sekali mengecupnya, merasakan seberapa banyak luka yang begundal-begundal itu torehkan disenyumnya yang elok ini. 

"Kau sendiri?" Ia memiringkan kepalanya, ah imut sekali.

"Semarang, kota kelahiranku." jawabku singkat.

Ia mengangguk mengerti dan kembali menekuni musiknya dan apapun yang menghalangi interaksi kami. Aku benci ini.

"Umm, Cinno." suaranya yang lembut tenggelam karena deru mesin bus yang berisiknya minta ampun. Ya Tuhan, Aku lupa ini bus yang usianya sudah uzur.

"Ya?" balasku.

"Aku ingin pipis."

Aku menghela napas dalam-dalam dan memanggil salah satu kernet untuk berhenti di SPBU terdekat. Io tersenyum.

**

Setelah perjalanan yang melelahkan kami tiba di terminal Mangkang pukul 9 pagi. Panasnya bukan main. Kami sibuk dengan barang bawaan masing-masing. Aku memasukkan jaket yang tadinya Aku kira bakal menghangatkanku.

"Bolehkah Aku mengetahui nama aslimu? Cinno?" tanyanya saat Ia merapikan barang-barangnya.

"Tidak. Aku suka Cinno." sergahku.

"Bagaimana caraku mencarimu saat Kita sudah kembali ke tempat masing-masing?" suaranya seperti memohon.

"Tak usah saling mencari, perjalanan singkat ini sudah membuatku senang hanya dengan mengenalmu. Biarkan takdir yang membuatmu menemukanku, atau sebaliknya."

"Lalu untuk apa Aku memanggilmu Cinno jika setelah ini Aku bahkan tak bisa memanggil namamu lagi?" Ia menatapku intens, dalam. Matanya indah, sayu, coklat dengan bingkai hitam kelam disekeliling pupilnya. Aku membalas pandangannya, Aku tak menyangka jika ada seseorang yang ingin menggenggamku, ingin mempertahankanku. Aku sebenarnya juga ingin, sangat ingin. Hingga lenganku punya pikirannya sendiri untuk memeluknya. Tidak. Jangan.

"Baiklah." Aku menghela napas.

"Aku seorang penyiar radio, cari saja penyiar yang suaranya mirip denganku." Tanpa Aku sadari bibirku melengkungkan senyum untuknya.

"Apa kita berpisah disini?"

"Ya, tentu."

"Tidak. Aku tak ingin. Aku ingin ikut, denganmu." Ia memohon, merengek seraya menarik-narik ujung kaosku.

"Aku tidak mungkin membawamu. Aku tidak mungkin membawa bayi yang terus-terusan merengekkan?" Aku jengkel. Aku menyukainya tapi tak berarti Aku kudu terus bersamanyakan? 

"Apa Kau akan meninggalkan bayi yang bisa saja menangis kapan saja di tengah-tengah terminal?" mata sayu itu lagi. Tidak, Aku akan kalah.

"Ya, Aku bisa." Jawabku sambil lalu.

Aku tak bisa membawanya, Aku akan bertemu dengan teman-teman lamaku. Bersenang-senang, mabuk, atau sex mungkin. Yah intinya Aku tak bisa membawa dirinya. Aku tak ingin merusaknya. Aku tak bisa melindunginya jika Ia terus-terusan bersamaku. Melindunginya dari hewan liar yang masih bersemayam dalam diriku.

"Aku mohon." Aku mendengar suaranya yang samar. Namun, Aku tetap melangkahkan kakiku, Aku berusaha keras mencoba tak memedulikannya. Tidak, jangan mengingat matanya. Aku mohon, jangan-pernah-sekalipun-mengingat-matanya. Memangnya, ada apa dengan matanya? Ia memiliki mata sayu yang selalu kudambakan.

Sial, kenapa tubuh ini malah berbalik kearahnya? Mengapa senyum ini juga menyambutnya? Tunggu-tunggu. Apa-apaan ini? Hei kaki, perhatikan arahmu! Berbalik! Ini perintah! Oh sial, kali ini tanganku. Tidak, jangan ulurkan tanganku. Hey, kenapa ini? Mengapa hatiku bisa mengambil-alih otakku? Jangan ikuti dia bodoh, hati itu mahluk yang lemah. Tidak. Oh tidak, Aku mulai mengusap pipinya Oh tidak, Aku jatuh cinta.

**

Kami tiba di sebuah rumah milik mendiang nenekku. Semuanya tak berubah. Bangunan khas belanda dengan lampu bohlam berwarna kuning di langit-langit terasnya masih menyala. Kemana Mbak Sum?

Sejatinya rumah ini adalah rumah induk. Ada beberapa kamar kost di samping rumah. Kesan kunonya tidak membuatmu bergidik, justru Kau akan merasa nyaman dan ingin sesegera mungkin mematikan lampu dan menarik selimut. Nyaman, adem, tenang, dan semuanya masih sama seperti dulu, penuh kenangan.

"Ini rumah atau museum?" Io merangkulkan lengannya kebahuku. Dari sampingnya, Aku dapat merasakan senyumnya, senyum jenaka yang belum Ia perlihatkan selama ini.

"Kembalilah ke terminal jika Kau benci museum ini." jawabku, sinis.

"Aku bercanda No." Ia mendekatkan wajahnya kearahku, melengkungkan senyumnya, lalu meringis seperti kuda.

Aku tak menjawab, lebih baik Aku mencari tahu dimana Mbak Sum karena rumah ini tak terkunci. Niatan ku itu hanyalah niatan semata. Seperti yang ku ungkapkan, rumah ini menyemburkan daya magisnya terhadapku. Suasana hangat ini seperti menyelimutiku sampai Aku menguap lebar.

Singkat cerita, Aku memutuskan untuk tidur.

Saat terbangun Aku meregangkan semua otot-ototku. Tulangky berbunyi protes sampai-sampai Aku harus menahan sakit karenanya. Nyeri.

"Eh, Cinno sudah bangun. Selamat malam Cinno." Io menyapaku dengan senyum manisnya. Ya Tuhan, Aku ingin mengulumnya.

"Selamat malam." balasku.

"Kamu tadi di cariin Mbak Sum. Aku bilang Kamu lagi tidur jadi ya, gitu. Mbak Sum udah nyiapin makan. Tidurmu lama banget." Ia mencubit hidungku. Merah.

Senyumnya, Ya Tuhan hentikan. Tidak, Aku mohon. Jangan membuatku jatuh lebih dalam. Aku tak bisa berenang jika Kau terus menenggelamkanku ke dalam hatimu. Apa Kau tahu? Hatimu itu begitu gelap atau justru Akulah yang buta saat jatuh cinta. Aku takut, Aku takut jika Aku tak mampu berenang kembali kepermukaan. Aku tenggelam, mati kedinginan, dan tak menemukan apapun dalam kegelapan. Apa Kau tak mengasihani Aku? Mengasihani hatiku?

"Kenapa?" Ia menangkap basah diriku ketika memandanginya lagi. Aku tertegun.

"Lagi-lagi kamu melihatku dengan cara yang seperti itu." Ia memprotes.

"Aku takkan melihatmu lagi." Aku memejamkan mataku.

"Lihat? Io, dimana kau?" Aku menggodanya.

Ia tak menjawab tapi Aku mendengar suaranya. Meski tak melihat sosoknya, Aku sudah mampu melatih kemampuan ekolokasi milikku. Mau mengetesnya? Baiklah, dirinya saat ini ada di dalam, dalam sebuah bejana besar berisikan nektar yang begitu banyak sampai-sampai Ia sendiri tak mampu bergerak. Bejana itu sama persis seperti hatiku.

" Kamu tahu?" Io menyipitkan matanya, membentuk bulan sabit yang paling indah segalaksi walaupun ia tak bertengger dilangit malam.

"Hmm? Apa?" Jawabku penasaran.

"Aku sudah tahu nama aslimu." Deg. Aku lupa mewanti-wanti Mbak Sum tentang masalah ini. Bodohnya Aku yang memilih untuk tidur seharian ketimbang menemui Mbak Sum. Keringat mulai turun dari dahiku, merosot sampai pipiku, lalu menguap entah kemana. Aku hanya tak ingin Dia mencariku di dunia nyata. Ia akan kecewa akan siapa Aku.

"Ahaha, Aku tak peduli." Aku tertawa canggung untuk menutupi rasa panik yang melanda. Semoga Ia tak menyadarinya.

"Namamu adalah," inilah saatnya. Jati diriku, terbongkar. Berlebihan? Biar saja.

"Hmm?" Aku melanjutkan.

"Den Bagus Kenang." Ia menebak sambil mengacungkan jari telunjuknya. Wajah bodohnya. Aku tertawa, tebahak-bahak. Tak menyangka Ia sebegitu bodohnya, sebegitu polosnya.

-BERSAMBUNG-

[Next]

From : Cerita Kaum Pelangi

No comments:

Post a Comment