Forelsket Part 3
By. DewaSa
"Aku tahu Kau meninggalkanku lagi semalam." Io menuduh.
"Kau tahu? Aku mengetahuinya saat aku meraba-raba sisi kiriku dan tak menemukanmu. Bagaimana jika Aku didatangi hantu yang semalam Aku lihat? Bagaimana jika Dia sengaja menyamar jadi dirimu untuk mendapatkanku?" sambungnya.
"Sejujurnya," Aku membuka mulutku.
"Apa?" dari nadanya Aku tahu jika Ia semakin menuntut jawaban dariku.
"Seseorang yang Kau peluk semalam itu bukanlah diriku." Aku tertawa saat ia berjengit, Aku pikir Aku juga menyukai ekspresi kagetnya.
Ia meninju perutku, memukul pundak, hingga menggelitiki rusukku. Aku terjungkal kebelakang karena tak mampu menahan berat tubuhku sendiri di tambah berat tubuhnya. Ia jatuh bersamaku, bedanya Ia sempat menopang tubuhnya dengan satu tangan sementara tangan yang lain mencoba menggapai punggungku tapi Ia gagal. Sekali lagi, wajahnya pucat memerah sama seperti kepiting rebus.
Sialan, Aku paling tak menyukai suasana seperti ini. Hening, hening yang selalu memberikan dua buah opsi. Pertama, menuntut siapapun untuk memecahnya dan yang kedua Ia akan dengan sukarela menuntun siapapun menuju kecanggungan maha yang dahsyat.
"Umm, Io." Aku mencoba memilih opsi yang pertama.
"Ya?" balasnya.
"Kau tak ingin menciumku?"
Merah, kali ini Ia sama seperti kepiting yang masak.
Duuaaagh!
Kurang ajar, sakit, pening, sepertinya ada banyak kunang-kunang di mataku. Alih-alih mendapatkan ciuman darinya Aku malah mendapat srudukan tepat di pusat dahiku. Kepalanya sekeras batu. Lihat! Benjol sepertinya.
"Sakit." ucapku parau.
"Hmm."
"Kepalamu sekeras batu." protesku.
"Ucapkan sekali lagi dan Kau akan merasakan kerasnya kepala Megalodon!"
Aku mendengus kesal kearahnya.
"Hei, mau kemana Kau?" Ia berteriak setelah melihatku melangkah pergi.
"Mau jalan-jalan. Aku tidak mau dan tak akan pernah mau mengajak orang aneh berkepala Megalodon." ejekku.
**
Aku suka saat ini, mengitari kearifan kota yang belum terjamah oleh orang-orang munafik. Atmosfer yang ditimbulkan kawasan pecinan ini begitu hangat. Nuansa merah yang melebur bersama cahaya jingga yang dihasilkan oleh lampu-lampu jalan yang dipasang secara sporadis ini menenangkanku, tak terlalu terang dan tak terlalu gelap. Sempurna. Kawasan pecinan Semarang hanya buka pada hari Jumat hingga Minggu. Aku tak tahu mengapa, jangan tanya.
Setelah memarkirkan motorku, kami berjalan santai dari parkiran yang hanya berjarak satu blok dari gapura pecinan. Ia mengenakan kaos hitam oblong dengan jaket motif army yang tak Ia kancingkan dan celana cargo warna hijau zaitun yang sedikit gelap menggantung di bawah lututnya. Sempurna, Aku mengaguminya.
"Aku nggak pernah tahu ada kawasan pecinan yang di garap seniat ini." Io masih memandang kagum pada gapura super besar yang bakal menyapamu 'hey, selamat datang di kawasan pecinan'. Gapura itu punya tinggi sekitar 15 meter dan lebar mencapai 25 meter, Aku hanya mengira-ngira. Di atas gapura itu di gantung lampu beraneka warna dan lampion dengan hiasan naga emas di tengahnya, sama seperti patung naga di atap gapura itu.
"Sebaiknya Kau harus berhati-hati. Banyak yang tidak halal." ucapku akhirnya.
"Halah, Shalatmu saja masih jarang."
"Aku hanya memperingatkanmu."
"Iya-iya" Io mengangguk mengerti.
Tanganku gatal ingin buru-buru menggandengnya masuk, memperkenalkannya dengan makanan fusion semarang-cina, memperkenalkan suasananya, hingga penjual jajanan yang sudah langka di Semarang sekalipun. Aku menyukai perpaduan rasa manis masakan jawa dan rasa asin khas saos tiramnya. Orang jepsng menyebutnya, umami.
"Ingin makan apa?" Ia menoleh ke arahku.
"Aku belum bisa memutuskan. Eh, di sini ada penjual es hawa yang enak banget."
"Es hawa? Aku maunya Es adam. Eh." Aku nyengir kearahnya dan menarik ujung jaketnya.
"Emang Kamu pikir Aku anjing? Seenaknya saja Kau menarik tangaku dengan paksa" Ia mencoba menampik pegangan tanganku.
"Baiklah tuan Megalodon." Aku melepaskan ujung jaketnya.
"Ayo!" ujarku. Ia tersenyum seraya melangkahkan kaki di belakangku, mengikutiku, tersenyum kepadaku, dan mencoba menggaet jari kelingkingku dengan kelingkingnya. Ah, andai anjing bisa semanis ini.
Aku membelikan sebatang es hawa untuknya. Ia tersenyum, lalu mengulum es itu dalam mulutnya. Mata sayunya memantulkan terang lampu neon yang di gunakan oleh beberapa stand makanan di kawasan ini. Mata itu semakin indah. Ingin Aku mengungkapkannya, mengatakan jika Aku mencintainya. Aku tak bisa, rasa ini masih terlalu dini untuk berubah jadi cinta yang Aku maksud. Rasa ini masih terlalu Absurd untuk timbul dalam hatiku saat ini. Rasa ini amoeboid dan belum berbentuk hati seperti yang orang lain maksud.
'gila, ini enak banget.' Matanya berbinar, seakan berbicara dengan mataku. Namun, Aku hanya membalasnya dengan kerlingan mata.
**
"Hati-hati, banyak yang nggak halal di sini." ujarku.
"Kau sudah mewanti-wantiku tadi."
"Idiih. Aku hanya memberitahumu, tak lebih."
"Yah, Aku tahu itu. Kita hanya dalam kisaran hubungan 'tak lebih' " ucapnya sambil membuat-buat tanda kutip dengan jarinya lagi.
Aku tak menggubrisnya, Aku ingin menghentikan binar yang ada di matanya saat melihat jajaran stand makanan di sini. Hey, bisakah binar itu untukku saja? Aku tak peduli jika Aku egois. Aku ingin memilikinya.
"Hey, hentikan." Aku menyentakkan tangannya.
"Apa?" suaranya meninggi.
"Tatapan laparmu itu!"
"Tak ada yang salah dengannya."
"Oke-oke, mau makan apa?"
"Bacon sepertinya enak."
**
Tidak, Aku tidak menginginkan hal yang seperti ini. Ia marah. Ia tak suka jika kebebasannya di usik. Aku tak bisa menahan diri saat Ia menyuapkan daging itu kedalam mulutnya, mengunyahnya sampai lumat lalu menelannya. Aku menggebrak meja.
"Itu haram!" Teriakku kearahnya.
"Apa? Apa urusanmu? Ha?" suaranya tak kalah tinggi.
"Aku tidak ingin Kau memakannya."
"Apa? Ini tentang agama? Kau tahu? Aku atheis, tak ada yang melarangku. Termasuk dirimu."
"Aku hanya tak ingin Kau memakannya!" Aku mengulang, membentaknya.
"Oh Aku tahu, ini masih tentang celotehan tak bermutu tentang agamamu itukan?" tatapannya mulai mengintimidasi.
"Oh, ini tentang keyakinan tak bernamamu itu?"
"Jadi Kau mulai menganggap baik agamamu itu? Ya memang, mungkin agamamu baik tapi tidak dengan mu."
"Setidaknya Aku masih umat beragama!"
"Benarkah? Dengan sikapmu yang seperti ini, gaya hidupmu, apakah Tuhan masih menerimamu sebagai umat-Nya? Naif sekali!"
"Apa maksudmu?"
"Kau pikir Tuhan menerima kaum seperti kita? Gay! Hah? Tidak!" Aku melayangkan bogemku kearahnya. Aku tak tahu jika udara sudah sesering ini ku hirup. Napasku memburu, Aku tak pernah merasa semarah ini. Tanganku masih berdenyut hebat saat ini, sama seperti jantungku.
Aku tak tahu jika kerumunan itu sudah siap menangkap tubuhnya yang oleng itu. Aku juga tak tahu sejak kapan sekumpulan orang sok ingin tahu itu berada di sini. Tidak, Aku melihat matanya. Maafkan Aku, Io. Kau benar, Aku yang rusak. Aku yang rusak, bukan agamaku. Tunggu, Dia tadi mengucapkan apa?
Seketika Aku berusaha menggapainya dan melerai kerumunan itu. Io menolakku. Tangannya meronta saat Aku berusaha menyentuhnya. Tubuhnya panas, Aku bisa merasakannya dari jarak yang terhitung tidak dekat ini. Dahinya berkeringat, Aku bisa melihat peluhnya.
"Maaf." ucapku lirih.
"Tidak."
"Bibirmu berdarah." Aku masih tak mampu mengendalikan suaraku sendiri. Suaraku bergetar, Aku dapat merasakannya. Entah itu karena takut, khawatir, atau perasaan buruk apapun itu yang membuatku bergetar, bergidik tiada henti.
"Aku tahu."
"Maaf."
"Tidak."
Aku mulai mendengar bisikan-bisikan miring itu. Mereka membicarakan 'gay'.
"Apa kalian pikir ini telenovela? Menyingkirlah! Ini bukan tontonan!" Aku membentak mereka dan berharap mereka cepat membubarkan diri. Sekali lagi, tubuh dan suaraku bergetar. Sepertinya Aku mau pingsan saja.
**
Lebih baik di guyur air es, membiarkan neuron sensorik dan motorik ku mati lalu Kau boleh sepuasnya menyayat aku hingga tubuhku tercabik ketimbang menghadapi dirinya yang seperti ini. Ia masih saja bungkam. Pukul Aku saja dengan tinjumu. Atau tikam Aku dengan belati. Aku mohon, jangan bunuh Aku dengan diammu.
"Kamu mau kemana?" Aku terus membuntutinya tanpa arah sesaat setelah meninggalkan kawasan pecian. Mungkin kami sudah sampai di daerah gang baru yang berjarak beberapa blok dari sana.
"Aku bertanya kepadamu. Hey?" berusaha memelankan dan melembutkan suaraku pun tak membantu sama sekali. Ia masih dengan langkah cepatnya dan dengusannya saat Aku menyentuh lengannya.
"Kamu tidak tahu daerah ini kan? Ayolah, pulang. Kita selesaikan di rumah." Aku membujuk.
Ia menghentikan langkahnya.
Ya Tuhan, terima kasih.
"Aku mau pulang malam ini. Ke Jakarta."
"Tak ada angkutan. Paling tidak besok pagi. Ayolah kita pulang, ya?" bujukku.
"Kau tak dengar? Aku mau sekarang!"Ia membentakku. Suaranya bergetar sama seperti suaraku. Aku lelah.
"Aku janji, besok pagi-pagi buta Aku akan mengantarmu. Sehabis subuh. Janji." Aku mengacungkan jari manis sebisaku.
"Kau bahkan tak tahu kapan subuh hadir." Ia kesal.
Aku benci bahasan Agama ini. Agamaku ya Agamaku, bagaimana Aku menjalaninnya dengan ikhlas meski hal itu masih terasa "seadanya" dan "semampunya." Tak ada yang boleh protes atau mengomentarinya. Obrolan itu akan sangat sensitif bagiku. Sedetik berlalu, Aku tahu Ia tengah memutar matanya walau yang Aku pandangi saat ini hanyalah punggungnya yang agak lebar tapi tak selebar milikku.
"Kita pulang, ya? Aku mohon." Aku bahkan tak tahu sejak kapan Aku belajar memelaskan suaraku.
"Kau menang."
Aku tersenyum. Mungkin saat inilah senyuman paling tulus yang pernah Aku sunggingkan. Mudah sekali Io menarik kedua ujung bibirku ini, hingga Aku sendiri tak sadar jika Aku tersenyum sambil menarik napas lega.
"Tapi naik taksi." lanjutnya.
-BERSAMBUNG-
[Next]
From : Cerita Kaum Pelangi

No comments:
Post a Comment