Forelsket Part 6
By. DewaSa
Hari ini adalah hari terakhir kami di kota kecil ini. Ibu kota yang suasananya tak seperti ibukota yang dimiliki provinsi lain. Sarana prasarananya biasa saja, udaranya panas khas kota-kota yang terletak di jalur pantura, udaranya berdebu hebat, dan tak punya jantung kota.
Bagaimana sekumpulan organ bisa tetap bekerja jika tak ada terminal yang mendistribusikan segalanya? Jantung, kota ini butuh jantung. Sederhananya, Aku tak terlalu menyukai kota ini. Namun, Aku selalu memiliki alasan untuk kembali, yaitu makam nenek. Kota ini perlu sesuatu untuk menarik kebali wisatawan, kota ini perlu magnet sekaligus suatu sistem yang mampu memompa -apapun itu- untuk membuatnya lebih terasa hidup. Baiklah, narasi ini sangat 'pointless'. Tapi sungguh, Aku rasa Semarang adalah ibu kota yang bukan seperti ibu kota.
"Kau ingin kembali ke sini?" tanyaku murung.
"Tidak." Ia menjawab tanyaku tanpa mengalihkan pandangan dari majalah yang baru saja dibelinya.
"Meskipun Aku memutuskan pidah dan menetap di sini?"
"Hmm.. Pertanyaan yang sulit. Bisakah Kau tak pergi kemana-mana? Memberitahukan nama dan nomor telponmu. Aku pasti sudah bahagia. Gampang."
"Tidak."
Saat ini Ia justru menatapku dalam. Sial, mata teduh itu lagi. Setiap menemukan pupil matanya Aku justru terhipnotis untuk mengecupnya. Membiarkan tubuhku ini terperosok kedalamnya beberapa depa. Bukan, tapi malah ribuan depa yang membuatku merindukan cahaya dalam beberapa detik saja.
"Kau selalu mengecupku. Apakah Kau tak berniat untuk meminangku?" Io bergelayut manja, kekanakan.
"Tidak."
"Kau irit bicara hari ini. Ada apa?"
"Tidak ada."
"Baiklah, Aku tak memaksa."
Setelahnya, gagak mulai berkoak dan bertengger diatas ranting pohon yang agak gundul. Ia mengintai dan mengejek dengan mata kuningnya dan meminta siapa saja untuk memecah hening. Semenit, aku masih sibuk dengan bawaanku. Aku menyempatkan diri untuk melirik gagak yang entah mulai kapan sudah ku beri jabatan, 'yang merajai sepi'. Sepuluh menit, Ia menguap dan menaruh majalah miliknya hingga menutupi muka. Sedetik setelah sepuluh menit, aku mulai gila. Aku mendekatkan diri dan menyangga tubuhku dengan kedua tanganku. Posisinya mirip, mirip seperti malam disaat Io kehilangan ciuman pertamanya. Ia menurunkan majalahnya sampai leher saat menyadari ada yang menekan kasur empuk disekelilingnya. Aku bisa saja menindihnya jika aku tak mau mengendalikan diri, aku ingin. Namun, ini bukan waktu yang tepat.
"Kau mencintaiku?"
"Mungkin."
"Aku tahu jika Kau memang tak pernah serius." ungkapku.
"Jangan jadi pemurung seperti itu." desaknya.
Aku mengalihkan pandangan darinya.
"Siapa yang sebenarnya tersakiti? Kau? Kau bahkan tak peduli dengan 'semua ini' setelah 'ini'" Aku tak suka gaya mengkritiknya.
"Kau mengerti?"
Aku menggelengkan kepala.
"Setelah Kau mengecupku, tidak, setelah membuatku jatuh cinta, Kau tak berniat untuk memiliki Aku." matanya semakin intens mencari-cari mataku yang sedari tadi main kejar-kejaran dengannya.
"Ah, sudahlah. Kau tak mengerti." Ia mendorong tubuhku untuk menjauh. Matanya masih teduh walaupun pelupuknya mulai diganduli awan berwarna kelabu. Tengkukku terasa dingin, sampai aku sadari jika Ia mulai meneteskan embun matanya.
"Maaf, tak seharusnya Aku seperti ini. Terlebih lagi, di hadapanmu." Ia menampik kedua tanganku yang tengah mencoba merangkum dunia untuk diriku sendiri. Ia berlari meninggalkanku. Langkahnya cepat, secepat tetesan pertama air mata yang jatuh di punggung tanganku.
Apa yang sudah Aku lakukan? Demi Tuhan, Aku tak mengerti.
**
Beberapa saat kami melewati perjalanan dengan keheningan yang membungkus atmosfer diantara kami. Aku tak berani menggaet tangannya, Ia juga seperti itu. Sesekali kami saling mencuri pandangan, meliriknya sekilas untuk memastikan jika Ia baik-baik saja. Apa kau tahu? Aku sangat benci dengan gagak imajiner yang merajai sepi dan Aku sangat ingin memeluknya.
Mata kami bertemu, sedetik, lalu Ia memalingkan wajahnya. Aku sangat menyukai matanya.
"Baiklah, apa mau mu?" tanyaku setelah memastikan jika ia juga menangkap mataku, Ia tak menolak.
"Tidak ada."
"Aku tahu Kau menyimpan sesuatu."
"Sudahlah, " Ia menarik diri dari tanganku yang hendak merangkulnya "lakukan saja sama seperti yang Kau rencanakan. Lakukan saja semaumu."
"Aku tak mengerti."
"Tentu! Kau tak mengerti betapa murahannya diriku! Yang mengira ciuman pertama itu sebagai penanda jika Aku ini milikmu! Aku salah! Aku terlalu naif karena menganggap dirimu mau menerimaku!"
"Hentikan." sergahku saat ia mulai meninggikan suaranya.
"Aku malu, Kau tahu? Aku malu. Sangat malu."
Suaranya memelan, hampir seperti bisikan doa tengah malam tanpa menggugah apapun untuk terbangun.
"Aku mencintaimu. Sesederhana itu. Yang Aku butuhkan hanyalah dirimu dan kesediaanmu. Mudah. Nyatanya tidak, Kau bahkan tak bersedia"
"Aku malu karena sudah berharap." Ia menutup mulut.
Aku beruntung karena peron yang kami tempati masih sepi, maksudku terhitung sepi. Tak ada yang memperhatikan kami sama seperti kasus pecinan. Sepertinya kasus ini jauh lebih rumit di banding kasus pembunuhan. Ini tentang perasaan. Sederhana, hanya saja syarat yang aku patok membuatnya terasa sulit. Aku bahkan tak tahu apa tujuanku membatasi diri seperti ini. Aku ingin hati dan pikiranku sejalan. Tidak, Aku hanya ingin dia.
Pukul 21.05 kereta di jadwalkan akan mengangkut kami pulang ke Jakarta sana. Namun, jam karet sepertinya juga memengaruhi Stasiun Tawang. Tak ada yang bisa di salahkan. Tentu, keterlambatan menjadi hal yang wajar dan sangatlah wajar untuk kita. Orang yang tak normal justru orang yang selalu tepat waktu.
Malam semakin larut, sementara kami masih sibuk bercokol dengan perasaan kami masing-masing. Kami duduk bersila sambil menyender didinding stasiun. Sesekali Io memainkan tiketnya untuk mengecek pukul berapa kereta akan tiba. Ia juga terkantuk-kantuk dengan kepalanya yang sudah mengangguk-angguk kelelahan. Aku menyandarkan kepalanya kebahuku, sejenak Ia tak menolak tapi setelah kesadarannya kembali Ia akan menarik diri dan kemabali mengangguk-anggukan kepalanya tanpa sadar. Ia masih marah.
"Bersandarlah, Aku tak tega jika melihatmu seperti itu terus." tanganku berusaha meraih kepalanya danenyandarkannya ke bahuku. Ia tak menolak. Ia tertidur.
**
Pukul 22.00 tepat kereta tiba. Aku membangunkannya tepat sebelum imbauan di interkom berbunyi. Ia limbung, Aku menggendong ransel di punggung, koper kecilnya di tangan kiriku, dan setengah memapahnya di sisi kananku. Ia agak berat.
Tak sulit mencari bangku yang menjadi hak kami. Tidak seperti bus reot lalu yang mempertemukan kami tanpa sengaja. Namun, kali ini kami tak perlu repot-repot mengandalkan takdir untuk mempertemukan kami dalam satu bangku sedikit lapang untuk kami, kami sengaja memesan dengan nomor bangku agar kami bisa bersama.
Aku duduk di dekat jendela dan menyandarkan kepalaku di kepalanya yang menyandarku. Kepala kami saling tumpang tindih. Sesekali Ia mengigau dan mencari-cari tanganku untuk berpegangan. Aku ulurkan saja tanganku untuknya, tangan ini untuknya, untuk lautan mimpinya yang membentang luas.
Melihatnya pulas tertidur membuatku ingin mengecupnya, mengecupnya hingga kami berdua saling tenggelam ke dasar palung mimpi kami masing-masing, dan Aku tak ingin terbangun.
**
Aku di bangunkan olehnya. Bukan tipe emak-emak yang menggoyangkan tubuhku hingga aku merasa tak nyaman lalu terbangun tapi Aku terbangun karena merasakan desakan lembut di bibirku. Ia mengecupku, lembut.
"Selamat pagi." sapanya.
Aku masih dalam keadaan tak sadarku saat ia menyunggingkan senyum. Terima kasih Tuhan.
"Ada apa? Kau sedikit... Berbeda."
"Yah, maafkan Aku. Aku mulai mengerti. Maafkan Aku untuk semalam."
Aku menelengkan kepala tanda tak mengerti.
"Sudahlah, tak usah di bahas. Kau ingin Aku mencarimu kan? Aku akan melakukannya. Sampai dapat!" ujarnya.
Aku mulai mengerti pembicaraannya tadi.
"Kau tahu?" Ia menatapku dengan tatapan nakalnya dan jemari langsingnya yang menelusuri bibirku.
"Ini milikku." tandasnya dan aku semakin mengerti
**
Apa yang membuatmu melambung begitu tinggi? Pernyataan cinta? Apa yang membuatmu tersentak sekali hentakan dan kau sudah sampai di bumi? Penghianatan?
Alasanku tak sebanyak itu, untuk keduanya jawabanku adalah Pistachio.
Ia melambaikan tangan kearahku, meski jarak kami berdua hanya sekitar satu rentang tangan orang dewasa. Ia memelukku lagi dan Aku merasakannya tengah menghirup aroma tubuhku. Dalam sekali, rasanya Aku seperti ikut tersedot hingga masuk ke paru-parunya dan merasakan kesegaran udara yang ada di dalamnya. Sekali lagi untuk yang kesekian-kalinya Aku melerai pelukan hangatnya.
"Sudahlah. Kau kan juga sudah berjanji untuk menemukanku."
"Itu sulit frappucinno, sulit." katanya.
"Makanya, berjanjilah untuk menepati janjimu. Aku juga akan berusaha."
Ia mengecupku lembut, di tengah-tengah keramaian.
"Jangan lakukan itu lagi, manis."
"Kenapa? Karena kau menyukainya atau karena kau tak menyukainya?"
"Keduanya. Sudahlah. Terimakasih."
"Ya,"
"Cinno." ucapnya lirih.
Ia meraih tanganku. Membiarkannya menggantung di udara. Ia tersenyum, Aku menyusulnya. Ia memelukku lagi dan menenggelamkan wajahnya di bahuku. Basah, Ia menangis.
"Aku akan merindukanmu."
Aku mendekapnya sambil mengelus punggungnya. Aku masih bisa merasakan minyak wanginya yang tercium samar-samar dari balik sini. Kurang dari semenit Ia buru-buru mengurai pelukannya. Matanya melebar dengan bibir yang sepertinya kelu. Matanya terpaku pada sesuatu di balik punggungku. Ia menampik bahuku agar tak menghalangi pandangannya. Keringatnya turun, senyumnya mengembang, matanya berbinar, langkahnya pasti, dan bibirnya berusaha mengucap sesuatu tapi terbata.
"Lana, Lana. Dia Lana!" Panggilnya samar, sesamar hembusan angin. Suaranya bergetar, semenggetarkan guntur dan sayangnya hatiku ini adalah kaca.
-BERSAMBUNG-
From : Cerita Kaum Pelangi

No comments:
Post a Comment