Aku masih belum ingin pulang, masih ingin bicara dengannya. Tapi tiba-tiba hapeku berdering. Hero mendiamkan diri. Kurogoh sakuku dan kutemukan nama Mas Nawi di layar hape.
“Abraham Dekalvin, kamu di mana? Aku sudah nunggu hampir setengah jam di parkiran enggak muncul juga.”
“Mas pulang duluan aja deh hari ini. Aku masih ada tugas,” bohongku. Di sampingku, Hero kembali menyalakan rokok keduanya.
“Ya udah, kamu di kelas, kan? Aku ke situ aja nunggu kamu.”
“Mas, gak usah. Beneran deh, Mas Pulang duluan aja!”
“Gak, Dek. Kamu kan sering nunggu kalau giliran aku yang ada ekskul, aku gak mau egois dengan pulang duluan saat kamu ada tugas.”
Huh. Laki-laki ini beneran keras kepala. “Aku gak di kelas, tauk!”
“He?”
Kubayangkan ekspresi melongo Mas Nawi. Dia pasti sedang duduk di atas motornya saat ini, mungkin sambil menggaruk-garuk kepalanya tak mengerti. “Iya, aku gak di kelas.”
“Kok bisa? Kapan kamu perginya? Bel pulang baru aja bunyi, kan?”
Apanya yang sudah menunggu setengah jam kalau bel pulang baru saja bunyi? Dasar penipu. Kupikir, aku akan jujur saja padanya. “Aku bolos.”
Tak ada respon.
Aku khawatir laki-laki itu terkena serangan jantung. “Aku bolos pas jam istirahat.”
“Jangan bilang kamu mendatangi si Hero itu!” Oh, ternyata dia hanya hypertensi.
Kulirik Hero di sebelahku. Aku tidak yakin dia tak bisa mendengar percakapan sayup Mas Nawi lewat corong hape. “Dia temenku, Mas. aku harus jenguk dia.”
“Untuk jenguk berandalan gak tau terima kasih itu kamu sampai membolos? Apa yang terjadi dengan kewarasanmu?”
“Aku gak butuh permisi Mas untuk apapun yang mau kulakukan!” Aku juga mulai naik darah.
“Kapan aku bilang kamu butuh permisi dariku?” Laki-laki di ujung telepon balas membentak.
Aku diam.
Mas Nawi juga terdiam di ujung sana. Lalu kudengar dia mendesah. “Maaf,” ujarnya.
“Gak apa-apa. Deka juga minta maaf…”
“Rumahnya di mana, biar aku jemput ke sana.”
“Ini Hero mau nganterin.”
Hero membuang rokoknya ke asbak. “Kalau dia mau jemput ya lebih bagus. Suruh aja dia kemari. Lagian, motorku jelek begitu.”
Aku ingin merespon kalimat Hero, mengatakan kalau motor tua keren di luar sana tidak jelek sama sekali. Tapi Mas Nawi sudah kembali bersuara.
“Dek, aku udah siap mau jalan nih. Di mana rumahnya?”
Dapat kudengar derum motor Mas Nawi yang baru saja distarter. Aku mendecak kesal. Kututup telepon begitu saja dan kumatikan hapeku setelahnya.
“Ayo, antar aku pulang,” kataku pada Hero.
“Kupikir supirmu bakal datang menjemput.”
“Jangan banyak omong!”
Hero menggidikkan bahu dan bangun dari kursi. Dia berjalan ke pintu. Di belakangnya aku mengikuti dengan langkah sedikit pincang.
Sudah begitu lama kuidamkan diriku duduk di boncengan motor tuanya. Aku senang hari ini kesampaian. Tanpa diminta, langsung kupeluk pinggangnya setelah dia menendang tuas engkol. Suara motornya terdengar ribut, asap tipis keluar dari mulut knalpot. Hanya sebentar, karena beberapa detik kemudian suara motornya jadi lebih lembut dan asap tipis habis.
Hero melajukan motornya di jalanan, jauh dari kata mengebut. Di belakangnya aku duduk dengan dada berdebar. Aku sering di bonceng Mas Nawi, tapi berada di boncengan Hero terasa begitu jauh berbeda. Yah, berada dalam jarak dekat dengan sosok yang kita sukai memang memberikan efek yang tidak biasa.
“Aku gak tau di mana rumahmu sekarang.”
“Aku masih ingat jalan ke rumahku. Tugasmu hanya mengemudi saja.”
“Baiklah.”
Kecepatan motornya berubah secara signifikan. Membuatku kian erat memeluknya.
Dua puluh menit kemudian, setelah suaraku serak gara-gara harus bersaing dengan suara motornya untuk menyuruhnya belok kiri belok kanan, Hero menghentikan motornya di depan gerbang rumahku. Cukup lama dia memperhatikan rumahku yang sekarang.
“Ayo masuk. Mama pasti senang ketemu kamu,” ajakku setelah turun dari motornya. Tapi dia bergeming. “Ayo masuklah, kurasa Mama masak enak hari ini,” ajakku lagi.
Terbayang olehku dulu kami sering makan siang di rumah satu sama lain. Jika bukan aku yang bersepeda ke rumahnya siang-siang sepulang sekolah, maka dialah yang akan mengayuh sepedanya ke rumahku.
Sekilas kulihat Hero seperti menerawang, lalu dia menggeleng. “Kenapa?” tanyaku.
“Mamamu pasti akan ngira kamu bawa preman ke rumah.”
Aku paham yang dia maksudkan adalah wajahnya yang bekas dipukuli itu. Tapi kalau boleh berkata jujur, dengan wajah berbekas hajaran sedemikian rupa, aura maskulin dari sosoknya terasa lebih kuat.
“Aku pulang, Dek.”
Tanpa menungguku bersuara, dia sudah melesat pergi. Setelah motor Hero hilang dari pandangan, kubuka pintu gerbang dan kulintasi halamanku yang luas menuju beranda. Saat sudah di teras, hal yang pertama kupikirkan adalah meminta maaf pada Mas Nawi. Meski aku tahu laki-laki itu terlalu baik untuk tak akan menjemputku lagi esok pagi saat pergi sekolah, aku tetap perlu minta maaf padanya dan meredakan ketegangan antara kami yang sempat terjadi di telepon lebih kurang setengah jam lalu.
Kupikir, aku akan ke rumahnya sore nanti dan menanyakan adakah catatannya yang belum disalin?
***
[Next]
From - Cerita Kaum Pelangi

No comments:
Post a Comment