Monday, 2 May 2016

"Selfie" by R.Adan [Short Story]



Selfie
By : R.Adan

“oke ka, gue rasa gue udah mulai gila” ucap leo sambil mengacak-acak rambutnya dengan sangat frustasi. Azka, sahabat sekaligus tetangganya tidak mengubris ucapan leo sama sekali. Azka tetap fokus pada buku paket biologi yang ia baca.

“pokoknya hari ini juga gue harus selfie disana” lanjut leo masih dengan tampang frustasi. Azka menatap sahabatnya itu dengan prihatin, ia mengeleng-gelengkan kepalanya pelan melihat tingkah sahabatnya yang seperti orang gila.

Leo, 16 tahun. Mungkin anak ini memang bisa kita katakan ‘gila’. Bagaimana tidak, dia bisa saja bunuh diri hanya karena tidak bisa selfie disuatu tempat yang ia inginkan. Sejak mengenal ponsel, leo mulai tergila-gila untuk terus berfoto. Ia banyak mengunjungi tempat tempat yang jauh dari rumahnya hanya untuk mengambil gambar dirinya ditempat itu. 

Kemarin lusa , leo melewati sebuah gedung rumah sakit yang sangat tinggi dan kegilaannya muncul. Tiba-tiba ia membayangkan dirinya lompat dari atas gedung rumah sakit itu dan kemudian berselfie diudara. Seharian kemarin pikirannya benar-benar dipenuhi oleh keinginannya untuk melakukan aksi selfie maut itu. leo bahkan tidak bisa makan dan tidur sebelum bisa selfi disana.

Selain keluarganya, azka adalah satu-satunya orang yang tahan melihat kegilaan leo. Azka bahkan sangat memaklumi sahabatnya itu. tapi kali ini azka binggung, leo ingin berselfie diudara setelah terjun dari sebuah gedung. Bagaimana bisa? Kecuali anak itu ingin mati.

Azka tahu betul, jika keinginan leo itu tidak terpenuhi maka sahabatnya itu bisa saja melakukan selfie maut seprti itu namun dengan cara yang lebih mudah, mungkin seperti selfie sambil minum racun tikut, selfie sambil mengunyah obat nyamuk, selfie sambil mencelupkan kepalanya keair mendidih. Itu lebih mudah dilakukan dari pada lompat dari atas gedung kemudian berselfie. Semuanya akan sama saja hasilnya, mati!

“gue harus selfie disana, harus! harus! harus!” kata leo sambil membentuk tinju ditangan kanannya. “lo harus bantuin gue ka” sambungnya lagi. Leo menatap azka sambil menyipitkan matanya.

“gue harus apa?” tanya azka dengan sangat sabar. Ia menatap leo yang tampak semakin frustasi.

“ya pikirin lah lo harus apa. Itu gunanya temen ka” jawab leo tegas. Azka menarik nafas panjang. Mungkin dada-nya sesak menghadapi tingkah leo. 

“ya udah nanti gue pikirin, ayo pulang” kata azka. Ia bangkit dari kursi dan membereskan barang-barangnya.

mereka berjalan melewati kelas-kelas yang sudah sepi, sekarang memang sudah jam pulang sekolah, hanya beberapa anak yang masih tinggal dikelas mereka masing-masing.

“azka, mendung” teriak leo dengan gembira sambil menunjuk awan. Ia lalu mengeluarkan ponsel dari sakunya.

“potoin, gue udah lama mau foto sama awan mendung, cuman jarang ketemu” lanjut leo yang kemudian menyerahkan ponselnya kepada azka dan bergegas mengambil pose. Beberapa anak dilapangan basket tertawa memperhatikan tingkah leo.

“ka duduk, awannya harus kelihatan” kata leo lagi. Azka menurut dan berlutut kemudian mengambil gambar leo dengan latar belakang awan mendung. Azka terlalu sabar untuk sahabatnya itu.

Mereka pergi melewati gerbang sekolah dimana beberapa siswi yang sedang menunggu jemputan saling berbisik. Siswi-siswi itu pasti sedang membicarakan tingkah aneh leo dan betapa sabarnya azka menghadapi itu. leo memeperhatikan gerombolan siswi yang sedang melihatinya dengan tatapan sinis, leo menengok kearah azka disampingnya yang tampak cuek dengan tatapan yang mereka terima.

“azka” panggil leo pelan, nyaris tak terdengar.

“apa?” tanya azka tanpa menengok kearah leo. 

Leo mengulurkan tangannya yang sedang mengenggam ponsel kearah azka.

“poto gue seolah-olah lagi cuek sama tatapan sinis mereka. Pokoknya mereka semua harus ada didalam foto gue itu” kata leo. Lagi, azka hanya bisa menarik nafas panjang dan memenuhi permintaan leo. Ini jauh lebih baik dari pada leo minta difoto seolah-olah ia dilindas bus.

Azka mengambil posisi untuk memfoto leo dari samping, dimana leo tidak melihat kekamera dan malah memasang pose cool sambil menatap kosong kedepan. Agak jauh disana beberapa siswi sedang menatap leo...

Ceklikkkkk...

Satu foto jadi. Azka mengembalikan ponsel leo yang tampak gembira melihat hasil jepretan azka. Foto itu sempurna untuk diunggah ke facebook , melihat betapa kerennya leo didalam-nya.

**

“azka, leo kenapa?” tanya dini teman sebangku azka sambil melirik kearah leo yang tampak sangat depresi.

“kemarin dia pengen selfie sambil terjun dari gedung, tapi gak kesampaian. Jadi ya gitu” jawab azka lemah. Azka sangat lelah membujuk leo yang tidak mau makan kemarin gara-gara ambisinya tidak terpenuhi.

Dini tampak menahan tawanya mendengar jawaban azka. Azka menengok kebelakang melihat leo yang seperti kehabisan udara. Dia sangat tidak tega melihat sahabatnya seperti itu.

“selfienya ditempat lain aja yang lebih gampang” bujuk azka pada leo. Leo langsung menatapnya.

“selfie nyolong dirumahnya pak RT gimana?” tanya leo kemudian. Dini yang mendengar itu langsung tertawa keras, sementara azka menggeleng cepat.

“ya udah nanti temenin gue ke kebun binatang, gue mau selfie masuk kemulut buaya” kata leo lagi dengan bahagia. Tawa dini semakin keras.

“mau mati?”tanya azka jengkel.

“mau selfie azka” leo merengek. Azka jadi ikut frustasi melihat tingkah sahabatnya itu. azka kemudian memilih diam. Selfie normal tidak menarik untuk leo. Kepala azka jadi pusing.

Azka khawatir dengan keadaan leo yang semakin parah. Kekhawatirannya yang berlebihan itu karena azka memang sudah jatuh cinta pada leo dari dulu, karena itu dengan sangat sabar azka selalu menuruti permintaan leo. Semua orang yang memperhatikan sikap azka ke-leo pasti mengerti itu adalah cinta. Hanya saja leo terlalu sibuk memikirkan selfie hingga tidak bisa merasakan cinta yang diberikan sahabatnya. Azka merasa tidak enak badan dan memilih pulang duluan.

“din nanti naik bus bareng gue ya” pinta leo. Dini langsung mengangguk.

Pelajaran berlangsung tanpa azka. Hingga bel pulang berbunyi.

“din fotoin gue bareng pak jabal” kata leo sambil memberikan ponselnya pada dini. Pak jabal adalah guru mata pelajaran terakhir dikelas mereka.

“oke, siap. 1..2..3”

Ceklikkkk...

“makasih pak” kata dini dan dibalas senyum oleh pak jabal. “buruan yok, nanti ketinggalan bis” lanjut dini.

Leo mengangguk dan berjalan disamping dini sambil mengamati hasil jepretan dini.

“gak sebagus hasil jepretannya azka” keluh leo. Dini langsung mendorong leo pelan.

“eh eh gimana hubungan lo sama azka?” tanya dini tiba-tiba.

“hubungan persahabatan kita? Baik” jawab leo. Pandangannya masih terfokuskan pada foto-fotonya dilayar ponsel.

“astaga azka belum ngomong ke lu kalau..” dini sengaja mengantung kata-katanya.

“kalau apa?” tanya leo. 

“gakpapa, lupakan. Bisnya udah datang tuh, ayo naik”

Leo mengangguk dan naik kedalam bis yang tidak terlalu penuh. Mereka duduk dibangku baris ke 3.

“eh din, poto” kata leo memberikan ponselnya sambil tersenyum ceria. Wajah polosnya benar-benar manis.

“ya allah, gak kebayang gue jadi azka yang tiap hari lo giniin”kaluh dini . ia mengambil ponsel leo dan memfoto leo dengan berbagai gaya. 
“kasihan ya azka” kata dini kemudian sambil membayangkan azka yang seharian harus menjadi photografer pribadi leo.

“azka biasa aja tuh” kata leo cuek. Ia lebih terfocuskan pada hasil foto-fotonya.

“ialah dia biasa aja, diakan suk..” dini langsung memegang bibirnya yang nyaris keceplosan.

“diakan kenapa din?” tanya leo yng sekarang sedang menatap dini.

“ehe-he gimana hasil fotonya, bagus ngak?” dini mengalihakan pembicaraan.

“iya bagus kok, makasih ya” kata leo. Dini menarik nafas lega.

**

“mama fotoin leo lagi masak” kata leo sambil memberikan ponsel ke-mamanya.

“gak mau, kita foto bareng” kata mama leo antusias. Anak dan ibu itupun mengambil beberapa gambar mereka dengan berbagai gaya ketika memasak. Ternyata ini adalah penyakit keturunan.

“kok foto gak ngajak-ngajak sih?” kata haiz, kakak leo.

“ya udah sini-sini, kita grupie” kata wanita yang mereka panggil mama. Astaga, tenyata ini penyakit keluarga.

“tante masakannya hangus” kata seseorang tiba-tiba, Azka. Azka yang sudah biasa bolak balik rumah leo memang tidak perlu izin lagi untuk masuk.

“mama, foto leo sama masakan mama yang gosong. Mau leo masukin ke fesbuk” kata leo yang kemudian bergaya didepan kompor gas.

“haiz juga”

“mama juga mau foto”

Azka menggelengkan kepalanya melihat keluarga tetangganya itu. ia berjalan kehalaman belakang rumah leo untuk meninggalkan kegilaan keluarga leo. Tapi dibelakang, seorang pria parubaya duduk disamping kolam ikan , memegang seekor ikan mas dan bepose monyong mengikuti bibir ikan itu. ah itu ayahnya leo. Azka kembali mengelengkan pelan kepalanya.

....

“kok tadi pulang sih?” tanya leo saat sudah berbaring dikamarnya bersama azka. Azka memang sering menginap disini.

“gak enak badan” jawab azka singkat.

“foto yuk” ajak leo. Azka menatapnya sambil menyipitkan mata.

“gak bisa apa sehari tanpa selfie?” tanya azka. Leo tertawa kecil lalu menggeleng.

“kalo lo? Gak bisa sehari tanpa apa?” tanya leo balik pada azka.

“tanpa lo” jawab azka sepontan sambil menatap kelangit-langit kamar leo.

Hening...

Masih hening...

Karena tak kunjung ada jawaban, azka akhirnya menengok kearah leo. Leo sudah tertidur. Azka tertawa kecil, lalu menaikkan selimut hingga menutupi tubuh leo.

**

“sini dekat-dekat foto baru bangun kita” kata leo. Ia duduk diatas ranjangnya dengan rambut berantakan dan tangannya ia gunakan untuk menutup sebelah matanya, disebelahnya azka juga duduk dan tersenyum kearah kamera yang ia pegang.

Cekliikkkk....

“sini, mau gue uplot” kata leo lagi sambil menarik ponselnya dari tangan azka. Leo kembali berbaring dikasurnya. Ini hari minggu, jadi mereka hanya akan bermalas-malasan hingga siang.

Leo sibuk memencet-mencet layar ponselnya. 

...........

(Upload foto selesai)

Beberapa menit kemudian dikolom komentar...

Dita c’muUtcz 
cie pangeran selfie.. 
3 menit yang lalu

Ryan adrian 
gila, habiz diapain azka lo, sampe berantakn gituch 2 menit yang lalu

Andhini putri 
ampyun, lu abis diperkoca azka le? Ih cocwitt beud cih 2 menit yang lalu

Rizal pampam 
dasar homo, kampungan 1 menit yang lalu

Ninink ibu negara selfie-selfie, foto-foto sendiri bergaya sendiri gaya paling trendi cuman buat hepi *nyanyi baru saja

Giantriani ridwan raja selfie baru saja

Arleo gunawan alay lu semua baru saja

.........

“gila, masa ada yang komen katanya gue habis diperkosa sama lu” kata leo mengadu pada azka. azka melihat isi komentar diponsel leo.

“biarin aja” kata azka tidak peduli dan kembali tidur.

**

“foto yang kemarin itu wow banget” kata dini sambil tertawa pada leo. Leo tidak merespon jawabannya dan malah asik berselfie-selfie dikelas.

“lo udah jadian sama azka? Azka udah bila cinta kelu? Lu ngapain aja semalam?” dini mengintrogasi leo. Leo menghentikan aktivitasnya dan menatap dini binggung.

“maksud lo apa si?” tanya leo tidak mengerti.

“azka belum bilang?” tanya dini.

“bilang apa?” leo bertanya balik. Dini tampak ragu.

“azka suka sama lo, dia gak bilang? Atau lo tau tapi pura-pura gak tau?” arini balik bertanya-tanya.

“suka gimana sih, ngak ngeh gue” kata leo sambil mengerutkan dahinya binggung.

“astaga leo, gue kira lo nyadar kalau azka suka sama lo jadi selama ini lo gak tau?” tanya dini lagi. Leo tampak semakin binggung. “azka itu suka sama leo. Makanya hidup jangan cuman buat selfie doang” omel dini. Leo tampak mengamati wajah dini. “apaan?” tanya dini risih.

“lo kalo ngomel jelek banget ye, selfie bareng gue dong. Muka lo kayak tadi, yah yah gitu” kata leo sambil mengarahkan kamera ponselnya kewajahnya dan dini.

“gila lo” bentak dini kemudian pergi meninggalkan leo.

“fotonya belum keambil diniiii” teriak leo. Saat dini keluar, azka masuk keruangan kelas.

“dini kenapa?” tanya azka pada leo. 

“gak tau, masa dia ngomelin gue, katanya lo suka sama gue” jawab leo. Azka tampak terkejut ketika leo menatapnya, “beneran lo suka sama gue?” tanya leo. Azka tidak menjawabnya dan malah memalingkan wajah, “gila lo homo beneran? Sini-sini duduk dekat gue” kata leo sambil menarik tangan azka hingga azka duduk disamping. dikelas hanya ada mereka berdua.

“apaan?” tanya azka gugup.

“kita selfi” jawab leo singkat sambil mengangkat ponselnya.

Ceklikkk...

“kita gak belajar, bolos yuk” ajak azka. Leo mengangguk lalau menjalan mengikuti azka.

Azka nyaris kehilangan nafasnya, leo sudah tau perasaannya. Dia jadi merasa canggung sekarang. mereka berdua melewati gerbang belakang sekolah dan segera mencari angkutan umum.

Sepanjang perjalananpun keduanya hanya saling mendiami. Leo yang biasanya selalu minta difotopun lebih tenang sekrang. Mungkin dia juga merasa canggung. 

“pak supir stopppp” teriak leo. angkutan umum ini langsung dihentikan secara mendadak karena teriakan leo. Azka dan leo turun didepan sebuah gedung rumah sakit. 

“ngapain kesini?” tanya azka heran. Leo malah tersenyum sambil menaikan alisnya dua kali.

“jangan bilang lo mau selfie disana” kata azka sambil menunjuk gedung tinggi didepan mereka.

“ini impian gue ka” kata leo dramatis. Azka mengelengkan kepalanya.

“gila lo, terserah deh kalo lo emang mau mati” kata azka dengan emosi dan langsung meninggalkan leo.

**

Azka pulang kerumahnya dalam keadaan khawatir dan menyesal telah meninggalkan leo disana. Dia terus mengonta-ganti channel TV dirumahnya, siapa tahu ada berita ‘seorang pelajar terjun dari gedung rumah sakit untuk berselfie’ muncul disalah satu stasiun televisi. Hatinya sangat tidak tenang, dia menelpon nomer leo berkali-kali namun selalu terputus. Sesekali Azka mengintip kebelik jendela rumahnya agar dia bisa melihat jika saja leo pulang. Tapi hingga pukul 4 sore, tanda-tanda leo muncul sama sekali tidak ada. Berita tentang pelajar yang terjun bebas juga tidak ada. Azka memutuskan kembali kesana untuk mencari leo.

Selama perjalanan azka merasa depresi memikirkan leo. Bagaimana jika sampai disana nanti leo sudah hancur? Bagaimana kalau leo sudah tewas? 

Jantung azka bnear-benar nyaris copor ketika sudah berdiri digerbang rumah sakit. Dihalaman rumah sakit itu, banyak sekali anak-anak berdiri dan beberapa perawat.

Anak-anak?

Azka berjalan mendekat ke arah kerumunan itu dan menemukan leo tengah bermain bersama anak-anak yang sepertinya adalah pasien rumah skait ini. Azka menarik nafas lega. Setidaknya leo masih bak-baik saja, dia belum terjun bebas. Leo terlihat seperti biasa, mengambil gambar dirinya dengan anak-anak disekitarnya. Azka tersenyum puas karena orang yang ia cintai maish hidup.

“oh azka” panggil leo. Semua anak-anak langsung menengok kearah azka. Azka melambaikan tangannya, “sini ka, kita foto bareng mereka” kata leo sambil menunjuk anak-anak didepannya. Azka berjalan mendekat dan ikut berbaur bersama leo dan anak-anak pasien rumah sakit itu.

......

“gak jadi terjun bebas?” tanya azka ketika mereka selesai bermain dengan anak-anak pasien rumah sakit itu.

“gak jadi, gini ceritanya...” azka siap mendengarkan leo, “jadi pas gue udah siap sama segala resiko yang terjadi setelah gue selfie terbang, gue ketemu sama anak-anak tadi. Mereka ngajak gue main. Yaudah deh batal terjun bebasnya” jelas leo. Azka tertawa kecil.

“baguslah” kata azka pelan. Leo tersenyum kearah azka.

“omong-omong, lo udah tau perasaan gue. Kenapa gak lo respon?” tanya azka. Leo langsung tertawa keras. Keras sekali sampai membuat azka terkejut.

“gue bukan humo” kata leo kemudian sambil memajukan bibir bagian bawahnya. Azka hanya membalas pengakuan leo itu dengan senyum buatan.

Azka hanya bisa menunduk. ia merasa sangat malu sekarang dan berharap bisa pulang lalu tidur untuk melupakan penolakan halus yang diberikan leo padanya.

Ceklikkkk...

Leo mengambil foto azka.

“uplot dulu kefacebook. Azka lagi galau hahaha” kata leo menulis dilayar ponselnya.

“haiiizzz” teriak azka sambil berusaha merebut ponsel leo. Terjadilah adegan kejar-kejaran diantara mereka.

**

“tante leo mau nginap” kata leo. Ia membawa bantal dari rumahnya kerumah azka. 

“gak usah minta izin, nginap ya nginap aja” kata mama azka ramah. Leo tersenyum.

“tante kita selfie dulu” kata leo lagi. Mama azka terlihat meladeni keingin anak tetangga itu.

“yaudah tante, leo kekamaar azka ya” leo berjalan meninggalkan mama azka.

“iya” ucap mama azka sambil tersenyum manis.

Leo membuka pintu kamar azka.

“mau nginep” katanya dengan nada manja. Azka hanya membalasnya dengan senyum.

“tadi aku foto bareng mama kamu” kata leo sambil berjalan mendekat ke azka. Azka terkejut mendengar kata –kamu- , “nih” lanjutnya menunjukan foto yang sudah ia unggah ke facebook dengan keterangan ‘with camer’.

Azka hanya diam.

“kok gak nanya sih maksud aku apa ? with camer” kata leo marah. Azka langsung tertawa kecil.

“azka aku belum perna pacaran” kata leo lagi. Gaya bahasanya berubah total.

“terus?” tanya azka binggung.

“ayo selfie” jawab leo. Azka tertawa kecil dan mendekat kesamping leo.

“i..2..3” 

CUPPP

“wuahh keren hasilnya. Gue belum perna selfie kaya gini” kata leo takjub. Dalam foto yang baru saja diambil itu, leo mencium pipi azka. Disampingnya azka benar-benar sedang memerah. Hening beberapa saat...

“ka, menurut lo gimana kalau gue ganti hobi?” tanya leo kemudian.

“jadi apa?” azka bertanya balik.

“emmm jadi hobi bikin bokep, gimana?” 

“sarap” teriak azka. “ udah tidur, ngantuk gue” lanjut azka lagi.

Leo langsung tertawa keras dan memeluk azka yang sedang membelakanginya.

“I love you” bisik leo ditelinga azka. Azka berbalik , hingga ia berhadapan dengan leo dan memberi leo kecupan singkat dikening. Mereka berdua tertidur.

**

“azka kalau tidur jelek banget sumpah ahhaha” kata leo membuat azka terbangun. Leo mengambil gambar dengan azka yang sedang tertidur.

“jail banget si” kata azka dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.

“biarin we” kata leo sambil menjulrkan lidahnya kearah azka.

Tamat...

No comments:

Post a Comment