Seharusnya Tak Begini
By. DewaSa
Hai teman, masih ingat denganku?
Aku DewaSa, pemuda (mungkin) yang saat ini berusia 18 tahun. Baiklah, tentangku sepertinya tak penting. Berikut ini adalah cerpen ke-duaku yang Aku tulis sekitar setahun yang lalu. Cerpen ini tak ada hubungannya sama sekali dengan LGBT (maaf membuatmu kecewa) tapi apa salahnya? Aku beranggapan FP ini tak melulu tentang cerita cinta LGBT atau dunia seperti itu dengan segala tetek bengeknya. Aku beranggapan jika FP ini adalah tempat untuk berbagi, berbagi cerita untuk kaum seperti kita, untuk kaum seperti kami. Jadi yah, selamat membaca. Oh iya, Aku sudah membaca semua komentar kalian di bawah kolom ceritaku yang lalu. Aku bahagia saat membacanya. Tak hentinya Aku me-refresh laman ini untuk mengetahui siapa saja yang 'notice' terhadap orang baru seperti Aku. Terimakasih atas suport kalian. Selamat membaca, semoga kalian terhibur.
Salam, seaeorang yang belum dapat Universitas
DewaSa.
Ia sempat heran, untuk apa Ia mengenakan semua pakaian rapi saat ini? Tidak, Ia tidak lupa. Ia bukan tipe orang meleng seperti itu. Ia hanya merasa dipandu oleh sesuatu yang tidak Ia ketahui. Namun, anehnya Ia menyadari bahwa hal tersebut sedang menuntunnya.
Ia mengenakan kemeja putih polos dihiasi dasi bercorak garis tipis kuning dengan warna latar biru tua. Kombinasi kemeja dan dasi tersebut dipadu dengan setelan celana dan jas berwarna hitam, hitam sekelam tengah malam. Tak lupa Ia juga mengenakan sepatu tanpa tali warna hitam dengan sol agak kecoklatan.
Tatanan rambutnya sangat menawan. Memang tidak ditata serapi kebanyakan orang yang mengenakan setelan bermodel seperti itu tapi Ia menata rambutnya dengan gaya acak khas, British Style namanya. Ia terlihat seperti pemuda stylish yang hendak menghadiri acara formal. Jujur saja, Ia sempat berkipir jika Ia sangat memesona.
Setelah beberapa kali memastikan apakah penampilannya sudah cukup pantas, Ia segera memacu kendaraannya. Ia pengemudi yang handal karena ia adalah pembalap shalom yang juga terkenal di berbagai komunitas otomotif, mobil khususnya.
Ia tak mengetahui hal apa yang Ia tuju sekarang ini, Ia hanya memacu mobilnya menuju jalanan yang sangat familier baginya. Percaya tidak? Tangan dan kakinya bergerak sendiri seperti punya pikiran. Tak perlu mengira seberapa cepat atau seberapa derajat saat memutar kemudi untuk berbelok, semuanya seperti otomatis dan sudah disetel untuk perjalanan ini. Tak lama, ia sampai di suatu tempat yang 'sesuatu' itu pandukan untuk dirinya. Ia sampai di sebuah bangunan yang pekarangannya cukup luas, mungkin itu untuk parkir mobil karena begitu banyak mobil yang berderet di sana.
Mobilnya melambat, Ia melongokkan kepala keluar untuk melihat-lihat dan mencoba mengingat tempat yang Ia tuju. Ia melihatnya dengan saksama, mengingat tempat macam apakah itu. Ia ingat, Ia sempat bergidik saat tubuhnya seperti tersetrum listrik statis. Ia merasa jika Ia sangat mengenal tempat tersebut, Ia sangat yakin. Bahkan tempat tersebut memberikan efek 'de-javu' pada dirinya. Tempat dimana ia bertemu dengan cinta pertamanya, dengan sahabat sahabatnya, dan juga tempat dimana ia hendak meraih cita cita. Ya, sekolahnya. Sekolah Menengah Atas yang teramat Ia kenal. Setelah semuanya, semua hal tersebut sepertinya pantas untuknya. Sinyal 'de-javu' hingga sengatan listrik statis yang mendera dirinya.
**
Ia melangkah masuk lebih dalam lagi, menuju sumber suara yang sedari tadi menarik perhatiannya. Sepertinya, sumber suara itu berasal dari sebuah ruangan yang luasnya sama seperti lapangan sepak bola. Ada banyak sekali deretan kursi yang ditata sedemikian rupa sehingga terbentuk ruang kosong untuk menata berbagai hidangan yang disuguhkan. Menjamu para hadirin yang datang sepertinya masuk didalam 'run down' acara. Di ujung yang lain, terdapat panggung berbentuk setengah lingkaran yang dilengkapi MMT besar bertuliskan “REUNI SMA NEGERI 2 PALEBON UTARA ANGKATAN 2009/2010”.
Sekarang Ia mengerti, mengapa Ia bertemu dengan kawan-kawan lamanya dan mengapa Ia dibimbing kemari. Ia harus menghadiri acara reuni tersebut. Tunggu, setelah senyumnya mengembang Ia merasakan adanya keanehan. Ia memang sudah biasa diabaikan oleh teman-temannya. Ia memang sudah biasa tak mempunyai teman kecuali tiga orang sahabat yang tak pernah memprotes atas kebiasaan kebiasaan buruknya. Tapi yang kali ini aneh betul, Ia memang tak mempunyai teman tapi Ia tahu persis kesemua temannya bukan tipe orang yang pendiam seperti sekarang. Semua berinteraksi seperti normal tapi hanya kepada dirinyalah semua interaksi itu terhenti. Pendiam terhadap dirinya. Semua orang yang sedang tertawa, semua orang yang sedang berbincang, semuanya sama. Mereka hanya merespon dengan menoleh kearahnya dengan ekspresi bingung. Setelah beraksi seperti itu mereka kembali melanjutkan semua kegiatan mereka.
Telah lelah kepada reaksi yang didapatnya, Ia kembali dengan dirinya sendiri. Ia tak mencoba menepis semua hal yang sedang terjadi, Ia kembali mencari hal yang memang mencerminkan seutuhnya dirinya dari sekolah ini. Ketiga sahabatnya.
Sulit menemukan ketiga sahabatnya di tengah tengah keramaian dan gempita yang mengacuhkan dirinya. Tapi jika berhasil menemukan salah satunya, pasti ia mendapati kedua temannya yang lain sedang bersama sama. Ia tahu jika mereka pasti saling mencari satu sama lain. Itu simpulan terbaik untuk dirinya sendiri yang sekaligus menenangkan hatinya.
Selama hampir limabelas menit ia berkecimpung dalam urusan mencari, akhirnya ia berhasil menemukan ketiga sahabatnya. Benar dugaannya, meski sudah bertahun tahun berpisah, sahabatnya itu pasti akan saling mencari dan akhirnya berkumpul bersama. Tak ada tawa diantara mereka, tawa yang selama ini ia rindukan, tawa yang mengisi harinya meski dalam keadaan sulit. Ia berharap sahabatnya masih bisa tertawa riang, entah apa yang membuatnya berpikir demikian. Meski begitu, Ia tetap tersenyum sumringah karena berhasil menemukan sahabat yang memang ia rindukan selama ini. Paling tidak ketiga sahabatnya tidak akan mengacuhkan dirinya sama seperti teman temannya yang bahkan lebih pantas di sebut sebagai kenalan.
Benar, dan ia tak menyangka. Reaksi ketiga sahabatnya pun sama. Ketiga sahabatnya menunjukan reaksi yang sama dengan kebanyakan orang hari ini yaitu menoleh, lalu berusaha mencari cari sesuatu, dan akhirnya kembali dengan aktivitas aktivitasnya yang lalu. Ia sudah putus asa saat ini. Semua orang mengabaikannya, hal ini sangatlah aneh, meski bagi dirinya sekalipun. Mungkin teman temannya sedang mengerjai dirinya, begitulah kurang lebih pikirnya.
Seketika pembawa acara mengambil alih perhatian. Meminta seluruh hadirin untuk mengambil kursi karena acara inti akan segera dimulai. Lekas saja Ia mengambil tempat duduk di deret paling belakang sambil mengenyampingkan pikiran buruknya.
**
Acara demi acara telah berlalu dan saat ini adalah penghujung acaranya. Pembawa acara tersebut meninta setiap orang menuju ke tengah lapangan untuk melakukan upacara penutupan. Yaitu, pelepasan balon yang jumlahnya tepat seribu balon. Sesuai instruksi yang di minta sang pembawa acara, Ia berusaha mengambil satu balon yang memang sudah di sediakan oleh panitia. Satu keanehan lain terjadi lagi, Ia tak bisa menyentuh balon tersebut.
Langit senja menghiasi cakrawala. Mengisi setiap ruang-ruang yang diciptakan antara segi pikirnya pada realita yang ada. Ia bingung dengan semua keanehan ini. Bergegas ia menuju pinggir kerumunan dan mencoba berpikir apa yang terjadi. Ia terduduk lesu, kedua tangannya memegangi kepalanya takut-takut kepalanya dapat lepas dari tubuhnya dengan mudah. Punggungnya terasa dingin saat Ia menyadari sesuatu. Rasanya seperti bersandar pada dinding es yang perlahan membuat sekujur tubuhnya beku hingga ke syaraf-syaraf neuronnya. Ia menyadari satu hal. Tubuhnya, raganya, tertembus begitu saja oleh cahaya senja. Artinya, Ia bukanlah objek yang lagi hidup. Ia menyimpulkan.
Terus saja ia terduduk, menangis teramat pelan yang teredam oleh keramaian. Tangisnya tertelan ramai. Tak sekalipun Ia menggerakkan hatinya untuk bergabung dengan keramaian itu. Kakinya kini sudah membeku, punggung, tengkuk, bahkan hatinya, dan kemudian menjadikannya dingin balok es dan akhirnya hancur berkeping-keping akibat riuh yang mengacuhkannya.
Hal inilah jawabannya, mengapa semuanya tak menyapanya, atau bereaksi atas aksi yang telah Ia tunjukan. Ia mengambil napas banyak-banyak dan mencoba menerima kenyataan bahwa semua orang tak bisa melihatnya. Jawaban atas pertanyaan mengapa ketiga sahabatnya kehilangan tawa yang sudah mengisi hari-hari mereka. Ia menghadapi kenyataan bahwa dirinya sudahlah tiada.
Ia tak ingin kenyataan pahit macam ini, sungguh. Ia tak ingin berakhir seperti ini. Jika tengah bermimpi Ia berharap jika dapat terbangun. Ia mulai memohon bahkan Ia sudah tak lagi tegak dalam duduknya yang telah hancur karena dinginnya keriuhan tersebut. Ia mulai pasrah dan tenggelam dalam gegap-gempita dan euforia yang membawanya kembali. Ya, dia terbangun. Itu semua hanyalah mimpi.
Ia terengah engah. Keringat yang bercucuran sudah membasahi kaos yang aia kenakan. Tangannya menekan-nekan jantungnya, apakah jantungnya masih berdetak? Untung saja masih. Dihelanya napas yang teramat panjang untuk membuktikan paru-parunya juga masih berfungsi. Kelegaan membanjiri benaknya. Ia masih hidup.
Semua mimpi itu membuatnya haus luar biasa. Ia beranjak dari tempat tidur untuk mengambil seteguk air, siapa tahu menghilangkan dahaganya. Namun, satu hal yang menghentikan langkahnya. Satu hal yang masih membuatnya tak mengerti. Satu hal yang mengurungkan niatnya membasuh dahaganya. Satu alasan mengapa Ia kehilangan senyumannya. Satu alasan yang menghapus semua kelegaannya. Bagaimana bisa, Ia melihat dirinya sendiri yang terbaring di atas ranjang sementara kenyataannya Ia sedang berdiri di tepi pintu?

No comments:
Post a Comment