HERO
By. Nayaka Al Gibran
Part 01
Kau tidak bisa memilih kepada siapa dirimu akan jatuh cinta…
Karena jika hati bisa disugesti, akan kutujukan rasaku buat guru baru muda nan handsome yang mengajar Bahasa dan Sastra sejak enam bulan lalu di sekolah. Pun begitu andai hati dapat didikte, akan kulabuhkan rasaku untuk kapten basket nan hottie yang digilai seluruh cewek dari kelas sepuluh hingga kelas dua belas. Demikian juga bila hati boleh diperintah, akan kujatuhkan rasaku pada ketua OSIS nan smart yang mampu melelehkan hati semua cewek tiap kali dia memamerkan senyumnya.
Karena Hati tidak bisa disugesti, tidak dapat didikte, apalagi boleh diperintah, maka ia adalah satu-satunya tempat ideal yang memenuhi semua kriteria yang diperlukan Cinta untuk hidup. Terhadap Cinta, Hati punya aturan sendiri dan sama sekali tidak perlu bantuan Otak untuk mensugesti atau mendikte apalagi sampai memerintahnya. Hati bekerja sendiri dan independent dalam hal Cinta, dan ia tak dapat disalahkan meski memilih sasaran yang tidak handsome, jauh dari kata hottie dan tidak smart sama sekali.
Maka dari itu, aku tidak menyalahkan hatiku sedikitpun karena memilih menujukan rasanya tidak buat Pak Al. Aku tidak memarahi hatiku karena tidak melabuhkan rasanya untuk Mas Nawi. Pun tidak pula kubenci hatiku karena tak menjatuhkan rasanya pada Khiar.
Adalah Hero, pilihan pertama hatiku yang bisa jadi adalah pilihan terakhir hati orang lain. Dia tidak setampan Pak Al Hisham saat berdiri di depan kelas, tidak sepanas Mas Zamhur Nawawi saat di lapangan basket, dan berada sangat-sangat jauh dari kepintaran Muhammad Akhiar yang selalu juara kelas. Dia hanyalah seorang Hero, berandalan sekolah, pemicu hipertensi beberapa guru ketika mengajar, orang terakhir yang ingin diikutsertakan dalam sebuah kelompok tugas, sosok yang tidak akan membuat orang sekelas bertanya-tanya saat dia tak hadir, tukang berantem, langganan dipanggil guru BP dan satu-satunya siswa yang akan dicurigai pertama kali bila puntung rokok ditemukan di toilet sekolah. Sosok seperti itulah Hero.
Dan hatiku malah memilih untuk jatuh cinta padanya.
Dunia yang sudah cukup aneh dengan cinta satu gender kini tampak semakin aneh saja…
***
10 YEARS AGO…
Dalam genggaman ibu masing-masing, dua bocah berseragam merah putih yang masih baru itu memandang satu sama lain sementara ibu mereka mengobrol. Salah seorang bocah yang berbadan lebih kecil mendadak tersenyum setelah mereka memandang untuk waktu yang cukup lama tanpa sebarang suara dan gerakan. Bocah yang satunya ikut tersenyum kemudian. Hanya sesaat setelah saling melempar senyum perkenalan, keduanya sama-sama membebaskan lengan dari genggaman ibu masing-masing dan berlarian menuju halaman yang dipenuhi lautan merah putih sambil berpegangan tangan.
Tak perlu waktu lama bagi kedua bocah itu untuk membuat seragam yang dikenakan menjadi kotor dan berdebu, di hari pertama mereka di Sekolah Dasar. Saat seorang guru wanita paruh baya―wali kelas mereka yang pertama―meminta semua murid baru masuk ruang, kedua bocah itu kembali berlarian dari halaman sekolah sambil tertawa-tawa, merebut tas mereka dari tangan ibu masing-masing dan segera masuk kelas sambil dorong-dorongan di antara bejibun siswa baru yang lain.
Kedua bocah itu langsung jadi sahabat sejak hari pertama di Sekolah Dasar. Mereka duduk semeja, dan tetap begitu hingga tiga tahun ke depan.
***
Nama aslinya Romeo El Rumi. Mungkin saat mengandung, mamanya begitu mengidamkan William Shakespears. Aku pernah selama tiga tahun sekelas dengannya saat Sekolah Dasar, sebelum ayahku dipindahtugaskan ke sekolah lain di luar kota. Saat itu, dia masih seorang bocah yang manis dan penurut, ketua kelas yang bisa diandalkan. Semua orang di sana dulu memanggilnya Romi, setidaknya masih begitu sampai aku pindah sekolah saat kenaikan kelas. Entah sejak kapan orang-orang mulai menyebutnya Hero. Ketika aku kembali ke kota ini untuk meneruskan SMA―karena ayahku kembali dimutasi ke tanah kelahirannya―dia sudah dinamai Hero. Dan bukan nama panggilannya saja yang kutemukan berubah, tapi juga pribadinya.
Aku sangsi, apakah dia masih mengingat Deka si penakut yang pernah jadi teman sebangkunya sejak kelas satu hingga kelas tiga SD? Aku sedikit yakin dia lupa, karena ketika kami bertemu lagi di kantor guru satu kali dulu, dia melengos dan berlalu begitu saja. Pun saat kami kembali sekelas di tahun kedua SMA―saat aku secara tidak sengaja menubruknya ketika memilih-milih tempat duduk di kelas baru―dia sama sekali tidak menunjukkan gelagat kalau dia pernah tahu aku. Adalah misteri bagiku, mengapa siswa yang dicap sebagai troublemaker sekolah itu bisa nyasar ke kelas IPA.
“Banyak generasi muda islam seperti kalian yang sudah terkulturasi dengan kebiasaan bangsa barat…”
Suara Pak Amiruddin membuatku berhenti memperhatikan kursi Hero dan kembali fokus ke buku teks di atas meja.
“Salah satunya yang Bapak yakin sering kalian meriahkan adalah, Valentine pada tanggal empat belas Pebruari.” Beberapa siswa perempuan mengeluarkan desahan samar yang lebih terdengar sebagai cicit protes di kupingku. “Valentine bukan tuntunan Rasulullah. Dan berbicara tentang tuntunan Rasul, zaman sekarang banyak perayaan yang sama sekali tidak dilakukan Rasul dulu.”
Kupandang buku teksku, hari ini kami sampai pada pokok bahasan hadist Nabi yang populer. Kurasa wajar kalau guru agama senior itu menyinggung hal-hal semacam perayaan yang katanya tidak dicontohkan Nabi, tidak didukung hadist dan sebagainya, meski aku yakin hampir seisi kelas tidak ambil peduli dengan ucapan guru agama kami itu, terutama tentang perayaan Valentine.
“Salah satunya perayaan Maulid. Hal itu tidak ada ketika zaman Nabi,” sambung Pak Amiruddin.
Aku kaget ketika sosok yang selalu menjadi tujuan perhatianku ketika berada di kelas mengacungkan tangannya ke atas. Hal yang belum pernah terjadi selama satu semester yang sudah terlewati kemaren.
“Ya, El Rumi?” tanya Pak Amiruddin merespon tangan siswanya yang masih teracung.
Hero memang bukan kontestan Miss Indonesia dan mustahil jadi kontestan sampai dunia kiamat karena dia seorang lelaki, namun kini semua mata tertuju padanya. Sama sepertiku, mereka di ruangan ini juga sama kagetnya.
Hero menurunkan tangannya, sikap duduknya pasti membuat Pak Amiruddin geregetan. Bagaimana tidak, sementara semua siswa duduk tegak dengan tangan terlipat di meja, di bangkunya cowok itu malah duduk demikian santainya dengan punggung bersandar sepenuhnya dan kaki selonjoran seenaknya. “Apa Bapak punya hape?” tanya Hero sambil menggoyang-goyangkan pulpen yang terjepit di antara telunjuk dan jari tengah tangan kanannya.
Kutemukan kening Pak Amiruddin berlipat, dan semua siswa masih menatap heran pada Hero yang jarang-jarang berbicara di kelas. “Semua orang punya alat komunikasi itu zaman sekarang, El Rumi,” Jawab Pak Amiruddin setelah berdeham.
“Bapak punya?” ulang Hero dengan nada datar.
“Tentu saja.”
“Terus, Bapak ke sekolah pakai mobil, kan?”
Jantungku berdebar. Aku mulai khawatir kalau Hero bakal menerima kemarahan Pak Amiruddin dan diminta keluar dari kelas seperti yang beberapa kali pernah terjadi pada jam mata pelajaran guru yang lain.
“Apa hubungannya hape dan mobil dengan pelajaran kita, El Rumi?” tanya Pak Amiruddin dengan nada tegas.
“Kata Bapak, maulid tidak ada ketika zaman Nabi. Hape dan mobil juga tidak ada ketika zaman Nabi, tapi kenapa Bapak menggunakannya? Kenapa Bapak gak buang saja hapenya dan beli unta sebagai alat transportasi Bapak kemana-mana?”
Beberapa kikikan pendek terdengar di beberapa bangku. Aku sendiri merasa tegang. Di depan sana, Pak Amiruddin memandang ke arah meja Hero dengan tampang mencuka.
Dan sepertinya Hero tidak menyadari jika ucapannya sedang mendidihkan guru senior itu bagai api mendidihkan air, atau dia sadar tapi tak mau peduli. Jadi, aku benar-benar mengkhawatirkannya ketika dia melanjutkan ucapan. “Saya ragu, jangan-jangan Bapak malah punya akun facebook, twitter dan instagram yang jelas-jelas juga tak ada pada zaman Nabi.”
Beberapa siswa laki-laki sekarang lebih berani memperdengarkan tawa mereka saat mendengar kalimat Hero.
“Romeo El Rumi, keluar dari kelas saya sekarang juga!” bentak Pak Amiruddin yang membuat kelas mendadak berubah sesunyi tempat pemakaman di malam Jumat. Pemakaman itu sudah sunyi, dan pemakaman di malam Jumat tentu lebih sunyi lagi. Untuk sesaat, kelasku seperti itu.
Hero menutup buku teksnya dengan santai dan bangun dari kursi sama santainya seakan dia tak pernah menyulut amarah seseorang sedetik tadi. Pak Amiruddin mengikuti langkah Hero dengan tatapan marahnya sampai dia lenyap di balik pintu.
Mendadak aku jadi tidak tertarik lagi mengikuti pelajaran Pak Amiruddin. Aku tergoda untuk mengacungkan tanganku dan bertanya pada Pak Amiruddin, ‘apa nama akun facebook Bapak biar saya tambahkan ke daftar teman’, agar aku ikut diusir. Namun aku terlalu penakut, seperti selalu.
***
9 YEARS AGO…
“Kenapa sih kamu gak ambil batu dan melempari mereka satu-satu sampe benjut!”
Bocah yang berbadan lebih besar itu membentak bocah satunya yang masih sesengukan sehabis dibully gerombolan murid kelas enam di halaman belakang sekolah. Bocah yang kena bentak tidak bisa menjawab karena sibuk membereskan ingusnya yang terus mengalir dengan sapu tangan.
“Lain kali kalau kamu diusili lagi jangan diem aja, lawan dong!” Si Besar kembali mengomel sambil mengepalkan sebelah tangan dan menumbuk-numbukkan kepalannya itu ke telapak tangan yang lain dengan ekspresi geram.
“Aku takut…”
Sruuuuuut
Bocah yang lebih kecil membuang ingusnya.
“Ngapain takut. Ambil pentungan dan pukul mereka, atau tendang aja mereka kuat-kuat.”
“Aku takut, Romiiiii…!!!” ulang si bocah dengan nada kesal, tangisnya sudah berhenti.
“Huh, dasar penakut!” tukas bocah yang dipanggil Romi dengan tampang masih menunjukkan kemarahan. “Berapa yang mereka ambil kali ini?” tanyanya kemudian dengan nada lebih lembut.
“Dua ribu lima ratus perak.”
“Terus, sisa berapa?”
“Lima ratus perak.”
Romi merogoh saku celana merahnya. Satu lembaran uang seribuan dan dua keping recehan lima ratus perak kini terlihat dalam telapak tangannya. “Ayo ke kantin,” ujarnya kemudian sambil menggandeng lengan temannya yang baru saja kena palak.
***
Aku ditahan Mas Nawi di perpustakaan setelah jam pulang, sebelum ekskul basketnya dimulai. Kalau aku dan cowok jangkung itu tidak tinggal di komplek perumahan yang sama dan tidak berteman akrab di sekolah, mungkin kondisi kami saat ini bisa dikatakan sebagai keadaan di mana kakak kelas sedang membully adik kelasnya. Tentu saja adik kelasnya itu aku. Dan bicara soal bully-membully, aku sudah kenyang dengan pengalaman itu dan sangat paham cara menghadapinya.
“Mas, berapa tahun sih catatannya gak pernah disalin?” aku mendumel sambil tangan terus menulis di buku catatan Mas Nawi sementara si empunya buku malah sibuk dengan hapenya.
“Lebay,” cetusnya tanpa mengalihkan perhatian dari layar hape. “itu baru tiga kali pertemuan, Dek.”
“Tiga pertemuan apa tiga semester?”
“Kalau kamu ngomel terus kapan siapnya tuh catatan?”
Aku mendengus. “Ingat, ya, Mas, ini kali terakhir aku nyalin catatannya Mas, besok-besok jangan harap!”
Sekarang aku mendapatkan perhatiannya. Laki-laki itu memandangku sebentar lalu menyengir. “Deka mau ditraktir apa saat jam istirahat besok?”
“Aku dikasih uang jajan yang lebih dari cukup sama Ayah.” Jawabanku langsung membuat Mas Nawi bungkam, sepertinya dia sedang memikirkan sogokan baru untukku.
“Ya udah, mulai besok pulang-pergi ke sekolahnya naik angkot aja.”
Aku mati kutu. Ternyata laki-laki ini bukan memikirkan tentang sogokan baru yang gak mungkin kutolak, tapi memikirkan ancaman balasan untukku.
Merasa memenangkan pertarungan, Mas Nawi menyeringai padaku. Sejenak kemudian dia melirik jam tangannya. “Aku harus siap-siap, Dek.” Dia bangun dari kursinya, sebelah tangannya menyandang tali ransel di bahu sedang satu tangan yang lain menjangkau kepalaku. “Yang rapi ya. Kalau udah selesai langsung ke lapangan aja, nunggu aku di sana.”
Aku menjauhkan kepalaku dari jangkauan tangan Mas Nawi meski tidak cukup jauh baginya untuk membuat rambutku berantakan. Sementara aku bersungut-sungut, dia malah tertawa menyebalkan. Jika belum jam pulang dan perpustakaan masih ramai, tawanya pasti akan berbalas lemparan boardmarker dari petugas piket perpustakaan.
Setelah Mas Nawi pergi, perpustakaan jadi kian hening. Bermenit kemudian aku merasa ada mata yang memperhatikanku. Perasaan sedang diawasi mengusik ketenanganku menyalin. Kuedarkan pandangan ke penjuru perpustakaan yang searah dengan posisi dudukku, Bu Ana yang hari ini jadi guru piket perpustakaan sedang membereskan buku-buku di beberapa meja yang ditinggali begitu saja oleh siswa. Kuputar badanku hingga delapan puluh derajat untuk memperhatikan keadaan di balik punggungku. Sesaat jantungku nyaris berhenti. Di salah satu sudut, Hero duduk tegak dengan sebuah buku di tangan. Aku merasa yakin jika sesaat tadi buku itu masih dalam keadaan tertutup di tangannya, seyakin diriku bahwa sesaat tadi kami benar-benar berpandangan untuk sepersekian detik. Namun ketika aku mengerjap, kini dia tampak terpekur pada bukunya yang sudah terbuka.
Aku belum pernah melihatnya di perpustakaan. Sejak kapan berkunjung ke tempat tongkrongan para kutu buku ini jadi agendanya saat berada di sekolah?
“El Rumi, kalau kamu mau pulang sekarang boleh saja. Jangan khawatir, kalau Bu Farida tanya, Ibu akan bilang kamu ada di sini sambil bantu-bantu sampai Perpust tutup.”
Bu Farida adalah Guru BP kami, beliau juga mengajar Agama tapi bukan di kelasku. Sepertinya Pak Amiruddin mengadu pada Guru BP itu hingga Hero kembali dihukum. Bisa jadi Bu Farida jemu memberi hukuman toilet melulu seperti sebelumnya dan hari ini menggantinya dengan hukuman perpustakaan yang lebih akademis. Aku menulis, tapi telingaku konsen ke suara Bu Ana yang sepertinya sedang berbaik hati untuk mempersingkat durasi hukuman Hero.
Hero berdehem sebelum menjawab. “Tak apa, Bu. Masih satu jam lagi, kan? Saya tunggu saja.”
Jawaban Hero membuatku senang meski kesenanganku sangat muluk-muluk sekali. Sebut aku ke-ge-er-an karena mengasumsikan jawaban Hero sebagai isyarat bahwa dia tak ingin cepat-cepat meninggalkan perpustakaan disebabkan ada aku. Di tempat dudukku yang membelakangi arah duduknya, aku tersenyum sendiri.
“Ya sudah kalau kamu maunya begitu. Lanjut saja baca bukunya,” jawab Bu Ana.
Beberapa siswi memasuki perpustakaan dan langsung menggerayangi rak teenlit. Sepertinya mereka mau meminjam sebelum pulang ke rumah. Aku melanjutkan menyalin di buku catatan Mas Nawi sambil sekuat tenaga menahan diri agar tidak menoleh ke belakang.
Setengah jam kemudian kudengar Bu Ana mendentingkan lonceng kecilnya satu kali, perpustakaan akan ditutup sepuluh menit lagi. Buru-buru kubereskan buku-buku Mas Nawi dari atas meja dan kumasukkan ke tas. Aku bangun dan balik badan. Sebentuk perasaan kecewa muncul di dadaku, Hero tidak ada lagi di sudut tempat dia kuduga duduk sambil sesekali memperhatikanku selama aku mencatat. Aku bertanya-tanya sejak kapan dia pergi?
Putus asa dengan bahu merosot, kusandang tasku dan beranjak pergi dari meja. Kuanggukkan kepalaku sambil tersenyum saat melewati meja Bu Ana yang dibalasnya dengan senyum ramah. Aku melangkah setengah hati sambil sesekali menoleh ke arah pintu perpustakaan yang baru saja kutinggalkan. Saat sudah melewati koridor sejauh beberapa meter, sekali lagi jantungku nyaris menggelinding di lantai ketika dengan tiba-tiba badanku menubruk seseorang yang keluar dari belokan koridor menuju toilet. Aku nyaris terjatuh dan tanganku menggapai serampangan.
Tat
Tat
Tat
“Ya Tuhan!” mulutku menganga lebar sedang tanganku terulur kaku di udara, sejengkal dari kerah baju seragam orang yang baru saja kutubruk. Aku baru saja menjauhkan tanganku dari kerah itu. Wajahku pias. Jika kutahu akibatnya bisa seburuk ini, aku tidak akan menggapai serampangan dan mengikhlaskan diriku jatuh ke lantai.
Satu langkah di depanku, Hero berdiri dengan seragam setengah terbuka. Aku baru saja membuat dua, tidak bukan dua, tapi tiga kancing bajunya tanggal dan sekarang entah menggelinding ke sudut mana lantai koridor.
Dia hanya memandangku selama lima detik, menatap tepat di mataku dengan ekspresi tak terbaca. Dia tidak marah, namun tidak pula terlihat tak mempermasalahkan ulahku. Ekspresinya sama seperti ekspresi yang ditampilkannya nyaris sepanjang waktu selama berada di kelas. Setelah lima detik, dia menarik lepas dasi abu-abunya dan melewatiku begitu saja, seakan tabrakan sesaat lalu tidak pernah terjadi, seakan tak ada seorang pun yang baru saja membuat lepas kancing-kancing seragamnya, seakan aku tak pernah terlihat olehnya.
Aku kelamaan mencerna situasi. Ketika kubalikkan badanku untuk meneriakkan kata maaf, dia sudah menghilang ke dalam perpustakaan. Aku bimbang, antara mau menyusulnya atau menunggu saja di tempatku hingga dia keluar. Saat menimbang-nimbang sembari menekuri lantai, kuputuskan untuk menemukan ketiga kancing seragamnya terlebih dahulu.
“Deka!” Aku mendongak dari memeriksa lantai. Di ujung koridor Mas Nawi berdiri menungguku, masih dengan seragam basketnya. Ternyata latihannya lebih cepat selesai hari ini. “Pulang!” laki-laki itu lanjut berteriak.
Aku hanya menemukan satu kancing. Di belakangku, hak sepatu Bu Ana baru saja menghujam di koridor dan mengeluarkan gema nyaring. Aku memutar kepala. Hero berjalan di samping Bu Ana, menjinjing setumpuk bundelan kertas yang kuperkirakan milik petugas pustaka itu di tangan kiri sedang tangan kanan memegang tali ransel miliknya yang tersampir di bahu. Seragamnya yang terbuka di bagian dada dan memperlihatkan kaus dalamnya yang putih bersih sungguh membuatku merasa amat bersalah.
Sama seperti tadi, dia melewatiku tanpa menoleh. Seolah aku tak ada. Seolah aku tak kasat mata.

No comments:
Post a Comment