Thursday, 12 May 2016

"HERO" by Nayaka Al-Gibran - Part 05 - [Part Story]



HERO
By. Nayaka Al Gibran
Part 05

5 YEARS AGO…

Bocah yang baru saja mendapatkan seragam putih biru itu mulai menulis. Menulis apapun yang mampu diingatnya tentang anak laki-laki berpakaian adat DKI dalam bingkai di atas meja belajarnya. Menulis satu hingga dua lembar sehari di sela-sela pekerjaan rumahnya. Lalu ia akan membacanya dalam hati, dan tersenyum sendiri kadang-kadang. Ketika suatu hari ia mendapati tak ada lagi yang bisa ditulis―karena ia yakin telah menulis semuanya, ia pun berhenti menulis dan mulai membaca buku itu hampir tiap malam sebelum tidur hingga nyaris bisa menghapalkan isinya.

Di tempat berbeda di tahun yang sama, anak lainnya mulai berteman dengan anak-anak yang selama ini tidak pernah disukainya. Ia jadi sering ikut membully, hanya untuk mendapati dirinya terus mengingat. Ia melihat sosok yang sama pada korban-korbannya, merasa secara tak langsung dapat melampiaskan marahnya ketika berhasil menjarah uang saku mereka. Namun ketika ia dan teman-temannya berkerumun di meja kantin, jajan dengan uang palakan mereka, perasaan bahwa ia telah mengecewakan seseorang yang paling disayangi kerap timbul. Dan jika itu terjadi, ia akan menyisi diam-diam. Esoknya, siklus yang sama kembali terulang.

***

Aku melihatnya berkelahi. Untuk yang pertama kalinya. Dia dikeroyok lima orang sekaligus, berandalan sekolah lain, seragam mereka beda. Jika saja Mas Nawi mengemudi cepat, mustahil aku sempat memperhatikan keadaan gang kumuh yang diapit bangunan toko-toko tua terbengkalai itu, tapi laki-laki yang selama ini memboncengku pulang dan pergi sekolah itu memang tidak pernah mengebut kecuali saat pergi.

“Mas, berenti dulu! Berenti dulu…!!!” Kupukul punggung Mas Nawi berkali-kali. Laki-laki itu menggeragap dan menginjak rem.

“Ada apa sih, ngagetin aja!”

Tak menjawab, aku segera turun dari boncengan dan bergegas menuju mulut gang yang sudah terlewati beberapa meter.

“Hei, mau ke mana!” seru Mas Nawi. Dia mematikan mesin. Kapten tim basket itu pasti menyusulku, aku bisa mendengar derap sepatunya di belakangku. “Dek, Deka… hei!” tanganku berhasil disambarnya. “mau ke mana?”

“Hero dikeroyok, Mas.” Kutunjuk mulut gang yang sedetik tadi hampir berhasil kucapai kalau saja tanganku tidak ditangkap Mas Nawi. Laki-laki di depanku mengernyit. Mustahil dia tidak tahu Hero.

“Hero berandalan sekolah kita itu?”

Aku tidak suka predikat yang dia sebutkan untuk Hero. Tak menjawab, kusentakkan tanganku hingga lepas dan lanjut memburu ke gang. Aku tiba tepat di saat seseorang berhasil menonjok perut Hero di pertengahan gang sana. Kulihat dia tersungkur ke tanah sambil memegangi perutnya. Mereka mulai menendanginya.

Aku hendak berlari ke sana. Tapi pinggangku berhasil dibelit lengan Mas Nawi. “Dek, ini bukan urusan kita. Jangan ke sana! Bahaya!”

Ya Tuhan. Aku ingin berbalik dan menonjok Mas Nawi. Tidak menyangka solidaritasnya serendah itu. Aku memang berbalik, tapi tidak sampai hati menonjok muka cakepnya. “Mas kenapa sih? Itu siswa sekolah kita. Dia sedang dipukuli, bisa saja dia dihajar sampai mati, dan Mas seenaknya bilang itu bukan urusan kita?”

“Dek, di sana itu bahaya. Bagaimana kalau mereka bawa benda tajam semisal pisau, lalu kamu ditusuk, aku ditusuk, kita berdua ditusuk?”

Kalimatnya seakan mengisyaratkan tidak apa-apa jika Hero ditusuk pengeroyoknya asalkan kami tidak ikut campur dan selamat. Pura-pura tidak melihat. Aku merasa buang-buang waktu bicara dengan Mas Nawi. Sementara kami bicara, Hero bisa saja makin babak belur di sana. Kupandang laki-laki di depanku ini dengan tatapan tak percaya. “Mas pengecut!” desisku sebelum kembali berbalik dan mulai berlari.

“Hei, Hei, Hei…!” Dia kembali berhasil menahanku, kali ini pergelanganku yang berhasil ditangkapnya. “Oke, biar aku yang ke sana. Kamu tetap di sini, bahaya kalau kamu ke sana.” Mas Nawi menarikku, dia melepas tasnya dan mencantelnya di bahuku sebelum mendorongku ke belakang sementara dia bergerak maju dengan kegesitan seorang atlet.

Tentu saja aku tidak mematuhi perintahnya. Aku mengekor tepat di balik punggungnya.

“WOOOIII…!!! BERHENTI…!!!” teriakan Mas Nawi membahana di dinding-dinding toko tua di kiri kanan kami.

Dari balik punggung Mas Nawi, aku bisa melihat para pengeroyok Hero berhenti menendang dan memukul. Dari kondisi mereka, aku tahu kalau di pihak lain ternyata Hero juga sudah berhasil menghajar lawannya. Penampilan para pengeroyok itu sama berantakannya dengan Hero. Wajah yang lebam-lebam, seragam yang kotor dan koyak serta bibir yang berdarah.

Mereka tampak mencermati Mas Nawi dan aku. “Bagus. Temannya datang bantuin. Cuih…” Salah satu pengeroyok itu meludah ke tanah, liurnya bercampur darah.

Lirikan Hero bertabrakan dengan pandanganku, lalu lirikan itu berubah menjadi pandangan ‘tidak peduli’ yang membuat hatiku ciut.

“Sudah cukup. Kita tidak perlu berantem,” ujar Mas Nawi tenang. “Kalian boleh pergi,” lanjutnya lalu menunjuk sosok Hero yang masih terbaring di tanah. “biarkan dia jadi urusan kami dan gak ada masalah yang bakal timbul. Aku jamin.”

Mereka tertawa mendengar ucapan Mas Nawi. Aku sendiri heran mendapati Mas Nawi bisa bicara setenang itu dalam kondisi menegangkan seperti sekarang. Tadinya saat punya niat untuk ikut campur, aku sama sekali tidak memikirkan kemungkinan kalau kami akan terlibat perkelahian juga―yang dari segi jumlah sudah jelas kami kalah. Yang kupikirkan saat itu hanyalah muncul untuk menolong Hero. Kini saat sudah benar-benar ‘muncul’, di belakang punggung Mas Nawi aku jadi pias sendiri. Aku tak pernah berkelahi, aku juga tidak pernah tahu kalau Mas Nawi jago karate dan pernah berkelahi. Kurasa laki-laki yang berdiri sok gagah di depanku ini juga sama payahnya denganku. Habislah kami, mereka pasti bakal membuatku dan Mas Nawi babak-belur tak lama lagi.

Oh Tuhan, mengapa pengeroyok itu tidak kabur saja? Itulah tepatnya yang kupikirkan saat turun dari boncengan Mas Nawi, muncul dan membuat pengeroyok itu kabur dengan satu teriakan. Ternyata membuat mereka kabur tidak cukup dengan muncul dan berteriak saja.

“Lu sendirian, dengan anak kemarin sore di belakang lu itu, kalian bisa apa? Kenapa gua dan genk gua harus pergi?” orang yang tadi meludah merangsek maju mendekati Mas Nawi, teman-temannya mengikuti.

“Libas aja sekalian, Bro!” salah seorang dari mereka ikut bersuara. “Kayaknya anak orang kaya tuh,” lanjut salah seorang yang lain.

Mas Nawi mendorongku, menyuruh mundur. Sementara pengeroyoknya sedang fokus padaku dan Mas Nawi, Hero menggunakan kesempatan itu untuk berguling merapat ke dinding di kirinya, dia berusaha bangkit berdiri. Keadaannya benar-benar berantakan. Aku kasihan padanya.

Mas Nawi kembali mendorongku. “Mas…,” desisku nyaris gemetar.

“Aku bilang mundur, Dek. Ke ujung gang!”

Kulihat rahang laki-laki yang sudah kuanggap bagai kakak sendiri itu mengeras. Aku mundur. Tidak ke mulut gang, hanya beberapa langkah ke belakang.

Lalu aku dibuat tak percaya dengan apa yang kulihat. Tepat setelah aku mundur, Mas Nawi langsung memasang kuda-kuda. Sikapnya benar-benar persis sama seperti atlet taekwando profesional. Laki-laki ini berhasil mengejutkanku. Kukira dia hanya jago melakukan slam dunk, ternyata dia juga pandai melakukan tendangan dan jotosan. Well, laki-laki ini makin terlihat seksi saja. Tapi Hero yang bersandar di dinding dengan seragam berantakan jauh lebih seksi di mataku.

Perkelahian tak imbang itu terjadi di pertengahan antara aku dan Hero. Mas Nawi terlihat begitu percaya diri. Aku sempat tegang ketika salah seorang lawan berhasil menyarangkan tendangannya ke dada Mas Nawi hingga membuat laki-laki itu terhuyung ke belakang. Seragamnya langsung kotor di bagian dada dengan tapak sepatu tercetak begitu jelasnya. Tapi yang terjadi berikutnya membuatku melongo. Begitu berhasil memasang kuda-kuda baru, Mas Nawi langsung membuat penendangnya terkapar megap-megap di tanah, kurasa ada giginya yang tanggal atau patah atau setidaknya goyang. Mas Nawi menyarangkan sepatunya begitu telak di rahang orang.

Orang kedua yang berhasil kena hajar kini bergulingan di tanah sambil memegangi lengan. Dia beruntung lengannya tidak patah dimakan jotosan Mas Nawi.

Mendapati dua temannya berhasil dipecundangi, tiga pengeroyok tersisa jadi kalap. Mereka menyerang membabi buta. Maksudku, benar-benar buta hingga mereka tidak bisa melihat setiap kali jotosan demi jotosan Mas Nawi menyusup di sela-sela serangan babi buta mereka. Menghajar perut, mengenai pelipis, membentur rahang atau menumbuk kening mereka. Tak sampai tiga menit kemudian serangan mereka mulai kendur. 
“MAS, AWAS…!!!” aku berteriak ngeri. Perkiraan Mas Nawi benar. Ada di antara mereka yang bawa pisau.

Pengeroyok yang pertama kali berhasil dijatuhkan Mas Nawi berlari memburu dengan cutter mengacung di tangan kanan. Kurasakan jantungku mencelos turun ke perut.

“TIDAK HARI INI, BANGSAT…!!!”

Aku tidak melihat kapan Hero meninggalkan dinding tempatnya bersandar kepayahan beberapa saat lalu. Tapi aku bersyukur dia bertindak di saat yang tepat. Cutter itu jatuh ke tanah sedang penggunanya kembali terkapar sambil meringis kesakitan. Hero baru saja memelintir lengan lawannya yang memegang pisau sebelum menghantamkan sikunya ke punggung orang, meski setelahnya dia sendiri juga terhuyung-huyung nyaris terjerembab.

Perkelahian antara Mas Nawi dan tiga pengeroyoknya terhenti dengan sendirinya saat Hero berteriak keras. Mereka berdiri dengan dada naik turun. Hero memandang pengeroyoknya satu persatu lalu membungkuk untuk memungut cutter. Dengan kedua tangan, dipatahkannya mata cutter karatan itu sebelum kembali dibanting ke tanah.

“Pengecut macam apa yang bawa-bawa pisau dalam perkelahian tangan kosong?” Hero meludah, liurnya juga berwarna merah. “Dasar banci!” Lalu bagai tak pernah terjadi perkelahian, bagai dia tak pernah menghajar dan dihajar, tenang saja dia mengeluarkan rokok dan pemantiknya. Sedetik kemudian dia sudah bersandar di dinding dan merokok dengan santainya. Tidakkah dia mencemaskan memar-memarnya?

Para pengeroyok memandang Hero dengan rahang terkatup, mereka juga memandang Mas Nawi dan aku bergantian. Jujur aku cemas. Bagaimana kalau mereka merencanakan balas dendam? Khususnya pada Mas Nawi. Membayangkannya saja membuatku mual hingga ingin muntah. Jika itu sampai terjadi, akulah yang patut disalahkan. Aku yang memaksa Mas Nawi membantu Hero. Sedang yang dibantu benar-benar tidak tahu diri. Kurasakan kemarahan dan kekecewaan mendesak dalam dadaku di saat bersamaan.

Hero menghembuskan asap dari mulutnya lalu berdecak. “Kita selesai, Pang. Lu gak bakal dapat apapun.” Asap rokok kembali membumbung, menerobos keluar dari hidung dan mulut Hero. “Lu harus ngajarin genk lu untuk gak pake senjata tajam kalau gak mau dibui.”

Aku tidak tahu siapa yang dipanggilnya sebagai Pang. Tidak paham apanya yang sudah selesai. Dan sama sekali buntu memikirkan hubungan antara ‘tidak dapat apapun’ dengan ‘selesai’ yang dimaksudkan Hero. Tapi aku paham tentang ‘ngajarin’ yang dikatakannya pada siapapun yang dipanggilnya Pang. Kalau tadi dia terlambat bertindak, Mas Nawi pasti sudah tertusuk cutter dan pelakunya akan diuber-uber polisi.

Kurasakan kelegaan ketika tiga pengeroyok yang keadaannya masih cukup baik bergerak untuk membantu dua teman mereka yang terkapar di tanah. Tanpa berkata-kata, kelimanya berjalan masuk lebih jauh ke dalam gang. Aku dan Mas Nawi memperhatikan hingga mereka lenyap di belokan.

Hero masih bersandar sambil merokok di tempatnya. Dia sama sekali belum bicara denganku dan Mas Nawi. Sikap berdirinya seolah-olah dia kini hanya sendirian di sini, tidak ada aku dan tidak ada Mas Nawi yang baru saja mengambil resiko untuk membantunya. Tidakkah dia bisa mengucapkan satu saja kata terima kasih? Atau dia tidak pernah tahu kalau peradaban mengenal kata itu?

“Apa sih yang kamu pikirkan, hah?!?” Aku tak bisa untuk terus meredam kejengkelanku―kemarahanku. Mas Nawi menolehku, dia siap bersuara ketika aku kembali berseru pada Hero yang masih bergeming. “Apa yang kamu dapatkan dari menjadi berandalan?!?”

Sekarang dia menatapku. “Apa pedulimu, hah?!?” Hero membuang rokoknya. “Pergi saja dan jalani hidupmu yang sempurna nan bahagia itu!” Dia menginjak bara di ujung rokok.

Gigiku bergemelutukan. Kelopak mataku memanas. Kurasakan tangan Mas Nawi mencengkeram bahuku. “Pulang, Dek!” Ada ketegasan dalam suaranya kali ini, nyaris seperti memerintah. Aku menoleh pada Mas Nawi dan laki-laki itu mengangguk padaku. “Ayo, kita pulang. Temanmu ternyata cukup sehat untuk menjaga diri sendiri sekarang.” Tak peduli aku bersedia pergi atau tidak, Mas Nawi langsung merangkul bahuku, membalikkan badanku dan setengah menyeretku berjalan meninggalkan tempat perkelahiannya. Empat langkah kemudian, dia berhenti dan menoleh pada sosok Hero. “Omong-omong, Jagoan, terima kasih…”

Kuharap kata-kata Mas Nawi benar-benar menampar ego Hero. Tentu saja, jika dia cukup paham bahwa Mas Nawi bukan sedang melontarkan pujian.

***
[Next]

From - Cerita Kaum Pelangi

No comments:

Post a Comment