HERO
By. Nayaka Al Gibran
Part 06
4 YEARS AGO…
Ia sudah kebal. Sudah hapal gelagat dan sudah jemu melakukan sedikit perlawanan. Jadi, ia memutuskan untuk merubah metode. Tidak lagi menunggu didorong hingga terpojok ke dinding, tidak lagi menunggu dibentak yang kadang-kadang membuat liur si pembentak terpercik ke seragam atau ke mukanya, atau yang lebih parah―dipukuli hingga memar atau dikunci di toilet sekolah yang kotor dan menjijikkan. Ia akan membuat sedikit revolusi, revolusi seperti langsung menyerahkan uang sakunya begitu dihadang berandalan di sekolahan. Langsung menyerahkannya begitu saja dan berlalu pergi setelahnya. Revolusi kecil itu memang menyelamatkannya dari diperlakukan kasar. Namun setiap tiba jam istirahat, ia menemukan dirinya merindukan seseorang, seseorang yang akan datang secara mendadak dan mengajaknya ke kantin sekolah, berbagi uang saku dengannya.
Di tempat berbeda, seorang anak justru baru saja berhasil merampas habis uang jajan adik kelasnya. Mengancam juniornya yang hari itu mendapat jatah ‘sial’ dan berlalu pergi setelah yakin kalau sang junior sudah sangat terintimidasi olehnya untuk tak berani mengadu. Jika diawal-awal ia hanya ikut-ikutan, kini seiring waktu dan seiring kemarahannya yang terus membesar, ia melakukannya atas inisiatif sendiri. Merasa bangga kepada dirinya sendiri ketika berhasil melakukannya seorang diri. Dan rasa puas aneh yang ia dapatkan ketika melihat korbannya tak berdaya di bawah intimidasinya sedikit banyak ternyata mengobati marahnya pada seseorang di masa lalu. Itu sudah cukup sebagai alasan ia mau melakukannya esok dan esoknya lagi.
***
Meski hatiku sedang kesal pada sikap Hero atas kejadian di gang itu, namun tidak melihat sosoknya selama dua hari di kelas ternyata sungguh membuatku bertanya-tanya. Tak ada keterangan apapun. Semua guru yang mengajar di kelasku selama dua hari ini membubuhkan tanda alpa untuk Hero di absen mereka.
Aku mencemaskannya. Oh Tuhan, bagaimana bisa aku tidak mencemaskan berandal itu? Aku terbiasa melewati hari Senin hingga Sabtu dengan mengamati dia di kursinya. Dan saat dia tak terlihat, tentu saja aku gelisah.
Apakah dia sakit karena perkelahian kemarin hingga tak bisa bersekolah? Jika iya, mengapa keluarganya tidak memberi kabar ke wali kelas kami? Aku masih ingat bagaimana keadaannya setelah dikeroyok di gang itu, benar-benar berantakan dan babak-belur. Kupikir, dia sengaja bolos hingga lebam dan memarnya hilang. Tapi bagaimana kalau ternyata dia sedang sakit? Sekarat hingga harus dirawat di rumah sakit?
Kuperhatikan bangku kosong tempat duduk Hero sekilas lalu kuedarkan pandanganku ke seluruh penjuru kelas, mencari-cari siapapun yang pantas kusebut sebagai temannya, yang akrab dengannya, yang peduli padanya. Aku sama sekali tak kaget ketika tidak menemukan satu orang pun yang pantas kusebut temannya. Tidak heran, Hero nyaris tak pernah terlihat bersosialisasi dengan teman-teman sekelasnya. Dia seakan tinggal di dimensi yang berbeda, seakan ada dinding tak kasat mata yang memisahkan dunianya dari duniaku dan orang-orang di kelas ini.
Apa dia baik-baik saja?
Aku mengacungkan tangan dan Pak Amir memberiku permisi untuk ke toilet.
Nyatanya aku tidak ke toilet. Tapi menemui Bu Asmaul Husna, wali kelasku. Padanya, aku berterus terang tentang kejadian di gang setelah mendapatkan janjinya untuk merahasiakan ceritaku terhadap siapapun. Oh, ya, tentu saja wali kelasku itu kaget. Tapi seperti yang kuduga, Bu Husna adalah wali kelas paling keibuan yang pernah kupunya―alasan mengapa aku mau bercerita jujur padanya. Darinya, kudapatkan alamat Hero setelah kukatakan kalau aku akan menjenguknya sepulang sekolah.
Apa aku sanggup menunggu bel pulang? Tentu saja tidak. Aku mantap membolos begitu bel istirahat berbunyi. Ketika semua temanku berhamburan menuju kantin, aku justru membuntal tasku dan mengendap-endap menuju pagar belakang sekolah. Aku berhasil memanjat pagar tanpa kendala berarti, namun saat hendak melompat untuk menapak ke seberang, tali sepatuku tersangkut kawat. Pendaratanku tidak semulus yang kurencanakan. Aku jatuh bergedebukan di tanah berumput, nyaris terguling ke parit kering namun dalam di depanku. Aku bangkit duduk dan saat itulah kusadari kalau kaki kiriku terasa perih dan sakit.
Kuangkat celana abu-abuku yang robek kecil di bagian bawah. Sial. Kakiku tergores, tepat di tulang keringku. Penuh dendam kesumat, kuperhatikan kawat duri yang dililitkan seperti kumparan di sepanjang pagar sekolah. Kukutuk kawat itu habis-habisan dalam hati. Aku pasti kualat karena membohongi Bu Husna, aku tidak menunggu jam pulang seperti yang kukatakan padanya. Kuperiksa lukaku, goresan sepanjang sepuluh senti sedikit di atas pergelangan kakiku tidak terlihat parah. Berdarah, tapi goresannya tidak menganga. Aku hanya perlu membeli satu atau dua plester luka. Sambil menahan perih aku bergegas menjauh dari area sekolah, mampir sebentar di kios kecil untuk membeli plester luka dan menempelkannya pada kakiku sebelum mencari becak.
Sejak mendapatkan alamat Hero dari Bu Husna, aku sudah menduga kalau bakal susah menemukan rumahnya. Hero tidak tinggal di komplek perumahan di mana kita dengan mudah bisa menemukan lorong dan nomor rumah yang hendak dituju. Dia tinggal di sebuah kelurahan yang bahkan namanya saja tidak pernah kudengar. Untungnya supir becak tahu kelurahan dan dusun yang kusebutkan.
“Rumahnya yang mana, Nak?” sang supir melambatkan becaknya begitu bertemu lorong bercabang tiga. Dusun ini terlihat begitu tidak asri, begitu tidak terurus, nyaris seperti pemukiman kaum urban.
Aku melongokkan kepalaku keluar kanopi becak, memperhatikan keadaan. “Ini beneran dusunnya kan, Pak?” tanyaku sangsi. Si supir mengangguk yakin. “Gak apa deh, Pak, saya turun di sini saja.”
Aku keluar dari becak setelah membayar ongkos. Setelah supir dan becaknya pergi, kuperhatikan keadaan di sekitarku. Menimbang-nimbang lorong mana yang harus kupilih. Di saat sedang bimbang sedemikian rupa, segerombolan murid SD dengan seragam dekil dan kusam berlarian keluar dari salah satu lorong. Kulirik jam tanganku, jam sebelas tiga puluh lima. Sepertinya mereka murid kelas satu, atau dua, atau kelas tiga.
Yakin kalau murid-murid SD itu adalah anak-anak setempat, kucegat mereka sebelum melesat lari lebih jauh. Yang kucegat hanya satu anak, namun semua teman si anak ikut berhenti lari, mereka berkerumun di sekitarku. Bau matahari menguar dari mereka, membuat penciumanku sejenak menegang.
“Ya, Bang, ada apa?”
Jarang-jarang aku dipanggil ‘Bang’. Mendengar ada anak yang kini memanggilku seperti itu, membuatku serasa jadi preman saja. Aku tersenyum pada si anak. Kubungkukkan badanku hingga kepala kami sejajar sambil berusaha untuk tidak mengambil napas terlalu banyak. “Adik, tau yang mana rumahnya Kak Romeo El Rumi?”
Semua mereka mengernyit. Terlihat berpikir sejenak lalu serempak menggelengkan kepala.
“Gak tau?” tanyaku memastikan. Mereka kembali menggeleng. Aku menghembuskan napas lelah, kuseka keringat di puncak hidungku ke seragamku dan menyadari sesuatu. “Itu loh, Kak El Rumi yang sekolah di SMA juga, SMA ini…” Kutunjukkan simbol sekolah yang tercetak di bahuku pada mereka. “Baju sekolahnya sama kayak baju sekolah yang Kakak pakai ini.” Aku masih canggung membahasakan diriku dengan ‘Bang’.
Sekali lagi, bocah-bocah itu menggeleng. Mata bundar mereka berkedip-kedip memperhatikanku.
Aku putus asa. Kembali kutegakkan posisiku dan kupijit keningku. Sedetik kemudian aku sadar kalau telah menanyakan nama yang salah pada anak-anak di sekitarku. “Nah, kalau rumah Kak Hero, kalian tahu?” tanyaku sambil kembali membungkuk.
“Oh, Bang Hero…” Salah seorang anak bersuara. “Kalau Bang Hero saya tau, Bang. Rumahnya di sana.” Belum sempat aku mengarahkan pandangan ke arah yang ditunjuk, si anak sudah menyambar tanganku dan ditariknya. “Ayo saya antar!”
Kerumunan itu membubarkan diri. Kecuali si anak yang masih memegang tanganku, mereka semua kembali berlarian menuju rumah masing-masing.
Kami berhenti di sebuah rumah semi permanen setelah berjalan masuk ke salah satu lorong sejauh puluhan meter. Rumah itu kecil, tidak lebih bagus dari rumah-rumah di sekitarnya. Halamannya penuh dengan bougenville beragam warna, bunga-bunga itulah yang membuat rumah semi permanen tersebut terlihat lebih asri dari rumah di kiri kanannya. Aku sempat sangsi kalau ini beneran rumah yang hendak kutuju. Dulu, Hero tinggal di rumah yang jauh lebih bagus dari rumah di depanku sekarang. Saat melihat motor yang kukenal terparkir di bawah satu-satunya pohon selain perdu besar bougenville di halaman sempit itu, sangsiku hilang. Ini sungguhan tempat tinggal Hero.
[Next]
From - Cerita Kaum Pelangi

No comments:
Post a Comment