Thursday, 12 May 2016

"HERO" by Nayaka Al-Gibran - Part 07 - [Part Story]



HERO
By. Nayaka Al Gibran
Part 07

“Itu rumahnya, Bang.” Anak di sebelahku menunjuk, dia melepaskan pegangannya dan hendak berbalik pergi, tanpa salam perpisahan. 

“Hei, tunggu!” seruku. Dia kembali mematung. Kurogoh dompetku dan kuangsurkan selembar uang lima ribuan padanya. “Buat Adik. Makasih udah ngantar Kakak ke sini.” Sejenak si anak terlihat ragu. Dia baru mengambil setelah kuangsurkan tanganku lebih ke depannya. “Jangan dibuat beli rokok, ya!” kataku dengan mimik serius. 

Si anak mengangguk. “Makasih, Bang!” lalu dia berbalik pergi. Tas sekolahnya bergambar superhero Avengers, resletingnya sudah setengah rusak. 

Kutarik napas panjang dan kuhembuskan perlahan. Aku melewati motor tua yang terparkir di bawah satu-satunya pohon mangga di pekarangan, melewati rumpun bougenville, dan mendekati pintu dengan langkah canggung. 

Bagaimana kalau dia menolak kehadiranku dengan cara paling kasar yang bisa kubayangkan? 

Rumahnya begitu senyap. Kuketuk pintu sebanyak tiga kali. Aku tak memberi salam, takut jika ternyata Hero kenal suaraku dan memilih untuk tak mau membuka pintu―meski pemikiran itu terdengar cukup muluk, mengenal suaraku, hah? yang benar saja. 

Aku memasang kuping. Berusaha menangkap suara yang berasal dari dalam rumah. Tak ada sebarang suara yang terdengar. Kembali kuketuk pintu, sedikit lebih keras dari sebelumnya. 

Belum sempat kuturunkan tanganku, pintu itu terkuak. Aku sedikit menggeragap. Sosok Hero muncul di ambang pintu. Sepertiku, juga sempat kutemukan ekspresi kaget di wajahnya sebelum matanya yang tajam memandangku penuh selidik. 

“Assalamu’alaikum…,” sapaku ragu-ragu sambil kuturunkan tanganku. 

“Apa yang kamu lakukan di sini?!” tanyanya datar mengabaikan salamku. “Bagaimana kamu bisa sampai di sini? Bukankah sudah pernah kukatakan untuk berhenti mengikutiku?” 

“Aku tidak menguntitmu.” 

“Pembohong!” 

“Aku tidak menguntitmu.” 

“Bohong adalah keahlianmu sejak dulu.” 

“Aku tidak menguntitmu,” ulangku lebih tegas. 

Dia terdiam. Masih memandangku tajam. 

Kuberanikan diriku untuk balas memperhatikannya. Seperti yang kuduga, bekas hajaran di wajahnya belum hilang. Aku bisa melihat dengan jelas lebam kebiruan di sudut bibirnya, di pelipisnya, di dekat matanya. 

Kudengar Hero berdecak. “Pergilah. Aku tidak mengharapkanmu di sini…” 

Dia siap menutup pintu, refleks kutahan pinggiran kayu persegi itu dengan tanganku. “Jangan tolak aku, Rom… kumohon. Jangan tolak aku kali ini.” Tapi dia semakin menekan daun pintu dari sisi bersebelahan. Dia lebih kuat dariku, selalu lebih kuat sejak dulu. Ketika kurasakan tanganku kalah dan pintu itu siap tertutup dan kuyakin tak akan terbuka lagi, nekat kuangsurkan kaki kiriku, melintang sedemikian rupa di bingkai pintu. “Aarrgghh…!!!” aku berteriak kesakitan. Benar-benar kesakitan. Tulang keringku bagaikan remuk. 

“Sialan, Deka…!!! Apa kamu sudah gila, hah?!?” 

Kini pintu itu terpentang sepenuhnya. 

Aku terpegun mendengar namaku disebutnya, sementara Hero sontak menopangku yang sesaat tadi nyaris ambruk karena tak bisa berdiri tegak setelah kakiku terjepit pintu. Sepertinya cowok berandalan ini diserang kepanikan, kepanikan yang membuat sirna segala arogansinya, segala kekasarannya, segala kesinisan dan kemarahannya. Panik itu, dipicu oleh teriakan kesakitanku. Teriakan kesakitanku. 

“Apa yang kamu pikirkan? Dasar dungu! Bagaimana kalau kakimu patah, hah? Dasar tolol!” Kata-kata terus berlesatan dari mulut Hero. Meski kebanyakan kata-katanya berujung umpatan, fakta bahwa dia sangat terlihat mengkhawatirkanku benar-benar membuatku tak merasakan sakit apapun lagi. 

“Apa harus menunggu hingga aku kesakitan dulu baru kamu mau melihatku, Rom…” Aku berbisik lirih. 

Hero bergeming. Dia berhenti dari memapahku ke kursi kayu di ruang depan rumahnya dan perlahan menjarakkan dirinya dariku. Dia melengos menghindari pandanganku ke wajahnya. Sedetik kemudian dia sudah menunduk menatap lantai. 
“Andai aku tahu kamu hanya akan melihatku jika aku kesakitan dan celaka, mungkin sudah sejak menemukanmu di SMA aku akan menabrakkan diriku ke bus tepat di depanmu…”

Dia tetap terdiam.

“Mengapa maafmu untukku terlalu mahal, Rom? Mengapa…?” Tak memperoleh jawabannya, aku bergerak terpincang-pincang mendekati set kursi kayu, mendudukkan diriku di salah satu kursi meski belum dipersilahkan duduk.

Hero tetap bergeming di tempatnya berdiri, tetap menunduk sambil sesekali menggesekkan punggung tangannya ke hidung. Sangat jelas terlihat kalau dia sedang bingung untuk bersikap.

“Aku masih Deka yang dulu, Rom… sejahat apapun sekarang kamu menganggapku, aku tetap Deka. Temanmu yang penakut…”

Dia mengibaskan tangannya, berlagak tak peduli seperti selama ini. “Pulanglah―”

“Kakiku sakit, Sialan! Kamu baru saja menjepitnya di pintu. Aku gak bisa pulang tanpa harus terpincang-pincang atau bergulingan di jalan!” Nadaku meninggi. Apa aku baru saja menyerukan kata ‘sialan’?

Hero menatapku. Kemana tatapan tajamnya selama ini? Ragu-ragu, dia berjongkok di depanku, dan mulai menggulung ujung celana abu-abuku. Dia berhenti menggulung ketika menemukan plester lukaku di sana. Plester itu sedikit terbuka, pasti gara-gara insiden di ambang pintu sesaat tadi.

“Bukan itu bekas jepitannya.” Aku berdeham. “Itu kegores kawat duri pas manjat pagar belakang sekolah buat bolos kemari,” jelasku sebelum Hero bertanya. Aku seperti mendengar tawa kecil di rongga gigi. Kuintip muka Hero yang masih menunduk, aku bisa melihat ekspresi gelinya. “Yah, tertawakan saja aku.”

“Bolos pertama kali, hah?” dia mendongak sekilas sebelum kembali menggulung celanaku.

“Kukira kamu gak peduli,” balasku sinis.

Hero mendiamkan diri. Aku meringis ketika jemarinya mengusap kakiku yang sakit. Ketika dia memindahkan tangannya, kutemukan gurat merah di atas luka goresku. Ada darah beku di bawah kulitku. Hasil hantaman daun pintu.

“Mungkin kamu harus ke Puskesmas―”

“Oh, kukira kamu gak peduli,” ulangku memotong kalimatnya.

“Berhenti memojokkanku!”

“Oh, sekarang kamu merasa terpojok, Bangsat? Bagaimana rasanya terpojok, menyenangkan, hah?” Tadi sialan, sekarang bangsat. Bagus sekali. Oh, ayolah… aku sedang berimprovisasi di sini.

Hero berdecak. “Tunggu di sini, jangan kemana-mana!”

“Siapa yang memerintah?”

“Bangsat! Tunggu di sini kalau gak mau kuhajar!” lalu dia melesat keluar sebelum sempat aku meningkahi.

Aku tersenyum sendiri setelah Hero pergi. Merasa geli dengan perubahan sikapnya yang begitu drastis terhadapku sesaat tadi. Tak sampai tiga menit, dia kembali dengan es batu dan segulung perban serta plester luka baru di tangan. Sepertinya dia baru saja mengutang di kios terdekat.

“Aku punya antiseptik di kamar.” Dan dia melesat ke kamarnya yang pintunya terlihat jelas dari tempatku duduk. Keluar lagi beberapa detik kemudian, dia lanjut melesat lebih jauh ke dalam rumah. Hero kembali ke ruang depan dengan sebuah baskom kecil di tangan.

Kembali berjongkok di depanku, hal pertama yang dilakukannya adalah membuka plester yang sudah berdarah di luka goresku. Selanjutnya dia memotong perban, mencelupkannya dalam bongkahan es di dalam baskom sebelum dipakai membersihkan luka itu. Kami sama-sama diam selama dia bekerja. Jika dia fokus ke lukaku, maka aku fokus memandang sosoknya. Kagum dengan gerakannya yang cekatan seperti anak pramuka, suka setiap kali lengannya yang besar itu melakukan gerakan, terbius memperhatikan otot-otot di lengannya berekstensi dan berileksasi bergantian.

[Next]

From - Cerita Kaum Pelangi

No comments:

Post a Comment