Thursday, 12 May 2016

"HERO" by Nayaka Al-Gibran - Part 10 - [Part Story]



HERO
By. Nayaka Al Gibran
Part 10

3 YEARS AGO…

Di kamarnya, ia merasa perlu membuka buku catatannya. Firasatnya terasa lain hari itu. Ingatannya tidak pernah sekuat itu. Ketika ia mulai membaca setelah cukup lama tidak membuka bukunya, ia menyadari banyak hal yang belum dituliskannya, hal-hal menyangkut perasaannya. Ia perlu menuliskannya juga. Maka ia mulai menulisi lembar baru, menambah catatan baru, mencita-citakan hari depan, mereka-reka hari di mana mereka akan bertemu kembali, menjabarkan harapannya di setiap baris. Kian hari, aktivitas itu kian terasa mengasyikkan. Ia seakan bisa bercengkerama langsung dengan seseorang di masa lalu itu.


Di tempat berbeda, remaja lain baru saja mendapati jika dunianya sedang bergolak. Ada awan mahapekat sedang tindih-menindih di atas bumbung rumahnya membentuk gumpalan tebal mustahil terberai. Ada masalah mahapelik sedang jalin-menjalin membentuk simpul rumit mustahil terurai. Orang-orang berseragam itu menggelandang papanya. Bunyi sirine membuatnya takut. Ia hanya meringkuk di balik jendela melihat papanya dibawa pergi. Masih meringkuk ketika para tetangga membopong sosok mamanya yang tak sadarkan diri dari teras rumah. Ia berharap dirinya sedang tertidur, lalu bangun dan mendapati kalau ia baru saja bermimpi. Ia butuh teman, teman yang memahami perasaannya tanpa ia harus cerita. Teman yang akan berbagi bebannya, yang akan menangis bersamanya saat melihatnya menangis. Menangis begitu saja tanpa harus tahu apa sebabnya. Tapi sudah begitu lama sejak ia kehilangan seseorang seperti itu.

***

“El Rumi gak hadir karena sakit, Pak.”

Semua pandangan tertuju padaku ketika Pak Al memangggil nama absen Hero hari ini. Aku tau apa yang mereka pikirkan. Tentu tak jauh-jauh dari ‘sejak kapan Deka dan Hero akrab?’.

“Oh. Kalian sudah menjenguknya?” tanya Pak Al.

Aku mengedarkan pandanganku ke seantero kelas. Tak ada yang menjawab. “Kami tidak cukup akrab dengan El Rumi untuk berbondong-bondong menjenguknya, Pak,” jawabku.

Pak Al tertegun di kursinya. Di sampingku, Khiar berbisik. “Kamu baru saja membuat kelas kita malu, Dek!”

“Kenapa kini kamu peduli? Karena kamu ketua kelasnya?” Khiar tak menjawab. “Yang kukatakan benar, kan? Selama ini kita menjauhkan diri dari Hero, padahal kita teman sekelasnya―”

“Kita semua tau siapa Hero,” potong Khiar.

“Bahwa dia langganan guru BP? Itu bukan alasan buat kita untuk mengucilkannya.”

“Dekalvin, kamu tau dari mana El Rumi sakit?” pertanyaan Pak Al menghentikan bisik-bisikku dan Khiar.

“Kemarin saya baru dari rumahnya, Pak.”

“Deka kemarin bolos, Pak!” seru salah satu cowok di deretan paling belakang.

Pak Al tidak berusaha mencari tahu apakah aku sungguhan bolos atau tidak. Guru tampan itu hanya menatapku sekilas sebelum terpekur kembali pada absennya. “Seharusnya, sebagai teman satu kelas, kalian harus lebih peka terhadap sesama teman sekelas,” katanya lalu lanjut mengabsen setelah sempat terjeda di nama Hero. “Siti Rafika…”

“Hadir, Pak!”

Khiar menyikutku. “Kamu sungguhan bolos kemarin untuk ke rumah Hero?”

Kudiamkan dia. Kalimatnya beberapa saat lalu masih menyinggungku.

***



2 YEARS AGO…

Saat papanya mengabarkan beberapa bulan ke depan mereka akan kembali menetap di kota tempat ia lahir dan menghabiskan tahun-tahun awal masa kecilnya, ia ingin lulus SMP detik itu juga. Kembali ke sana, artinya tak perlu menerka-nerka nomor telepon lagi―meski pekerjaan itu kian jarang dilakukannya. Kembali ke sana artinya tak perlu menulis lagi, dan membaca lagi kemudian. Kembali ke sana, berarti bahwa segala kegundahan hatinya akhirnya akan lenyap. Lalu, ia mulai menghitung hari dan melingkari kalender.

Di tempat berbeda, di tanggal yang sama―yang baru saja dilingkari oleh salah satu remaja di rumahnya dengan perasaan tak sabar, seorang remaja lain sedang menangis tanpa suara. Hari itu peringatan seratus hari meninggalnya mamanya. Di kamarnya, di rumah seorang famili, ia menyendiri berdua dengan kesedihan berwujud air mata di wajahnya. Lantunan surah yang dibaca para tetangga yang tinggal di sekitar rumah familinya sayup-sayup menerobos masuk melewati lubang angin pintu kamarnya. Ia yakin, di satu tempat, takdir sudah menertawakannya sejak lama, dan masih tertawa hingga saat itu.

***

Tidak biasanya Mas Nawi sediam ini saat perjalanan menuju sekolah. Pagi ini tampangnya terlalu serius. Kukira dia sedang dimarahi mamanya, atau ditegur papanya untuk kesalahan yang tidak bisa kuterka. Aku tidak pernah ikut campur apapun urusan Mas Nawi selama ini, dan aku belum berniat untuk mulai ikut campur sekarang.

“Dek.”

“Ya?” kucondongkan badanku lebih rapat padanya, “ada apa, Mas?”

“Taun depan kayaknya kita gak bisa sering-sering ketemu lagi deh.”

“Kenapa?” tanyaku datar. Masih belum menangkap gelagat apapun.

“Papa rese.”

“Rese kenapa? Papanya Mas lagi lapar?”

“Gak lucu,” katanya singkat.

“Rese kenapa?” ulangku lebih serius.

“Bayangkan saja, di kota kita sendiri ada universitas negeri yang difavoritkan, Papa malah nyuruh anaknya kuliah jauh.”

Ternyata dia sedang membicarakan tentang kelulusannya dari SMA yang tak lama lagi. “Mungkin itu cuma alasan Om Sabri untuk ngusir Mas dari rumah,” ledekku.

Laki-laki yang pinggangnya selalu kupeluk tiap berada diboncengannya itu berdecak kesal. “Aku serius, Dek.”

“Terus? Aku harus bagaimana? Melakukan demonstrasi tunggal di pekarangan rumah Mas Nawi, bawa poster gede-gede bertuliskan ‘saatnya mendengar aspirasi anak’ pake huruf kapital sambil berorasi layaknya orator profesional yang sudah sering turun ke jalan, berkoar-koar bahwa sekarang bukan jamannya memaksakan kehendak pada anak, gitu?” Kuambil jeda untuk bernapas. “Bahkan Om Sabri pasti akan menjewerku dan melemparku ke luar gerbang sebelum orasiku selesai.” Kujengukkan kepalaku untuk mengamati ekspresi Mas Nawi. Kukira dia akan tertawa, atau setidaknya tersenyum geli. Tapi wajahnya tetap serius. Aku mendesah. “Aku pasti bakal kangen kalau nanti Mas pergi.” Kueratkan pelukanku padanya dan kutempelkan sebelah pipiku ke punggungnya.

Dia menoleh sejenak lalu kembali fokus ke jalan.

Kami mendiamkan diri beberapa saat. Aku tahu seperti apa rasanya pergi meninggalkan orang-orang yang dikenal, yang disayang. Rasanya sungguh tidak enak.

“Deka mau janji satu hal?” tanyanya setelah kami bisu cukup lama.

“Apa?”

“Saat Deka tamat nanti, susul Mas Nawi, kuliah di kampus yang sama, fakultas yang sama kalau perlu. Mau?”

“Kenapa aku harus mau melakukannya?”

Mas Nawi terdiam lagi. Saat kukira laki-laki ini tak akan menjawab, kudengar dia menggumamkan kata ‘entah’ dengan nada persis orang putus asa.

“Iya. Aku janji deh. Saat tamat SMA nanti, aku bakal minta Papa nguliahin aku di kampus yang sama dengan Mas Nawi.”

Dia kembali menolehku sekilas. “Itu janji sungguhan, kan?”

“Iya.”

“Awas kalau ingkar.”

“Nah, itu yang aku gak bisa janji.”

“Dek, ini serius!”

Aku tertawa. “Tau yang kutakutkan?”

“Apa?”

“Aku takut, jika kususul Mas ke sana, maka tahun-tahun kuliahku akan dipenuhi dengan tugas menyalin catatan demi catatan yang tak ada habisnya, sementara Mas sibuk dengan lapangan demi lapangan yang juga tak ada habisnya.”

“Sialan!” umpatnya sambil berbelok masuk ke pekarangan sekolah.

Di balik punggungnya, aku tertawa puas.

***

[Next]

From - Cerita Kaum Pelangi

No comments:

Post a Comment