12 MONTHS EARLIER…
Pertama kalinya ia tahu jika ternyata teman masa kecilnya bersekolah di tempat yang sama dengannya, itu saat ia harus ke kantor untuk mengambil boardmarker baru. Hari itu adalah hari piketnya di kelas. Di kantor, ia tak sengaja mendengar ceramah guru BP di sekolahnya. Dari ruangannya, suara sang guru BP terlalu nyaring untuk diabaikan begitu saja. Sebenarnya bukan suara sang guru yang tidak bisa diabaikan, tapi nama yang disebutkan berulang-ulang oleh sang guru dengan nada marah. Nama yang begitu ia ingat, yang berkali-kali ia tulis dalam catatannya. Ia seperti tersiram air es ketika mendengar nama itu. Berlama-lama memilih boardmarker, ia menunggu siswa yang sedang diceramahi itu keluar dari ruangan guru BP, untuk memastikan keyakinannya.
Ia terlonjak ketika pintu terbuka disusul titah terakhir dari guru BP sekolahnya. “Semua toilet, El Rumi! Semua toilet!”
Dan di sanalah mereka, berpandangan selama sekian detik sebelum El Rumi memutus tatap dan meninggalkan ambang pintu ruangan guru BP.
Di tempatnya berdiri kaku dengan beberapa batang boardmarker di tangan, ia mendapati dirinya sulit bernapas. Meski sosoknya kini begitu jangkung dan tatap matanya tidak selembut tatapan anak yang ia kenal dulu, meski dengan tampilannya yang berantakan dan aura kasar layaknya berandalan yang ia kesan selama detik yang singkat itu, ia tahu bahwa sosok jangkung itu adalah Romi masa kecilnya. Sosok yang sama yang kerap mengulurkan tangan buatnya ketika ia terjatuh. Sosok yang sama yang selalu mengatainya penakut saat menemani sedu-sedannya sehabis dipalak. Itu adalah Romi, temannya berbagi uang jajan ketika mereka masih sama-sama mengenakan merah dan putih.
Ia menerka-nerka, apakah dirinya masih diingat?
Belakangan ketika salah satu teman sekelasnya menunjukkan siswa yang kerap dipanggil Hero―yang selama itu hanya ia ketahui panggilan dan embel-embel siswa bermasalah di belakang panggilan itu―padanya, ia nyaris tak percaya pada kenyataan.
Faktanya, waktu memang mampu merubah manusia. Tidak hanya fisik, tapi juga pribadi.
Tidak peduli pada imejnya yang begitu tidak disukai warga sekolahan, ia mulai memuja, sekali lagi. Tidak lelah meski harus berkali-kali gagal mendekati. Kelak ketika skenario takdir membuat mereka berada di satu kelas, ia merasa tak pernah seberuntung itu.
***
Aku dibuat kaget ketika sore ini kudapati Hero berdiri di teras rumahku. Apa telepatiku sampai padanya? Karena terus terang saja, aku memikirkannya seharian ini, bahkan begitu konyolnya berkhayal dia akan mendatangiku dengan menunggangi kuda, berpakaian zirah, bertopi baja dengan pedang panjang tersampir di pinggang. Dan kini dia sungguhan datang, memang tanpa kuda dan tanpa baju zirah, tapi dia tetap terlihat bagai ksatria dalam pandanganku.
Di dalam, mamaku sedang mengadakan arisan. Tadinya aku hampir tak bisa mendengar bunyi bel yang dipencet Hero karena mereka begitu heboh mengomentari set Tupperware Mama yang baru.
“Hai,” sapanya, terlihat kikuk begitu aku nongol di pintu.
Yang pertama kutanyakan adalah, “Kenapa tadi masih bolos?”
Yang dia khawatirkan malah, “Bagaimana kakimu?”
Aku menunduk menatap kakiku yang sudah lebih dulu diawasi Hero sejak aku membuka pintu untuknya. Celana pendek sedengkul yang sore ini kukenakan jelas memperlihatkan keadaan tulang keringku. “Baik kok. Gak sakit lagi.” Kupandang Hero yang terlihat lebih segar dari terakhir kali kulihat, kuperkirakan dia mandi dulu sebelum ke rumahku. Aku bahkan bisa membaui aroma lembut cologne yang dipakainya. Dia pasti bercermin lebih lama di kamarnya ketika bersiap-siap. “Kamu bela-belain datang untuk ngecek kakiku?” Aku nyaris tak bisa menyembunyikan rasa girangku.
Hero tak menjawab, hanya mengarahkan pandangannya ke dalam rumah ketika tawa ibu-ibu tetangga satu komplek meledak lagi.
“Mama bikin arisan,” jelasku sambil angkat bahu. “Kamu mau gabung?”
Hero tak merespon candaanku, dia hanya memindaiku, menatapku dari kaki hingga kepala. “Emm… kupikir mungkin kamu mau ikut mutar-mutarin kota, pake motor jelekku di sana…”
Caranya mengajakku itu, seperti cara pemeran pria mengajak kencan sang pemeran wanita di film-film romance Hollywood yang pernah kutonton. Ah… aku kian mengagumi makluk-Mu yang satu ini Tuhan. Aku berdeham, berusaha untuk tidak terlihat begitu ingin jingkrak-jingkrak. “Apa omonganmu barusan adalah bentuk lain dari ‘maukah kamu pergi jalan-jalan denganku?’”
“Entah. Gak tau.” Ekspresinya saat menjawab ‘entah’ dan ‘gak tau’ benar-benar membuatnya terlihat seperti Romi kecil berusia sepuluh tahun yang lampau. “Anggap aja begitu,” sambungnya.
Kutolehkan kepalaku ke belakang dan berseru keras. “Ma, Deka keluar sebentar sama Romi ya…!!!” Aku tidak yakin mamaku bisa mendengar teriakanku di antara riuh rumpian grup arisannya. Jika dengar, mungkin Mama akan bertanya tentang Romi ini dan pasti akan bertanya karena dulu beliau sangat akrab dengan nama itu. Jika pun mamaku lupa, beliau pasti akan tetap bertanya jika mendengar seruanku, mengingat selama ini hampir setiap keluar rumah aku selalu dengan Nak Zamhurnya. Setelah menunggu hingga nyaris semenit tak ada respon apapun dari Mama, kututup pintu dan kupakai sandalku. “Ayo!” ajakku pada Hero. “kalau kamu belum berubah pikiran…”
Hero berjalan di sisiku menuju motornya yang diparkir di jalan. Sosoknya begitu menjulang, begitu kontras dengan badanku yang kecil. Aku naik ke sadel motornya tanpa berkata-kata, dia juga mendiamkan diri. Hari ini, sekali lagi aku berada di boncengannya. Sekali lagi, dadaku berdebar lebih kencang.
Seperti katanya, kami memang memutari kota dan berakhir di alun-alun yang sepi. Hanya ada beberapa orang yang sedang berlari mengitari lapangan hijau di tengah lahan dan beberapa remaja yang sedang berbincang-bincang heboh di satu sudut.
“Sepi,” kataku saat turun dari boncengannya.
“Apa aku harus bakar petasan?” tanya Hero sebelum berjalan mendekati penjual kacang rebus yang mangkal di pinggiran alun-alun dan kembali sesaat kemudian.
“Di sana.” Kutunjuk kursi kayu di bawah pohon pinus yang ditanam mengelilingi lahan.
“Di sana apanya?”
“Kita duduk di sana.”
“Oh. Kukira kamu minta aku bakar petasan di sana.” Aku memutar bola mata sementara Hero seperti biasa, stay calm. “Tidak mau ke sana?” sambungnya.
Yang ditunjuk Hero adalah deretan jungkat-jungkit dan perosotan di sudut lain alun-alun yang hari ini tidak diminati satu balita pun. “Sepuluh tahun lalu mungkin aku akan dengan senang hati ke sana,” jawabku dan mulai masuk ke alun-alun. Hero mengikutiku menuju kursi kayu di bawah pohon pinus.
“Aku gak percaya kamu datang ke rumah.” Kurogoh kantong di tangan Hero, mengambil sejumput kacang rebus.
Hero menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, di kiriku dia duduk seenaknya. Aku tidak bisa untuk tidak melirik pahanya yang dibungkus jins robek-robek terbuka mengangkang sedemikian rupa. “Kupikir kamu ngarepin aku datang, makanya saat di rumah budeku kamu nolak dijemput supirmu, biar aku anterin dan dengan begitu aku jadi tau rumahmu.”
“Yang duluan punya niat buat nganterin aku siapa ya?”
“Aku ingat kalau yang gak mau pulang ketika disuruh pulang itu bukan aku.” Hero kini menekuk kaki kirinya ke atas kursi.
Aku mati kutu. Tiba-tiba aku merasa telah melewatkan sesuatu yang penting dalam ucapan Hero. Hal penting yang membuat keningku mengernyit. Aku berusaha mengingat percakapan kami saat sudah di kursi. “Tunggu,” kubalikkan badanku menghadap Hero. “Tadi kamu bilang rumah siapa?”
Hero sejenak memandangku dengan ekspresi bingung sebelum hilang kembali secepat raut itu muncul di wajahnya. “Enggak. Aku gak nyebut rumah siapa-siapa, kecuali rumahmu.”
“Gak. Tadi kamu nyebut budemu, rumah budeku, gitu tepatnya.”
Hero diam, mengalihkan tatapannya lurus ke depan. Dia seperti sengaja menghindari menatapku.
“Di mana Om dan Tante?” tanyaku lirih.
Hero tetap diam, hanya tangannya yang terus mengaduk-aduk kantong kacang tanpa berniat mengupasnya.
“Rom,” panggilku. “apa yang terjadi hingga kamu harus tinggal di rumah budemu?”
“Gak ada,” jawabnya singkat lalu menunduk ke kantong kacangnya. Melanjutkan mengaduk-aduk.
“Gak ada atau kamu gak mau cerita?”
“Gak ada,” ulangnya.
“Apa kamu berharap aku percaya gitu aja?”
Hero membisukan diri.
“Romi,” panggilku lagi dan dia tetap diam. “Sialan, Romi…! Aku temanmu…” Aku hilang sabar.
Hero mendongak, sorot matanya mengintimidasiku. Lalu kantong kacang rebus dibalingnya begitu saja hingga isinya berserakan di kaki kami. “Ya, tentu… kamu temanku, teman yang menghilang selama satu dasawarsa tanpa satu kabarpun. Teman yang kembali setelah sekian lama dan masih merasa cukup pantas untuk berbagi cerita denganku padahal tidak…” Bisa kulihat dadanya naik turun dengan cepat, dia sudah duduk tegak kembali. “Sebut satu saja alasan mengapa aku perlu berbagi ceritaku denganmu…”
Di kursiku, seluruh ototku menegang. Sejenak aku lupa cara bernapas hingga rasanya dadaku terhimpit. Hero mengalihkan tatapannya ketika aku hanya diam. Lalu kurasakan mataku memanas. Kukira, aku sudah mendapatkan teman masa kecilku kembali di hari dia mengkhawatirkan kakiku, kenyataannya―seperti yang dia katakan sesaat lalu―padahal tidak.
Aku tak lagi mengupas sisa kacangku, polong-polongan itu kukepal dalam telapak tangan, seperti mereka akan membuatku kuat begitu saja dengan kugenggam. Di sampingku, Hero juga mendiamkan dirinya. Tawa gerombolan remaja dari arah bersebrangan di bawa angin hingga ke kursi tempat kami membisu.
“Karena aku peduli…”
Hero menolehku.
“Kamu nanyain aku satu alasan…,” ujarku lirih. “Karena aku peduli.”
Hero diam, hanya matanya saja yang terus memperhatikanku.
“Dan aku gak mau berhenti peduli meski kamu gak pernah percaya bahwa selama satu dasawarsa ini aku tetap ingat dan tetap peduli pada ingatanku, pada tiga tahun masa kecilku di sini, padamu…”
Hero berpaling dariku, menyandarkan punggungnya lagi dan merokok. Kukira dia tak akan mau tahu dengan jawabanku, kukira dia akan menganggap omonganku adalah bualan kosong, manifestasi rasa putus asaku terhadap perubahan sikapnya. Rokoknya sudah setengah jadi abu ketika dia mengeluarkan suara.
[Next]
From - Cerita Kaum Pelangi

No comments:
Post a Comment