“Apa yang ingin kamu tau tentang Mama dan Papa, Dek? Apa yang ingin kamu tahu tentangku?” Dia bicara, namun pandangannya sama sekali tidak tertuju padaku. “Kurasa dengan melihat keadaanku sekarang pun kamu sudah bisa menyimpulkan sendiri tanpa kuterangkan.”
“Gak, aku gak bisa. Tolong simpulkan untukku.” Aku tak ingin dia mendiamkan diri lagi. “Di mana Tante sama Om sekarang?”
Di tempat dudukku, aku terhenyak hingga tak bisa berkata-kata. Membayang di mataku sosok wanita yang kerap menyambutku di pintu rumahnya dulu, menawariku apapun yang sedang dimakan putranya saat kebetulan aku ke sana. Kini, sampai kapanpun aku tak akan bisa melihatnya lagi. Sangat terlambat menangisinya sekarang, tapi tak bisa kucegah mataku berkaca-kaca. Kini aku mengerti mengapa riak wajahnya berubah saat kami bicara dua hari lalu setelah dia mengobati kakiku. Dia menghindari obrolan tentang mamanya saat itu. Aku juga paham kini kenapa saat di gang itu dia menyuruhku pergi menikmati hidupku yang katanya sempurna nan bahagia. Karena hidupnya begitu penuh duka kehilangan. Aku merasa jahat harus mengungkit dukanya sekarang.
“Di mana Om Halim saat ini?”
“Penjara.” Hero mencampakkan rokoknya ke rumput, menegakkan punggung saat menginjak bara di ujung rokok lalu kembali bersandar.
Di sampingnya, sekali lagi aku terhenyak.
“Papa nabrak lari. Menghilangkan nyawa dua orang. Setelah Papa ditangkap, Mama mulai sakit-sakitan…”
Mungkin sebaiknya aku memintanya berhenti bercerita, tapi aku tidak pernah seingin tahu sekarang tentangnya. Lebih dari itu, aku ingin dia membagi bebannya denganku. Aku ingin turut merasakan kesedihannya. Aku ingin membuktikan bahwa aku masih ada, bahwa aku juga akan tetap menangis bersamanya sampai kapanpun.
“Papa hanya karyawan biasa, Dek, kamu pasti tau itu. Tak lama setelah Papa resmi ditahan, kami mulai menjual barang-barang.” Hero menerawang. “Itu adalah masa-masa paling sulit dalam fase hidupku. Mama yang sakit-sakitan, Papa yang dipenjarakan. Kalau gak ada Bude Ningsih, mungkin hidupku akan lebih hancur dari sekarang.”
Aku mendengarkan, berusaha untuk tidak berair mata. Hasrat untuk menyentuh tangannya begitu besar, membuat kontak fisik untuk menguatkannya, tapi aku ragu jika diriku akan ditolak. Jadi, aku bergeming dengan perasaan seremuk-redam perasaannya saat ini.
“Puncaknya, kami menjual rumah. Ada jumlah yang harus dibayar Papa untuk meringankan hukumannya. Aku dan Mama mengontrak di rumah susun setelahnya. Tapi Mama yang terus sakit-sakitan menghabiskan banyak biaya. Saat Mama akhirnya pergi, Bude Ningsih mengambilku.” Hero menolehku, matanya mulai berkaca-kaca. “Aku pasti udah putus sekolah sejak SMP kalau Bude Ningsih gak maksa untuk menyekolahkanku.”
Aku tak bisa bertahan lebih lama lagi untuk tidak menyentuhnya. Ragu-ragu kuulurkan tanganku ke dalam telapak tangannya, lalu kurasakan diriku berarti ketika dia menutup telapaknya dengan jemariku di dalam genggaman.
“Kamu akan kukenalkan pada Bude Ningsih kapan-kapan. Mungkin beliau akan kaget besar. Selama tinggal bersamanya aku tak pernah benar-benar punya teman.” Hero mengerjap-ngerjap hingga selaput air yang sempat terlihat di kedua matanya hilang. “Dan kurasa kamu juga harus berterima kasih padanya, Bude Ningsih yang menjahitkan kancing seragamku kembali setelah kamu rontokin hari itu.”
Aku mengerang. “Sumpah aku menyesali kejadian itu. Tapi aku berhasil menemukan satu kancing, akan kukembalikan kapan-kapan.”
“Kamu menyimpannya?”
“Hanya untuk kukembalikan saat ada kesempatan,” kilahku. Padahal saat tidak berhasil menemukan semua kancing hari itu, aku sangat ingin memiliki satu kancing tersebut untuk kusimpan buat diriku sendiri.
“Tak apa. Bude Ningsih sudah beli kancing baru. Kamu boleh terus menyimpannya jika mau.”
Aku ingin melompat-lompat mendengar kata-katanya. Kamu boleh terus menyimpannya. Oh Tuhan. Kalimat itu sesuatu sekali.
Sedetik kemudian dia menunduk pada tangan kami. Kuputuskan untuk melerai tanganku darinya. Aku kaget ketika dia malah mengeratkan genggamannya. Pandangannya terangkat menatapku. Setelah tadi matanya sempat kutemukan berkaca-kaca, kini kulihat ekspresinya seakan menahan senyum saat aku berhenti berusaha menarik tanganku setelah gagal di kali kedua.
“Saat kamu melihatku di mall hari itu, aku sedang membelanjakan gaji pertamaku,” katanya kemudian.
“Kamu bekerja?” tanyaku, nyaris gagal menyembunyikan nada tak percaya dalam suaraku.
Dia mengangguk mantap. “Kenapa aku tidak pernah bertahan di sekolah setelah jam pulang? Karena aku harus kerja paruh waktu…”
“Di?”
“Di warung yang sama tempat Bude Ningsih kerja. Yah, hanya warung makan biasa. Budeku jadi buruh cuci di sana, sedang aku menyiapkan meja.”
Hero jadi pelayan warung makan. “Di mana suami budemu?”
“Oh, Bude Ningsih sudah sangat lama menjanda. Begitu setia pada almarhum suaminya sampai tak ingin menikah lagi.”
Mungkin aku harus berhenti menanyakan tentang anggota keluarganya. Aku tak ingin mendengar kabar kematian siapapun lagi saat ini. Sudah cukup. “Lantas, jika kamu sibuk kerja, bagaimana kamu bisa kenal preman dan jadi berandalan?”
“Aku tidak kenal preman.”
“Orang-orang yang mengeroyokmu kemarin, apa namanya kalau bukan preman sekolahan?”
“Baiklah, aku kenal beberapa preman.” Hero tertawa pendek. “Aku masih gak percaya kamu sungguhan hadir di sana. Apa itu inisiatifmu atau diajak si…” Hero terlihat berpikir. “Siapa namanya si kapten basket yang jadi supirmu itu… Zamhur? Iya, si Zamhur itu, apa dia yang punya inisiatif?” Hero melepaskan tanganku. “Kurasa dia menyayangimu.”
Aku tertegun sesaat. Sosok Mas Nawi berkelebat dalam kepalaku. Teringat percakapanku dengannya di atas motor pagi kemarin. Saat dia sungguhan pergi kuliah ke tempat jauh setelah lulus nanti, kurasa aku akan sangat kehilangan. Dan mengapa Hero bisa menyimpulkan kalau Mas Nawi menyayangiku? Oh, tentu saja. Aku yakin Mas Nawi sudah menganggapku bagai adik sendiri, tentu perasaan sayangnya itu sangat mudah terlihat siapapun.
“Itu inisiatifku tauk! Aku sama sekali gak tau Mas Nawi jago silat,” ujarku menjawab pertanyaannya. “Dan aku sempat kecewa karena kamu gak bilang makasih satu kali pun padanya hari itu.”
“Aku bilang kok!”
“Kapan? Setelah kami pergi? Basi!”
“Bukan. Aku bilangnya saat dia ngerangkul bahumu dan kalian berbalik hendak pergi.”
“Iyakah? Kenapa aku dan Mas Nawi gak dengar, ya?”
“Aku bilangnya dalam hati.”
Setan. Kutonjok pinggangnya. Hero tertawa pendek sambil mengusap-usap pinggangnya yang kena tonjok. “Aku serius, bagaimana ceritanya sampai kamu jadi berandalan?”
“Aku gak jadi berandalan.”
“Kamu dicap sebagai berandalan di sekolah kita.”
“Itu karena aku suka melanggar peraturan.”
“Salah satu kebiasaan para berandal, ya melanggar peraturan. Sudah sangat jelas siapa dirimu adanya, tak perlu menyangkal.”
“Gak. Aku bukan berandalan sekolah kita. Aku hanya siswa yang tidak taat peraturan.”
“Kamu suka berkelahi. Para berandalan hobinya gak jauh-jauh dari pukul-pukulan.”
“Kamu baru sekali melihatku berkelahi, dan langsung mencapku suka berkelahi?”
“Desas-desus di sekolah mengatakan kamu memang sering berkelahi kok.”
“Jika kukatakan aku berkelahi untuk membela diri, apa kamu masih mencapku berandalan?”
“Membela diri apanya?”
“Aku sudah nakal sejak SMP, Dek. Kamu pasti gak percaya jika kukatakan kalau aku sering malakin sesama siswa saat di SMP.”
“Kamu jadi pembully?” Aku membelalak. “yang benar saja?!?”
“Kenyataannya memang begitu kok.”
“Kenapa?”
Hero menggidikkan bahunya. “Gak tau.”
Tapi hatiku berkata jika dia sangat tahu alasan mengapa dirinya jadi pembully. Kupandang dia, memar-memar yang belum sepenuhnya hilang di wajahnya kembali mengingatkanku pada pertanyaanku sebelumnya. “Jadi, membela diri bagaimana yang kamu maksudkan?”
“Yah, membela diri…” Hero berhenti bicara. Dia merogoh saku celana abu-abunya. Selanjutnya, dia mulai merokok lagi. Aku tak berusaha melarangnya, firasatku bilang itu percuma. Asap mengepul keluar dari bibirnya, membumbung ke cabang-cabang pinus di atas sana. “Aku mendapatkan karmaku. Saat di SMA, justru aku yang sering dihadang preman. Mungkin mereka mengira aku adalah sasaran empuk untuk dipalak, karena aku selalu sendirian, tidak pernah berada dalam kelompok. Sasaran ideal untuk diintimidasi.” Dia mengambil jeda untuk menghisap dan menghembuskan asap rokok lewat mulutnya. “Yang terjadi dengan Ipang dan teman-temannya kemarin hanya salah satunya. Tapi kemarin yang paling parah. Ipang sepertinya sedang tidak berada dalam suasana hati yang baik. Atau masakan maknya kurang sedap hari itu. Aku dijadikan bulan-bulanannya.”
“Kamu kenal mereka?”
“Ipang tinggal di dusun bersebelahan. Semua orang di lingkunganku kenal dia, preman dusun.”
“Kamu sering dihadang?”
“Lumayan sering, oleh banyak kelompok. Biasanya aku berhasil kabur. Yah, mungkin sesekali berkelahi lebih dulu baru kabur setelah itu. Kejadian kayak kemarin amat sangat jarang terjadi. Uangku dari Bude berhasil diambil juga hanya terjadi dua tiga kali.”
“Saat SMP, aku akan langsung mengosongkan sakuku begitu dihadang. Sering dibully membuatku belajar satu hal penting. Mereka hanya ingin uang kita, melawan pun pasti akhirnya mereka berhasil melaksanakan niat. Jadi, kenapa gak mempersingkat saja prosesnya? Gak perlu dihajar dulu, dibentak-bentak dulu dan sebagainya.”
Hero menyeringai. “Itu kan memang tipikalmu sejak dulu, gak pernah membuat pemalakmu gagal dapetin uangmu.”
“Setidaknya, saat itu akulah yang mengendalikan permainan, kan?” Aku menyengir. “Aku bosnya, aku yang mengatur nasibku sendiri. Dihajar, atau tidak dihajar. Anggap saja aku memolopori bully yang lebih santun dan beradab.”
Sekarang Hero tertawa besar. Mendengar dan melihatnya tertawa demikian membuat hatiku hangat. Kusandarkan punggungku ke kursi dan segera kusadari kalau tengkukku diganjal lengan kanannya. Aku tak tahu kapan dia meluruskan tangan kanannya di atas sandaran. Yang kuperhatikan hanya wajah dan bibirnya ketika dia bicara, dan rokok yang terus menyala di tangan kirinya. Untuk beberapa saat lamanya, sepertinya kami menikmati kediaman masing-masing―ditingkahi percakapan sayup-sayup remaja lain di sudut berseberangan dan deru mesin kendaraan dan cicit burung yang pulang ke pohon pinus tempat sarang mereka berada.
Entah bagaimana formulanya, berada berdua dengan Hero bersisian begitu dekat di kursi kayu di bawah rindang pinus sore ini tampak sebagai soreku yang paling sempurna.
“Terimakasih…”
“Ya?” Hero memalingkan wajahnya padaku.
Kutoleh dia, “Terimakasih karena mau berbagi cerita lagi denganku…”
Hero terdiam sejenak sebelum bibirnya melengkungkan seulas senyum. Dia membuang puntung rokoknya ke tanah. “Terimakasih karena tidak menyerah denganku.”
“Tak akan pernah…”
“Meski kakimu tergores kawat dan terjepit pintu berkali-kali?”
“Meski kakiku tergores kawat dan terjepit pintu berkali-kali,” ulangku penuh keyakinan.
Lalu kurasakan lengan Hero yang tadinya mengganjal tengkukku kini bergerak merengkuh bahuku, membawaku lebih rapat padanya. Kali ini aku tidak ragu sama sekali ketika kumiringkan kepalaku ke bahunya. Senyumku menyeruak saat kurasakan Hero mencium puncak kepalaku sebelum menempelkan pipinya di sana, meletakkan kepalanya di atas kepalaku.
Di atas kami dalam sarang rumit di dahan-dahan pinus, keluarga burung yang baru saja pulang mencicit makin riang. Mungkin mereka sama riangnya denganku, yang baru saja diterima pulang kembali ke hati seorang teman.
Seorang teman yang berpotensi menjadi pacar pertamaku.
Kelak.
Suatu hari nanti.
Jika takdir mau berbaik hati…
“Omong-omong, dari mana kamu mendapatkan nama Hero ini?”
“Akan kuceritakan nanti, saat kamu bersandar padaku seperti ini lagi, di lain hari…”
Lalu, semesta seperti kaku dari aktivitasnya ketika Hero menunduk ke wajahku. Ternyata, takdir memilih untuk berbaik hati padaku langsung sore ini juga…
-Tamat-
From - Cerita Kaum Pelangi

No comments:
Post a Comment