Monday, 2 May 2016

"Hai, Orang Asing" by DewaSa [Short Story]



Hai, Orang Asing
By. DewaSa

Mungkin kometar pertama kalian adalah "dikiiit banget" atau komentar-komentar lain yang menjurus pada hal seperti itu. Aku ingatkan, jadilah teman yang baik. Beri komentar, kritikan, saran, apresiasi, atau apalah yang dapat membangun. Bukannya hujatan. Terimakasih dan selamat membaca. – DewaSa- 

***

Aku mengambil tempat duduk yang memang sudah menjadi hakku. Baru saja mengusir wanita muda yang ngotot setengah mati ingin duduk di dekat jendela tidak membuatku merasa bersalah. Wanita itu mengganggu, suaranya terdengar dibuat-buat agar orang lain berpikiran jika Ia punya suara yang indah. Yah, taktiknya tak berhasil. Ia justru terdengar cempreng, sama seperti speaker hape china 'qwerty' yang dulu sempat melejit.

Apa? Aku egois? Bagaimana dengan orang asing yang merebut hak orang asing lain demi egonya?

Setelah memasukkan koper ke dalam bagasi dan mengusir 'mbak-mbak' rese tadi, Aku menyandarkan kepalaku. Mencoba menerka, apakah ini keputusan yang tepat. Meninggalkan karierku sebagai penyiar dan menenangkan perasaanku yang tak karuan ini. Aku harap, ini semua hanya sementara. Maksudku, Apakah Aku boleh menjadi penyiar radio lagi? Ah, sudahlah. Aku tak berharap meski hatiku sendiri menyuruhku untuk tetap bertahan.

"Um, permisi. Seat B14?" tanya seseorang, mengagetkanku.

"Saya ada di A14, yah mungkin kursi ini milik Anda." jawabku sambil menepuk-nepuk bangku yang ada di sebelahku.

"Baiklah, terimakasih." ucapnya.

Aku tak menjawab, Aku kembali larut dalam pikiranku sendiri. Sudah sedari kecil Aku mengimpikan menjadi seorang penyiar radio dan kini impian itu hancur saat Aku mampu mewujudkannya. Lucu, mereka bahkan tak tahu seberapa usahaku untuk menjadi seseorang yang 'berbeda'. Aku dulu pendiam, sangat pendiam malah. Mungkin Aku hanya akan membuka mulutku ketika Aku terjebak dalam kobaran api besar. Mudahnya, Aku tak akan merespons apapun yang tak memengaruhi kehidupanku. Kalian boleh memanggilku Si Apatis.

"Hai." Ia menyapa, kali ini Ia sudah duduk manis di sampingku.

"Oh hai." balasku. Interaksi berhenti. Dia mulai sibuk mengangguk-anggukkan kepala, mencoba menikmati musik, Aku rasa.

"Ada apa?"

"Oh, tidak. Maaf." Ia mengagetkanku untuk yang keduakalinya, bedanya saat ini Aku tertangkap basah sedang memandangi dirinya. Jujur, Aku sedang menggunakan G-dar. Yah mungkin kalian lebih mengenalnya dengan Gay-radar. Kemampuan yang memang diperlukan oleh kaum seperti kita untuk menilai seseorang dengan cepat dan membutuhkan akurasi yang tepat. Bisa-bisa orang itu sudah menjauh saat kita terlalu lama menilainya atau bahkan merasa ilfeel karena kita terlalu lama memandanginya. Oh ya, yang paling buruk adalah salah tebak.

Persetan dengan Gay-radarku yang tak berfungsi dengan semestinya.

Aku menyentuh panel Grindr di layar 'smartphone' milikku. Seketika layar berubah warna menjadi kuning telur, untuk beberapa saat sistem mulai memindai lokasiku saat ini dan voala! Aku berhasil log-in. Biasanya Grindr tak akan bekerja jika Aku ada di tempat kerja atau rumahku sekalipun yang hanya berjarak satu kilometer dari gardu sutet. Ah, biarlah Aku sedang meracau. Cukup diam dan nikmati ceritaku saja.

Aku mencoba mengecek, apakah ada 'cong' di dekat sini. Aku sudah beberapa kali merefresh laman itu tapi yang terdekat dari posisiku adalah 1000 feet, atau setara 300 meter jauhnya dari tempatku saat ini. Aku hanya ingin tahu, apakah Ia, seseorang yang duduk disampingku, seorang 'cong' atau tidak.

Tak ada jaminan jika Grindr bisa diandalkan. Masalahnya adalah tak semua dari kita menggunakan aplikasi laknat dan penuh tipu-tipu ini. Mereka cenderung menutup diri dari hingar-bingar kaumnya sendiri. Sebetulnya itu bagus, mereka bisa menjaga diri. Tidak seperti Aku.

Aku tak bosan merefresh laman sialan itu sampai akhirnya petugas tiket menyatroni tempat dudukku. Dia meminta tiket yang sedari tadi Aku pengangi, merobeknya pada bagian 'sobek disini' lalu menyimpan sebagian dan memberikan setengah bagian yang lainnya untukku. Romantis sekali.

DAPAT. Aku mendapatkannya. Jaraknya hanya sekitar 1feet atau setara dengan penggaris panjang yang kerap digunakan oleh anak-anak SD. Aku rasa Ia baru saja Online.

Ia menggunakan foto dirinya yang asli. Apa ia berpikir kucing bisa menambah daya jualnya? Maksudku, Ia berfoto dengan kucing gendut berbulu putih. Manis sekali. Aku suka kucing, juga dirinya.

Tak sabar, Aku segera mengobrak-abrik profilnya. Ada yang menarik perhatianku sampai-sampai senyum ini merekah, hingga tanpa Aku sadari senyum ini ternyata lebih menyerupai suara cekikikan yang kemudian berubah jadi tawa lepas. Ia menuliskan "cowok sebelah, ganteng." di kolom Headlines akun Grindrnya.

Headlines macam apa ini? Aku tertawa, tebatuk-batuk, sampai-sampai Aku sendiri tak dapat mengontrol tawaku. Aku lepas kendali. Semua mata tertuju padaku, termasuk mata pemuda itu.

"Hei, ada apa?" tanya pemuda itu. Perhatiannya tertuju padaku saat ini. Ia sudah tak lagi menekuni smartphone dan musiknya.

"Oh, semua baik-baik saja. Eh, hai orang asing." Aku mengulurkan tanganku kearahnya.

"Uhum. Hai." jawabnya gugup sambil menyambut tanganku.

"Bolehkah Aku memanggilmu dengan Username yang kau gunakan?" Aku menyipitkan mata nakalku kearahnya. Menyeringai.

"Maksudnya?" Ia sedikit terbata-bata.

"Maksudku. Hai, pemuda yang 'belum pernah ML' apakah Aku terlihat tampan bagimu?" checkmate. Ia hanya tersenyum dan pipinya merona.

-End-

No comments:

Post a Comment