Aku ingin waktu berhenti bergerak.
“Ada darah beku di sini.” Dia mendongak menatapku. “Kalau kulitnya kugores biar darahnya keluar, apa kamu sanggup tahan?”
Aku ingin menggeleng, jika kulakukan, dia pasti akan mengataiku penakut. Ah, aku ingin dia mengatakannya. Jadi, kugelengkan kepalaku.
“Dasar penakut!” katanya dan kembali fokus pada kakiku.
Aku tersenyum sendiri.
“Mungkin kakimu akan sedikit bengkak nantinya.”
“Apa itu buruk?”
“Tidak juga,” jawabnya sambil mengompreskan es batu. “Kupikir, luka goresmu dibiarkan aja begitu, jangan ditutup plester. Oleskan antiseptik aja sering-sering di rumah, goresannya gak dalam kok.”
“Apa setelah tamat SMA nanti kamu mau kuliah kedokteran?”
Hero tak menjawab. Dia memindahkan es batu dari kakiku dan mulai mengoleskan antiseptik lagi. “Kamu mau kakimu kuperban atau dibiarkan saja begitu?”
“Katamu dibiarkan saja, kan?”
“Bukan luka goresnya. Tapi ini…”
Aku yakin dia sengaja menekan gurat merah kebiru-biruan di atas luka goresku. Aku meringis kesakitan sementara dia menyeringai. “Perban saja,” kataku akhirnya.
“Yah, kupikir juga sebaiknya diperban untuk sementara waktu.” Lalu Hero mulai melilitkan perban di betisku, membuat simpul yang cantik tepat di atas lebam dan membereskan peralatannya. “Kamu ingin perbannya tetap kelihatan seperti ini biar terkesan macho?”
Aku mengernyit, mencoba memahami maksudnya. “Turunkan celanaku…”
“He?”
Kurasakan panas menjalar di leherku ketika Hero menatapku. “Maksudku, turunkan gulungan celanaku, aku gak mau perban itu kelihatan.”
“Oh. Oke.” Dia melakukan yang kupinta.
Hero bangun dan duduk di kursi di depanku begitu selesai menurunkan gulungan celanaku. “Maaf, aku lupa buka sepatu.”
“Ah, ini hanya lantai semen. Bukan ubin licin mentereng kayak di rumahmu. Pakai saja sepatu sebebasnya di dalam sini, tak perlu sungkan.”
Apa kalimatnya itu benar-benar harafiah, tidak mengandung konotasi apapun? “Hari pertama tiba di sini, aku ke rumahmu yang lama…” Kulihat Hero mengeraskan rahangnya, pandangannya menghala ke jendela kaca nako di sisi kanannya. “Saat mendapati kalau wanita yang membukakan pintu untukku bukan mamamu, aku merasa buntu dan―”
“Aku pindah ke sini saat masih SMP…”
Kudapati riak wajahnya berubah. Ada sesuatu yang dia sembunyikan dariku. Hero bangun dari kursinya, memungut baskom dan peralatan P3K-nya dari lantai lalu melenyapkan diri ke dapur. Saat kembali dari sana, dia langsung masuk ke kamar. Aku sempat mengira kalau dia tak akan memunculkan diri lagi. Tapi keraguanku lenyap begitu dia keluar dari kamar tak sampai tiga menit kemudian, sudah mengganti celana pendeknya dengan jins robek-robek dan mengenakan jaket yang biasa kulihat dipakainya saat ke sekolah.
“Ayo. Kuantar kamu pulang.”
“Rom,” panggilku. Dia berhenti berjalan dan berbalik menghadapku. “Kamu menyembunyikan sesuatu dariku?”
Hero mengibaskan tangannya. “Gak ada.” Aku tau dia bohong. “Ayo!” ajaknya lagi, namun aku tetap bergeming di kursiku. “Dek, ayo, kuantar kamu pulang.”
“Saat melihatmu di mall, aku tak pernah berpikir kalau…” Aku tak bisa meneruskan kalimatku.
“Kalau aku semiskin ini?”
Aku menggeleng. “Bukan. Sungguh, bukan itu yang ingin kukatakan. Aku…” Kucari kata-kata yang tepat. Aku sampai harus kesulitan menelan liurku. “Saat menemukanmu di mall hari itu, kukira keadaan keluargamu tidak banyak berubah…”
“Ayo. Kuantar kamu pulang.”
“Rom, bisakah kita duduk di sini saja beberapa saat lagi?”
Hero menatapku sejenak sebelum mendesah dan kembali duduk di kursinya. “Jika itu maumu.”
“Aku gak ingat nomor telepon rumahmu. Sumpah. Aku sudah berusaha mengingatnya, aku mencoba banyak nomor yang terlintas di kepalaku, berhari-hari. Sumpah.”
“Itu gak penting lagi.”
“Gak. Itu penting. Kamu pernah menganggapku mengingkari kata-kataku. Jadi ini penting. Aku gak pernah lupa, Rom. Demi Tuhan aku gak pernah lupa…”
“Deka, hei…” Hero mencondongkan wajahnya yang memar ke arahku. “itu gak penting lagi. Oke?!”
Aku terdiam sesaat sebelum kembali bersuara. “Waktu itu, aku gak tahu kalau aku bisa menulis surat ke sekolah. Demi segala demi lagi, Rom… ide menulis surat untukmu menggunakan alamat sekolah kita sama sekali tidak terlintas di kepalaku…”
Hero meningkahi kalimatku dengan desahan.
“Saat itu aku terlalu sibuk menerka-nerka nomor telepon. Percayalah. Harusnya aku ingat tentang surat-menyurat, alamat sekolah kita bukan sesuatu yang sulit diingat.”
“Ya ampun, Dek. Berhentilah.” Hero merogoh sakunya gusar. Selanjutnya, ia mulai merokok. Kupikir, akan kubiarkan saja dia bersama rokoknya, meski asap yang keluar dari benda itu sangat menggangguku.
“Mama lupa mengepak buku telepon saat kami pindah,” lanjutku dan Hero mengerang di tempat duduknya. “Aku marah besar padanya saat itu.”
“Baiklah. Aku menyerah.” Hero mengangkat kedua tangannya sekilas. “Silakan terus nyerocos.” Dia kembali menikmati rokoknya.
“Papa mengeluh tentang tagihan telepon yang selalu tinggi tiap bulan. Tak terhitung panggilan salah sambung yang telah kulakukan saat itu.”
“Hebat.”
“Aku hanya ingin panggilanku tersambung ke rumahmu, sekali saja.”
“Dan?”
“Nomornya tak pernah benar.”
Hero menatapku dan menggeleng-gelengkan kepalanya, terlihat bosan. “Ayo. Kuantar kamu pulang,” ajaknya kembali.
[Next]
From - Cerita Kaum Pelangi

No comments:
Post a Comment