Thursday, 12 May 2016

"HERO" by Nayaka Al-Gibran - Part 02 - [Part Story]



HERO
By. Nayaka Al Gibran
Part 02

8 YEARS AGO…

“Kamu mau pindah sekolah?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Ayahku mau jadi guru di sekolah lain, jauuuh…”

“Kamu pindah ke sekolah ayahmu yang baru?”

“Ayahku guru SMA, Romi. Aku masih SD!”

“Terus, kenapa kamu harus pindah sekolah kalau bukan untuk satu sekolahan sama ayahmu?”

“Aku gak mungkin kemari tiap hari kalau gak pindah sekolah. Jaraknya jauh dari tempat Ayah dipindahkan.”

“Kamu pindah rumah juga?!?”

“Iya.”

“Di kelas tadi Bu Dini bilang kamu pindah sekolah, bukan pindah rumah…”

“Aku harus pindah sekolah gara-gara pindah rumah.”

“Lalu bagaimana kalau aku mau ketemu kamu?”

Bocah berpostur lebih kecil itu diam sesaat seperti berpikir lalu menggeleng bingung.

“Berarti kita gak bisa main bersama lagi?”

Bocah berpostur lebih kecil itu masih mendiamkan diri.

“Berarti, Deka akan meninggalkan Romi?”

Bocah berpostur lebih kecil itu kini mulai berlinangan air mata.

Becak yang biasa mengantar-jemput bocah berpostur lebih besar berhenti di depan gerbang sekolah. Sudah tiba waktunya untuk pulang. Ia bangun dari kursi kayu di halaman sekolah dan berjalan lesu menuju becaknya. Saat sudah duduk di atas becak, ia menoleh ke kursi kayu di bawah pohon akasia tempat teman yang sering disebutnya ‘penakut’ duduk menunggu ibunya selesai di kantor guru. Di kursi kayu di bawah pohon akasia, temannya itu sedang menangis. Ketika ia mengerjapkan mata, ia sadar kalau dirinya juga sedang menangis.

“ROMIIIII…!!!” bocah di kursi kayu berdiri. “DEKA AKAN INGET ROMI TERUUUSSS…!!!” teriakan bocah di kursi kayu seakan membeset udara di antara jarak keduanya.

Di atas becak, Romi mengucek matanya dengan kedua tangan kemudian melambai. Ia masih terus melambai sampai becak bergerak meninggalkan gerbang sekolah dan menghalangi pandangannya akan sosok kecil di kursi kayu di bawah pohon akasia.

Bahkan anak-anak pun paham, bahwa perpisahan tak diinginkan itu rasanya menyesakkan, dan sakit.

***

Sore ini aku bertemu dengannya di mall. Tidak, bukan bertemu, lebih tepatnya menemukan. Aku mengenali sosoknya dari tempatku berdiri di lantai atas, menunggu studio dibuka. Kuputuskan menggunakan waktu menungguku untuk menikmati sosoknya. Aku pamit pada teman nontonku hari ini dan berjalan ke eskalator, berusaha menjaga pandanganku untuk terus mengawasi sosoknya.

Hero tidak menyadari keberadaanku, atau bisa jadi dia sadar namun tak ingin menggubris. Aku, seperti biasa, tidak bisa untuk tidak menggubris keberadaannya saat dia sedang berada dalam jarak pandangku. Jadi, ketika dia memasuki sebuah toko peralatan olah raga aku pun ikut masuk meski tak ada benda-benda di dalamnya yang ingin kubeli. Aku berbaur di antara rak-rak sepatu sementara dia memilih jersey.

Tujuh menit kemudian, dia keluar setelah memasukkan jersey Barça yang jadi dibelinya ke dalam minibag. Tujuh menit untuk memilih jersey dan membayar tanpa menawar, aku tidak akan bisa melakukannya. Kebiasaanku jika beli sesuatu pasti menghabiskan banyak masa untuk memilih dan memilah, dan aku bakal menawar untuk tiap item yang tidak menyertakan label harga atau bila harga di price tagnya tidak mutlak. Atau pada beberapa kasus jika mas-mas pramuniaganya cukup cakep dan ramah diajak ngobrol lama.

Setelah dia keluar dari toko, aku baru keluar dari deretan rak sepatu lalu mengikuti di belakangnya, terpisah beberapa meter. Aku ikut masuk ke dalam toko fashion pria ketika Hero menuju ke sana. Seperti tadi, aku menyamarkan keberadaanku dengan berdiri di antara gantungan baju dan manekin, berlagak memilih-milih. Tak sampai tujuh menit, Hero keluar setelah membayar―lagi-lagi tanpa menawar―harga sepotong celana kargo, dia bahkan tidak ke kamar pas, cukup yakin dengan size dan model yang dipilihnya dalam waktu demikian singkat. Dari sana aku kembali mengekorinya.

Di Toilet pria, aku berdiri ragu. Dia tidak menggunakan salah satu urinoir yang ada di sini. Seorang pria baru saja selesai mematut diri di depan cermin besar sementara satu orang lainnya yang menggunakan urinoir sama sekali bukan Hero. Dia pasti berada di salah satu bilik. Ketika satu-satunya pria yang menggunakan urinoir meninggalkan toilet, aku berjalan menuju bilik yang pintunya terbuka bermaksud sembunyi di sana dan menunggu sampai Hero selesai di toilet. Namun sebelum sampai ke sana, satu pintu bilik yang kulewati mendadak terbuka dan seseorang menarik tanganku untuk masuk ke dalamnya.

“Mengapa kamu mengikutiku, hah?!?”

Seharusnya aku senang. Seharusnya aku berbunga-bunga. Seharusnya aku tersenyum-senyum sambil merem-melek karena berkesempatan berada sedekat ini dengan orang yang telah memonopoli seluruh rasa sukaku. Di ruang yang demikian sempit, fisik kami bahkan berkontak di banyak area. Seharusnya aku senang. Tapi yang terjadi kini adalah, aku gemetar.

“Apa maumu?!?” desisnya tajam.

Hero mencengkeram kedua bahuku dengan tangannya, mendorongku hingga membentur dinding dan menahanku sampai aku merasa nyaris melebur bersama dinding toilet. Namun bukan rasa sakit di belakang kepala karena benturan dinding atau nyeri di kedua bahu karena cengkeramannya yang membuatku takut dan gemetar, melainkan tatapan tajam Hero yang berjarak demikian dekat dari wajahku.

Aku tak pernah berhadapan dengan tatapan sebengis ini selama hidupku. Aku pernah dibully, tapi tak ada pembullyku yang pernah menyorotiku dengan tatapan seperti yang dilakukan cowok di depanku ini. Mendadak aku merasa bagai tak pernah mengenal Romeo El Rumi sebelumnya, tiba-tiba aku merasa bagai tidak pernah menghabiskan secuil kehidupan masa kecilku dengan menjadi karibnya bertahun lalu, seakan yang berdiri dan mengintimidasiku saat ini adalah sosok preman menakutkan yang tidak ragu-ragu menghajarku hingga lembik jika mau meski aku sudah menyerahkan dompetku. Saat ini, dengan sikap dan tatapan begitu rupa, Romeo El Rumi menjadi asing sepenuhnya bagiku.

“Aku… aku…”

Hero menunduk menatap kakiku, apa dia sedang mencari bukti ketakutanku terhadapnya? Karena jika iya, dia sudah menemukannya. Kakiku jelas terlihat sedang gemetar. Mungkin sesaat lagi aku akan mengompol jika dia terus menatapku dengan cara seperti itu.

Hero berdecak. “Dasar penakut.”

Desis samarnya yang nyaris tak terdengar membuatku terbelalak. Penakut. Dia menyebutku penakut. Begitulah persisnya dulu dia sering menyebutku setiap kali menemukanku menangis sehabis dikerjai siswa yang lebih besar. Desis samarnya, membuktikan kalau dia masih mengenalku. Dan itu sudah lebih dari cukup untuk membuatku mendapatkan ketegaranku kembali.

“Jangan mengikutiku lagi!” dia melepaskanku, “kamu dengar?”

Aku diam masih menyandar ke dinding. Hero menatapku beberapa saat lalu berbalik untuk membuka pintu bilik toilet. “Romi…” Tangannya berhenti dari menarik daun pintu. Aku menelan ludah, mengumpulkan kemampuan bersuaraku lagi lalu lanjut bicara. “Mengapa kamu mengacuhkanku selama ini? Aku sangat yakin kalau kamu masih mengenalku…” Kupikir, dia tak akan menanggapi dan akan terus membuka pintu lalu pergi. Namun dugaanku meleset.

“Sudah lama aku melupakan bahwa dulu seseorang pernah berteriak mengatakan akan terus mengingatku. Sudah lama sejak aku berhenti menunggu bukti bahwa dia beneran mengingatku ketika tak pernah sekalipun telepon di rumahku berdering dan tidak sepucuk suratpun diantar tukang pos ke sekolah diperuntukkan untukku…”

Aku terhenyak. Itukah sebab mengapa selama ini dia mengacuhkanku? Mendengar Hero berkata demikian membuatku sakit. Aku ditikam belati bernama kesalahan. Aku bersalah pada Hero. Maka jika sekarang dia bersikap seakan-akan melupakanku, itu adalah balasan setimpal karena aku juga dianggapnya pernah melupakan dirinya. Aku ingin menjelaskan, membela diriku, tapi lidahku tak bisa kugerakkan.

“Romi…” Hanya namanya saja yang bisa kudesiskan.

“Aku Hero, bukan Romi…” Dia membuka pintu dan bergegas keluar.

Aku terpuruk. Merosot di dinding hingga terduduk. Kakiku nyaris tak bisa menahan bobotku lagi. Andai dia tahu bahwa aku tak pernah mengingkari ucapanku selama sepuluh tahun ini. Andai dia tahu betapa gembiranya aku saat ayahku mengabarkan akan kembali ke sini dua tahun yang lalu. Andai dia tahu bahwa rumahnyalah yang pertama kali kukunjungi saat tiba di sini. Andai dia tahu betapa buntunya aku saat menemukan rumah itu tak lagi di huni keluarganya.

Aku berdoa, berharap dia akan mengerti ketika kujelaskan mengapa aku tak menelepon dan tidak mengiriminya surat suatu saat esok.

Lamunan panjangku di dalam toilet diputuskan dering hape. Nama Mas Nawi tertera di layar.

“Kamu di mana, Dek? Studionya udah dibuka nih, balik sini cepetan!”

Sambungan langsung diputuskan, padahal aku berniat untuk mengajaknya langsung pulang saja. Aku tidak punya mood buat nonton film lagi. Tapi laki-laki itu pasti akan marah jika kubatalkan agenda nonton kami, di saat tiketnya sudah dia peroleh setelah berjuang dalam antrian yang mengular. Sedetik kemudian kubuka pintu toilet dan bergegas mencari lift untuk naik ke lantai cinema.

Wajah kesal Mas Nawi menyambutku di lorong menuju studio tempat film kami ditayangkan. Dia terlihat kesulitan memegang dua cup pepsi dan satu cup besar popcorn di tangannya. Ketiga wadah itu dipeluknya ke dada.

“Maaf,” ujarku sambil meraih wadah popcorn dan pepsi bagianku.

Laki-laki itu tidak menjawab, sebaliknya langsung balik badan dan menyerahkan tiketnya pada mas-mas di pintu studio. Aku tahu betul kesal Mas Nawi sifatnya selalu temporary. Dia tidak pernah benar-benar kesal atau marah padaku, entah karena sifatnya yang memang baik atau karena simbiosis mutualisme di antara kami yang masih ingin dipertahankannya―agenda nonton ini adalah salah satu bentuk simbiosis mutualisme itu, dia yang bayar tiket dan camilan. Jika sekarang dia bersikap seolah-olah sengaja tidak menggubrisku, beberapa menit ke depan dia pasti akan mengusiliku lagi.

Andai saja kepribadian Hero serupa dengan Mas Nawi…

***

[Next]

From - Cerita Kaum Pelangi

No comments:

Post a Comment