Cinta…
By : Secret
Dia anak baru. Pindahan dari Bandung. Namanya Irga Setiawan. Tingginya 167, tidak terlalu gemuk dan memiliki wajah serta style rambut khas Asia. Kulitnya putih tapi matanya bulat, membuat setiap orang terkadang berfikir dia keturunan China atau bukan. Bagiku, hanya satu yang bisa menggambarkannya. Cute.
Dia seperti hujan yang datang di musim kemarau dalam hidupku. Sebelumnya, hari-hariku terasa gersang. Begitu tandus tanpa ada satu pun yang menarik. Namun setelah tetesan air yang dibawanya menyirami padang tandusku, rumput dan bunga liar yang cantik mulai bersemi.
Salahkan saja wajah imutnya yang membuat setiap orang jatuh cinta padanya. Belum satu menit ia berada di kelas ini, semua cewek di kelasku langsung jatuh hati padanya. Dan hanya dalam waktu sehari, namanya sudah melambung di SMU MAHARDIKA.
Bukan, bukan karena di sekolahku tidak ada cowok ganteng sepertinya. Tapi sosoknya yang polos seperti artis Korea itu lah yang membuat hampir seluruh cewek langsung menyukainya. Ah… Aku jadi ingat artis Korea favorite sepupuku, Shin Dongho, yang pernah menjadi anggota boyband U-Kiss itu. Begitu seringnya Laura, sepupuku berceloteh sambil menunjukkan fotonya padaku, mau tidak mau membuatku mengingat makhluk dari Negara lain itu.
“Kaaak sakiiiit!!”
Suara jernih itu entah sejak kapan menjadi fokusku. Sepertinya sensorik pada telingaku berubah menjadi sensitive sejak pertama kali aku mendengar suaranya saat memperkenalkan diri di kelas. Otakku seperti perekam otomatis yang menyimpan setiap lantunan nada yang keluar dari bibirnya. Seperti saat ini, meskipun dia berada cukup jauh dari tempatku berada, aku dengan cepat bisa menemukannya. Ah… Dia selalu terlihat bersinar di mataku. Seperti mentari pagi yang tersenyum cerah pada dunia.
“Aduh, jangan dicubit!”
Dia sedang mengusap pipinya. Bibirnya merengut sambil menatap kesal pada dua cewek yang duduk di depannya. Bahkan sedang kesal pun dia terlihat begitu menggemaskan. Aku tertawa dalam hati melihatnya. Saat ini dia sedang duduk di bangku kantin paling belakang, masih mengenakan seragam olah raga. Sama sepertiku. Tadinya dia bersama teman-teman yang lain, tapi begitu bel istirahat berbunyi, seperti biasa kakak kelas cewek akan memonopolinya. Tentu saja dia tidak bisa protes, hirarki di sekolah ini masih berlaku di mana adik kelas harus sopan pada seniornya.
Dimulai dari dua orang, lama-lama bangku yang ditempatinya penuh dengan cewek. Ada yang menawarinya makan meskipun jelas-jelas ada mangkuk bakso yang sudah habis di depan Irga. Ada yang bertanya macam-macam sampai mencubit-cubit pipinya karena gemas.
Aaah… Selalu saja. Setiap tingkah Irga membuatku ingin tertawa keras. Dia terlalu cute. Saat di kelas, sikapnya normal seperti anak-anak cowok yang lain. Suka ngomongin game dan iseng. Paling dia hanya berteriak kalau di goda teman sekelas cewek, tapi lain lagi saat bersama kakak kelas. Dia langsung kooperatif.
“Wah… Ini dia, kesayangan kakak kelas. Asyik banget sih jadi lo,” komentar Ardhy suatu hari.
“Asyik apanya? Nyebelin tau! Kalau lo mau, tuker tempat sini sama gue!” sahutnya judes.
Ardhy tertawa, “Kenapa nggak digalakin aja mereka biar pada takut? Di kelas aja lo berani.”
“Gue masih sayang nyawa. Kalau gue galak, nanti mereka bawa bodyguard. Cowok kelas tiga kan serem-serem kayak preman kampung. Apalagi ketua gank-nya itu, udah badan gede, item pula. Mirip raksasa yang mau nyulik Timun Mas.”
Aku sampai harus menutup mulutku dengan buku saat itu karena tidak tahan untuk tertawa. Dia sudah hampir satu bulan sekelas denganku, tapi hingga saat ini kami belum dekat. Sebelumnya aku memang lebih suka menyendiri. Memasang wajah malas dan tidak peduli. Bukan karena aku kurang gaul, tapi menjadi perduli itu sangat merepotkan. Dan statusku mungkin akan membuatnya takut. Karena itu sampai sekarang, kami tidak pernah mengobrol atau pun bercanda.
“Von, gue cari ke mana-mana nggak taunya masih di sini,” suara Saka, cowok yang duduk di bangku belakangku saat di kelas itu mengalihkan fokusku dari Irga. Dengan seenaknya dia duduk di hadapanku, menghalangi pandanganku dengan tubuh jangkungnya. Dia adalah kapten basket sekolah yang punya tubuh kekar dan tinggi seratus sembilan puluh lebih. Berada di hadapannya sudah dipastikan hanya bisa melihat satu pemandangan, badan cowok itu.
Aku menatapnya sedikit malas. Ingin kumaki dia dengan memanggil nama lengkap yang diberikan anak-anak padanya, ‘Saka-ratul maut’ biar dia kesal tapi kuurungkan niatku. Saka tidak akan datang tanpa ada maksud. Jadi satu-satunya yang bisa kulakukan hanya bertanya, “Kenapa?”
“Buat lo!” dia mengulurkan sebuah amplop berwarna biru, “dari Rega, kakak kelas di IPA 2.”
Jangan mengira kalau Rega sedang mengirimkan surat cinta padaku. Hal itu sangat mustahil. Aku menghela nafas, bosan dengan hal seperti ini. “Buat lo aja deh,” sahutku malas.
“Yakin nih? Gue denger-denger taruhannya gede lho, “ Saka tertawa, “mungkin dia mau balas dendam sama lo gara-gara kalah ngebut di jalan waktu itu.”
“Oke, thanks ya!”
Desahan pelan keluar dari bibirku saat menatap amplop biru yang aku yakin seratus persen berisi surat tantangan itu. Well, aku belum pernah menerima satu pun surat cinta jadi aku yakin itu surat tantangan untuk balapan. Sebagai adik kelas yang baik, sudah seharusnya menerima tantangan kakak kelas, bukan?
Namaku Devon Anggara. Sekarang ini aku kelas dua. Tampangku memang nggak seimut Irga tapi cukup untuk masuk ke jajaran sepuluh cowok terganteng di sekolah ini. Bukannya aku narsis, tapi saat aku kelas satu dulu banyak cewek yang minta buat jadi pacarku. Kegiatan itu berhenti setelah mereka tau aku bisa membuat lima orang kakak kelas masuk rumah sakit karena berani memalakku. Sejak itu status pangeranku berubah menjadi preman sekolah.
Tantangan berantem dan ngebut mulai berdatangan. Sebenarnya aku malas meladeni mereka, tapi kalau dibiarkan mereka akan menggunakan kekerasan. Jadi apa boleh buat, aku hanya berusaha melindungi diriku sendiri. Dan kemenanganku malah membuat mereka menilai bahwa aku sombong. Dunia ini memang merepotkan.
Mungkin ini juga yang membuat aku dan Irga tidak bisa dekat meskipun kami satu kelas. Karena dia terkenal dengan wajah dan tingkah manisnya sementara aku dengan status premanku. Dunia kami bagaikan pagi dan malam, putih dan hitam, Yin dan Yang. Tapi suatu hari nanti, aku ingin menjadikan dunia kami sore antara pagi dan malam, atau abu-abu antara putih dan hitam, seimbang seperti Yin dan Yang bila berjalan bersama.
######
Empat belas Februari. Tanggal kebangsaan para pasangan di seluruh dunia. Valentine day. Apalagi yang sedang kasmaran. Kesempatan juga untuk para cewek dan cowok untuk menyatakan cintanya. Mungkin itu sebabnya hari ini dunia terlihat berwarna pink. Bukan cuma satu dua orang cewek yang memakai aksesories berwarna pink, hampir setiap cewek yang berpapasan denganku selalu ada warna pink yang menempel di tubuhnya. Entah itu warna jam tangan, jepit rambut, bahkan gantungan tas.
Sepertinya suasana pink membuat perasaanku sedikit kelam. Tahun lalu saat aku masih kelas satu, tanggal Empat belas Februari menjadi hari yang mengerikan. Dari pagi hingga pulang sekolah, coklat-coklat akan terus berdatangan dan itu artinya sepanjang waktu bibir harus memasang senyum. Kuberi tahu, itu benar-benar melelahkan.
Drap… drap… drap…
Seseorang baru saja berlari melewatiku, membuyarkanku dari lamunan tentang mengerikannya Valentine day. Begitu mataku menangkap sosoknya, aku langsung tau itu adalah Irga. Kenapa dia berlarian di koridor pagi-pagi seperti ini? Ah… Gerombolan cewek yang berteriak memanggil namanya sudah cukup menjelaskanku apa yang tengah terjadi.
Entahlah, aku tidak hobi membaca ramalan bintang seperti yang dilakukan gadis-gadis, tapi aku penasaran. Apa sekarang hari sialnya Irga? Kenapa tanggal empat belas Februari ini bertepatan dengan persiapan ujian untuk kakak kelas yang artinya hari ini para guru akan sibuk rapat. Jadi kemungkinan besar akan ada banyak jam kosong. Melihatnya berlarian sejak pagi menghindari cewek-cewek membuatku kasihan padanya. Aku bahkan hampir menyemburkan tawa saat melihatnya nekad sembunyi di lemari kelas yang berisi peralatan bersih-bersih.
“Irgaaa… Ini buat kamu, dimakan yaa… Jangan dibuang lhoo!”
“Ini juga ya, coklatnya manis lho… Kayak kamu.”
“Apalagi punya kakak, ini impor dari Prancis lho… Pasti kamu suka!”
Mendadak kelasku berubah seperti pasar burung. Berisik banget. Tubuh Irga sampai tenggelam dalam kerumunan cewek-cewek yang memberikan coklat padanya.
“UDAAAAAAHHH…. JANGAN DEKET-DEKET LAGI, AKU HOMO!!”
Suara itu melengking keras, membuat seisi kelas menatap padanya. Untuk sejenak suasana menjadi hening seketika. Para cewek membatu mendengar deklarasi yang kuakui sangat berani itu. Aku menikmati setiap keterkejutan yang muncul. Tanpa sadar seringai tipis tercetak pada bibirku. Bukankah ini menarik? Irga, aku akan mendapatkannya!
######
Seperti yang disebutkan dalam fakta bahwa kecepatan mulut cewek itu benar-benar mengerikan. Hanya dalam waktu sehari, berita Irga nggak normal sudah menyebar bahkan sampai ke ibu-ibu kantin. Aku yakin dia mengatakan itu karena rasa frustasi akan cewek-cewek yang mengejarnya. Bisa kubilang itu jurus yang sangat ampuh untuk membuatnya menjadi sendiri. Tapi bagaimana dia akan menghadapi hari ini?
Pikiran itulah yang membuatku mengubah jadwal kedatanganku ke sekolah. Biasanya aku akan datang saat bel hampir berbunyi hingga nyaris terlambat tapi sekarang pagi-pagi aku sudah berada di depan sekolah. Aku menunggunya di tempat biasa untukku nongkrong bersama anak-anak yang lain. Sebatang rokok menemaniku dalam keheningan.
Aku tidak mengerti. Kenapa mata ini tidak bisa lepas darinya. Sebelumnya aku memang tidak tertarik dengan perempuan. Laura, sepupuku itu selalu menyebut dirinya sebagai fujoshi. Saat mengenal kata itulah aku menyadari siapa diriku. Dan pertemuanku dengan Irga, membuatku semakin yakin siapa diriku.
Aku melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku. Lima menit lagi bel masuk berbunyi. Kepalaku berputar ke sekeliling area sekolah, mencarinya. Meskipun tersembunyi pun, aku masih bisa melihatnya berdiri di balik pohon dengan hoodie hijau tua yang menutupi kepalanya. Matanya terlihat gelisah menatap murid-murid yang berlalu-lalang melewati gerbang sekolah. Sesekali dia menggigit bibirnya membuatku tidak tahan untuk tidak tersenyum lebar. Mungkin ini kesempatanku untuk berbicara dengannya karena itu setelah memantapkan hati, aku menghampirinya.
“Ngapain lo di situ?” tanyaku. Pelan namun mampu membuatnya tersentak dan langsung berbalik untuk menatapku. “lagi ngumpet apa nguntit?”
“Kalau gue jawab lo nggak akan mukul gue kan?” tanyanya takut-takut.
Ya Tuhan… Ini anak pingin banget aku bekep kuat-kuat dalam pelukanku. Kenapa dia bisa seimut ini sih? “Emang seseram apa sih kabar tentang gue sampai lo juga takut?”
Dia meringis, “Ya… Katanya kan lo preman di sekolah ini. Bukan kata gue lho… Itu kata anak-anak. Di kelas juga nggak pernah bareng sama anak-anak yang lain.”
“Udah mau bel masuk, kenapa masih di sini?”
“Gue males masuk sekolah.”
“Gara-gara deklarasi lo kemarin?”
“Ha?”
“Yang waktu lo bilang homo__ pffft…”
Sepasang tangan itu langsung membekap mulutku. Mata bulatnya mendelik padaku, “Jangan ngomong sembarangan!”
Aku mengangkat kedua tanganku tanda berdamai. Dia melepaskan bekapannya sambil merengut. “Mau gue temani masuk?” tawarku.
Mata itu semakin melotot, “Nggak usah rese deh, sana jauh-jauh! Nanti gue dikira homo beneran lagi.”
“Jadi yang kemarin bohongan?” tanyaku sambil tertawa geli.
“Iya laah…”
“Jadi sekarang ke mana?”
“Ke mana apanya?”
“Mau bolos kan? Tuh, gerbang sudah ditutup.” Aku menunjuk gerbang besar berwarna hitam yang sudah tertutup rapat itu dengan daguku.
“Aduuuh… Mampus gueeee…. Gara-gara lo siiih!” Jerit irga seketika berjongkok sambil mengacak-acak rambutnya.
Tuhan… Bolehkah makhluk manis ini menjadi milikku? Aku menginginkannya, benar-benar menginginkannya. Tawanya yang bagai lonceng, suara jernihnya, tatapan matanya, hatinya, aku ingin menyimpan semuanya untukku sendiri. Bolehkah aku menjadi egois hanya untuk dirinya?
.
.
Dia sedang tertidur saat bel pulang berbunyi. Berita itu cukup ampuh untuk menurunkan semangat para cewek yang doyan mengganggunya. Sementara Irga sendiri tidak ingin menjelaskan apapun lagi saat ada yang bertanya. Aku tidak langsung pergi meninggalkan sekolah setelah bel pulang berbunyi. Satu setengah jam kuhabiskan waktuku di lapangan basket. Aku yakin tidak melihat Irga melewati halaman sekolah dan dia tidak mungkin lewat gerbang belakang yang jauh dari halte bus. Jadi kemungkinan besar dia masih berada di dalam kelas.
Aku kembali lagi ke kelas dan benar saja dia masih di sana. Sekolah sudah begitu sepi. Murid-murid yang ikut kegiatan ekstra juga sudah pulang. Aku berjalan menghampirinya. Menatap raut wajah indahnya dan merekamnya kuat-kuat di dalam memoriku.
Kusentuh rambutnya yang terasa halus. Membelainya selembut sapuan angin. Kulumat dia dengan ciuman tatapanku. Jantungku berdebar keras hingga aku takut akan membangunkannya. Aku merasa detik waktu berhenti saat ini di mana hanya ada aku dan dia. Lalu, tiba-tiba saja menguap.
Mungkin otakku sudah tidak waras. Tidak, otakku memang sudah tidak waras sejak pertama kali bertemu dengannya. Jika ini yang dinamakan gila, aku bersedia disebut sebagai orang gila. Karena tanpa kusadari, aku tidak ingin melewatkannya. Moment saat dia membuka mulutnya untuk menguap, aku menutupnya dengan bibirku.
Tubuh itu tersentak hingga menimbulkan derit pada kursi. Mata bulatnya menatapku terkejut. “Apa yang lo lakuin?” tanyanya sambil menutup bibirnya dengan lengan sebelah kiri.
Alih-alih menjawabnya, aku lebih memperhatikan pintu kelas yang masih terbuka. Aku yakin sekali, beberapa detik yang lalu ada seseorang yang melihat kami. Semoga itu hanya firasatku saja. Tapi kenapa hati ini tiba-tiba saja merasa takut?
“Devon jawab gue!”
Suara Irga membuatku memperhatikannya lagi. Dia menatapku, menuntut jawaban.
“Gue suka sama lo.”
Akhirnya kalimat itu keluar dari bibirku. Wajah Irga datar tanpa ekspresi. Aku tidak tau apa yang terpantul pada tatapannya. Marah, sedih, atau kecewa.
“Jadi di sekolah ini lo yang homo?” tanyanya dingin.
Seharusnya pertanyaan itu bukan apa-apa. Tapi kenapa rasanya sakit sekali saat yang mengucapkannya adalah orang yang paling aku inginkan dalam hidup. Jantung ini seperti dicengkeram dengan begitu kuat hingga membuatku tidak bisa bernapas. “Kalau ini yang lo sebut dengan homo, anggap saja begitu.”
“Jangan pernah bicara lagi sama gue!” tegas Irga sebelum dia berjalan pergi meninggalkan kelas.
Untuk sesaat aku merasa kosong. Sial… Aku tidak pernah menyangka, dibenci orang yang kusukai rasanya akan sesakit ini. Tapi ini tidak seberapa dengan rasa gelisah yang sejak tadi menderaku. Sosok itu, apakah benar-benar melihat kami? Bukan aku, tapi dia yang sangat kukhawatirkan. Bagaimana jika nanti dia terseret ke dalam masalahku dan terluka? Aku tidak ingin itu terjadi. Benar-benar tidak ingin.
######
Beberapa hari setelah kejadian itu kulalui dengan perasaan gelisah. Rasanya seperti sedang menunggu bom yang bisa meledak kapan pun. Hubungan kami kembali ke titik awal di mana Irga mengacuhkanku dan aku tidak berniat untuk mengganggunya. Mungkin ini yang dinamakan mencintai hanya dengan tatapan. Sekarang aku tau bagaimana perasaan mereka yang menyukai seseorang tapi tidak bisa mengungkapkannya dan hanya bisa memperhatikan orang itu.
Rasa frustasiku kulampiaskan pada tantangan-tantangan yang datang padaku. Kebut-kebutan. Saat mengendarai motor dengan kecepatan penuh, perasaanku sedikit tenang. Aku tidak perduli karena sudah membuat marah mereka yang menantangku.
Rega, kakak kelas yang waktu itu mengirimiku surat tantangan kebut kehilangan motornya karena kalah melawanku. Sebenarnya aku tidak butuh motornya tapi dia sendiri yang mengajukan taruhan itu. Novan, teman Rega, harus rela menerima keadaan motornya yang rusak di bagian kiri karena terpeleset saat melewati tikungan. Dia terpental beberapa meter dan untungnya masih hidup. Entah berapa banyak orang yang kukalahkan aku tidak bisa mengingatnya karena aku hanya membutuhkan sensasi kecepatan yang kurasakan saat berada di atas motor.
Dan bom itu telah meledak…
Sejak jam pelajaran pertama aku khawatir karena irga tiba-tiba saja tidak masuk tanpa keterangan. Kemudian di jam pelajaran kedua, sebuah pesan singkat dari nomer tidak dikenal masuk ke dalam ponselku.
‘Gue punya pertunjukan buat lo. Balapan yang bener-bener seru. Kalau lo nggak datang sekarang ke tempat kebut biasanya, lo bakalan nyesel. Lawan gue cowok imut di kelas lo. Irga setiawan. Taruhannya… Foto waktu lo cium dia. Gue tunggu setengah jam dari sekarang. Dasar homo!’
Aku tidak tau siapa yang mengirim pesan itu. Musuhku terlalu banyak. Mengabaikan Pak Darmawan, guru fisika yang sedang menulis rumus di whiteboard, aku berlari keluar kelas. Hal ini lah yang menjawab semua rasa kalutku beberapa hari terakhir. Karena saat itu aku yakin ada yang melihat kami. Tapi aku tidak menyangka kalau dia punya foto kami.
Irga… Tuhan tolong jangan biarkan dia melakukan hal gila. Lindungi dia hingga aku tiba di sana.
Kupacu motorku secepat yang kubisa. Melewati jalanan padat Jakarta tanpa mengurangi kecepatan. Sumpah serapah dan suara klakson dari pengendara lain mengikuti sepanjang jalan yang kulewati. Aku tidak peduli. Karena hanya dia yang ada di otakku saat ini. Tempat kebut itu bukan jalanan biasa. Bisa dibilang itu jalan maut. Letaknya ada di pinggir lereng. Berkelok-kelok dan curam. Jika telat sedikit saja mungkin kau akan terlempar ke bawah jurang di sepanjang sisi jalan. Karena itu Novan sangat beruntung tubuhnya tidak terlempar ke jurang.
Aku melihatnya saat tiba di sana. Dia dengan seragam putih abu-abunya. Pasti mereka yang memaksanya bolos sekolah. Di sisinya ada tiga orang yang juga memakai seragam putih abu-abu. Satu orang dari sekolah lain yang entah siapa namanya aku tidak tau. Dua orang dari sekolah kami. Rega dan Dion. Aku ingat sekarang… Dion adalah kakak kelas yang pernah ngajak aku berantem dulu.
“Kalian bilang kita harus balapan, kenapa harus panggil dia segala?” tanya Irga pada mereka dengan nada kesal.
Aku berjalan menghampiri mereka dengan menahan amarah. Jujur saja aku ingin meremukkan mereka semua yang sudah melibatkan Irga dalam hal ini.
“Gue sudah datang. Biarin Irga pergi.”
“Lo yang seharusnya pergi!” seru Irga yang menatapku marah sekarang. “Ini balapan gue sama mereka!”
“Tapi lo nggak pernah balapan sebelumnya, Ga! Lo kepingin mati sekarang?”
“Mati itu urusan gue sama tuhan.” Balas Irga ngotot, “gue juga sering balapan meskipun cuma di game center doank. Sama saja kan?”
Dion cs langsung tertawa keras. Oh astaga ya Tuhan…. Kalau tidak dalam kondisi seperti ini pasti sudah kupeluk dan kucium dia habis-habisan karena gemas. Aku menatapnya frustasi. “Irga please… Gue nggak ingin lo terluka.” Kataku putus asa.
Dion membuang putung rokok yang tadi dihisapnya ke tanah lalu menginjaknya agar padam. “Berhenti bikin drama kacangan. Gue disini bukan untuk melihat adegan lovely dovey kalian.”
“Harusnya kalian nggak usah nyuruh dia datang!” protes Irga.
“Nggak bisa. Karena dia yang pegang kuncinya.” Sahut Rega sambil menyeringai.
“Urusan kalian sama gue. Biarin Irga pergi!” pintaku bersungguh-sungguh.
“Jangan pelit, sob… Sebentar lagi kita bikin film yang seru. Kasih dia lihat dong supaya dia juga ikut ngerasain serunya.” Cengir Dion.
“Apa mau kalian?” tanyaku waspada.
“Gue cuma mau lo nurut. Kalau lo ngelawan sedikit saja, Arta bakal ngirim foto lo ke semua anak di sekolah!” jawab Rega.
Aku melirik cowok bernama Arta dari sekolah lain itu. Dia tersenyum sambil menunjukkan ponsel yang ada di tangannya. Ingin kuremukkan dia tapi aku hanya bisa menatapnya tajam lewat mataku.
“Sekarang gue minta lo berlutut!”
Rahangku mengeras mendengar permintaan Dion. Saat laki-laki menjatuhkan lututnya itu sama dengan menjatuhkan harga dirinya. Tanganku terkepal kuat, bersiap untuk menonjoknya.
“Atau lo mau dia yang gue paksa berlutut?”
Aku tersentak. Dengan amarah yang meletup, terpaksa kutekuk kedua lututku di hadapan mereka. Aku sudah kalah telak. Tapi aku tidak menyesal. Asalkan dia baik-baik saja. Asalkan dia tidak terluka. Aku tidak apa-apa.
“Wow…” Rega bersiul pelan, “gue nggak nyangka segampang ini menemukan kelemahan lo.”
“Sekarang lo diem. Bergerak sedikit saja, gue nggak akan toleransi. Arta akan langsung menekan tombol send biar semua orang tau kalau kalian homo.”
Lagi. Kutahan amarahku. Demi dia… Demi Irga apapun akan kulakukan meskipun harus melemparkan tubuhku ke jurang sekali pun.
“Apa yang akan kalian lakukan?” Irga berteriak sambil menatap ngeri saat Dion mengambil sebuah tongkat besar.
“Kan udah gue bilang kalau kita mau bikin film. Gimana kalau kita kasih judul ‘Cinta yang berdarah’?”
Rega bersiul lagi, “Gue baru tau kalau lo pantes buat jadi sutradara. Tapi jangan yang mellow, nanti bikin gue nangis tersedu-sedu.”
“Biar nggak bikin lo nangis tersedu-sedu, gue kasih action sedikit seperti ini!”
BUUGH.
Tubuhku tersentak ke depan. Punggungku terasa nyeri dan panas. Dion benar-benar mengerahkan tenaganya untuk membuat remuk tulangku. Aku melihat Irga menutup wajahnya. Ia menatapku dari sela-sela jarinya dengan ngeri. Dan aku hanya bisa memberikan tatapan tidak apa-apa kepadanya.
Buugh… Bugh…
Pukulan bertubi-tubi mendera tubuhku. Aku tidak bisa menghitungnya, seluruh tubuhku terasa panas dan nyeri. Tulangku terasa remuk. Bahkan Rega ikut ambil bagian dengan menonjok wajahku beberapa kali. Aku merasakan sudut bibirku robek. Rasanya asin. Mereka benar-benar melampiaskan semuanya untuk menghajarku.
“BERHENTI!!”
Aku mendengar suaranya…
“Dia bisa mati! Berhenti mukulin dia!”
Aku melihatnya memberontak dalam cekalan Arta. Jangan lakukan itu sayang, nanti mereka bisa menyakitimu. Biar kuambil semua rasa sakit ini. Kupejamkan mataku lelah. Tubuhku seperti mati rasa. Dion dan Rega masih belum berhenti.
“Devon lawan mereka!! Jangan diem aja, bego!!” teriak Irga marah.
Aku ingin tapi aku tidak bisa… Tenagaku terasa menguap.
“Gue nggak keberatan foto itu tersebar. Lawan mereka! Gue nggak keberatan dibilang homo. Please jangan mati di sini…”
Aku membuka sedikit mataku. Dari celah kelopakku, aku melihatnya menangis. Irga-ku menangis. Rahangku mengeras di antara rasa sakit yang mendera. Aku mengumpulkan seluruh kekuatanku lalu melayangkan satu pukulan pada wajah Dion.
“Brengsek! Udah gue bilang lo harus diem_”
Bugh…
Aku melayangkan satu pukulan lagi. Lagi dan lagi hingga bertubi-tubi. Membalas semua perbuatan mereka. Bayangan Irga yang menangis membuatku semakin kuat dan semakin ingin menghancurkan mereka. Sepertinya mereka kewalahan menanganiku hingga Arta yang tadinya bersama Irga, ikut membantu Dion dan Rega.
Aku menjadi kalap. Mataku sepertinya buta. Tiba-tiba seseorang mendekapku dari belakang.
“Cukup…” katanya pelan, “lo bisa membunuh mereka.”
Mendengar suara itu gerakanku langsung berhenti. Otakku baru memproses apa yang sudah terjadi. Aku melihat Dion dan Rega terkapar penuh luka. Sementara Arta yang tidak seberapa parah, membantu keduanya.
“Ayo pergi…” pinta Irga sambil memapahku. “masih kuat kan? Biar aku yang bonceng kamu.”
Aku mengernyit pelan, “Motorku gede lho…”
“Kamu mau aku tonjok?” Irga merengut, “Mau gede atau kecil tetep aja namanya motor. Cara memakainya juga masih sama. Belum ada ceritanya setir motor tuker tempat sama rem.”
Bibirku yang tertawa geli seketika meringis pelan karena perih. Dan Irga membuktikan ucapannya dengan benar-benar memboncengku. Mengantarku hingga rumah.
“Rumah kamu kok sepi?” tanya Irga saat masuk ke dalam rumahku.
“Orangtuaku kerja. Sering keluar negeri. Jadi cuma ada pembantu saja.”
Dia memapahku hingga ke kamar. Membantuku duduk bersandar di ranjang. Baru setelah tubuhku menyentuh empuknya kasur, rasa sakit itu mendera sekujur tubuhku. Rasanya aku tidak sanggup bergerak lagi.
“Ya ampun Adeeen… Kenapa tubuhnya bonyok begini?” seru seorang perempuan tua yang baru saja masuk ke dalam kamarku. “berantem lagi?”
“Irga, kenalin ini Bi Rumi.”
“Irga, bi. Teman sekelasnya Devon.” Sapa Irga sambil menjabat tangan perempuan tua itu.
“Panggil saya Bi Rumi saja. Saya yang membantu di sini. Kalau ada apa-apa bilang saja sama saya.”
“Kalau begitu boleh minta air hangat sama lap, bi? Luka Devon harus dibersihkan. Bi Rumi ada salep untuk luka nggak? Kalau nggak ada bisa minta tolong belikan di apotek?”
“Oh ada den Irga. Bibi punya salepnya. Soalnya den Devon sering pulang dengan tubuh lebam jadi bibi selalu siapin. Sebentar ya, bibi ambil dulu sekalian sama air hangatnya.”
“Terima kasih bi,” ucap Irga.
Irga kembali menatapku setelah bi Rumi keluar dan menutup pintu. “Pasti sakit ya?” tanyanya khawatir.
“Nggak apa-apa,” jawabku pelan,”yang penting kamu nggak luka.”
“Kamu bego atau bodoh sih? Mau-mau aja dipukulin babak belur seperti ini. Kenapa nggak dilawan dari awal?” omelnya.
Aku tersenyum. Suaranya yang jernih aku sangat menyukainya. Baru kusadari kalau sekarang kami berbicara tidak lagi menggunakan bahasa ‘lo’ dan ‘gue’. Aku merasa senang hingga tidak bisa menghentikan senyum ini.
“Yee… Malah senyum nggak jelas! Tadinya aku takut kamu akan mati kalau terus-terusan dipukul mereka. Tapi kemudian aku takut mereka yang mati kalau kamu nggak berhenti membalas mereka. Pantes kamu dibilang preman sekolah. Kalau lagi kalap seram sih…”
“Tapi aku senang. Kamu peluk aku tadi.”
Mata bulatnya langsung melotot, tangannya berkecak pinggang. “Kuping kamu itu tuli!!! Diteriakin nggak dengar, jadi cuma dengan cara itu aku bisa bikin kamu berhenti! Bukan karena aku ingin!” elaknya dengan pipi yang aku yakin sedang merona sekarang.
“Maaf ya…” ucapku pelan, “aku cuma nggak ingin liat kamu nangis. Saat lihat kamu nangis rasanya di dadaku lebih sakit.”
Tanpa kuduga air mata jatuh dari kelopak mata indahnya, “Aku nggak pernah dicintai sampai seperti ini. Mama dan papaku bercerai. Karena itu aku pindah ke Jakarta. Nggak ada satu pun dari mereka yang mau tinggal bareng aku, akhirnya nenek dari papa yang mengajakku tinggal di sini.”
Aku terenyuh melihatnya. Dibalik keceriaannya, Irga menyimpan luka. Kuraih tangannya lalu menariknya masuk ke dalam pelukanku, “Sekarang ada aku. Kamu akan selalu aku cintai. Sejak pertama kita bertemu, sekarang, sampai nanti. Jadi pacarku, mau ya?”
“Iya deh…”
Hanya jawaban singkat. Tapi itu bisa membuatku lega luar biasa. Jika untuk mendapatkannya aku harus babak belur seperti ini aku rela. Terima kasih Tuhan…
“Eh,” tiba-tiba Irga melepaskan pelukanku, “Tapi aku kan bukan homo!”
“Kamu iniiiii!!!” teriakku sambil menangkup pipinya gemas, “pingin dicium ya?”
Dia tertawa sambil meringis lucu, “Habis gara-gara kamu cium, aku jadi terus deg-degan tiap lihat kamu. Kamu yang bikin aku jadi seperti ini. Besok foto kita juga pasti udah tersebar.”
Aku tercenung. Kupeluk lagi tubuhnya, “Maaf ya…” ucapku merasa bersalah. Apa yang harus kulakukan untuk masalah itu? Aku belum bisa berfikir sekarang.
“Nggak apa-apa… Lagipula dari awal mereka juga sudah menganggapku homo. Besok kamu harus masuk sekolah ya, biar aku nggak diintrogasi sendirian. Nanti aku pinjemin kursi roda deh sama tetangga kalau masih nggak kuat jalan.”
Aku tertawa, ”Apapun buat kamu, sayang…”
Mungkin ini yang dinamakan sakit dalam bahagia. Dia milikku. Sekarang hanya menjadi milikku. Itu saja sudah cukup dari semua hal yang kubutuhkan dalam hidup ini.
Terima kasih Irga. Aku mencintaimu…
######
“Woow… Habis perang sama siapa lo, Von? Sampai bonyok begitu,” tanya Saka saat melihatku yang baru saja masuk ke dalam kelas sambil dipapah Irga.
“Rega sama Dion.” Jawabku singkat.
“Pantes hari ini mereka nggak masuk. Baru kali ini gue lihat lo luka sampai parah begini.”
“Lo gantiin mang Dudung jadi satpam ya? Kok bisa tau mereka nggak masuk?”
“Weeits… Koneksi gue banyak, man!”
Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala melihatnya lalu menatap Irga, memberikan satu senyuman kepadanya. Sepertinya mereka belum menyebarkan foto kami. Tidak ada yang berbeda dari reaksi anak-anak di kelas. Lagi-lagi aku merasa kalut. Apalagi yang akan terjadi setelah ini?
Hingga bel istirahat berbunyi tidak ada yang terjadi soal foto itu. Seperti biasa, aku sedang makan di kantin sendirian. Sebenarnya tadi sama Irga, tapi cowok itu tiba-tiba saja dicegat oleh cewek-cewek saat dia ingin membeli ice cream. Kali ini mereka berusaha untuk memotret cowok manisku itu.
“Maaf… Kak Devon ya?”
Aku menoleh dan mengernyit pelan melihat seorang cewek menghampiriku. Dari symbol di bahu kirinya, dia masih kelas satu. Di seragamnya tertulis nama Vegisya Ayu P.
“Ada apa?” tanyaku.
Dia terlihat sedikit gelisah, “Aku mau ngasih tau kakak sesuatu, bisa bicara sebentar?”
“Tunggu dulu… Lo nggak lagi bikin acara nembak gue kan?” tanyaku langsung.
Gadis itu tersentak sambil menggeleng cepat. “Bukan! Tentu saja bukan. Aku cuma mau ngasih ini…” dia mengulurkan tangannya yang sedang memegang ponsel.
Giliran aku yang terkejut. Pada ponsel itu ada fotoku dan Irga. Foto saat aku mencium Irga.
“Aku mau ngasih ini ke kakak.” Katanya takut-takut.
“Dari mana lo dapat foto itu?”
“Aku yang ngambil foto ini. Waktu itu aku nggak sengaja lihat kalian. Aku adiknya kak Arta dari SMA Trisakti. Aku nggak tau kalau kak Arta temennya kak Rega itu musuh kak Devon. Dia pernah nggak sengaja lihat foto kalian di hp aku. Tadinya dia mau ngambil diem-diem tapi kepergok sama aku. Kemarin kak Arta pulang dengan tubuh luka-luka. Setelah aku ancam bakal kuaduin ke mama baru dia cerita kalau habis berantem sama kak Devon. Maaf ya kak… Gara-gara aku kalian harus berantem. Ini fotonya aku balikin ke kak Devon. Aku nggak ada maksud apa-apa kok, cuma seneng aja ngeliat real couple yaoi. Soalnya aku fujoshi.”
Aku menatapnya tanpa bisa berkomentar. Tidak tau harus marah atau lega. Tapi saat ini mungkin rasa lega yang lebih besar.
“Ini foto satu-satunya kan? Nggak ada lagi duplikatnya?”
Vegisya langsung mengangguk, “Cuma ada ini. Aku balikin ke kak Devon soalnya takut foto ini akan bikin masalah nantinya. Setelah ini terserah kak Devon mau dihapus atau tetep disimpan. Soalnya kalau aku yang menghapus nggak sanggup. Di foto ini kalian terlalu manis.”
Aku tersenyum mendengarnya. Beruntung yang melihat kami saat itu adalah gadis ini. “Makasih ya,” ucapku setelah foto itu berpindah ke hp milikku.
“Sama-sama kak. Tenang aja, aku bakal simpen rahasia ini buat kalian. Kalau begitu, aku balik ke kelas dulu ya kak,” senyumnya.
“Oke, hati-hati ya!”
Aku menatap foto itu lagi lalu tersenyum. Moment hari itu aku tidak akan bisa melupakannya. Itu ciuman pertamaku dan mungkin bagi Irga juga. Sekarang saat aku mengingatnya, rasanya manis.
“Berhenti ambil foto gue! Nanti kalian dipukulin preman ini lho!” teriak Irga sambil ngumpet dibelakang punggungku.
“Iiih… beraninya ngumpet!” protes salah satu cewek.
“Sekali saja, temen gue dari sekolah lain ada yang ingin lihat.”
“Irga baik deeh…”
“Nggak mauuu! Gue bukan artis. Lawan Devon dulu kalau berani!” tantang Irga, masih ngumpet dibelakang punggungku.
“Devon tubuhnya lagi bonyok. Gampang aja ngalahin dia. Nggak bakal menang kalau dilawan rame-rame.” Sahut cewek lainnya.
“Eh, serius lo Vin? Sekarang sih Devon bisa aja kalah. Kalau nanti balas dendam bagaimana?” balas cewek berkaca mata, yang berdiri di sebelah cewek yang dipanggil ‘vin’ itu.
“Kak Rega sama kak Dion saja kabarnya sekarang lagi di rumah sakit setelah berantem sama Devon kemarin. Gue nggak ikutan ah,”
“Yaah… Kok kalian gitu sih?” Vina, cewek itu merengut, matanya kembali mendelik pada Irga, “lo beneran homo ya? Kok sekarang jadi deket sama Devon? Jangan-jangan kalian pacaran lagi!”
Tubuhku sudah menegang mendengar tuduhan itu tapi sepertinya nggak mempan untuk Irga. Cowokku itu malah memasang wajah sok manja sambil memeluk leherku.
“Kok lo bisa tau sih? Devon kan memang pacar gue.” Matanya kini menatapku, “Ya kan sayang?” tanyanya dengan suara manja yang dibuat-buat, membuatku mengernyit.
Sedetik kemudian dia melepaskan pelukannya sambil tertawa keras, “Muka Devon lucu banget kan? Jangan mikir yang aneh-aneh deh! Hahaha…”
“Irgaaa… Dasar jahil!”
“Gue kira tadi beneran!”
“Lo itu beneran homo nggak sih?”
“Awas dibikin bonyok sama Devon, lo nanti!”
Suara-suara cewek itu saling bersahutan di antara denting tawa Irga. Aku hanya bisa mematung menatapnya. Di depan banyak mata dia berani melakukan hal seperti tadi? Astaga… Berapa banyak lagi tingkah yang akan dilakukannya untuk mengejutkanku? Oh Tuhan… Terima kasih sudah mengirim makhluk manis ini padaku. Aku berjanji akan selalu menjaganya hingga akhir.
Aku tersenyum lembut sambil menatapnya yang masih tertawa. Perjalanan kami masih panjang karena ini hanyalah awal. Namun, bersamanya aku yakin kami akan bisa melalui segalanya. Karena kami memilikinya. Perasaan murni yang mengikat takdir kami. Cinta…
END

No comments:
Post a Comment