Thursday, 12 May 2016

"HERO" by Nayaka Al-Gibran - Part 04 - [Part Story]



HERO
By. Nayaka Al Gibran
Part 04

6 YEARS AGO…

Bocah itu menyerah memencet-mencet tombol di gagang telepon. Ia benar-benar lupa angkanya. Angka paling tepat yang dipencetnya hanya kode area saja, selebihnya ia menebak. Ia sudah mencoba ini beberapa kali sejak menetap di rumah baru, belum menyerah meski mamanya sudah pernah melarangnya. ‘Kasihan Papa bayar tagihan teleponnya, Dek’, begitu mamanya pernah berkata menyikapi panggilan teleponnya yang selalu salah sambung. Awalnya, ia menyalahkan mamanya yang menganggap bahwa buku telepon di rumah lama mereka bukanlah sesuatu yang wajib dibawa. Belakangan, ia mulai menyalahkan dirinya sendiri yang tidak pernah terpikir untuk menghapal deretan nomor tersebut, padahal hanya beberapa angka saja. Dan ia menyesalinya.

Banyak hal tak terduga memang yang mampu dipikirkan otak mengagumkan anak-anak sementara otak orang dewasa sama sekali tidak berpikir ke sana, tapi ada hal-hal sepele yang memang tidak terpikirkan oleh mereka. Salah satu di antara banyak yang sepele; menghapal nomor telepon.

Di tempat lain, seorang bocah baru saja berlari tergopoh-gopoh dari kamarnya menuju meja telepon yang ada di ruang tengah rumah begitu mendengar benda itu berdering. Ia pernah memutuskan untuk melupakan, tapi tetap saja masih bersemanggat setiap kali telepon di rumahnya berdering, tetap saja harapnya menyala ketika dering itu mengusik pendengarannya. Meski yang terjadi selama itu tak jauh-jauh dari : ‘Ma, Tante A telepon nih’. Atau, ‘Ma, Tante B nanya apa Mama jadi pergi Arisan?’ namun tetap saja ia berlari bagai kesetanan setiap ada panggilan telepon.

Anak-anak adalah sosok yang luar biasa. Hanya mereka yang mampu kembali mesra dengan rekannya yang satu jam lalu baru saja mengejeknya hingga menangis, hanya mereka yang mampu harmonis kembali dengan anak lain yang beberapa saat sebelumnya baru saja mematahkan krayonnya di jam menggambar. Bocah yang kembali dikecewakan panggilan telepon itu hanyalah seorang―sekali lagi―bocah.

***

Hari ini, sementara menunggu Mas Nawi menyelesaikan ekskulnya, aku berinisiatif untuk mulai mengerjakan tugas kelompok Pak Al. Bukan kelompokku saja, kelompok Dara juga bertahan untuk tidak pulang. Khiar tidak bisa mengikutiku dan Dara karena ada rapat Osis sedangkan Muthia lebih suka mengajak rekan kelompoknya ke rumah. Mungkin lain kali kami juga akan memilih salah satu rumah, tapi hari ini aku tidak mau menunggu Mas Nawi hanya dengan memelototi dia dan timnya berkeringat di lapangan basket di saat ada hal lain yang bisa kukerjakan. Itulah mengapa aku memprovokasi rekan-rekan sekelompokku untuk tidak langsung pulang hari ini.

Dara dan kelompoknya sudah mengambil satu sudut ruang kelas, aku menyuruh teman-temanku merapatkan meja dan kursi di satu sudut lain. Saat itulah aku melihatnya meraih tali tas dan menyelempangkannya di bahu, dengan sikap acuh berjalan ke pintu.

Tidak. Aku tidak akan membiarkan dia melakukannya kali ini. Tidak ketika aku sudah demikian dekatnya dengan kesempatanku. Tidak sekarang. Setelah menyerahkan tanggung jawab pada Maryam, bergegas aku menyusulnya.

Aku berhasil mengejarnya di tangga. “Rom…!!!” dia tidak menggubris panggilanku, hanya terus bergerak gesit menuruni tangga. “Rom, ini tugas kelompok, kamu gak boleh pulang!” lanjutku sambil berkonsentrasi pada anak tangga.

Dia sengaja tidak merespon. Sikap yang ditunjukkannya benar-benar menjengkelkan. Jangankan berhenti, menoleh pun tidak, alih-alih merespon kalimatku.

“Hero!” aku menjangkau ke tengkuknya.

Tindakan nekatku mampu membuatnya berhenti, bahkan kali ini menoleh. Dia menatapku, sama persis seperti cara dia pernah menatapku di koridor perpustakaan. Tatapan tanpa ekspresi, tatapan yang tidak terbaca. “Mau bikin seragamku rusak lagi?” tanyanya dingin.

Ragu-ragu kulepaskan cengkeramanku pada kerah seragamnya lalu kugelengkan kepala. “Aku belum sempat minta maaf untuk apa yang terjadi waktu itu…”

Untuk sejenak dia hanya diam, mungkin memikirkan kata-kata yang tepat untuk menyakitiku, atau membantai asaku. “Oh, percayalah, kamu memang tidak akan pernah sempat minta maaf untuk semuanya, untuk apapun!” Aku mengernyit, mencoba mencerna maksudnya. “Kenapa?” Dia menyeringai, dan aku sempat akan salah mengira seringainya sebagai senyuman kalau saja dia tidak kembali menampilkan ekspresi dingin setelahnya. “karena kamu memang orang yang mampu bertahan untuk tidak melakukan itu meski sebenarnya ada sebab yang lebih dari pantas bagimu untuk meminta maaf. Mau tahu apa itu?” kini aku faham sepenuhnya ke mana arah pembicaraan ini. “mengingkari ucapan sendiri.” Dia berbalik dan lanjut menuruni tangga.

Aku kembali mengejar. “Kamu tidak pernah memberiku kesempatan…”

“Memang tidak akan pernah,” jawabnya sambil terus bergerak, lebih cepat sekarang.

“Kenapa?!” teriakku.

Hero berhenti dan membalikkan badannya, kembali memandangku dengan tatapannya itu. “Hanya karena kamu memilihku pertama kali kemarin, bukan berarti lantas kita akan jadi sepasang sahabat paling karib dan akur sejagat raya.” Kalimatnya membuatku terhenyak. Aku membisu. “Tunggu! Jangan katakan kalau kamu memikirkan persis seperti yang kukatakan.” Aku kembali melihat seringai itu. Lalu dia menggeleng-gelengkan kepalanya, mengejekku. “Menyedihkan sekali. Apa kamu benar-benar seputus asa itu berharap kita akan kembali jadi dua anak ingusan yang saling berbagi uang saku di kantin sekolah?” Dia mendengus. “Saranku, jangan memaksakan diri…”

Lalu dia pergi.

Di tangga, aku terpegun lama. Begitu lama sampai Maryam perlu menyusulku.

***

[Next]

From - Cerita Kaum Pelangi

No comments:

Post a Comment