Thursday, 12 May 2016

"HERO" by Nayaka Al-Gibran - Part 03 - [Part Story]



HERO
By. Nayaka Al Gibran
Part 03

7 YEARS AGO…

Di satu rumah, anak itu duduk di meja belajarnya sambil menopang dagu. Di depannya, sebuah bingkai foto sepuluh inci menggeletak di atas meja. Di dalam bingkai, dua sosok anak laki-laki yang masing-masing berpakaian adat Bali dan DKI Jakarta berdiri saling berpegangan tangan, keduanya sama-sama menjulurkan lidah ke kamera. Sekilas, anak yang masih menopang dagu terlihat tersenyum. Ia mengenang saat ketika foto itu diambil, tujuh belas Agustus, pertama kalinya ia dan karibnya ikut karnaval. “Sedang apa Romi di sana?” bisiknya pada diri sendiri sambil menyusurkan telunjuknya di atas bingkai, tepat di wajah anak lelaki berpakaian DKI Jakarta.

Di satu rumah yang lain di tempat berbeda, seorang anak laki-laki sedang duduk di dekat jendela. Menatap langit berbintang dengan pandangan kosong. Sudah lebih setahun sejak ia ditinggalkan, tapi telepon di rumah tidak pernah berdering untuknya. Ia mulai ragu dan bimbang, apakah bagus buatnya untuk terus mengingat dan menunggu dengan hati gundah gulana atau merelakan lalu melupakan dengan perasaan marah? Ia memilih opsi kedua. Otak anak-anaknya mengira bahwa merelakan dan melupakan dengan perasaan marah akan membuatnya benar-benar lupa. Padahal tidak. Perasaan marahnya itu akan tetap membuatnya ingat. Ia hanya tidak tahu.

***

Pak Al Hisham berniat membagi kami dalam empat kelompok untuk tugas drama. Kami diminta untuk membuat drama empat babak sekaligus memainkannya di kelas pada pertemuan yang akan datang. Ketika Pak Al memberi tenggat waktu dua minggu untuk menyusun naskah dan berlatih, semua kami menyuarakan protes, kecuali Hero―mungkin. Di bangkunya, cowok itu duduk tenang tak terpengaruh sama sekali. Melihat sosoknya, ingatanku berkelebat bolak-balik antara kejadian di koridor menuju perpustakaan dan kejadian di toilet mall. Sampai sekarang aku belum punya kesempatan meminta maaf atas kejadian di koridor.

“Jadi kalian maunya berapa minggu?” pertanyaan Pak Al mengembalikan konsentrasiku. Begitulah guru muda ini, selalu mengembalikan aturan mainnya pada kami. Kadang aku suka berkhayal kalau Pak Al jadi kepsek, dan terhibur saat membayangkan guru-guru senior lain bisa diperintah olehnya. Khayalan itu selalu berakhir dengan senyum geli ketika aku ingat bagaimana aku dan Khiar dulu sempat menerka-nerka dengan jahil kalau nama lengkap Pak Al adalah Alhamdulillah Hirabbil ‘Alamin.

“Dua bulan, Pak!” seru para cowok di deretan paling belakang kompakan.

“Kenapa harus dua bulan?” tanya Pak Al sambil membuka absen.

“Bikin drama susah, Pak. Belum lagi latihannya. Udah gitu empat babak lagi,” cetus Ayudhia, cewek tomboy bendahara kelasku yang selalu galak kalau menagih uang kas. “Kami kan bukan artis sinetron stripping, Pak…” Beberapa tawa terdengar sebagai respon kalimat Ayudhia.

“Kecuali kita semua kloningannya si Khiar, dua hari aja gak masalah, Pak. Tapi kami kan bukan duplikasinya Khiar,” Maryam yang duduk sebangku dengan sang bendahara ikut menyuarakan kalimat senada.

Pak Al tertawa sementara Khiar yang berada semeja denganku geleng-geleng kepala sambil tertawa pendek. Dia menolehku, “Bagaimana kalau aku beneran ada kloningannya, ya?”

Aku memutar bola mata menanggapi pertanyaan gak pentingnya. Khiar kembali tertawa.

“Baiklah. Dua bulan untuk tugas drama,” ujar Pak Al seperti yang sudah aku―mungkin juga semua teman-temanku yang lain―duga. “Deka, tolong ketok palunya.”

Aku menggebrak meja sebanyak tiga kali dan teman-temanku bersorak. Telapak tanganku memerah. Di sampingku, Khiar geleng-geleng kepala. “Dek, kamu gak bisa lihat kalau ada pebedaan sangat besar antara mengetuk dan menggebrak, ya?” bisiknya.

“Ada perbedaan mahabesar juga antara palu dan tangan, Bro!” cetusku yang membuat Khiar kalah telak.

“Jadi, siapa yang ingin jadi anggota kelompok siapa?” tanya Pak Al seakan memberi kebebasan bagi siswanya untuk menentukan kelompok sendiri. Namun lalu pandangannya tertuju ke mejaku dan Khiar. “Deka dan Khiar tidak boleh satu kelompok…”

Oh, yang benar saja. Aku berbisik pada Khiar. “Jadi apanya yang ‘siapa ingin jadi anggota kelompok siapa?'”

Khiar menggidikkan bahu. “Mungkin Pak Al sedang mencegah satu kelompok terdiri dari siswa pintar semua.”

“Aku tidak sepintarmu.”

“Memang. Tapi semester lalu kamu rangking empat dari tiga puluh tujuh siswa, kan?”

“Itu karena aku sebangku denganmu.”

“Kalian ngomongin saya?” Pak Al menginterupsi bisik-bisikku dengan Khiar. Guru muda itu sudah berdiri semeter dari tempat dudukku dan Khiar.

“Enggak, Pak,” jawab Khiar lantang. “Deka hanya gak mau kalau tidak satu kelompok dengan saya.”

Fitnah sekali. Di bawah meja, kutendang tulang kering Khiar. Cukup kuat untuk membuatnya meringis.

Sejenak Pak Al menatapku sambil mengulum senyum sebelum fokus pada absen di tangannya. “Muhammad Akhiar, Muthia Nur, Darajatul Ulya dan Abraham Dekalvin masing-masing akan jadi ketua kelompok A, B, C dan D.” Pak Al mengurut peringkat kami dari rangking satu hingga empat. “Kalian berempat silakan pilih anggota kelompok masing-masing, jangan rebutan. Akan ada tiga kelompok yang jumlahnya sembilan orang dan satu kelompok yang jumlahnya sepuluh,” jelasnya lalu menatapku. “Deka, silahkan kamu milih anggota pertama untuk kelompokmu lebih dulu…” Artinya, kelompokkulah yang akan jadi satu-satunya kelompok beranggotakan sepuluh orang.

Aku menatap kursi yang kerap kupandangi selama di kelas. Kali ini aku tidak akan membiarkannya jadi orang terakhir yang dipilih. Tidak akan di saat aku punya kesempatan untuk membuatnya dipilih pertama kali. “Saya pilih El Rumi, Pak…”

Sejenak kelas menghening. Udara bagai berhenti berhembus, bahkan bagai lenyap sama sekali. Aku bisa mendengar bunyi pergerakan jarum detik jam tanganku. Mereka tentu tak habis pikir mengapa seseorang yang selalu jadi pilihan terakhir untuk diikutkan dalam kerja kelompok malah kupilih untuk masuk kelompokku, bahkan kali ini jadi orang pertama yang terpilih, aku pilih. Ah, bukankah tanpa kupilih pertama kali pun Hero nantinya tetap akan masuk kelompokku? Mengingat dia kemungkinan besar akan jadi satu-satunya siswa yang tersisa di akhir sesi pemilihan, dan mengingat jumlah kami yang ganjil, tentulah aku yang akan jadi pemilih terakhir. Seharusnya mereka menyadari itu, alih-alih orang-orang ini malah terlalu mendramatisir keadaan.

Sekilas, kutemukan Hero melirikku sebelum kembali pada sikap dinginnya sehari-hari.

“Fix,” kata Pak Al . “Romeo El Rumi, kamu masuk kelompok D bareng Deka,” lanjutnya sambil kembali ke meja guru dan sejenak kemudian mulai menulis di buku catatannya. “Dara, kamu pilih siapa?”

Aku tak begitu mendengar nama teman sekelasku yang dipilih Dara, tidak fokus juga pada jawaban Muthia kemudian. Pemikiran tentang Hero memenuhiku. Khiar memilih bendahara kami, aku memilih Maryam saat giliranku berikutnya, tidak yakin kalau namanya belum disebutkan Dara atau Muthia. Saat tak ada yang meningkahi, aku yakin Maryam belum dipilih.

Khiar menyikutku. “Hero, hah?” dia tersenyum kecil. “Ada sesuatu yang aku lewatkan?”

Aku memilih untuk tak menjawab. Kulirik sekilas bangku Hero di deretan kananku lalu berusaha fokus pada pengaturan kelompok ala Pak Al. Mungkin apa yang dilakukan Pak Al hari ini akan jadi jalan keluar buatku, untuk mendapatkan kembali Romi sahabat masa kecilku. Mungkin, ini adalah kesempatan yang diberikan takdir bagiku, untuk mendapatkan maafnya. Kusingkirkan khayal mulukku tentang Hero yang akan membalas perasaan khususku terhadapnya. Untuk saat ini, menjadi akrab dengannya sudah lebih dari cukup.

***

[Next]

From - Cerita Kaum Pelangi

No comments:

Post a Comment