Thursday, 15 December 2016

"Rahasia Usuf" by Spermatopia [Short Story]



Rahasia Usuf
By. Spermatopia

Di sebuah rumah kosong dan kecil, terdengar samar suara jeritan dan erangan. 
"Ahhh... Euuuh... "

Suara itu datang dari seorang lelaki tampan nan sexy yang sedang duduk dengan ikatan di tangannya. Kejantanan pria sexy yang lumayan menggiurkan itu tengah di perah oleh seseorang, semakin lama, tubuh pria ini makin berkeringat dan erangannya semakin menjadi. Croot! croot! 

"Kenangan Kita" by Robynokio [Short Story]



Kenangan Kita
By. Robynokio

Kakiku berpijak di tempat yang sama, setahun yang lalu. Kupejamkan mata memutar kenangan lalu. 

“Nanti kita ke sini lagi ya?”, ujarmu.

“Kapan?”

“Saat Aku, Kamu, dan Tuhan sudah bersatu”, katamu.

"Sebentuk Perasaan Ini" by Robynokio [Short Story]



Sebentuk Perasaan Ini
By. Robynokio

Aku tak bisa bersikap seolah-olah seperti aku tidak merasakan apa-apa. Setiap kali kamu ada, bibirku melengkung dan jantungku berdetak dua kali lebih cepat tanpa kuminta. Aneh.

Kamu hebat. Bagaimana bisa kau membuatku merasakan kehadiranmu kuat, padahal tak pernah sekalipun kau berdisi di sampingku? Bahkan saat menulis ini pun, kurasakan tanganmu ikut menulisnya.

"Sepintas Kata" by Robynokio [Short Story]



Sepintas Kata
by. Robynokio

Sayang,

Dulu kita hanyalah sebuah kata. 
Yang tercipta terpisah, tanpa pernah ada niatan untuk dapat hidup bersama.
Lalu kemudian datang suatu kebetulan dimana kita dipertemukan dalam sebuah paragraf prosa.

Friday, 19 August 2016

Burung Kertas by Nayaka Al-Gibran - End Of Part - [Part Story]



Burung kertas Part End
By : Nayaka Al Gibran

Padang Bulan, Oktober 2004

Kami melewati Bulan Puasa Teuku sama seperti dulu. Aku masih ikut sahur dan berbuka bersamanya, kadang-kadang masih mengisi perut dengan segelas jus atau air mineral dingin di siang hari, masih sering tertidur ketika sedang mendengarnya membaca kitab suci. Bedanya, kami tidak lagi membeli menu sahur sepulang dia dari mesjid. Karena sudah punya motor, kami membeli menu sahur tepat di jamnya. Seperti dulu, aku menikmati rutinitasku, bahkan lebih menikmatinya kini.

***

Burung Kertas by Nayaka Al-Gibran - Part 05 - [Part Story]



Burung Kertas Part 5
By : Nayaka Al Gibran

Padang Bulan, 07 Juli 2004

Aku mendapat kado sehelai oblong warna hitam dari Teuku sebagai hadiah ulang tahunku. Dia juga membelikan kue tart dan lilin angka 19 untukku. Tidak sepertiku yang mengagetkannya tepat tengah malam, Teuku baru masuk kamarku setelah sembahyang subuh. Aku memakluminya, dia tak pernah mengejutkan orang ketika masih dalam jam dimana si orang tersebut seharusnya beristirahat. Itu katanya.

“Masih terhitung awal bulan, jadi aku beli yang mahalan dikit…” ujarnya ketika aku mempentangkan oblong itu dari bungkusnya.

Aku tersenyum senang ketika melihat labelnya, dia benar, ini cukup mahal. Tapi aku masih ingin balas dendam mengingat betapa dia pernah membuatku geram saat ultahnya Desember kemarin.

“Coba kalau warnanya putih ya, Ngil… bakal lebih senang.”

“Aku kan beli sesuai seleraku, kalau mau yang warna putih harusnya kamu kasih uangnya ke aku lebih dulu. Gak terima kasih banget…”

“Bercanda…” tukasku sambil tertawa. “Makasih ya, Ngil…”

Burung Kertas by Nayaka Al-Gibran - Part 04 - [Part Story]



Burung Kertas Part 4
By : Nayaka Al Gibran

Kota Medan, tahun baru 2004

Aku membawa Teuku melihat pesta kembang api di alun-alun kota Medan. Kami sudah terlunta-lunta sejak pukul sembilan malam. Teuku berkali-kali mengeluh kakinya pegal dan mengajakku duduk dimana saja. Kalau tidak ingat bakal mengundang perhatian, ingin saja aku mendukungnya di punggungku, dia tidak lebih berat dari kopernya yang pernah kupikul dulu.

“Jayen… kakiku rasanya mau tanggal. Nyesal deh aku ikut ajakanmu…”

“Tepat tengah malam saat kembang apinya sudah memenuhi langit Medan, rasa sesalmu bakal terinjak-injak hancur tak bersisa,” cetusku sambil menyodorkan kaleng soft drink buatnya. “Lagipula, ini kan pesta setahun sekali, masa kamu mau ngurung diri di kamar kos dengan film-film gak jelas di laptopmu itu.”

“Film-ku jelas tau, memangnya laptopmu, isinya bokep semua.” Dia menenggak isi kaleng dengan rakus, “Alamat harus cari kamar kecil lagi nih…”