Burung Kertas Part 5
By : Nayaka Al Gibran
Padang Bulan, 07 Juli 2004
Aku mendapat kado sehelai oblong warna hitam dari Teuku sebagai hadiah ulang tahunku. Dia juga membelikan kue tart dan lilin angka 19 untukku. Tidak sepertiku yang mengagetkannya tepat tengah malam, Teuku baru masuk kamarku setelah sembahyang subuh. Aku memakluminya, dia tak pernah mengejutkan orang ketika masih dalam jam dimana si orang tersebut seharusnya beristirahat. Itu katanya.
“Masih terhitung awal bulan, jadi aku beli yang mahalan dikit…” ujarnya ketika aku mempentangkan oblong itu dari bungkusnya.
Aku tersenyum senang ketika melihat labelnya, dia benar, ini cukup mahal. Tapi aku masih ingin balas dendam mengingat betapa dia pernah membuatku geram saat ultahnya Desember kemarin.
“Coba kalau warnanya putih ya, Ngil… bakal lebih senang.”
“Aku kan beli sesuai seleraku, kalau mau yang warna putih harusnya kamu kasih uangnya ke aku lebih dulu. Gak terima kasih banget…”
“Bercanda…” tukasku sambil tertawa. “Makasih ya, Ngil…”