Friday, 19 August 2016

Burung Kertas by Nayaka Al-Gibran - Part 03 - [Part Story]



Burung Kertas Part 3
By : Nayaka Al Gibran

Padang Bulan, 23 Desember 2003

Sebenarnya aku ingin pulang merayakan natal bersama keluargaku di Kisaran seperti Teuku yang tega meninggalkanku untuk merayakan lebaran dengan keluarganya di Banda Aceh. Aku benci bila ingat bagaimana dia membuatku kehabisan akal untuk menghalangi kepulangannya di penghujung Bulan Puasa lalu, saat itu dia sedang memasukkan baju-baju ke ranselnya.

“Aku bisa nangis penuh satu bak mandi bila gak nyium tangan abah dan ummiku setelah Shalat Ied…” jawabnya ketika aku memintanya untuk tidak pulang.

“Iya, aku ngerti… tapi liburnya kan cuma sebentar, cape loh bolak-balik. Banda Aceh tuh jauh…”

Dia melotot, “Kamu sanggup liat aku di sini kayak duda ditinggal mati istri, bengong sambil nangis di hari raya? Kamu gak kasihan?”

Burung Kertas by Nayaka Al-Gibran - Part 02 - [Part Story]



Burung Kertas Part 2
By : Nayaka Al Gibran

Aku sedang menyusun beberapa buku yang kubawa di atas meja belajar ketika pintu kamarku diketuk.

“Masuk…”

Satu wajah melongok di balik daun pintu, sepertinya aku mulai hapal garis senyum di wajahnya. “Aku tidak ngasih salam, takutnya kamu kebingungan menjawabnya nanti… karena jawab salam bagi kami itu wajib…” dia melangkah masuk setelah menutup pintu.

“Hemm… trims atas pengertiannya…” aku melanjutkan pekerjaanku dengan buku-bukuku.

“Kamu ngambil jurusan apa?” dia mulai melihat-lihat barangku yang masih berantakan di sekitar tempat tidur.

Burung Kertas by Nayaka Al-Gibran - Part 01 - [Part Story]



Burung Kertas Part 1
By : Nayaka Al Gibran

Seperti burung kertas….
Meski bersayap, namun ia tak dapat terbang
Ia tak bisa mengepakkan sayap lalu melanglang buana
Ia mustahil bergerak mencapai cakrawala luas
Karena bagaimanapun cantik wujud burung kertas,
Ia tetaplah sehelai kertas
Ia diam dan mati…

***

Ulee Lheue, 31 Desember 2012

Aku masih merasa canggung dengan diriku. Meskipun dulu pernah satu kali mengenakan peci dan baju koko yang kekecilan di badanku, tapi tetap saja saat ini rasanya bagai baru pertama kali aku menggunakan dua benda ini.

‘Kalau baju kokonya memang ukuranmu mungkin kamu bisa terlihat kayak muallaff…’

Apa benar aku tampak bagai muallaf? Senyum menyeruak di wajahku saat mengingatnya.

"LoVe In Bali" by Rayhand A. [Short Story]



LoVe In Bali
By. Rayhand Achmad 

“perbaiki nama dan citra mu !!!,aku tak mau tau!!”

Tegas Ikhsan ,meneger ku sambil membanting majalah yang berisikan berita ku tentang perskandalan itu,jujur…semuanya ini tak benar,itu hanyalah gosip belaka,ada yang berniat menghancurkan dan mencemarkan nama baik ku.

Nama ku Gamail Prasetya,Lahir di jakarta 21 tahun yang lalu.Aku adalah seorang intertain,aku memulai karierku sejak 2 tahun silam,saat itu nama ku belum banyak di kenal di kalangan masyarakat ini…dan sekarang karierku melesat tinggi,aku bukan lagi seorang aktor yang setiap hari muncul di layar televisi atau di film film bioskop,namun aku sekarang adalah seorang penyanyi,sejak aku mengeluarkan single pertama ku yang berjudul “Pelangi di matamu” milik salah satu band indonesia yupp JAMBRUD,aku mengaransement ulang lagu itu,karna menurut ku ..lagu iu penuh dengan kata kata yang bisa meluluhkan siapa saja.

"Bertemu Denganmu (Lagi)" by Robynokio [Short Story]



Bertemu Denganmu (Lagi)
By. Robynokio

Canggung.

Dalam benakku lama tertanam sejuta bayangan dirimu.

Aku terdiam terpaku. Mengenyahkan detak jantung yang berdebar kencang ketika mendapati dirimu di depan sana. Aku menggenggam erat-erat tanganku, menghilangkan gemetar yang dari tadi merasuk jemariku.

Redup terasa cahaya hati mengingat apa yang tlah kau berikan.

"Setengah Hati" by Robynokio [Short Story]




Setengah Hati
By. Robynokio

Malam itu, aku kembali tertegun. Membatu selayaknya karang yang tak goyah diterpa hempasan ombak. Terpaku tak mampu melangkah, pun mengucap. 

Aku sangat terdiam malam itu, melihat segala kemungkinan-kemungkinan bahwa kau akan pergi meninggalkanku– dan kau sendiri tak sedikitpun menyadari akan hal itu. Mungkin kau pikir aku tidak tahu, namun saat itu adalah kali pertama dimana tatapanku kembali kosong sekosong hati yang cintanya mulai terkuras lagi karena rasa kecewa.

"Taubat" by Ari Setiawan [Short Story]



Taubat
By. Ari Setiawan


Cinta bagiku adalah sebuah penantian
Penantian panjang tak berujung
Menelusuri jalan terjal, liku dan berbatu
Cinta bagiku adalah sebuah asa
Sebuah harapan di awang-awang
Terlihat dan tak bisa digapai
Cinta bagiku adalah sebuah aib
Aib yang membuat ku malu
Untuk saat ini dan hingga ku mati