Mate That Leads To Love (Part 9)
By : JeLo
Fareed tersenyum puas melihatku yang sudah cemas. Pasti wajahku sudah seperti kepiting rebus yang overcooked seperti wajah Fareed tadi pagi. Mungkin lebih dari itu. Sialan!
Baiklah, aku akan melupakan rasa malu-ku sekarang. Aku sudah terlanjur memasang cookie face di hadapannya. Sialan!
"Aku gak rela kalo kamu sampai nikah sama orang lain selain aku," balasnya lagi sambil menghampiriku.
Tidak! Maksudku TIDAK! Jantungku berdetak kencang saat Fareed memegang bahuku dengan lembut. Bahkan pusaka keramat di bawahku pun ikut berdenyut dan sesak di dalam celanaku. Sialan lagi!
"Gue gak cinta sama lo, jadi jangan kegeeran ya!" Ucapku gengsi. "Satu lagi. Gak ada kawin-kawinan! Gue masih pengen punya anak dari calon istri gue yang cantik!" Sambungku berbohong.
Fareed tersenyum ke arahku. Bahkan aku belum pernah melihatnya tersenyum semanis itu. Baiklah, aku akui jika aku memang mencintainya sekarang. Aku tak ingin terus berbohong dengan perasaanku. Lagipula, Fareed itu sangat tampan, sama sepertiku --menurutku sih begitu. Tiba-tiba wajah Fareed semakin mendekat. Tangannya melingkari pinggangku, dan aku mulai mengeratkan pelukanku. Baiklah, aku terlihat seperti jalang sekarang ini. Wajahnya semakin mendekat. Tinggal beberapa senti lagi bahkan. Dia mulai memejamkan matanya. Aku pun memejamkan mataku, berharap ini semua benar-benar nyata. Sampai beberapa menit kemuadian, tak ada ciuman yang mendarat di bibirku yang tipis dan menggoda ini. Bahkan sejak kapan aku mulai berkhayal seperti Bottom murahan yang akan mendapat hentakan di pantatnya oleh seorang gadun tua dengan perutnya yang penuh lemak dan pusaka keramat kecilnya yang berbulu, hitam dan menjijikan? Dan hey, sejak kapan aku benar-benar memikirkan pusaka keramat yang mengerikan itu? Baiklah, lupakan.
"Kamu tuh nyebelin ya!" Ucapku saat membuka mataku. Aku melihat Fareed yang jarak wajahnya sudah menjauh. Aku memanyunkan bibirku. Bahkan sejak kapan kata 'aku-kamu' yang selalu menggelikan di telingaku ketika Fareed mengatakannya malah aku ucapkan? Baiklah, kukira ini karma.
"Ekspresi wajah kamu tadi udah nunjukin kalo kamu emang gak cinta sama aku," ucapnya sambil menahan tawa. Sialan! Dia membuatku malu untuk kedua kalinya malam ini.
Aku mencubit pinggangnya dengan keras sampai Fareed menjerit kesakitan. Tiba-tiba badannya ambruk. Dia tak sadarkan diri.

No comments:
Post a Comment