Mate That Leads To Love (Part 2)
By : JeLo
Wait! Berita bagus, bukan? Aku tak perlu lagi melihatnya bersikap aneh terhadapku. "Dan aku takut kamu sakit hati, sweety..."
Aku yang dari tadi memperhatikan, kini mulai penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Aku mulai menyeimbangi badannya. "Emang sama siapa dijodohinnya sih? Kok tumben bonyok (orang tua) lo lebay gini?" Akhirnya aku buka suara. Dia hanya tersenyum nakal ke arahku. Shit!
Dia mencolek hidung mancungku dan mengacak-acak rambutku. "Mama bilang, orang yang dijodohin sama aku itu keturunan indo dan wajahnya cakep gitu." Jawabnya santai dan cuek. Kenapa hatiku jadi memanas begini? Jangan bilang aku cemburu! Cukup Fareed yang menjadi gay, aku tak mau.
Aku memutar bola mataku, kembali penasaran dengan orang yang dia maksud. Baiklah, aku sudah seperti host di acara gosip murahan yang 5 kali sehari menghiasi layar kaca Indonesia. "Emang dia keturunan mana? Kok kayaknya lo suka banget sama dia?" Tanyaku lagi, semakin penasaran.
Dia kembali tersenyum simpul. Manis sekali. Wait! Apa yang barusan kukatakan? Oh, baiklah lupakan. "Dia itu sempurna dan kompleks banget," ucapnya menggantung. Hatiku kembali memanas. Jangan sampai aku tertular ke-gay-annya. Dan tidak, aku tidak cemburu! "Dia itu keturunan Swedia dari ibunya, terus keturunan Indo-Jerman dari ayahnya. Dia sangat manis, matanya berwarna biru laut, warna rambutnya dirty blonde, hidungnya juga mancung dan runcing. Tingginya beda dikit sih," ucapnya panjang lebar. Aku hanya mengangguk-anggukkan kepalaku mendengar ucapannya.
Aku kembali penasaran dengan orang itu. Kurasa Fareed benar-benar jatuh cinta pada wanita itu. Wait! Aku merasa janggal dengan penjelasannya barusan. Dia bilang jika orang yang dijodohkan dengannya adalah keturunan Swedia dari ibunya, dan keturunan Indo-Jerman dari ayahnya. Bagaimana bisa serupa denganku? Tapi aku menepis semua pikiran burukku itu. Mana mungkin dia dijodohkan denganku, yang notabene-nya sesama pria. Lagipula, kedua orang tua Fareed sangat religius. Apa mungkin Lindsay adikku? Tapi bola matanya berwarna coklat terang seperti ayahku, dan warna rambutnya light blonde, bukan dirty blonde sepertiku. "Oh iya, kok lo bisa dijodohin gitu sih? Terus, lo cinta gitu sama dia? Sejak kapan lo dikasih tau soal perjodohan itu? Terus, apa lo juga cinta sama dia?" Tanyaku panjang lebar. Aku sudah seperti seorang jurnalis yang sedang mewawancarai pelaku kriminal.
Tiba-tiba dia memelukku dengan erat. Hey, apa-apaan ini? Aku meronta-ronta dengan kuat, namun tubuh atletis-ku yang masih kecil kalah dengan badannya yang sudah terbentuk sempurna dan besar itu. Aku jadi membayangkan jika aku benar-benar seorang gay, pasti dia akan memperkosaku sekarang juga. Benda keramat yang dia balut dengan celana dalam dan celana pendeknya itu terlihat menyembul dan tonjolan itu bergesekan dengan pinggangku. Hey, apa-apaan sih aku ini?
"Orang yang bonyok gue jodohin sama gue itu ya elo," ucapnya dengan kata 'gue-elo' yang kembali muncul dari mulutnya setelah setahun belakangan ini tak pernah terdengar.
.
..
...
To Be Continue ...
[Next]
From : Cerita Kaum Pelangi

No comments:
Post a Comment