My Sweetness Mistake Part 5
By. Robynokio
“Ngg.. Bim"
”Ya, Dit?“
"Lama nggak liat kamu, kamu jerawat ya sekarang?”
“IH! kamu mah ih!"
Yap, itu adalah kesalahan tolol gue saat itu. Kalimat ‘Kamu jerawatan ya?’ memang bukanlah kalimat yang cocok dilontarkan kepada cowo setelah tidak lama jumpa. Ini sama aja kaya lu lagi mesen baso ditempat yang penuh orang, terus dengan ringannya lu ngomong
"Bang, baso gue tolong jangan yang pake formalin yah.."
Sesaat kemudian gue dikeprak pake kuah baso..
====
"Udah lama ya bim kita gak kaya gini.."
"lama apanya dit? "
.
Sialan, pura-pura nanya kaya gitu lagi, dasar.. Mancing-mancing aja kerjaannya. Gue cium juga dah nih anak!
.
"Hahaha dasar ya lu, mancing nih ceritanya?”
“Cieee yang jadi salting~”
“Sudah-sudah, berhenti mancing-mancing"
"Ih dit, kamu kalau salting manis deh”
“Astagfirullah!! Tuhan berikan hamba kesabaran…”
.
Otak gue panas, dada gue berdegup kencang, tangan gue keringetan udah gak sabar pengen meluk dari belakang. Gue gak pernah tau kalo Tuhan bisa dengan setega ini menguji iman hambanya dengan senyum manis dari malaikat yang satu ini.
Dia adalah pembunuh paling berdarah dingin yang pernah gue kenal! Gimana engga? Coba aja ada setan yang lewat, dih nih anak pasti udah gue peluk dari belakang dengan mesra sampe dia pasrah gak bisa apa-apa! Hih..
.
“Udah udah, yu bim cabut yuk, gak enak sama Ikhsan yang udah nunggu di restonya dia tuh"
"Hahaha nyerah dia. Okeh deh bentar ya aku rapihin tas dulu”
“Okeee."
.
5 menit berlalu, gue putuskan untuk maen HandPhone.
10 menit berlalu, gue putuskan untuk ngemil makanan didepan toples
12 menit berlalu, gue putuskan ngerestart BB gue
18 menit berlalu, BB gue udah nyala lagi tanpa jam pasir tapi Bimbim masih belom nongol juga
20 menit berlalu, Gue putuskan untuk membaca Yasin yang tergeletak di depan meja. Gue tau, kalau udah begini mungkin 1 juz bisa gue selesaikan sebelum dia menyelesaikan ritual beres-beresnya.
Hmm, kalo gini caranya sih keburu sinetron di tv mulai.
Akhirnya setelah selesai kosidahan, Bimbim muncul juga dengan tas sampingnya. Gue heran, tas sekecil itu kok ngerapihinnya lama banget sampe-sampe bisa ngasih gue waktu buat menyelesaikan tadarusan. Gue harus akui, cowo satu ini memang mistery dunia versi On The Spot yang masih belum bisa terpecahkan.
.
“Bim, kamu udah izin kan sama Garem Rujak?"
"Hah? Garem Rujak?”
“Eh salah, pacar kamu maksudnya..”
“Iya udah kok, tenang aja"
"Hmm, bener gapapa?”
“Iya ih dit.. santai aja ngapa sih"
"Coba deh kamu telepon dulu"
"Yaelah gak percayaan banget sih kamu” Bimbim mulai cemberut.
“Bukan gitu bim, sehebat-hebatnya Radit waktu dulu masih jadi pacar kamu, Radit pasti ngizinin kamu pergi kemana aja sama siapa aja. Tapi kalau sama orang yang notabenenya mantan sih mungkin Radit masih mikir lagi. Radit gak mau dong orang yang Radit sayang pergi gitu aja tanpa ngasih kabar dengan seseorang yang dulu pernah punya hubungan serius sama pacar Radit. Setidaknya telepon dulu untuk memberikan dia ketenangan, gitu bim.”
.
Wajah Bimbim mulai melunak, dia akhirnya setuju sama nasehat gue dan mulai mengeluarkan Handphonenya. Taktik Gentleman gue tampaknya tepat sasaran. Sebagai seseorang yang Gentleman, kita gak boleh menikung pacar orang dengan cara sebagai tukang kompor. Ada kalanya kita harus bisa maenin peran sebagai seseorang yang merendah untuk meroket. Pertama kita puji dulu pacarnya, lalu hantam keras-keras keatas tanah sekeras Joe Taslim menyuruh Vegh untuk menghantam mobil Brian O'Connor saat itu.
Gue mulai mundur memberikan ruang kepada Bimbim yang hendak menelopon Garem Rujak-nya. Gue pura-pura memalingkan muka sambil bergaya layaknya pria lagi menunggu sesuatu. Gue tau, selama berbicara via telepon dengan Garem Rujak-nya itu, Bimbim sesekali nengok kearah gue.
Takitk nomer 2 ketika menjadi Gentleman adalah: Selalu tampil seheroik mungkin jika anda tidak bisa berbicara. Tampil dan biarkan mata dia berdiskusi keras dengan logika. Itulah Gentleman yang sesungguhnya. Tak perlu bersua, tapi bisa menghasilkan luka #tsaaah
Gue mulai melihat gelagat aneh dari Bimbim, tampak nada bicaranya mulai meninggi. Tampak matanya mulai berkaca-kaca layaknya sepatu kaca cinderella.
GAREM RUJAK SIALAN! Dia ngebuat mata malaikat menjatuhkan air yang sejatinya lebih dalam dari makna puisi yang tercipta dikala hujan dipagi hari! Sungguh tidak berpri-ke-gentleman-an!
Tapi itu juga gara-gara gue yang ngajak Bimbim pergi sih.. Ah Yasudahlah.. itu sih urusan mereka~ Hahahaha lalala… yeyeye… lalala.. yeyeye
Dalam hati gue menari Kucek-Jemur-Kucek-Jemur ala para alay-ers Dahsyat di RCTI itu.
====
Bimbim menutup gagang telefonnya. Dia tertunduk lesu. Gue yang notabenenya masih sayang ini perlahan mendekati Bimbim.
“Kalau Bimbim gak bisa, Radit gak papa kok pergi sendiri"
”…“
Bimbim cuma diem aja setelah gue kasih kalimat yang intinya sih gak akan mungkin dia tolak HAHAHAHA.
"ngg.. Oke gakpapa kok, mungkin sekarang saatnya kurang tepat, lain kali aja mungkin ya bim.."
”…“
Bimbim hanya tertunduk lesu menatap tanah. Tampak kekuatan seorang Ukenya terpancar ketika ia berusaha menahan tangisnya didepan seseorang yang gue gak tau dia anggap gue apa.
Bimbim geleng-geleng menandakan tidak setuju.
Disaat seperti ini, seorang pria tak boleh menjadi kompor. INGAT RUMUS GENTLEMAN! Act like true hero, jangan macam-macam dengan telinga uke dikala dia sedang galau akan dua tujuan. Niat baikmu bisa ditanggapi sebaliknya. Maka dari itu lebih baik bertindaklah dan biarkan mata dan hatinya yang memutuskan.
Mata uke itu erat kaitannya dengan hati.
Tapi telinga uke.. Mereka erat kaitannya dengan logika.
So, Becareful boys..
Gue melangkah menuju motor gue, gue ambil helm yang dulu selalu jadi favorite Bimbim ini.
.
"Pergi yu.. Helm favorite kamu udah nunggu nih..” gue sodorkan helm sembari menyimpulkan senyum kecil.
Tanpa pikir panjang, Bimbim menyambar helm itu, dia mengankat kepala dan mulai tersenyum menahan perih.
Hari itu gue menyadari.. Bahwa ada hal yang lebih membahagiakan ketimbang senja yang menggoreskan jinganya diatas pasir-pasir pipih yang perlahan terbawa arus entah kemana.
Bim.. gue masih sayang elo..

No comments:
Post a Comment