My Sweetness Mistake Part 4
By. Robynokio
Mungkin kalau di universitas ada Jurusan ‘Mengingat Semua Hal Kecil Tentang Mantan’ pasti gue udah lulus cumlaude dengan skripsi yang mungkin berjudul
'Kolerasi antara Jarak, Waktu, Dan Cinta Terhadap Kesinambungan Balancing Uang di Dompet’,
gue pasti lolos sidang dengan menjawab semua pertanyaan dosen penguji dengan sangat sempurna.
Tepuk Tangan.
====
Dalam perjalanan menjemput Bimbim, gue terus-terusan gak bisa berhenti melihat kesekitar, melihat pemandangan yang udah lama gak gue lewatin. Dari tukang cendol tempat kita mejeng bersama dulu, sampai tempat berteduh gue sama Bimbim dari hujan dulu pun masih ada.
Mungkin kalo gue jelasin satu-persatu, cerbung ini bisa lebih panjang ketimbang laporan Bab II pada skripsi mahasiswa, tanpa banyak lama, akhirnya gue sampai pada satu komplek ini.
Komplek yang dulu sangat-benar-benar-akrab dengan gue ini, kini tampak menjadi asing. Bahkan satpam tukang buka gerbang aja sampai gak inget gue lagi, dia tega! Dia melupakan segala hal yang kita lalui bersama! Pahit dan getir yang kita lewati sama sekali tidak berbekas dihati dia! Dia bahkan sampai menanyakan namaku! Cowo macam apa itu! Hih..
Setelah menyerahkan KTP (Kartu Tak punya Pacar), gue menjalankan motor gue kedalam komplek, menuju rumah seseorang yang sekarang milik seseorang yang lain.
Tapi sebelum itu, gue mampir pada satu warung tempat gue sama Bimbim biasa melepas lelah sehabis jalan-jalan di komplek. Kebetulan gue akrab sama si bibi pedagangnya dan seperti biasa, disana pasti aja ada anak muda yang ngamen.
“Halo bi.. Makin Cantik aja nih.. masih inget saya gak? ” Kata gue sambil unjuk gigi.
“Waaaah mas Radit ya? Kemana aja mas?"
Akhirnya, ada juga yang masih kenal gue dikomplek ini selain satpam sialan tadi.
"Ngomong-ngomong mas Radit, Teh kotak yang dulu masih belom dibayar loh..”
Wuanjrit, ternyata dia inget gue gara-gara masalah utang. Hmm memang ya, uang itu selalu menjadi pihak ketiga diantara cinta. Mengalahkan jarak,waktu dan rasa.
“Gimana mas Radit, kok jarang kesini lagi? Aa Bimbim-nya mana? kangen ih bibi mah ngeliat mas Radit sama aa Bimbim makan-makan disini, kayak anak kembar jalan berdua terus"
AKKKKHHHH SKAK MAT!!
TRIPLE KILL !! OWNING!! MEGA KILL!!
Dari jauh tampak backsound DOTA menggema diantara telinga gue.
Gue pun langsung meminta pengamen disana memainkan lagu 'Terjebak Nostalgia'nya - Raisa. Tapi mereka menolak. Aku bertanya mengapa. Mereka mengatakan Raisa bukan genre mereka. Mereka menyangka Raisa itu penyanyi Kosidahan.
ITU RAIHAN KAMPRET!! NASYID RAIHAN!! BUKAN RAISA!! JAUH AMAT RAIHAN SAMA RAISA!!
Kemudian Hening.
Setelah emosi gue agak menurun, gue memungut kembali puing-puing hati yang sempat rusak dihardik kata-kata bibi warung tadi. Gue pungut puing-puingnya satu-satu, gue susun lagi pelan-pelan. Sungguh, menyusun hati tak pernah senanar ini sayang.
Setelah selesai menyusun puing hati, gue pamit sama bibi warung sembari menyodorkan uang buat ngelunasin utang yang gue sendiri udah gak inget kapan gue ngutang.
Dari jauhpun terdengan suara dompet gue menangis.
====
Gue parkir motor gue ditempat biasa, Gue tatap spion gue, Gue rapihin rambut gue, Gue rapihin baju gue. Hmm.. Bimbim memang bodoh, masa cowo kaya gue dia sia-siakan demi Garem Rujak itu.
Perlahan tapi pasti, gue beranikan diri untuk mengetuk pintu rumah ini. Satu dua ketukan hingga pada akhirnya dateng seseorang yang membukakan pintu.
"Bim.. Bimbim?!”
“Eh Radit, udah lama diluar? masuk yu"
"i..i..iya"
Luar biasa, saat itu tampaknya “kehilangan” mengajarkan gue arti sesungguhnya dari keterkaguman. Melihat Bimbim yang sudah jauh lebih dewasa, seakan hati yang baru tersusun rapuh tadi kembali goyah. Gue mencoba menenangkan diri sebelum hati gue terlalu jauh membuka luka lama yang masih menganga. Sungguh, mantan yang kurang ajar adalah mantan yang membuat mantannya merasa amat sangat menyesal ketika bertatap mata pada tatapan yang pertama.
Gue duduk di ruang tamu. Dan YAK! Tepat! Kenangan mulai menjalar disetiap relung logika, seakan Tuhan benar-benar tak mengizinkan gue untuk bisa melangkah dari tempat gue dijatuhkan pertama kali ini. Ruang tamu ini mempunyai beribu kisah. Dari belajar bareng, Nonton tv bareng, maen Game bareng. Semua-mua-nya ada disini.
Mungkin kalau ini upacara, ini adalah sesi dimana mengheningkan cipta sedang dikumandangkan.
"Mau minum apa dit?” kata Bimbim sambil tersenyum.
Beuuhh, elok nian sekali.. ngeliat Bimbim masih kucel dan tersenyum sambil benerin kaosnya yang selalu terlihat kedodoran kaya begini harusnya masuk dalam kasus pembunuhan berencana!
“ngg.. Jus Alpuket deh, pake topping ice cream vanilla yah..”
“IH!! Serius ih! emangnya rumah gue cafe apa?!"
"eh iya deh teh manis aja gapapa kok”
“Oke, air putih aja yah..”
“…”
Dasar kompeni! jiwa diktatornya masih melekat gak hilang-hilang.
Dia kembali kearah dapur menyiapkan minuman, meninggalkan gue sendirian nanar dihardik kenangan dari setiap sudut ruangan.
Bahkan sekarang mulai tercium wangi shampoo bimbim yang seperti biasanya. Aaaaaaaakkkk gue bagai gitar yang tak bernada, tak bersua, tak berjiwa kehilangan kegagahan senar-senarnya. Gue masih sering bertanya-tanya, mungkin dulu waktu Tuhan membuka stand jualan sayap, bimbim telat bangun dan akhirnya dia gak punya sayap dan Tuhan menetapkan dia untuk menetap dimuka bumi…
.
Setelah cukup lama, akhirnya Bimbim datang membawa air putih. Dia taruh air putih itu dihadapan gue, Dia duduk tepat disebelah gue. Kita bersampingan diatas sofa panjang..
Hmm, Bahkan dalam keterdekatan yang amat sangat dekat ini, ntah kenapa aku masih tetap merasa kita sangat jauh. Walau keadaan tampak tercipta memang untuk kita dan kita sangat-sangat dekat, But i’m still feel so far.
.
“ngg.. Bim..”
“Ya, Dit..?”
-Bersambung-
[Next]
From : Cerita Kaum Pelangi

No comments:
Post a Comment