My Sweetness Mistake Part End
By. Robynokio
Butuh lebih dari 10 menit buat gue agar bisa nenangin pikiran setelah baca surat dari Ikhsan tadi. Biarpun sekarang dia udah mapan dengan segala fasilitas-fasilitas yang ia dapat, tapi semua sifat tololnya itu bisa dibilang menjadi salah satu daya tarik para Uke untuk menjauhi dia.
Ya, menjauhi.. Bukan mendekati.
.
.
“Apa itu Dit?” kata Bimbim sambil berjalan kearah tempat sampah ngebuang sisa-sisa kue mahal yang gak sempat gue icipin itu.
“Engga, ini cuma kertas corat-coret gue yang ketinggalan di wc tadi” kata gue sambil menyembunyikan surat biadab ini dari Bimbim. Gue gak mau hubungan intim gue dengan Ikhsan ketauan sama Bimbim. Tidaaaaak, itu tidak boleh terjadi.. Tidaaaak.. Tidak.. Tidaaaak… Kyaaaaa~
.
Gue berjalan kearah tempat minum untuk mengambil 2 gelas air putih untuk Bimbim dan untuk gue sendiri.
“Heh! Malem-malem ngelamun aja. Lagi mikirin siapa nih..” goda gue kepada Bimbim yang lagi ngelamun diatas pagar keramik.
“Engga, iseng aja. Pemadangannya asik ya dari atas sini. Lampunya banyak banget”
“Iya banyak banget lampunya.. Tuh coba deh kamu liat itu, tuh tuh disitu.. nah itu. Itu rumah aku..” kata gue sambil nunjuk kearah tempat yang gue sendiri gak tau itu daerah mana
“eeeeuh.. jayus ah, udah tau itu dago pakar bodo”
“Lhaa… Demit dong gue kalo rumah gue di dago pakar”
“Emang, makannya tiap ada Adzan Maghrib di tivi, pasti kamu mindahin channel kan.. Gak kuat kan?”
“ATUH LAH DA MAU GIMANA LAGI IH!! ADZANNYA LAMA DI TIVI MAH!! LAGIAN GUE UDAH APAL LIRIKNYA!”
“alasan..”
“Dih.. Rese ya lo!”
.
Kita tertawa lepas malam ini, seakan-akan kita masih terdiam dalam satu status yang sama seperti dulu. Ada yang bilang bahwa kenangan hanya bisa terkenang, ia tak bisa diraih kecuali oleh mimpi. Untuk beberapa saat kemarin, gue setuju dengan statement diatas. Tapi untuk sekarang, rasanya ada yang terulang lagi dan lebih indah ketimbang dari manisnya sebuah kenangan.
Suara tawa Bimbim, wangi shampoonya, senyum gue yang gak pernah senyaman ini, mata sayu Bimbim, ejek-ejekan Bimbim, humor garingnya gue. Semuanya serasa kembali lagi. Hal-hal yang gak akan pernah gue dapetin lagi ternyata sekarang bisa gue rasakan kembali.
.
====
.
“Bim..”
“Ya, Dit?”
“Malam ini, kita yang sedekat ini.. Apa yang kamu rasain Bim?”
“Ngg… jawab jujur ini teh?”
“ *angguk-angguk* ”
“Jujur, aku kangen kita yang kaya gini. Bukan kangen statusnya, tapi kangen kita yang bisa tertawa lepas kaya hari ini, gak harus takut kamu itu siapa dan aku itu apa.. Gak harus ada rasa terbebani karena rasa cemburu atau apa. Semuanya mengalir kaya biasa..”
“Like strangers, huh?” kata gue sambil nunjukin sedikit senyum simpul
“Hahaha maybe. Tapi aku suka kok, kamu kan kakak aku.. Rasanya seneng ada orang yang pernah akrab banget sama aku, tau keseharian aku, tau hari-hari aku, dan paling tau segalanya tentang aku ini, dia ada disini sebagai strangers dan mendengarkan tanpa sedikitpun mencela atas apa yang aku ucapkan. Mungkin itu sih Dit.”
“ngg.. seneng ngedengernya. Tapi Bim.. Apa salah kalau Radit masih ada perasaan sayang sama kamu?”
“Ya itu sih terserah kamu, hak hak kamu mau sayang sama siapa..”
“Takutnya, rasa sayang aku malah ngebuat kamu makin gak suka sama aku gara-gara kamu sekarang kan notabenenya udah punya pacar lagi.”
“Hahaha itu sih urusan aku Dit”
.
Gue cuma angguk-angguk aja ngedenger kata-kata terakhir Bimbim.
Malam semakin larut, para tamu satu-persatu melangkahkan kakinya pergi dari meja tempat mereka makan malam tadi.
Dalam keheningan bersama Bimbim ini, gue cuma bisa meneguk air dari dalam gelas ini. Dalam.. dan semakin dalam..
.
===
.
“Dit.. kamu masih inget gombalan kamu yang dulu gak?”
“Yang mana ya? Kayaknya gombalan gue ke elu banyak deh”
“Yang itu tuh, waktu kita masih di sekolah, terus kita duduk-duduk didepan pos satpam sambil nunggu jam les aku..
Terus kamu nanya sama aku, hal apa yang aku milikin yang bisa membuat aku merasa sempurna..
Disitu ya aku jawab suka-suka aku, kaya bisa jadi dokter atau bisa ngelanjutin S2 semuda mungkin.
Dan pas aku tanya balik sama kamu, apa sih yang pengen kamu milikin biar kamu merasa sempurna? Dan kamu ngejawab, ka..”
“Kamu milikin aku seutuhnya pun itu udah lebih dari sempurna buat aku Bim” jawab gue memotong perkataan Bimbim.
“Nah tuh inget… Hahaha disitu aku langsung awkward banget Dit! Geli sih, tapi gimana ya…”
“Tapi suka kan?”
“Hahaha itu gombalan yang paling aku suka dari kamu”
“Aduh jadi malu~ Kok kamu masih inget sih? Radit kira udah lupa.
Coba..Coba.. Kamu masih inget gak waktu dulu kamu ngasih Radit hadiah anniversary sebuah buku kecil”
“Iyaaaaa… Aku inget”
“Terus kamu bilang, bahwa itu buku hadiah dari kondangan. Sialan, gue dikasi barang bekas!”
“Hahahaha biar atuh.. Yang penting kan isinya”
“Tapi tau gak Bim, buk..”
“Gak tau" kata Bimbim langsung mencela
"YEEEEEE PRET! Denger dulu maen langsung jawab aja ah. Basa basi itu teh. Gak romansa lagi nih jadinya”
“Hahahaha iya iya maaf maaf”
“Tau gak Bim, sampai sekarang buku itu masih sering gue baca, semua hal-hal kecil yang kamu tulis tentang kita rasanya ngebawa gue balik lagi ke-zaman waktu kita masih bareng. Diantara semua hadiah yang kamu kasih, buku itu yang paling gue suka”
“Tuh kan, dikasi buku bekas kondangan juga suka kan…”
“AH SIALAN LO! GAK ROMANTIS AH! PADAHAL GUE UDAH KAYA INDIA-INDIAAN GINI NGOMONGNYA!”
“Hahahaha, aktor Three Idiots-nya jadi sewot..”
.
Bimbim yang seperti inilah yang menjadi alasan kenapa gue gak pernah bisa melangkah dari tempat gue terjatuh untuk yang pertama kali ini.
“Bim, kalau es krim tadi adalah perasaan Radit yang coba Radit tunjukkin sama kamu. Apa kamu bakal tetep ngebuang es krim itu Bim?”
Gue mencoba memberanikan diri bertanya tentang es krim tadi sama Bimbim. Ntah kenapa rasanya gue pengen banget untuk bisa mastiin sama Bimbim jika suatu saat gue menyatakan perasaan ini lagi sama dia, apakah dia bakal mengacuhkan gue kaya waktu dia membuang es krim itu tadi pagi?
Bimbim tampaknya tidak menjawab, iya hanya menghela nafas. Untuk yang satu ini gue gak bisa dan gak berani menerka apa yang ada dalam pikiran Bimbim sekarang. Mungkin terlalu naif dan egois rasanya untuk bisa berkhayal bahwa Bimbim akan menyatakan perasaan yang sama seperti apa yang gue pikirin sekarang.
.
“Mungkin juga Dit” jawab Bimbim pelan tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya kearah gue.
“Hmm… Iya iya Bim, Radit ngerti kok” kata gue sambil menatap lirih kearah Bimbim
“Kalau misal dulu waktu aku masih sama kamu, dan tiba-tiba mantan aku melakukan hal yang sama seperti apa yang kamu lakukan sekarang, mungkin aku akan melakukan hal yang sama juga seperti apa yang aku lakukan tadi pagi.”
“Hmm.. Gue ngerti kok Bim. Kamu memang yang terbaik yang pernah Radit punya. Bodoh rasanya kalau dulu Radit suka susah ngasi kamu sebuah kepercayaan. Mungkin niat Radit adalah gak ingin kamu diapa-apain sama yang lain. Tapi mungkin malah itu juga yang ngebuat kita jatuh dalam cerita yang gak pernah gue bayangkan bakal seperti ini” Kata gue mantap kosong kearah pemandangan dago malam hari.
“Kalau suatu saat kamu udah nemuin hati kamu yang baru, tempat berlabuh kamu yang baru. Kemudian aku datang untuk sekedar meminta izin bersinggah lagi dihati kamu, apa yang kamu lakukan Dit?”
.
Dan Terjadi Lagi…
Bimbim menanyakan sebuah pertanyaan luar biasa yang membuat gue merasa seperti lawan main dari sang maestro catur dunia, KASPAROV. Tidak bisa berkutik, dan penuh dengan keringat basah karena gak tau lagi harus kabur kearah mana.
“Mungkin hal yang sama kaya yang kamu lakukan sekarang..”
“Hahahaha nah kan.. Kenapa ya.. Kita yang sama gini malah kepisah gini..”
“Ngg.. Bim.. Please Bim..”
“Hahaha iya iya tau maaf maaf, gak usah galau lagi ya Dit..” kata Bimbim sambil ngelus-ngelus-iseng kepala gue.
“Aaaaaaaaaaaa Bim, sudah sudah. Jangan memancing untuk terjadinya huru-hara dihati gue deh Bim..”
“Hahaha bodo dasar.”
.
===
.
“Ngg.. Jadi Bim, es krim Radit.. Jadinya tetep kamu buang?” gue memberanikan diri bertanya sekali lagi
“ *sigh*.. Iya Dit. maaf ya :)” Bimbim menjawab dengan helaan nafas yang panjang
“That’s oke.. Radit cuma mau ngelepasin semua beban ini aja kok Bim, makasih juga udah mau ngedengerin tanpa melibatkan logika sama sekali ya Bim.
Maaf yaaa kalau Radit udah nyakitin Bimbim berkali-kali..
Maaf juga Radit udah ngecewain dan mensia-siakan seseorang yang luar biasa sekali buat diri Radit ini.
Walau hati ini harus tetap seperti ini, menangis menahan perih melihat kamu bisa dengan hangatnya menyambut dia yang lain setelah kelelahannya menjalankan hari-hari itu, Radit mencoba ikhlas kok Bim. Anggap aja itu yang harus Radit bayar untuk menebus kenangan-kenangan yang mendewasakan Radit hingga sekarang ini"
.
Gue genggam tangan Bimbim malam itu, merasakan kembali hangatnya jari-jemari dia yang kini mengisi kekosongan diantara jari-jemari gue. Bimbim hanya terdiam mendengar semua kata-kata yang gue ucapkan barusan.
Pundaknya bergetar, genggamannya semakin erat.
Bimbim mulai menteskan kembali air matanya.. Gue tarik tangannya, gue peluk erat tubuhnya. Tangisan Bimbim semakin keras malam itu, memakan semua keramaian restoran yang perlahan mulai menghilang. Mengheningkan setiap cengkrama antara bintang dan bulan malam itu.
Hari ini, gue harus belajar hal baru lagi dari Bimbim. Ada sesuatu yang tak mungkin kau dapatkan lagi sebesar apapun penyesalanmu.
Jika ini memang yang terbaik buat gue dan Bimbim, gue harus bisa menerima ini layaknya dulu gue menerima kehadiran dia mengisi hari-hari kosong gue.
Hari itu gue menangis dalam hati, semakin erat genggaman Bimbim, semakin erat pelukan gue, semakin deras juga hujan yang turun dihati ini. Seakan kemarau panjang atas semua kerinduan ini hilang disapu hujan satu hari. Basah dan menenggelamkan segala kenangan.
Bim..
Kalau kamu sedang membaca ini, izinkan Radit berbicara dari hati-kehati antara hati Radit dan hati kamu Bim.
Kalau nanti suatu hari kamu merasakan kebahagian yang amat sangat dengan dia seperti apa yang Radit dan kamu pernah rasakan dulu. Maka izinkan Radit untuk menitipkan rasa sayang Radit ini sama kamu.
Cukup simpan dalam hati, kunci didalam sana, biar tidak ada orang asing yang membukanya lagi.
Dulu cintaku tumbuh dari hatimu.
Dan sekarang biarkanlah ia mati terkubur jauh didalam situ.
Aku titip pria rapuh itu ya Bim. Seseorang bernama Radit yang pernah mencintai kamu secara luar biasa ini. Biarkan ia diam hingga mati disana dan hanya kamu yang pernah tau bahwa dia masih ada disitu.
Hingga nanti cintamu sudah benar-benar tidak bisa dibagi lagi.
.
===
.
Setelah pelukan panjang itu, gue dan Bimbim memutuskan untuk mengakhiri pertemuan malam ini. Pertemuan yang mungkin jadi pertemuan terakhir kita.
Malam sudah terlalu larut, restoran sudah terasa semakin sepi. Gue pergi kearah kasir mencari Ikhsan untuk sekedar membayar bon bajingannya ini. Tapi disana gue gak ngeliat ada batang hidungnya tuh anak.
.
"Maaf mba, Ikhsannya kemana?” tanya gue kepada seorang kasir.
“Mas Ikhsanya lagi keluar. Ini mas Radit ya? Kata mas Ikhsan, mas Radit kalau mau pulang suruh duluan aja. Bonnya lain kali aja”
Ikhsan kampret!! Gue kira bill ini bakal dia ikhlasin aja, ternyata cuma di pending sampe besok. Teman macam apa. Hih…
Akhirnya gue berjalan menuju parkiran sambil sedikit bercengkrama dengan Bimbim. Ditengah perjalanan menuju parkiran motor, mendadak Bimbim meneriakkan sesuatu,
“AAAAAH!! Ada yang ketinggalan.. Bentar,bentar ya Dit”
“Ketinggalan apaan? Ya udah gih gih.. Gue ngeluarin motor dulu. Pikun ah lu dasar”
.
Bimbim bergegas kembali kelantai atas. Ntah apa yang ketinggalan. Dasar pelupa, masih aja sama kaya dulu.
Habis benerin jas ujan diatas motor, gue mendadak panik gara-gara kunci motor gue gak ada di saku. Lhaaa gue taroh dimana ya..
Bimbim yang baru kembali dari perantauannya mencari barang yang ketinggalan itu mendadak keheranan melihat gue yang mulai panik.
“Kenapa Dit?”
“Kunci Bim. Kunci..”
“Kunci hati?”
“Dih! Sempat-sempatnya ngegombal lu”
Bimbim malah tertawa dan gue makin sibuk nyari kunci motor yang keberadaanya terasa hilang dari muka bumi ini.
Tapi mendadak tukang parkir dateng nyamperin gue. Menyodorkan sebuah kunci motor. Ternyata kunci motor gue ngegantung di motor dari sejak pertama gue dateng ke restoran ini tadi!.
“PELUPA IH”
-TAMAT-
NB: Kita adalah nyaman yang di pisahkan oleh keternyamanan itu sendiri. Tepat di Anniversary kita dulu dengan bodohnya aku berkata “kita udahan yah Bim” ya mungkin aku terlampau nyaman sehingga membuatku ingin sesekali pergi dari zona nyamanku. Tanpa bisa kupungkiri ketika aku kehilangan nyamanku, aku kembali ingin merasakannya lagi. Ini sepenggal cerita tentang kesalahan termanisku, kesalahan yang membuatku dewasa dan tumbuh sebesar ini sekarang.
Ucapan Terimakasih Dari Penulis:
Untuk sahabat-sahabatku: Ikhsan Ainur Rofiq, Arioka Daura Raditya, Syiva Radiatul Zahara dan adik ku “L” serta semua yang dengan setia membaca setiap tulisanku. Ini Cerbung perdanaku yang bisa aku selesaikan sampai tamat hehe..
From : Cerita Kaum Pelangi

No comments:
Post a Comment