My Sweetness Mistake Part 6
By. Robynokio
Belum..
Belum saatnya untuk mengucapkan rasa sayang ini sama Bimbim. Setidaknya gue harus menghormati hubungan yang sedang ia jalani ini. Dan seharusnya gue juga sadar, gue adalah kerikil kecil dalam perjalanan cinta mereka.
“Oke pangeran.. Ayo naik ke motor"
"Ih apaan deh kamu” sanggah Bimbim sambil mencubit pinggang gue.
“Udah?”
“Udah.. Yuk”
“Kalau udah ya turun dong masa diem aja”
BLETAK!! satu pukulan keras Bimbim mendarat di helm gue. Hahaha gue cuma bisa ketawa-ketawa kecil. Kangen banget rasanya sama suasana kaya gini, walau Bimbim terlihat lebih kaku dan menjaga jarak, tapi setidaknya ini sudah lebih dari cukup buat gue.
Mungkin Bimbim bukan yang terbaik yang Tuhan berikan saat ini buat gue, tapi dari Bimbim gue banyak belajar hal baru, yang bener-bener ngebuat gue menjadi sosok pribadi sebesar ini sekarang. Dia adalah alasan gue berani untuk bertindak. Dia adalah alasan utama kenapa gue belum beranjak sedikitpun dari tempat ini. Takkan ada cinta yang dapat merebut hatiku.. Kecuali Dia.. – Serious-
Lagu berjudul ‘Kecuali dia’ ini ntah kenapa mendadak terngiang-ngiang dibenak gue hari itu.
====
“Sampe Pangling gue sama jalan didaerah sini Bim”
“Udah lama gak kesini ya?”
“Yup.. So long long ago..”
“Katanya mau silahturahmi, mana buktinya? Kok gak dateng-dateng"
"Takut Bim..”
“Takut? Sama siapa? Mamah? Papah?”
“Takut kalo silahturahmi hati gue malah ketinggalan disana"
“Hahahaha apa sih, makannya move on Dit”
“Hehehe"
.
Makannya move on Dit..
Makannya move on Dit..
Makannya move on Dit..
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAKKKKK…. Ntah kenapa sakit rasanya mendengar kata-kata itu dari seseorang yang paling nggak pengen gue denger. Gue cuma bisa tertawa yang ntah karena apa gue tertawa.
Kamu dan aku layaknya bintang dan bulan Bim. Dulu kita saling bersaut-sautan, saling melengkapi kekurangan masing-masing, tapi kini tampaknya bulan sudah tak merindukan bintangnya lagi.
Layaknya senja yang sudah tak merindukan jingganya.
Layaknya hujan yang sudah tak menghasilkan pelangi.
Layaknya musim panas yang tanpa sedikitpun liburan didalamnya.
Selengkap-lengkapnya gue hari ini, tanpa lo Bim.. Indah gue gak akan pernah mencapai sempurna.
.
"Bentar ya Bim mampir dulu.. ”
“Loh ngapain?”
“Kalem"
Gue parikirin motor gue di alfamart terdekat.. Gue berharap barang yang gue cari ada disana. Selain itu kasir disini ganteng-ganteng, jadi belanja disini lamapun gue ikhlas dunia akherat.
Selang 10 menit gue balik ke motor membawa keresek putih kecil bertuliskan Albi. Logo Lebah Alfamart yang terkenal itu.
Hmm.. minimarket aja logonya gambar lebah.
“Ini Bim.. Sorry lama"
Gue acungkan 1 buah Es Cornetto pada Bimbim dengan sedikit senyum yang gue paksakan. Bimbim cuma bengong sambil membawa es krim yang gue kasih tadi.
"Ini apa Dit”
“Bukan apa apa kok”
“Tapi tapi tapi…”
.
Belum selesai dia berbicara, gue udah keburu pake helm dan menjalankan motor butut gue. Sayang… Perjalanan menuju Dago nggak pernah sehening ini sebelumnya. Memang benar, akan datang suatu ketika dimana pertemuan kamu dan aku lebih hening ketimbang pertemuan kamu dan aku saat pertama kali dulu.
===
Gue dan Bimbim mungkin gak terlalu banyak bicara siang itu. Tapi jauh dalam hati gue, gue berteriak-teriak memanggil hati Bimbim yang dulu sempat bercengkrama akrab dengan hati ini. Tapi tampaknya dia tak menoleh, bahkan mendengarpun tampaknya tidak.
Ada apa Tuhan? Apa teriakanku kurang keras? Apa dia sudah tidak mendengar lagi?
Hari itu Bimbim sama sekali tidak mendekapkan dagunya dipundak sebelah kanan gue. Dia bahkan gak memegang baju gue saat motor ini berjalan. Dia lebih memilih memegang gagang jok belakang motor yang jelas-jelas gue tau kalau dia benci melakukan itu.
We are stranger now. Really really deep stranger.
Dulu pernah ada kisah saat kita masih pacaran, ketika Bimbim meminta izin pergi dengan teman yang notabenenya gue tau bahwa Bimbim pernah suka sama dia.
Dan sudah jelas gue yang masih labil saat itu gak mengizinkan Bimbim untuk pergi, tapi Bimbim malah marah dan menyuruh gue untuk percaya sama dia.
Dan sekarang sudah terbukti, Bimbim memang cowok yang sangat setia kepada pasangannya. Ia rela melakukan hal yang tak ia suka demi menjaga kepercayaan pacarnya.
Bimbim memang luar biasa.
Di luarnya biasa, didalamnya bikin nelangsa.#eeetttdah
.
Sejam kemudian kita sampai direstoran temen gue.
Di restoran yang tanpa sadar akan menjadi saksi bisu atas kisah yang bakal merubah hidup gue selamanya..
-Bersambung-
[Next]
From : Cerita Kaum Pelangi

No comments:
Post a Comment