Sunday, 13 March 2016

MSM by Robynokio - Part 08 - [Part Story]



My Sweetness Mistake Part 8
By. Robynokio

Gue masih inget.. malam itu… Ketika Bimbim benar-benar menangis mengeluarkan air mata, ada satu lagu dimana lagu itu sengaja dilantunkan terus-terusan di speaker cafe oleh Ikhsan malam itu. Lagu Alvaro Pierri yang berjudul Lovely Memories.

I Really love this song, you better hear that song until this story fall to the end.

Untuk Bimbim.

.

====

.

Duduk berdua sama Bimbim dengan ditemani cahaya lilin ini rasanya mengingatkan gue akan kenangan-kenangan manis yang telah kita lalui bersama dulu.

Bukan.. Bukan, gue bukan melakukan ritual babi ngepet bareng Bimbim, bukan. Tapi ini tentang beberapa kenangan yang memang nggak akan bisa gue beli dan gak akan bisa gue dapetin lagi. Perihal buka puasa bareng di pinggir jalan ataupun juga perihal makan malam bareng-bareng di EMPIRE (emperan).

Sakit rasanya kalau gue harus melihat sosok luar biasa didepan gue ini udah bukan menjadi sosok yang teramat luar biasa buat gue seutuhnya. Dia kini hanya luar biasa bagi hati yang sejatinya selalu meronta ditiap malamnya ini. Sungguh jarak yang paling jauh bukanlah jarak diantara kedua belah badan, melainkan jarak diantara kedua belah hati.

.

“Bim.. Makasih ya udah mau nyempatin waktu buat dateng kesini, mungkin sebagian besar rasa terimakasih ini harus gue tunjukkan buat Ikhsan juga, karena kalau gak ada dia, mungkin gue gak akan bisa ngerasa sebahagia ini sekarang”

Bimbim cuma terdiam menatap gue. Dari sorot matanya, gue tau ini bukanlah keadaan yang dia inginkan. Dari sorot matanya, gue tau beban sebesar apa yang Bimbim emban hingga dia berani melangkahkan kaki bersama gue melawan janji pada dirinya sendiri hari ini.
Dari sorot matanya.. Gue tau ini bukan Bimbim yang seceria dulu lagi. 

Bimbim cuma tersenyum, sesekali ia memalingkan pandanganya dari mata gue. Sesekali Bimbim menghela nafas, seakan beban yang ada dihati dia gak akan pernah habis walau sehebat apapun gue menghibur dia malam ini.

Malam itu… Ditemani oleh lagu Lovely Memories dari Alvaro Pierri, gue dan Bimbim lebih banyak terdiam. Terdiam pada cerita yang sejatinya tak pernah kita harapkan datangnya. Cerita yang menceritakan sebuah perpisahan yang dipisahkan jarak tak kasat mata yang benar-benar menyiksa dan menyayat logika hinga ke akar-akarnya.

.

“Dit.. ”

“Iya Bim..?”

“Kamu tau apa yang ada dipikiran aku sekarang?” kata Bimbim parau, matanya mulai berkaca-kaca. 

Melihat Bimbim yang menahan tangis ini, melihat Bimbim yang setegar ini, ingin rasanya gue bangkit dari tempat duduk ini, mendatangi Bimbim di sudut meja depan dan perlahan memeluk dia sembari berkata bahwa semua bakal baik-baik aja. Tapi seakan ada paku yang menghujam seluruh tubuh gue malam itu, gue hanya bisa terdiam melihat dia menahan sakit yang teramat luar biasa dari sisi meja.

“Kenapa kamu harus dateng lagi Dit? Kenapa?” Mata Bimbim mulai memerah.

“Apa gak cukup kamu nyakitin aku malam itu? Apa gak cukup aku harus melewati cerita dimana aku sendiri gak pernah mau menyentuh hari itu? Kamu pikir aku gak sakit apa Dit? Aku kira malam itu malam anniversary kita… Tapi nyatanya apa? Senyum aku malam itu ancur gara-gara kamu Dit, kamu gak tau sesakit apa aku harus menahan perasaan yang benar-benar gak bisa aku ungkapin malam itu? 

Kamu pikir aku menangis karena apa? Aku udah gak tau harus berkata apa Dit, aku gak tau harus bagaimana. Aku udah terlalu sakit malam itu.. Kamu yang paling aku sayangin, kamu yang paling aku banggain sama temen-temen aku, kamu yang paling menarik dibanding laki-laki lain, ternyata harus berkata seperti itu sama aku? 

Sakit Dit.. Sakit..”

Air mata Bimbim mulai mentes dipipi kiri. Keramaian cafe malam itu seakan gak ada lagi yang terdengar ditelinga gue selain helaan nafas Bimbim yang terengah-engah. Hati gue berontak, seakan dia berperang habis-habisan dengan logika meminta bibir untuk berbicara perasaan yang sebenarnya. 

.

“Kamu fikir aku gak menangis ditiap malam Dit? Kamu fikir aku gak menahan air mata ini?

Aku sampai harus rela menyibukkan diri dengan sangat-sangat luar biasa hanya agar pikiran ini gak mengingat kamu sedikitpun. 
Aku hancurkan tubuh aku sendiri dengan jadwal yang luar biasa padatnya hanya untuk bisa melewati hari sehingga aku tak menyadari kamu gak disitu lagi.

Kamu jahat Dit.. Kamu jahat..
Kenapa orang yang paling aku sayang bisa sejahat ini? Kenapa orang yang aku sayang bisa lebih jahat daripada orang-orang yang aku benci? Kenapa Dit? Jelasin sama aku!”

Jatuh sudah.
Jatuh sudah air mata Bimbim malam itu. Air mata paling deras dan paling menyakitkan yang pernah gue lihat selama hidup gue sampe detik ini. Seakan Tuhan ingin mengajari, bahwa ada hujan yang lebih deras ketimbang hujan yang sejatinya selalu dijatuhkan langit. Ya.. Hujan dari sudut gelap mata Bimbim malam ini.

Gue mengambil tisu dan mulai menyeka air mata yang mulai membasahi pipi bulatnya itu. Tapi Bimbim menolak, ia mengambil tisu itu dan menyeka air matanya sendiri. Seakan aku tak boleh menyentuh pipi tempat dimana aku selalu menanti untuk pulang itu dulu.

.

“Bimbim.. Mungkin jika ada satu hari dimana Radit dikasi kesempatan buat mengulang hari, Radit bakal milih malam anniversary kita itu.. Memeluk kamu yang tersenyum malam itu, memanjakan kamu yang tampil luar biasa hanya untuk melewati malam sepi itu. 

Gak peduli harus berlari ke-ujung dunia, gak peduli harus menyelam hingga kedasar neraka, semua bakal Radit lakuin untuk mengulang satu hari itu. 

Radit sayang kamu. Berkali-kali Radit mencoba mencari sosok pengganti, semua selalu jatuh lagi sama kamu, Bim." 

.

Kita berdua terdiam, Bimbim hanya bisa menutup kening dengan kedua tangan kecilnya, menghalang sinar rembulan malam itu masuk dan menerangi kedua mata manisnya yang mulai basah oleh air mata. 

Tuhan.. 
Maafin Radit malam ini Tuhan. Sosok malaikat yang dulu engkau kirimkan buat aku, buat mendewasakan aku, kini aku buat menangis yang teramat sangat. Sosok kecil yang dulu selalu menghiasi tiap siang dan sore pulang sekolahku, sosok kecil yang rela berjalan dijalanku hanya untuk menemaniku hari itu, kini menangis menahan sakit karena ulahku sendiri. 

Kesalahan terbesar aku adalah meninggalkan kamu Bim. Meninggalkan malaikat yang hidupnya sungguh luar biasa bagi insan lainnya.

.

"Bim.. Dulu Radit masih punya janji sama Bimbim, dulu ditengah panasnya terik siang itu, ditengah perjalanan kita menuju tempat les kamu, kita mampir sejenak di mini market. 

Kamu merengek minta dibelikan es krim kan Bim? Inget ga? 
Tapi siang itu Radit lagi gak punya uang sama sekali, bahkan untuk minum pun Radit hanya bisa membeli satu.. Itupun untuk kamu Bim. 

Rasanya kecewa banget gak bisa ada untuk cuma beliin kamu satu potong es krim itu. Mungkin saat itu kamu bertindak dewasa dengan mencoba memaklumi keadaan kita. Tapi dari sorot matamu saat tau aku kembali dari kasir tanpa membawa sepotong es itu, aku tau Bim.. Kamu kecewa luar biasa.

Hari ini, aku bawa es krim itu. 
Maafin Radit saat itu, Bim..”

Suara gue mulai parau.. SIALAN!! Jangan.. Jangan sampe… Jangan sampe ada air yang keluar dari mata gue malam ini! 
Bimbim hanya tertunduk, sesekali pundaknya bergetar karena isak tangisnya yang ia tahan.

Kita tediam..
Keheningan seakan menyelimuti lingkungan sekitar meja kita. Seakan kesepian hati gue, dan kesepian hati Bimbim gak akan bisa menandingi kesepian yang Tuhan berikan malam ini.

.

.

.

.

.

“Es krimnya udah aku buang Dit.”

JEGEEER!!! Mendengar itu serasa bulu kuduk gue merinding. Rasa bersalah gue semakin besar. Pikiran gue kacau. Gue merasa bahwa kesalahan gue ke Bimbim ini udah mencapai taraf yang paling fatal..

-Bersambung-

[Next]

From : Cerita Dunia Pelangi

No comments:

Post a Comment