Mate That Leads To Love (Part 1)
By : JeLo
"Lepasin tangan gue!" Ucapku meronta-ronta pada Fareed. "Gue malu diliatin orang banyak! Dan tingkah lo setahun belakangan ini udah bikin malu gue," sambungku.
Fareed hanya memandangku cuek. Sebenarnya dia adalah temanku dari sejak kecil dan dia adalah seorang gay --menurut penuturannya 3 tahun lalu. Pada awalnya aku biasa saja, tapi setahun belakangan ini, sifatnya berubah total. Dia menjadi orang yang sangat mengerikan di mataku. Alasannya, karena dia selalu menggangguku -yang sudah jelas bukan seorang gay- dengan terus menggodaku. Dia menyatakan cintanya padaku hampir setahun lalu, dan aku sama sekali tidak menggubrisnya. Namun, dia selalu menganggapku sebagai kekasihnya, dengan sebutan "My Cute Bottom" yang dia sematkan padaku.
"Andrew Köhn yang tampan dan membuatku jatuh cinta, kamu ini adalah kekasihku. Jangan pernah menolak gandengan tanganku yang kokoh ini, my cute bottom. Aku ini your handsome top. Jangan membantah!" balasnya dengan gaya bahasa memuakkan. Ada kantong kresek? Rasanya aku mau muntah saja mendengarnya.
***
Fareed Laurence. Dia adalah temanku dari sejak kecil, bahkan dari bayi mungkin. Dulu, dia adalah seorang pria tampan yang membuat semua wanita terpesona akan ketampanannya. Ibunya yang berasal dari Maroko itulah yang menurunkan wajah rupawannya. Sebenarnya ayahnya juga tampan. Dia berasal dari London dan bertemu dengan ibunya saat kuliah di Perancis dulu. Kenapa mereka bisa tinggal di Indonesia? Karena ibu kami adalah teman akrab -kalau bahasa sekarang itu 'best friend'- semasa kuliah dan akhirnya ibunya Fareed pindah ke Indonesia setelah ibuku -yang berasal dari Swedia- menikah dengan ayahku -yang merupakan keturunan indo-jerman yang tinggal di Jakarta- sekitar 20 tahun lalu. Dan akhirnya, aku dan si menyebalkan Fareed lahir pada saat yang hampir bersamaan. Dulu, dia sangat baik dan penyayang. Tapi sifat genit yang mulai Fareed tunjukkan padaku setahun belakangan ini merubah image-nya menjadi mengerikan.
***
Kami sedang berada di kamarku. Dia menginap malam ini dengan alasan tidak logis. Dia bilang, "aku takut kamu digangguin hantu jahat yang mau ngerebut keperawanan kamu dari aku." Dan itu sudah kesekian ratus kalinya.
"Sayang, kamu gak tidur?" Ucapnya dengan panggilan memuakkan itu. Aku hanya menggelengkan kepalaku dengan cuek dan kembali menatap layar iPhone-ku. "My cute bottom gak boleh terlalu larut tidurnya, ntar kamu punya mata panda yang menyeramkan..." sambungnya lagi.
Baiklah, aku mulai muak dengan sikapnya yang mulai menggodaku lagi. "First of all, jangan panggil gue dengan sebutan sayang, ataupun my cute bottom. Kedua, gue cuman bilang 'aku-kamu' sama pacar gue doang. Please berhenti bersikap konyol! Gue pengen lo yang dulu balik lagi,"
Dia tertawa mendengar ucapanku. "Aku gak akan berhenti panggil kamu kayak gitu. You're my boyfriend, sweety..." ucapnya sambil mencolek daguku yang langsung kutepis. "Oh iya, ada yang pengen aku bicarain masalah kelanjutan hubungan kita."
Aku mulai penasaran. Ekspresi wajahnya berubah serius seketika. "Jadi gini..." ucapnya sambil menyenderkan tubuhnya di sampingku. Aku hanya menatapnya dengan seksama. Ternyata dia lebih tampan daripada yang aku bayangkan. Mata abu-abunya, rambut coklat terangnya, bahkan hidung mancungnya. Apa-apaan sih aku ini? Baiklah, lupakan. "Kedua orang tua aku mau jodohin aku dan aku bakal nikah sebentar lagi."
.
..
...
To Be Continue . . .
[Next]
From : Cerita Kaum Pelangi

No comments:
Post a Comment