Friday, 26 February 2016

"Tentang John Dan Masa SD" by Yb20+ Part 03 [Part Story]



Tentang John Dan Masa SD (Part 3)
By. Yb2O+

kubuka album biru 
penuh debu dan usang 
kupandangi semua gambar diri 
suci bersih belum ternoda 
pikirku pun melayang 
dahulu penuh kasih 
teringat semua cerita orang 
tentang riwayatku 
kata mereka diriku selalu di manja 
kata mereka diriku selalu di timang 
nada nada yang indah 
selalu terurai darimu 
tangisan nakal dari bibirku 
takkan jadi deritamu 
tangan halus dan suci 
telah mengangkat tubuh ini
jiwa raga dan seluruh hidup 
telah dia berikan 
ooh bunda ada dan tiada dirimu
kan selalu ada di dalam 
hatiku.... 
Bunda_POTRET 

Tepuk tangan meriah menyambutku.aku seperti lumpuh dan tak bisa menggerakkan kakiku untuk turun dari panggung.

"Ibu andai engkau ada di sini menemaniku di saat aku butuh kehadiranmu, lihat aku disini semua orang memujiku andai engkau ada ibu pasti bangga padaku bu.."tangisku dalam hati aku menahan air mataku sebisa mungkin untuk tidak menetes dan jatuh. beberapa saat kemudian. Aku kembali bisa menguasai ragaku dan perasaanku.

"itulah BUNDA sebuah puisi yang sangat mengharukan dari Ananda Wahyudin Mutaali, kita langsung saja memanggilkan peserta selanjutnya..." suara MC tak lagi kupedulikan. Aku melangkah menuju tempat dudukku semula,beberapa penonton terlihat menyorakiku dan memujiku

"Wahyu kamu pasti juara..!" 

"wahyu kamu hebat..!" aku cuma bisa tersenyum menanggapi mereka 

aku pun kembali bersama Alim dan John duduk di tengah-tengah mereka. 

"Wahyu, aku jadi mewek nih hiks.." sahut Alim mengekspresikan kesedihan nya.

"iya Yu, kamu tadi keren banget di panggung, aku juga ikut terharu.." John yang terbata-bata dengan kata-katanya sepertinya dia menyimpan kesedihan dibenaknya. 

"Wahyu anter aku ke toilet Yu?"pinta John akupun tak berani menolak 

"Lim ke toilet yu?" ujarku mengajak Alim juga.

"nanti ah, ini lagi seru deh, yaudah nanti aku nyusul.."jawab Alim yang sedang khusyu melihat peserta kelas 5 yang dengan lantang membacakan puisinya itu. 

Kini aku dan John berdua 

"katanya mau ke Toilet John kok malah kesini?" tanyaku heran John tak menggubrisku dia terus melangkahkan kakinya menuju belakang bangunan sekolah,dan langkahnya berhenti di situ. 

"kita mau apa John kesini?" lanjutku masih terheran, John menatapku dalam matanya nampak berkaca-kaca. 

"puisimu buat aku sedih Yu, hiks.." ucapnya, John terisak. Ya Tuhan John menangis,apa puisiku sesedih itu hingga kamu menangis John? 

"kenapa dengan puisiku John?" jawabku lirih "aku inget Mama,Papa dan adik-adikku Yu, kita terpisah bercerai-berai" ungkapnya, sepertinya John memperlihatkan kesedihannya yang mendalam aku jadi tak tega menatapnya.

"maaf John, apa Papa Mama mu telah bercerai?" 

"nggak kok Yu, Mamaku ada di Jakarta dia kerja disana sedangkan Papaku, dia ada di penjara.."lanjutnya. Ya Tuhan jadi selama ini John itu punya hidup yang rumit aku nggak menyangka kalau dia terpisah dari keluarganya dengan keadaan yang begitu rumit. 

"m... Maaf kan aku ya John aku, aku nggak tahu kalau.." ucapku terbata 

"iya Yu nggak apa kok, aku cuma kangen ajah sama mereka, kapan ya keluargaku kumpul lagi kaya dulu, ada Papa, Mama,Jesica dan Juan.." tatapan John menerawang jauh 

"maaf John aku lancang, memangnya kenapa Ayahmu bisa sampai di penjara?" akhirnya John mulai menceritakan tentang hidupnya dulu bersama keluarganya.

Sebelumnya John dan keluarganya tinggal di Batam, mereka hidup bahagia dengan Ayah John yang masih keturunan tionghoa itu tengah sukses mengelola toko elektroniknya yang terkenal itu, John dan keluarganya memang tak kekurangan harta benda atau pun kemewahan lainnya. Tapi dengan Ayah John yang berjiwa bisnis itu. Akhirnya mulai tertarik untuk bisnis Export import kayu, beberapa bulan kemudian mereka pindah ke Pekanbaru dengan alasan biar lebih dekat dengan kantor ayah John yang baru itu, Mama John dan anak-anaknya akhirnya menuruti saja apa yang dikatakan oleh suaminya itu. 

Aku masih menyimak kata-katanya. Sepertinya ada penyesalan di diri kamu John. "sabar ya John, kadang hidup memang berat tapi kita harus selalu kuat dan tegar menghadapinya"aku berusaha memberinya sedikit kekuatan. 

"oh ya selama di Pekanbaru, kamu punya teman-teman baru kah? Suasana nya sama nggak kaya suasana di batam?" lanjutku bertanya lagi. 

"suasananya enak Yu, ada hutan di sana damai, temen-temenku juga banyak, aku di sana belajar ngaji belajar sholat beda banget kaya di batam nggak ada yang mau mengajariku sholat, tapi sejak peristiwa kerusuhan Mei lalu itu,Peristiwa berdarah itu banyak sekali warga-warga tionghoa di bantai,penjarahan pembakaran toko-toko mereka. Tak kecuali Toko ayahku di Batam juga ikut di jarah masa. Sampai puncaknya Ayahku kemudian di tangkap Polisi dengan tuduhan Ilegal Loging, padahal setahuku bisnis Ayahku itu sudah berizin dan sah tapi aku juga nggak tahu kalau ayahku ikut terlibat dalam penyelundupan kayu-kayu dan penebangan Hutan lindung terlarang, sejak ayahku ditangkap, dan rumah ku disita, kita pindah ke rumah Oma di Batam, memang sih oma nggak keberatan kita tinggal disana, hampir satu bulan tinggal di Rumah oma. Tapi karena kasus yang menimpa Papaku itu bukan kasus yang kecil akhirnya papaku di pindahkan ke Rutan Salemba di Jakarta buat memproses kasusnya mau tak mau Mama juga harus ikut menyusul ke jakarta karena untuk mengikuti proses sidang dan tentunya untuk memberi dukungan pada suaminya itu. Beruntung ada kenalan papa ku di jakarta yang akhirnya Mamaku juga di ajak bekerja sama mereka karena untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya selama di sana, tapi nasib anak-anaknya kini jadi terpisah, aku sempat ikut mama ke jakarta karena mama yang selalu sibuk kerja dan sibuk mengurusi kasus papa akhirnya aku jadi terlantar, mamaku akhirnya menitipkan aku sama ibunya, sama nenek disini, di kampung jingga ini, sedangkan adik-adikku Jesica dan Juan Mama titip kan pada oma di Batam" tutur John menyampaikan masa lalu nya.

"Ya Tuhan kalian ngapain di sini berduaan.." tiba -tiba suara Alim mengagetkan kami. aku dan John jadi salah tingkah, 

"ohya Lim gimana lombanya apa udah diumumin siapa yang menang?" ucapku mengalihkan perhatian si Alim.

"iya itu udah mau di umumin, kalian sih di cariin ke toilet nggak ketemu taunya lagi mojok disini, yaudah yo kita ke acara lagi" ujar Alim. Aku melirikkan mataku ke arah John. John tersenyum simpul, sinar matanya kini udah berbinar tidak seredup waktu sebelum dia cerita tentang masa lalunya padaku.

Kini aku telah tau pribadimu John tapi di balik itu semua ada rasa berat yang membuatku ingin selalu di dekatmu, mungkinkah aku jatuh cinta padamu John mungkinkah aku akan seperti Alim yang akan mengejar-ngejar Subkhi demi cinta yang tak normalnya pada laki-laki hitam manis itu. Atau apakah aku akan memendam perasaan ini seumur hidupku padamu karena demi persahabatan kita yang tulus ini. Tapi di balik ini semua aku sadar cintaku bukan cinta yang wajar. Cinta pada sesama jenisku sendiri cintaku kepadamu John dan itu pasti. 

******

Aku kembali menduduki bangku penonton bersama Nenek John dan ibu Alim. 

"dari mana aja sih kalian, ke toilet kok lama banget" ujar Nenek John 

"kita, abis jajan nek iya kan Yu?" John beralasan pada neneknya aku pun ikut mengiyakannya. 

"Baiklah para tamu undangan dan wali murid sekalian, saatnya yang ditunggu-tunggu setelah tadi proses penjurian dan kini telah diputuskan siapa para pemenangnya untuk lomba puisi antar kelas ini,tentunya kalian semua tak sabar kan..?" suara MC yang menggema itu membuat para peserta harap-harap cemas termasuk aku. 

Sedari tadi John terus memperhatikan wajahku akupun berbisik. 

"apa sih lihatin aku mulu dari tadi..?" aku yang salah tingkah jadi tak tahu harus bicara apa padanya. 

"Wahyu kamu lucu deh pakai peci itu, mirip Presiden Sukarno hihihi.." John tertawa kecil berbisik. Kemudian dia mengambil peci di kepalaku dan memakaikannya kembali dengan posisi miring. 

"kaya gini juga bagus hehe.." Mungkin aku terlihat lucu dihadapannya,tapi biarlah paling nggak aku kini melihatnya bahagia dan sebentar itu dia melupakan air matanya yang beberapa saat lalu tercurah di hadapanku. 
aku melepaskan peciku dan memakaikannya ke kepala John. 

"tuh kan kamu lebih ganteng pakai peci ini hehe.." ujarku sambil memandangi tampang lucu John. Tapi John memang terlihat tampan dengan peci itu, aku bangga jadi temen mu John apalagi kalau jadi kekasihmu. 

"isss..!!Jangan di copot dulu ahh..!" cegahku aku menahan tangan John yang berusaha melepaskan peci yang tadi aku pakaikan di kepalanya. 

"malu Yu ahh.." tolaknya 

"Kalian ini becanda mulu sih, Wahyu itu di panggil kamu menang tuh.."Suara Alim menghentikan senda gurau kami. 

"apa Lim?aku menang?" ucapku terkejut 

"iya menang kalian sih nggak dengerin ada MC ngomong apa, kalian sibuk berdua mulu..!" omelnya. Ya Tuhan ternyata aku menang walau cuma Juara ke dua. 

"Buat para pemenang kategori tiga diharapkan naik ke panggung untuk penyerahan hadiah" ucap MC itu 

aku tak kuasa menahan haru ku. Tak terbayang kalau aku pulang nanti aku akan memberi kejutan pada ibu bahwa anaknya menang lomba. 

"selamat ya Wahyu kamu pantas mendapatkannya" seketika John memelukku kemudian dia berbisik di telingaku.

"meski seharusnya kau lebih pantas dapat Juara satu, tapi kamu adalah Juara di hatiku Yu.!" bisiknya. Perlahan ku lepaskan pelukannya. Ada yang aneh dalam matamu John mungkinkah engkau merasakan apa yang aku rasa, tapi mustahil kamu memiliki rasa itu kamu laki-laki normal John.kamu bukan gay seperti aku. 

"Wahyu ayo cepetan naik..!" Alim tak sabar seraya menarikku gemas 

"iya lim aku segera kesana..!" dengan tatapan yang tak terlepas dari pandangan John aku melangkah menuju panggung. 

"inilah para juara kita dari kategori tiga, dari mulai juara 3 Ananda Rima Melati dari murid kelas 5, Juara 2 Ananda Wahyudin Mutaali dari kelas 6A, dan Ananda Nurul Aini dari kelas 6 juga, kepada bapak kepala sekolah SD Negeri pelangi Jingga dipersilahkan untuk menyerahkan piala dan Hadiah untuk ke 3 peserta" nggak tahu apa yang aku rasakan ini yang jelas aku merasa bahagia kalau saja ibuku mungkin lengkap sudah kebahagiaanku saat ini. 

Setelah penyerahan hadiah aku turun ke belakang panggung untuk mengambil beberapa paket hadiah dan uang tunai.Aini juara pertamanya wajahnya nampak bersinar penuh kebahagiaan. 

"Wahyu selamat ya, aku tadi sampai nangis liat kamu tampil puisimu bagus sekali, oh iya ibumu nggak ikut? Mana dia dari pagi kok nggak kelihatan?" ucap Aini memujiku 

"ibuku sakit Aini, epilepsinya kambuh lagi" lirihku. 

"sabar ya Wahyu tapi harusnya kamu bangga tanpa ibumu kamu sekarang jadi juara, ayo kita ambil hadiahnya." aku dan Aini mengambil beberapa paket hadiah termasuk uang tunai ini, 

"terima kasih ya Bu Nurul" ujar aku dan Aini serempak, aku tak menyangka kalau hari ini aku akan dapat uang sebanyak ini. Bu Nurul tersenyum

"selamat ya Aini, Wahyu kalian anak pintar" ucapnya sambil menjabat tangan kami.

"Aini, kok dudung nggak ikut lomba ya? lagian dari pagi aku nggak lihat dia?"mendadak aku jadi ingat dia, Dudung yang biasanya menyaingi ku kalau soal lomba kini seperti hilang ditelan bumi. 

"Dudung lagi sakit Yu, semalam dia dirawat di puskesmas, tapi jangan bilang siapa-siapa ya kalau Dudung kena DBD." ujar Aini menjelaskan. 

"kenapa Aini?" tanyaku heran 

"nggak tahu Yu, mungkin Dudung terlalu gengsi untuk merasakan sakit padahal..," sesaat Aini terdiam wajahnya merah merona.

"padahal kenapa Aini?" kulanjut bertanya.

"Hai, di cariin taunya ada di sini" obrolan kami terhenti setelah John datang mencariku

"hai John" sapa Aini 

"Hai juga Aini, aku nyari Wahyu nih, anak-anak semuanya udah pada berkumpul di kelas buat makan bersama" ucap John 

"oh ya? Wahyu ayo kita ikut makan bareng.." akupun mengiyakan ajakan mereka dan bersama menuju kelas. Setelah dikelas aku disambut dengan ucapan selamat oleh anak-anak kelas 6A. Aku serasa bintang di kelasku walaupun aku bukan juara pertama tapi anak-anak sekelas antusias memujiku, termasuk si Alim dia rela memisahkan diri dari kelasnya cuma untuk mengasih selamat buatku.

"selamat ya Yu, kamu emang its the best!" ucapnya

"makasih pujiannya Lim ini beekat doamu juga" jawabku

"berarti besok ada yang traktir makan-makan nih di kantin hehe.." aku pun menyambutnya hangat 

"oke tapi hari senin aja ya hehe.." setelah beberapa saat kemudian Alim pamit disusul kemudian Aini. kini tinggal aku dan John. 

"kamu nggak pulang John? nenek mu kasihan nunggu kamu diluar" 

"nenekku udah pulang Yu, dia udah pamit tadi sebelum kita makan-makan" 

"terus kamu nunggu apa?" aku menatapnya bingung, sedikit berharap mungkinkah John mau mengantarku pulang.

"umphh, aku mau nganterin kamu dulu" ucapnya mantap. Aku cuma bisa tersenyum bahagia melihatnya, aku merasa terharu ada orang yang seperhatian itu padaku.

"makasih ya John kamu memang temenku yang paling baik" satu hal yang tak akan terlupa perhatiannya , apa itu yang telah membuatku jatuh cinta? entahlah mungkin banyak hal yang memberatkan hatiku ini kepadanya.

"yaudah yuk! sebentar aku ambil sepedaku dulu ya Yu, kamu jangan kemana-mana nanti aku balik oke" ucapnya tersenyum.
Kalau ada yang aku sayangi selain keluargaku mungkin dia adalah John, apa dia memiliki perasaan yang sama padaku? entahlah aku tak tahu yang jelas kini aku cuma bisa berharap untuk terus bisa bersamanya

Kala terik matahari menyengat kulitku, sehangat itu aku merasakan debar-debar indah di dadaku, aku..dan betapa bahagianya hari ini dengan kehadiranmu John. Andai ini selalu dan selamanya, mungkinkah hidupku akan selalu bahagia karenamu? 

"Wahyu kita sampai ayo turun" ujar John dengan napasnya yang naik turun seraya mengerem sepeda yang kita naiki bersama.

"perasaan baru sebentar ya John kita sudah langsung nyampe" ucapku meragu

"sebentar apaan, lihat nih aku sampe capek gini, huft".
sahutnya kesal, sementara aku cuma bisa ketawa menanggapinya.

"Wahyu! Wahyu! "' tiba-tiba seorang bapak-bapak menghampiri kami dan kita terlibat pembicaraan serius.

"Apa ! ibu di larikan ke rumah sakit?!" Aku tak bisa apa-apa setelah mendengar ucapan Pak Darul bahwa Ibuku tadi pagi Epilepsinya kambuh lagi dan dia jatuh di kamar mandi.

Ya Tuhan semoga ini bukan cobaan darimu sebab aku tak kuasa menahannya,

"Ibu maafin aku bu.." rintihku, selama ini aku memang cuma bisa menuntutmu untuk jadi apa yang aku inginkan padahal penderitaanmu itu tak sebanding dengan jerih payah seorang anak kecil yang cuma ingin terlihat bahagia di depan teman-temannya.

Adalah aku anak yang egois itu tapi aku juga ingin ibu bahagia bukannya menderita sakit seperti ini.

"Wahyu, sabar ya? apa kita akan ke Rumah Sakit sekarang? ayo aku antar pakai sepedaku." tutur John, dia berusaha menguatkanku sembari mengelus punggungku dengan lembut.

"Wahyu nanti sama paman saja ke Rumah Sakitnya nanti Paman ambil motor dulu" Pak Darul tetanggaku yang baik itu dia yang selalu menolong keluarga kami saat dalam kesusahan, mungkin waktu pagi juga dia yang mengantar ibuku ke rumah sakit. 

"John, aku pergi dulu ya? makasih buat semuanya ya John kamu begitu baik padaku, salam terima kasihku buat nenekmu ya John" kedua mataku berkaca-kaca, aku merasa tak ada lagi yang mengerti perasaanku selain dia dan aku sadar aku terlalu berharap banyak padanya. Berharap untuk dia selalu ada di setiap aku membutuhkannya dan berharap untuk selalu terus di sampingnya.

"oke Wahyu semoga Ibumu cepat sembuh ya?" wajahnya memelas saat dia melepas kepergianku, mungkin John tak tega melihat anak seusiaku menghadapi situasi srperti ini padahal dirinya sendiri hidupnya malah lebih rumit dariku. Apalah arti penderitaanku John jika di banding dengan hidupmu yang terpisah dari keluargamu Ayah Ibumu, Adik-adikmu akupun tak bisa membayangkan jika aku jadi kamu John.

Di Rumah Sakit, 

"Manda?" aku terkejut ternyata dia sudah ada di sini untuk menunggui Ibu.

"gimana ibu Man?" lirihku aku melihati ibuku masih tak tersadarkan diri di ruang perawatan ini. Sementara Manda menungguinya di samping tempat tidurnya. Ibuku, mukanya penuh perban aku jadi tak tega untuk melihatnya.

"Ibu udah baikkan kok Din, tapi beberapa giginya patah mulutnya dijahit didalam bibirnya ada yang robek, Ibu jatuh tersungkur.." Manda kemudian menangis dan memelukku.

"aku takut ibu ninggalin kita Din aku nggak mau kehilangan Ibu aku nggak mau Din" rintihnya, apa yang di ucapkan Manda membuatku tak bisa menahan air mata ini akupun ikut menangis bersamanya.

"Ayah mana Man? apa dia belum tahu ibu disini?"

"Ayah lagi nyari pinjaman duit buat rumah sakit Ibu Din"

"terus kemana minjamnya Man?"

"Aku nggak tahu Din, mungkin ke Bank Desa atau ke Pak De Mahmud"

"Pak De Mahmud? apa dia masih mau meminjamkan uangnya pada Ayah, sedangkan mereka juga bermusuhan nggak mungkin dia mau meminjamkan uangnya sama Ayah, Pak De Mahmud itu nggak jauh beda sama anaknya si Dudung" tuturku beberapa saat kemudian aku hanya terdiam sambil memperhatikan keadaan Ibuku.

"Din, kamu kenapa? kamu laper? oh ya ini makan dulu tadi Paman Darul bawa makanan banyak" ucap Manda seraya membuka-buka bekal yang di bawa Paman Darul tadi.

"nggak Man! aku nggak laper tadi di sekolah aku udah makan sehabis acara lomba itu kita di bagiin makanan" 

"oh ya? makannya tadi Paman Darul mau nyusulin ke Sekolah kamu terus dilarang sama Ayah, Ayah khawatir takut mengganggu acaramu Din"

"terus gimana lombamu Din?" pertanyaan Manda membuatku terdiam

"Din kamu sakit? udah kamu nggak usah mikirin keadaan ibu, Ibu udah melewati masa kritis kok"

"Bukan itu Man, aku cuma, sebenarnya aku takut Ayah nggak dapet uang pinjaman itu, terus biaya Rumah Sakit Ibu gimana?"

"Aku juga nggak tahu Din, aku bingung kita doain aja ya semoga Ayah dapat uangnya, aku yakin Tuhan maha pemurah dan mau mendengar doa kita"

"Amiin.., Man?" aku mengeluarkan isi sakuku, Amplop cokelat yang didapat dari hasil menang lomba puisi itu aku perlihatkan pada Manda.

"apa itu Din?" ucap Manda penasaran.

"ini uang Man, jumlahnya Rp 500.000 aku menang lomba Man, hiks." aku tak kuasa menahan rasa haruku.

"jadi kamu menang Din? alhamdulillah ya Allah" Manda pun ikut terharu.

"oh ya terus uang itu buat apa? maksudku kamu mau apa kan dengan uang sebanyak itu?"

"tadinya aku kepikiran buat beli sepeda tapi setelah ibu sakit kaya gini..." tak kulanjutkan kata-kataku pikirku menerawang jauh, mungkin ini sudah nasibku mungkin angan-angan untuk bahagia itu jauh sudah terbawa angin. Sepeda yang kini didepan mata pun tak kuasa untuk aku dapatkan.

"sabar ya Din" lirih Manda seraya memelukku.

"Aku yakin suatu hari nanti kebahagiaanmu akan datang melebihi bahagianya mempunyai sepeda atau apapun yang kamu inginkan" mungkin Manda bohong padaku tentang ucapannya, ya Tuhan semoga itu tak cuma kata-kata yang di ucap Manda untuk menghiburku, lebih dari itu semoga itu sebuah doa yang baik untukku kelak semoga engkau mengabulkannya ya Tuhan.

"Wahyu, Manda!" Suara laki-laki itu mengakhiri pelukan kami

"Ayah!" jawab aku dan Manda serempak.

"Gimana ibu kalian?"

"Ibu masih belum sadar Yah, kata dokter nunggu sampe malem reaksi obatnya" jawab Manda menjelaskan.

"Ayah? Wahyu menang lomba puisi Yah" tuturku pada Ayah.

"oh ya? syukurlah Wahyu tapi sayang Ibumu sakit seperti ini, Ayah bingung harus bagaimana" mata Ayah terlihat putus asa seolah ada beban dan kelelahan yang ia harus tanggung.

"Ayah, Wahyu punya sesuatu buat Ayah" lanjutku, kuberikan amplop berwarna cokelat yang ku dapat dari Ibu Nurul waktu di sekolah.

"Apa ini Wahyu?" penasaran Ayahpun langsung membuka amplop itu.

"Uang, banyak sekali kamu dapat dari mana uang sebanyak ini!" ucapnya, Ayah seperti tak percaya dengan apa yang dipegangnya itu. 

"itu hadiah lombaku Ayah, sebenernya itu beasiswa buat aku masuk SMP nanti tapi Ayah boleh pakai kok buat biaya rumah sakit Ibu" mataku kembali berkaca-kaca. Manda seperti tak tega melihatku dia ikut mengeluarkan air matanya.

"Alhamdulillah ya Allah engkau maha pemurah dan penyayang, terima kasih ya nak kamu bener-bener berhati malaikat, Ayah janji suatu hari Ayah akan mengganti uangmu kalau Ayah nanti ada rejeki ya" serta merta Ayah memelukku dan kitapun larut dalam keharuan.

*****

Sudah dua malam aku menjagai Ibu di Rumah Sakit. Bersyukur keadaan Ibu sudah membaik luka di mulutnya pun kini tak begitu terasa sakit. Walau ibu kini cuma memakan bubur paling nggak Ibu sudah bisa berjalan sendiri lusa ibu sudah bisa pulang ke rumah. Malam ini aku dan Manda menjagainya, Manda dan Ibu sudah tertidur aku teringat kemarin siang Bude Milah -Ibunya Dudung- bolak-balik ke ruang perawatan sebelah utara. Apa Dudung masih dirawat di Rumah Sakit ya? sedangkan aku sendiri dua hari ini tak masuk sekolah aku jadi tak tahu kabar tentang dia terakhir aku tahu Dudung terkena DBD seperti apa yang di katakan Aini padaku dua hari yang lalu.

"ya Tujan DBD itu kan bukan penyakit yang ringan" gumamku, entah kenapa aku menghawatirkannya. Aku keluar dari ruang perawatan ibuku aku berusaha mencari tahu apa sih sebenarnya yang terjadi sama Dudung? apa separah itukah sakitnya.

"Astaghfirullahaladzim!" aku terbelalak dan menutup mulutku ketika kulihat dari balik jendela. Pasien anak laki-laki itu begitu kurus dan tak berdaya di kulit wajahnya terlihat bintik-bintik merah merata.

"Ya Tuhan itu Dudung! kok dia berubah jadi kurus begitu, kenapa dia ditinggal sendirian Ibunya kemana ya?" kucoba memasuki kamar itu. Ternyata benar dia memang sendiri Dudung tergolek lemah tanpa siapapun menjaganya.

"anak sombong! itukah balasanmu selama ini mana kesombonganmu itu hah..! lihat wajahmu tidakkah dulu kau selalu menghinaku sekarang dirimu sudah hampir mati" sepertinya iblis sedang mengelabuhi hatiku bagaimana kalau Dudung benar-benar mati, pasti semua dendamku akan terbalas dan nggak akan ada lagi anak sombong di sekolahku. Hmm, kenapa aku nggak melakukannya saja seperti apa yang aku lihat di Film atau Sinetron. Mendekapnya dengan bantal terus dia nggak akan bisa bernafas selamanya. Dudung kan memang sakit parah terus dokter pasti nggak akan curiga kalau dia mati di bunuh karena disini nggak ada orang yang melihatnya. Kasihan sekali nasibmu Dung semuanya akan segera berakhir disini.

Selintas aki tersadar.

"Astaghfirullahaladzim ya Allah aku mikir apa sih, nggak mungkin! aku harus pergi dari sini" Aku berusaha mengendalikan perasaan dan pikiranku , kucoba untuk melangakah dan keluar dari kamar ini, tiba-tiba.

"Wahyu" suara lirih itu menangkap basahku.

"Ya Tuhan kenapa Dudung sampai terbangun?" Aku tergugup.

[Next]

From : Cerita Kaum Pelangi

No comments:

Post a Comment