Friday, 26 February 2016

"Tentang John Dan Masa SD" by Yb20+ Part 04 [Part Story]



Tentang John Dan Masa SD (Part 4)
By. Yb2O+

"Wahyu.." suara lirih itu menangkap basahku.

"Ya Tuhan kenapa Dudung sampai terbangun" gumamku aku tergugup

"e.., i, i, iya Dung aku, aku" aku berusaha menengok namun tak berani melihat wajahnya, Aku menghela napas panjang dan perlahan mendekatinya.

"aku sedang menunggui ibuku di kamar sebelah dia sakit, kebetulan tadi siang aku lihat kamu di ruangan ini, terus aku sekalian memberanikan diri buat lihat keadaanmu Dung" Dudung memang tak pernah bertanya tentang keadaanku disini tapi sinar matanya mengisyaratkan itu padaku, dan aku menjawab atas pertanyaan yang tak pernaj dia ucapkan.

"Ibumu sakit apa Wahyu?" bibirnya terbuka suaranya lirih, suara yang dulu penuh kesombongan itu kini sama sekali tak kudengar dari mulutnya yang kering meretak itu, yang terdengar hanya bisikkan paraunya.

"Epilepsinya kambuh dia sudah dua malam dirawat di sini" lirihku

"yang sabar ya Yu, moga ibumu cepat sembuh" ucapnya datar, kemudian kita berdua terdiam lama aku sama sekali tak tahu apa yang harus ku bicarakan dengannya aku gugup aku menyesal telah memasuki ruangan ini aku juga menyesal karena sempat berpikiran jahat tentangmu Dung.

"Assalamualaikum..loh Wahyu, kok ada di sini? seorang wanita setengah baya datang memasuki kamar ini. Bude Milah -dia ibunya Dudung- sepertinya tadi dia habis pulang ke rumahnya untuk mengambil baju-baji dan makanan.

"ekh Bude.. aku tadi nggak sengaja kesini terus lihat ada Dudung jadi aku masuk buat menengoknya" jawabku salah tingkah.

"oh iya aku balik dulu ke kamar sebelah ya?" lanjutku pamit, setengah terburu-buru aku meninggalkan mereka dan kamar itu.

"Wahyu mau kemana?! tunggu jangan pergi dulu!" seru Bude Milah dia mencegahku.

"aku harus kembali Bude takut Ibu kenapa-napa"

"oh yaudah tapi sebentar dulu, ini ada makanan buat kamu cuma roti dan kue kecil sih, dibawa ya.. siapa tahu nanti malem kamu laper"

"makasih ya Bude, Bude baik sekali" sahutku dengan penuh rasa hormat.

"iya sama-sama Wahyu, oh iya insya Allah besok Bude mau lihat keadaan Ibu kamu ya nak Wahyu".

"iya Bude" aku mengangguk tanda setuju Bude memang baik tidak seperti suaminya atau anaknya si Dudung yang selalu memusuhi keluarga kami.

*****

Sebulan telah berlalu rasanya cepat sekali setelah keadaan ibuku pulih akupun kembali ke kehidupan normalku.

TENG TENG TENG..!!

Suara bel sekolah pertanda jam pelajaran pertama telah selesai. Anak-anak berhamburan keluar kelas untuk beristorahat.

"Wahyu..! ikut yuk main bola?" dari pagi john terus memohon padaku buat menemaninya main bola bersama anak-anak kelas 6 lainnya.

Sekali lagi aku menolaknya.

"Maaf John berapa kali lagi aku harus bilang aku nggak suka main bola, aku mau ke perpus, mau nyari buku yang berguna buatku" jawabku menolaknya, Sebenarnya aku nggak enak hati sama dia tapi mau bagaimana lagi aku memang tidak suka main bola.

"Maafin aku John.." hatiku bergumam aku berusaha tersenyum padanya agar dia tak marah.

"Ya udah aku pergi dulu ya Yu, kalau butuh apa-apa datang saja ke lapangan ya?" pungkasnya.

******

Kebahagiaan itu mungkin sederhana saja saat anak seusiaku mempunyai keluarga lengkap. Ayah, Ibu, Manda itu semua lebih dari cukup buatku. Perhatian keluargaku dan kasih sayang mereka adalah segalanya buatku walau kami hidup dalam keterbatasan dan kekurangan tapi itu semua tak menjadi penghalangnya. Aku bahagia apalagi setelah ada seorang Pangeran yang begitu membuat hari-hariku begitu penuh warna, akankah semua ini berubah?.

Hampir lima belas menit aku di perpustakaan aku mencari-cari buku yang menarik tapi tidak juga kudapatkan.

Hufft..

Aku melenguh napas panjang.

"Kenapa sih kamu pakai acara nggak masuk sekolah hari ini Lim, aku jadi nggak ada temen sekarang" gerutuku komat-kamit sendiri sembari ku mencari-cari buku di tiap sudut lemari Perpus.

"Wahyu..! lagi nyari buku apa dari tadi aku perhatiin sepertinya kamu lagi kebosanan ya?" sapa anak perempuan mendekatiku.

"Aini, iya nih.. aku nggak tahu buku-buku disini nggak ada yang menarik" jawabku, sejak acara lomba puisi itu sekarang Aini menjadi ramah padaku aku jadi suka tersanjung kalau berdekatan sama dia seperti ini.

"Wahyu, kemarin aku beli majalah Bobo edisi terbaru loh artikelnya bagus-bagus deh.. ada artikel tentang cara menanam anggrek, terus budidaya ikan hias ada juga artikel tentang kerusuhan waktu bulan Mei tahun lalu dijakarta itu, teeus cerita bergambarnya jufa bagus-bagus kamu mau baca nggak Yu? nanti aku pinjemin kalau kamu mau".

"mau banget Aini" ucapku riang.

"kita ke kelas yuk? majalahnya ada di tas aku" ajaknya, aku mengikuti langkahnya dari belakang.

"Aini? sudah lama ya kita nggak deket lagi kaya gini"

"iya Wahyu, aku juga kangen masa-masa dulu ada kamu yang selalu baik dan membantuku, umm Wahyu maafin aku ya selama ini aku salah mengikuti Dudung yang pengennya menang sendiri".

"oya Aini tentu saja aku maafin kamu, sebaliknya aku juga minta maaf ya kalau aku ada salah sama kamu" ternyata keinginanku untuk berbaikkan dengan Aini tercapai sudah. Aini bilang sebelum Dudung sakit mereka sempat bertengkar sampai akhirnya Dudung sakit pun Aini tak pernah menjenguknya.Sifat egois dan sombongnya Dudung membuat Aini tak tahan untuk keluar dari genk mereka.

"Hai Aini, kita ke kantin yuk aku laper nih" kedatangan Ratna menghentikan obrolan kami.

"Wahyu ini majalah nya kamu boleh kembaliin kalau sudah selesai ya? aku mau ke kantin dulu sama Ratna kamu mau ikut nggak?" Ujar Aini seraya mengeluarkan makalah dari tasnya.

"makasih ya Aini aku biar di kelas ajah baca majalah ini hehe.." jawabku meringis.

"kita ke kantin dulu ya Wahyu.." ujar Aini dan Ratna serempak.

Beberapa menit kemudian.

John datang tergopoh napasnya tak teratur dia sepertinya kecapekan habis lari atau mungkin habis main bola.

"Wahyu lihat aku bawa apa? tadaa.." ujarnya masih dengan napas yang tersengal, ditunjukannya sebuah bungkusan berisi buah nangka di kedua tangannya.

"Aku tadi beli ini loh satu buat kamu satu lagi buatku" seceria kata-kata yang keluar dari mulutnya dan yang penuh semangat hal itulah yang membuatku bahagia kalau di dekatmu John.

"Aku nggak suka nangka John" ucapku datar, aku yang sok sibuk membaca majalah yang dipinjamkan Aini padaku seolah tak menggubris pertanyaan John padaku padahal aku merasa senang dia memperhatikanku dan membelikanku buah nangka, tapi andai itu bukan buah nangka yang tak ku suka. Tatapanku tak bergeser dari buku ini meski sebenarnya meski sebenarnya aku ingin sekali melihat wajahnya dan senyumnya. Tiada seindah apapun di dunia ini selain melihat wajah dan ekspresinya kala dia sedang membuatku ge er.

"Hmm.. oke kalau nggak mau biar satunya aku kasih buat Alim saja" ledeknya.

"Kasih aja! Alim lagi nggak masuk kok" aku mencibir dan sekali lagi masih tak bergeming dari majalah yang separuhnya menutupi mukaku.

"Wahyu kamu baca apaan sih? serius banget dari tadi coba lihat!" John merebut paksa majalah ditanganku.

"hehe..dapet deh, ooh Boboo.. haha dari pagi dibela-belain nggak mau nemenin aku maen bola cuma gara-gara mau baca majalah Bobo aja haha.." umpatnya, mukaku seketika menjadi merah menahan malu.

John sini balikkin itu punya Aini nanti kalau robek Aini bisa marah padaku aku berusaha merebutnya kembali namun sia-sia John terlalu gesit untuk menghindarkan buku itu dari tanganku 

Eit..eit nggak kena kan..haha makan dulu tuh nangka nya nanti aku balikkin deh majalahnya.. ucapnya seraya tersenyum puas padaku.

yaudah aku makan deh nih.. aku kesal akhirnya kumakan juga buah nangka yang tk kusukai ini.

Hehe.. tau nggak Yu orang yang jualan nangka itulucu deh dia pandai sekali melucu, tau nggak anak-anak yang lagi main bola pada ketawa semua gara-gara tingkah nya haha dia itu lucu sekali.. terlihat guratan ceria di muka John sepertinya dia membayangkan kejadian yang baru saja dilihatnya.

Haha tentu saja yang jualan nangka itu kan Bapak nya si Wahyu Dudung menyambar tiba-tiba dan kemudian segerombolan anak laki-laki datang memasuki kelas dan menyambung obrolanku dengan John.Aku yang sedang makan nangka jadi berhenti menelannya rasanya ucapan Dudung itu terasa petir buatku.

Lihat, ini aku borong semua nangka Bapaknya si Wahyu ayo kawan-kawan siapa yang mau ditanggung gratis karena ini buat membantu perekonomiannya keluarga si Wahyu jadi kalau kalian makan nangka ini kalian termasuk beramal dan nanti akan masuk surga.. seru Dudung berteriak-teriak sontak anak-anak pada berebut nangka dari tangan Dudung itu Dudung tersenyum puas padaku.

Entah dari mana dia punya pikiran seperti itu kalau bukan mau mempermalukanku lagi. Ya Tuhan aku tak sanggup dengan semua ini aku memang miskin tapi apa pantas aku jadi bahan hinaan seperti ini.

******

Bersambung . . .

[Next]

From : Cerita Kaum Pelangi

No comments:

Post a Comment