Ce.Si Lovevia Spesial Tahun Baru
-----------------------------
"Firework"
------------------------------
By.Ramdani F Alienskie
Gendre : Live Story
------------------------------
Dito serang pegawai dibar malam. Dia seorang Bartender atau pembuatan minuman dibar. Jakarta Club Night adalah tempat Dito bekerja. Dito bukan seorang yang tampan hansome atau cool. Justru Dito berwajah Bopeng atau wajahnya berlubang karena jerawat. Dito masuk bar dibantu temannya bernama Hadi. Satu satunya teman yang baik. Karena hampir semua teman Dito selalu mengejek buruk rupa. Namun dibalik itu semua Dito adalah anak yang baik selalu menolong sesamanya yang sedang kesusahan. Walau kadang orang yang ditolong gak tau berterima kasih.
Suatu malam Dito dan Hadi mengobrol. Mereka membicarakan tentang pasangan hidup.
"Udah punya calon...?" Tanya Hadi pada Dito yang sedang mengocok minuman.
"Hah...." Dito menarik nafas dan menghembuskannya kembali. "Jangan kan calon orang yang mau deketin aja.. kagak ada. Udah kerja aja bersyukur..." Keluh Dito yang mengocok minuman.
"Jangan gitu... Jadi orang harus berpikir positif jangan negatif. Kali aja ada orang sedang perhatiin lo diam diam..." Seru Hadi mencoba memberi suport.
"Hah... Pasrah aja gua Had... bayangin aja umur 28 belum juga nikah... gua..." Gumam Dito dengan hati yang was was belum mendapatkan pasangan.
"Emhh... emhh..." Hadi hanya menggelengkan kepala. Melihat sahabat yang putus asa.
Dito lalu pergi ke sebuah meja diujung club untuk menyerahkan minuman yang tadi dikocok.
Diujung ada seorang pria berkisar umur 31 tahun. Dengan paras wajah thailand disertai otot yang besar. Pria Homo pasti tak akan menolak untuk bermalam dengannya. Dito menghampiri sang pria.
"Excuse Me Mr Soft Drink..." Gumam Dito dengan menyerahkan minumannya ke meja sang pria berwajah thailand. Dito measa tak nyaman saat ini karena sang pria menatapnya dengan tajam.
Dito segera pamit karena merasa dirinya terancam. Namun alangkah kagetnya sang pria menggenggam tangannya dengan keras.
"Maaf lepaskan tangan saya..." Seru Dito dengan gemetar.
"Temenin... gua bro... lagi mumet gua.." Seru sang pria.
"Maaf saya sedang bekerja..." Jawab Dito dengan menunduk.
"Belagu amat lo... Muka ancur belagu juga... Hah... " Gumam sang pria yang sontak membuat Dito kaget sekaligus hatinya hancur. Dito hanya menundukkan kepala dengan mengeluarkan air mata. Sang pria yang tadi bicara kini hanya menatapnya dengan tatapan sendu.
"Kamu menanangis..." Ucap sang pria. Dito hanya dia dan langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan kearah belakang.
Dito berjalan kearah kamar mandi. Setelah sampai ia masuk kedalam dan menangis. Hatinya merasa sakit dengan ucapan pria itu. Tidak !!! Bukan hanya pria itu tapi semua orang yang menyebut mukanya ancur. Hatinya kini mengeluh pada sang pencipta.
'Tuhan... maaf bukannya aku tak bersyukur... tapi aku nangis karena mereka melukaimu... maaf kan aku Tuhan... Jangan hukum mereka ini salahku.' Ucap Dito didalam hati.
Dito kemudian mengusap air matanya. Dan kembali keluar. Saat keluat sang pria sudah tak ada. Dito kembali bekerja dengan menyimpan lukanya sendiri.
Waktu menunjukan pukul 1 tengah malam Dito dan Hadi pun keluar dari kerjanya dibar. Hadi pulang menggunakan motor nya yang dibawa dari rumah. Sementara Dito pulang dengan berjalan kaki. Kadang Dito merasa takut pulang sendiri. Andai Hari searah pasti Dito ikut numpang. Sayang Hadi dan Dito berbada jalan.
"Ehem..." Tiba tiba seseorang batuk dibelangkang tubuh Dito yang sukses membuat Dito kaget. Namun tak Dito tunjukan dia tetep tenang. Lama terdiam Dito membalikan badannya. Alangkah kaget saat melihat orang dibelakangnya adalah pria yang tadi menghinannya.
"Mau apa anda...??" Gumam Dito. Namun sang pria tak menjawab ia malah langsung mencium bibir mungil Dito dengan cepat. Dito hanya terdiam dan bertanya pada hatinya. 'Kenapa ini...? Siapa dia...?" tanyanya. Dito tersadar dan langsung mendorong sang pria. Sang pria yang didorong pun jatuh. Sang pria sedang mabuk akibat alkkohol. Dito yang tak tega membiarkan pria itu sendiri membawanya kekosannya dengan naik taxi yang harus mengeluarkan uang. Turun dari taxi Dito membawanya kerumah dan menidurkannya dikasur. Tak lama Dito berdiri namun tangannya dipegang kembali sang pria hingga jatuh ketubuh sang pria. Sang pria tersenyum ia menciumnya dengan lembut.
Pagi datang Dito membuka matanya. Dito tersadar tubuhnya telanjang bulat bersama pria samalam. Mereka melakukan hubungan terlarang anatara manusia.
Tak lama sang pria bangun. Pria itu kaget tubuhnya telanjang.
"Kenapa tubuh saya telanjang...?" Tanya pria itu. "Lo simuka ancur kan..." Lanjut sang pria. Dito hanya terdiam karena bingung ukannya dia yang semalam meminta.
"Heh... Anjing lo apain... gua... hah..." Tanya sang pria. Dito hanya terdiam sendiri. Merasakan hal yang aneh. Sang pria berdiri memakai pakaiannya.
"Anjing lu. Lu perkosa gua ya. Anjing lu bangsat. Awas aja lu... jauhin gua..." Seru sang pria. Yang langsung pergi dengan meninggalkan dompetnya.
Dito mengambil dompet pria itu. Ia membukanya pria itu bernama Gibran. Dito kembali tertidur. Dito membayangkan yang terjadi semalam. Dia yang memaksa kenapa aku yang memperkosa tanyanya dalam hati.
Malam ini Dito kembali bekerja dengan rasa was was dan takut. Rasa takut Dito ternyata terjadi pria itu datang ke bar kembali. Dito yang melihat sang pria menjadi takut. Dan bingung harus bagaimana.
Tiba tiba sang pria menatapnya dengan sebuah senyumanpada Dito. Yang berhasil membuat Dito malu dan bingung. 'Kenapa??' Tanyanya.
Kini setiap malam dia selalu diberikan senyuman oleh sang pria bernama Gibran. Yang selalu membuat hatinya dan jantungnya berdebar.
Dito menyadari dirinya jatuh cinta karena muncul sebuah jerawat. Dia bingung harus bagaimana. Dia bertanya pada Hadi. jawabannya Dito harus ungkapin semua cintanya. Namun Dito malu dan meresa pria itu tak akan menerimanya.
Hari ke hari wajahnya makin stres dengan memikirkan Gibran. Padahal ia tau Dia dan Gibran tak saling bicara.
Malam ini adalah malam tahun baru. Dibar ada pesta yang diadakan di luar bar untuk menyalakan kembang api. Dito pu bertekad menggungkapkan isi hatinya. Malam yang diiringi musik dari bar.
Dito melihat Gibran sedang duduk dikursi. Ditaman disofabawah pohon bar. Musik yang kencang sama kencangnya dengan debaran jantung Dito yang akan menyatakan cintanya.
Dito dengan penuh Keyakinan berjalan menghampiri Gibran. Girbran terlihat sedang memainkan HPnya.
Sesampainya didepan Gibran. Dito terdiam Gibran menatap Dito. Dengan cepat Dito mencium bibir Gibran menyatukan 2 Saliva yang terpisah menjadi satu. Lama berciuman Dito melepaskannya. Mereka saling bertatapn. Dalam hati Dito, Gibran akan marah sehingga dia cepat melangkah. Namun sama seperti biasanya Gibran kembali menariknya. Hingga Dito duduk dipaha Gibran.
"Kenapa pergi?" Tanya Gibran.
"Aku aku..." Jawab Dito yang gagu.
"Ungkapkan apa yang ingin kau ungkapkan..." Seru Gibran.
"Aku.. Aku Cinta kamu..." Seru Dito dengan gugup dan malu.
"Aku juga..." Jawab Gibran yang membalas cinta Dito. Sontak Dito pun kaget.
"Apa...?" tanya Dito memastikan.
"Aku juga cinta kamu sayang..." Jawab Gibran kembali.
"Tapi... kukira kau benci aku... karena kau menuduhku memperkosa mu..." Seru Dito yang bingung.
"Aku sengaja membuatmu seperti itu. Karena aku tak bisa romantis. Jadi kulakukan dengan cara memperkosa mu dan selalu memberimu senyum. Dan ternyata berhasil. Kau jatuh cinta padaku..." Seru Gibran yang membuat Dito Blushing.
"Kau... jahat... Gibran..." Seru Dito.
"Aku baik kok buktinya aku tanggung jawab sekarang..." Jawab Gibran.
"I Hate you" Seru Ditopada Gibran.
"I Love You sayang..." Balas Gibran dengan kembali mencium Dito.
Ketika berciuman kembang api bertaburan dilangit. Menjadi saksi cinta Gibran dan Dito.
"Kita lakukan lagi... yu...??" Seru Gibran.
"Apa...??" tanya Dito.
"Yang malam itu..." Seru Gibran dengan menaikan alisnya.
"Ok dikosan yu..." Ajak Dito mereka berdua pun pergi kekosan menyatukan cinta mereka.
Dito kini seperti kembang api yang selalu memunculkan cahaya api. Sementara Gibran menjadi korek api yang menyalakan kembang api itu. Agar selalu semangat dan tidak putus asa...
The End
From : Cerita Cinta Dunia pelangi

No comments:
Post a Comment