------------------------------------
Tax and Service Part 1
By.DewaSa
------------------------------------
Musik rock yang disetel dengan volume tinggi membantu meningkatkan konsentrasinya. Entah seperti apa jadinya jika Ia memilih kamar dilantai dua yang sudah terisi penuh oleh perantau lain. Tentu saja mereka akan terganggu. Itulah alasan mengapa Ia memilih kamar dilantai tiga yang hanya memiliki dua kamar dan sisanya adalah halaman luas yang digunakan untuk menjemur pakaian.
Brak. Brak. Brak. Brak.
"ini jam berapa woi!" teriak seorang lelaki, kesal.
Ia mengacuhkannya, tetap fokus dengan tugas tugasnya yang menumpuk.
Brak. Brak. Brak.
"setan, lu budeg?"
Musik berhenti.
"woi, keluar lu!" lelaki tambah kesal karena Ia merasa tak di anggap. Terdengar bunyi anak kunci yang diputar. Lelaki ini sudah tidak sabar ingin menempeleng orang yang sengaja menyetel musik keras keras malam ini.
Namanya Widi, Ia hanya melongokkan wajah untuk melihat sosok lelaki yang sedari tadi mengganggu konsentrasinya.
"Apa?" tanyanya singkat.
"Ini jam berapa woi, lu gak pernah diajarin sopan santun?" Bagas memaki.
"Masalah lu udah selesaikan? Musik udah gua matiin. Sana balik" suruhnya, dingin.
Bagas masih tak terima dengan perlakuan widi yang mengambing-congekan dirinya. Ia merasa terhina, harga dirinya yang Ia patok terlalu tinggi enggan mengalah hanya untuk pemuda kere seperti Widi.
"Anak bau kentut aja Lu udah sok.."
Ini akan menjadi malam yang panjang jika Widi meladeni Bagas yang rasa rasanya memiliki beberapa mulut di bagian muka.
Blaaam. Sekali lagi terdengar bunyi anak kunci yang diputar setelah bunyi pintu yang sengaja di banting. Widi menutup pintu dan mematri peribahasa "anjing menggonggong kofilah berlalu" dalam pikirannya. Dia kudu kembali tenang untuk mengerjakan beberapa tugas yang hampir menyentuh deadline.
"Anjing Lu." teriak Bagas kesal, setengah mengumpat.
Brak. Brak. Brak.
"Lu keluar minta maaf atau pintu ini gua dobrak?" Bagas masih belum kalah.
Lelaki ini seperti anak berusia 5tahun saja, pikirannya tak dewasa sama sekali. Bisakah Ia berhenti bersikap seperti itu? Sembilan puluh untuk penampilan dan minus sembilan puluh satu untuk etika, Ia menilai. Bagas tampan, sangat. Wajahnya memiliki rona yang bahkan tak dapat Kau miliki meski Kau bolak balik kerumah perawatan hingga kerumah duafa sekalipun. Widi berpendapat jika Bagas memiliki bakat untuk menjadi tampan.
"Satu... Dua... Tiga..." tanpa aba aba sekalipun Bagas sudah melesat hendak mendobrak pintu kamar Widi. Dengan timing yang tepat Widi berhasil membuka pintunya dan mendapati Bagas sudah terjerembab masuk kekamarnya.
'itu pasti sakit' Widi membatin sambil meringis membayangkan betapa buruknya keadaan lelaki cerewet itu setelah terjerembab.
"Kuraaang ajaaaaaar!" Ia murka. Bagas sudah mengepalkan tangannya dan bersiap untuk menyerang.
Sedetik.. Ia memosisikan badannya agak condong dengan salah satu tangan siap untuk meninju, Ia mengambil langkah. Sedetik setelahnya, Bagas sudah terjatuh di kaki Widi, bersimpuh tepatnya. Bagas terbatuk batuk dengan tangan kanan memegangi perutnya yang baru saja kena tendang oleh Widi.
"pulang sana." Widi mengusir.
Bagas masih keras kepala dan mencoba untuk bangkit.
"maaf kalo Lu keganggu sama selera musik gua. Tapi Gua lebih keganggu sama suara desahan desahan pelanggan Lu, dasar perek!"
Checkmate. Bagas mati, eksistensinya sebagai escort sudah terkuak oleh bocah ingusan macam Widi. Tak terlintas pikiran apapun untuk membela dirinya, Ia kalah. Setidaknya Ia mengakui kekalahannya. Ia kalah dengan pemuda kere yang bahkan tak mampu membeli jasanya barang sekali main saja.
"Bangsat Lu!" Bagas berlalu dan kembali kekamarnya.
Widi sebenarnya tak enak hati jika harus mengungkap siapa Bagas dan menjadikan kenyataan itu menjadi senjatanya untuk menyerang orang lain. Pada dasarnya semua itu adalah urusan pribadi, tanpa ada hak untuk mencampuri urusan Bagas barang setitik nila sekalipun. Ia akan meminta maaf, itulah yang Ia rencanakan besok.
**
Widi mengetuk lembut pintu berwarna coklat itu beberapa kali. Ia tak memanggil siapapun karena Ia memang tak mengetahui siapakah gerangan penghuni kamar tersebut. Sempat Ia berpikir jika hari masih terlalu dini untuk mengusik tidur seseorang. Ia mengetuknya lagi, meski Ayahnya selalu mengajari cukup dengan tiga ketukan saja untuk menjadi tamu yang sopan. Sebelah tangannya sudah pegal karena membawa mangkok penuh bubur ayam yang Ia beli di ujung jalan.
'lelaki tua itu sudah membuatku menunggu.' Widi membatin.
'sekali lagi.' pikirnya.
Tanpa aba aba pintu sudah dibuka. Bagas berdiri dengan tangan bersedekap didada seakan menantang kehadiran Widi.
"Mau apa?" tanyanya ketus.
"Mau minta maaf." Widi mengulurkan tangannya.
Menggantung, Bagas menutup pintu.
"Gua bawain Lu bubur ayam." ucapnya tanpa ragu. Bagas tak bergeming.
"Kalo Lu gamau terima maaf Gua, paling ngga terima bubur ayam gua." suaranya melemah.
Terdengar bunyi gerendel yang diputar.
"Sini" Bagas merenggut mangkok yang sedari tadi Widi bawa meski masih dengan wajah kesal lalu menutup pintu.
"Gua berharap Kita bisa temenan." Widi membuka suara meski Ia sendiri jika lawan bicaranya kini hanyalah sebuah pintu.
"Pergi sana, berisik." Bagas membentak.
"Gua tau meski Lu bukan orang baik baik tapi Lu orang baik."
Pintu terbuka.
"Sekali lagi Lu buka congor Lu, Gua bakal muntahin bubur kemuka Lu."
Blaam.
"Oke oke Gua pergi, sekarang."
"Semangkok bubur spesial, sate ayam satu, telor dua. Empat belas ribu. Mamangnya masih nunggu dibawah, emmm belum di bayar."
"Setaaaaaaaan!!"
Widi langsung mengambil langkah seribu untuk menghindari amukan Bagas yang sampai saat ini masih belum Ia ketahui namanya.
Bersambung . . .
[Next]
From : Cerita Kaum Pelangi

No comments:
Post a Comment