Thursday, 11 February 2016

Chapter 1 : Begin? No, It's a Loop



============================
Endless Story
Written by Nino9696
============================

[Chapter 01]

Bukan sengatan bosan dan tiupan angin kosong pembawa Lullaby. Bahkan pisau tajam Helios membelah awan penyandang hujan, langit membentang seakan tersapu dari kapas putih. Cerah, kata penjelasan bodoh yang digunakan oleh para normal.

Pijakan delapan jari kecil mencengkram dahan, senandung manis alam membawa belai pelan tiupan aroma utara. Dingin? Nyaman? Bukan. Was-was, bisa dibilang. Melarikan diri dari suasana latar, hm? Bukan alasan cocok. Kurasa 'nyaman' sudah cukup.

Kecupan mahkota Dewa Matahari bukan sesuatu yang bisa dihina, atau sedikit bisa. Terkutuk, aku bukan penggemar kibasan terik sinarnya walau lembar hijau pohon menolongku.

Polos untukku menganggap para normal bisa mengerti bagaimana dunia berputar, menciptakan sistem politik menggemaskan, darah royal yang konyol, kasta neraka, juga, entah, aku tak bermaksud menghina William, tetapi para normal tidak bisa mengejar masa depan bagaimanapun. Busuk, para pria gendut menindas anak-anak jelata, mahkota kebangsaan nampak menutup mata walau menatap langsung cakaran di dinding istana mainannya. Tak dapat dihilangkan, hm? Kasta.

Menatap perubahan kebangsaan dan negara para normal nampak membosankan. Meratapinya akan sedikit menghibur, sedikit, bosan tetap dominan. Lucu? Tidak? Hah, normal.

Luas? Bertambah. Sedikit bergetar ketika pergantian kekuasaan? Ya. Yang Mulia nampak tak tertarik dengan romansa picisan dan menaiki bukit pemerintahan klasik dengan cambuk dan benteng tinggi di atas leher para jelata. Meningkatkan pertahanan negara, maksudku. Sekadar memberi tiket bagi para normal bodoh jika tidak mengerti apa pikiranku.

"Tak ada jalan lain, kurasa." Bisiknya waktu itu. "Ratu pasti mengerti lebih baik daripada diriku yang bukan siapa-siapa ini." Sambil melanjutkan pahatan tinta di lembar tipis milik manusia, para normal.

Objektif, subjektif? Entah, bukan keputusanku untuk penentu. Takdir atau kesempatan? Aku tak begitu mengerti. Salah satu alasan aku keluar dari kota adalah alasan itu, juga isapan jempol para nyonya pembantu rumah.

Wessex, Denmark. Dua kubu yang mempersatukan peradaban yang mereka sebut Inggris Raya ini, musuh sebenarnya. Entah, rasanya seperti kemarin jika melirik monarki mungil ini. Tak terasa 1000 tahun terlewat.

Athelstan, si awal dan si licik. Edmund I, si bodoh. Edred, si badan lemah. Edwy, si malang. Edgar, si bedebah arogan. Lalu Edward, Ethelred, lalu Edmund lagi, berbeda dengan Edmund si bodoh. Para Raja Inggris.

Bukan....

Para ngengat kursi Raja. Para keturunan penunggang kekang leher rakyat Inggris, para keturunan darah biru Wessex. Denmark? Pelanjutnya. Ya, walau hanya satu.

Bukan penggemar jika harus menengok alur musik gencatan sejarah ini. 600? 700? Entah. Mungkin lebih daripada itu. Menunggu? Bukan. Memperhatikan mungkin lebih bagus digunakan sebagai momok bagiku. Duduk, menatap, tertawa, meratapi jumlah tahun yang terus berlanjut itu. Sekarang? Haha, hanya menikmati langkah politik dan dengusan Elizabeth. Inggris Raya. 1581.

Bola biji cokelat itu memutar menatap, canggung terpahat betul, meninggalkan jejak tanam rupa keberatan. "Aku harus pulang."

Mengangguk.

Tersenyum, membiarkan benang cokelat di kepalanya tersentak, menutupi rasa kecewa. "Aku akan kembali lagi nanti."

"Tak apa jika kau tidak ingin." Tatapan menajam. "Aku tak akan mati walau kau tak kembali."

"Hm." Menarik tasnya lalu pergi meninggalkanku.

Hanya begitu. Datang, mengusik, pergi. William, debu bumi yang memancing perhatianku. Dan, ya. Mendapatkannya.

Doa? Tidak. Hembusan nafas tak akan berhenti walau doa tak ada. Perseteruan antara Protestan dan Katolik menjadi momok negeri ini. Cukup menyentuh bagi Elizabeth untuk menusuk target hukum tepat, meninggalkan Protestan sebagai pilar yang menarik wajah emosi Prancis. Hah, klasik.

William tak akan berani untuk menulis borok negara. Apa yang bisa diandalkan dari bocah 17 tahun? Tak ada. Hanya pengisi waktu belaka.

"Siapa aku bagimu?" Tanya Will ketika berkunjung lagi. Wajah polos dengan hidung mancung dan tatap penuh tanya seakan menarik kesadaran. Aku menariknya, membuatnya sakit dengan punggung meratap nanar membentur tembok rumah alam. Menciumnya.

Selene menarik kereta kudanya, menjunjung mahkota pembias cahaya saudaranya. Angin malam meniup dahan, suara gerimis terdengar. Obor tak percuma.

Aku membiarkan malam menjadi saksi, meratapi suara erangan dan siulan nafsu. Puisi tak bisa menggambarkan goda tulang dan kulitnya, membutakan. Persetan dengan diksi indah, nikmat tak bisa menjadi tulisan dan menari indah di atas kenyataan.

Aku menyukainya, lebih daripada semua yang kucintai. Berbohong, hidupku lebih berharga.

Rancu dengan degup jantung malam itu, dia kembali. "Aku mencintaimu, kau tau?" Dengan wajah malunya.

Tak berdaya, lagi-lagi malam menjadi saksi bisu, keberatan untuk menceritakan detilnya. Dia turut menikmatinya.

Dunia mulai terlihat berwarna. Tetapi, untuk apa kau menjatuhkan seseorang jika tidak dari titik indahnya?

William akan menikah dengan seorang rusuk Adam. Anna, namanya.

"Bagaimana?" Mimiknya berubah panik.

"Itu pernikahanmu, bukan milikku."

"T-Tapi...."

"Bukan urusanku."

Bungkam. William hanya membelakangiku, memeluk lutut dan diam. "Apakah sebaiknya aku berhenti bertemu denganmu?" Isakkan terdengar. "Hubungan seperti ini bukanlah hal yang pantas."

"Aku tidak memaksa."

"...." Desahan. "Pernikahannya tak akan lama lagi."

Dan, ya. Menikah. 1852. Tak bertemu dengannya selama hampir 6 bulan purnama. Lalu, dia kembali, membelah embun pagi musim semi. Duduk di sampingku, menunduk.

"Istriku hamil."

Tak bisa menahan, diriku melirik tajam punggungnya. Lalu, menatap buku-buku tangan yang berdarah akibat meremas batu runcing, aku menyipit. Tak merespon.

Luka di tangan menutup dalam detik, meninggalkan maroon gelap menempel. Tetes air membuat detik terlihat, suaranya berulang ketika sapu angin membawa aroma manis musim semi. Bunga Lily, aroma itu.

"Tenmah." Goa membiarkan suaranya menggema, tatapan kecil nampak nanar, bergetar. "Maukah kau ikut denganku ke kota?"

"Dan menatapimu bersama keluargamu?"

"....." Terdiam.

"Will, apakah kau mencintaiku?"

"Sangat!" Badannya tegak, menatapku dengan mata cokelat lunak. "Sangat!"

Aku tak begitu mau untuk merespon waktu itu. Tetapi, apa yang lebih menarik daripada menatapi derita orang?

"Baiklah." Jawabku waktu itu. Aku bangkit dari duduk. Menarik dagunya melirikku dengan senyum.

Begitulah. Kami pergi hilir roda siang hari itu juga, membiarkan diriku menghina Apollo dan matahari yang tak memberikan rasa sejuk. Angin membuka arah menuju jalan petak, kami berjalan.

"Kapan terakhir kali kau ke kota?" Tanyanya kala itu. Melirik dengan angin menyapu benang cokelat rambutnya.

"18 tahun yang lalu."

"Bagaimana keadaan waktu itu?"

Memainkan jariku, menatap buku tangan. "Primitif."

"Haha! Kau payah jika harus menjelaskan."

Aku tidak payah, bukan? Hm, setidaknya aku bisa sedikit memberi penjelasan.

Tak ada yang berbicara lagi. Bulir angin menyapu tulang pipi, dingin sejuk dibuatnya. Membisu menatapi kota yang tak jauh.

"Tenmah." Menunduk, berjalan kecil.

"Apa?"

"Bisa kau berjanji kepadaku?"

Jujur, "Tidak."

"Kau tak bisa diajak untuk berbicara banyak, huh?" Canggung tatapnya. Kembali mendung. "Walau kita tidak bisa bersama, bisa kau terus menjaga keturunanku?"

"Aku menjawab 'Tidak' tadi."

Tersenyum. "Aku tau kau akan melakukannya untukku." Menunjukan seberapa bodohnya dia.

Tak buruk untuk seorang debu tanah, hm?


****

Bersambung . . .
[Next] Chapter 2

No comments:

Post a Comment