-------------------------------------
Tax And Service Part End
By. DewaSa
-------------------------------------
Baiklah, sebelum memulai dan mengakhirinya biarkan Saya melakukan ini,
Hai Teman,
Jujur, Aku tak menyangka jika antusias kalian akan seperti ini. Tak perlulah beratus-ratus like untuk membuatku senang, kesudian-kalianlah yang membuatku senang. Sumpah. Ini cerbung pertamaku dan Aku anggap "ini nggak baget". Sejujurnya, aku malah malu mengakui cerbungku ini sendiri. Alasannya ya karena itu 'ini nggak banget'. Maaf jika ada kesalahan dalam penulisan, teknik, hingga plot yang seharusnya sederhana ini menjadi ruwet saat aku yang menyampaikannya. Aku masih pemula, aku membela diri. Oh ya, Aku harap kalian menjadi pembaca yang baik, menjadi teman yang baik dengan cara tidak menelan mentah-mentah informasi, ide, atau apapun dari yang kalian baca dan juga kulik-lah sumber ide itu jika kalian merasa tidak mengerti, cari tahu hingga merasa puas, makan semua pengetahuan yang sebenarnya tidak akan berguna dalam kehidupan kalian. Namun, orang yang bijak tak akan memilah pengetahuan karena "pengetahuan" adalah pengetahuan. Sama seperti "cinta" adalah cinta.
Oh ya, apakah kalian tahu kutipan ini "Cinta tak membutuhkan banyak hal, yang di butuhkan hanyalah Aku dan Kamu." by. RM. Andalas? Yah, yang ingin Aku singgung adalah dunia tulis menulispun juga sama seperti itu. "yang ada hanyalah Penulis dan Pembaca." kita saling membutuhkan, tanpa kalian kami hanya menulis hal-hal bodoh untuk bukan siapa-siapa dan tanpa kami kalian hanya membaca puluhan hingga ratusan halaman-halaman kosong untuk kalian nikmati. Intinya adalah, jadilah pembaca yang baik, jadilah teman yang baik dengan memberikan sebuah apresiasi apapun itu, kritik dan saran, ungakapan semangat, atau hal-hal kecil lain. Yakinlah, semua itu membangunkan semangat dan gairah penulis manapun. Yakin, kalian berharga.
Sepertinya sudah cukup banyak bagiku. Terimakasih teman.
Temanmu,
DewaSa
------
Bagian Lima
Perawakannya yang kurus tak membuatnya terlihat gagah saat mengenakan setelah serba putih dengan payet warna emas sederhana di hari pernikahannya ini. Bahunya merosot, Ia bahkan sudah lelah untuk meyakinkan ayahnya jika Ia tak menginginkan masa depan yang seperti ini.
"Ayah, kenapa kudu Widi yang bertanggung jawab?" tanyanya, meski itu tampak seperti rengekan.
"Kamu sudah tahu jawabannya."
"Ayah jahat."
"Ayah yang jahat ketika memberikan berlian kepada seorang pencuri yang takkan pernah merasa puas!"
"Berlian apanya? Asalkan Ayah tahu, dikota, Dara selalu membahas apa-apa saja yang telah ayahnya berikan kepada keluarga kita!"
"Sudah sewajarnya, itu menahanmu agar kamu tak lupa diri."
"Ia juga tak menghargai Widi sebagai lelaki!"
Ayahnya tak bergeming. Hanya diam sembari menyeruput kopi terakhirnya sebelum ijab dan qobul.
"Mau tahu siapa yang lebih lupa diri? petani miskin yang tak memiliki sawahnya sendiri yang lalu menjual salah satu anaknya untuk mendapatakan cita-citanya itu!"
"siapa yang kamu maksud?" suara ayahnya yang parau itu terdengar marah saat itu.
"Ayah!"
Blam. Pintu tertutup.
"Kurang ajar, anak tak tahu di untung! Kamu disekolahkan tinggi tinggi dikota malah jadi seperti ini?! Tak tahu membalas budi orang tua!"
"Ayah ingin Widi membalas budi Ayah dan Ibu saat ini? Baiklah, Widi menurut tapi jangan pernah meminta apapun setelah ini karena semua kebaikan itu sudah Widi bayar dengan pernikahan ini!" Widi tak ingin memelankan suaranya. Tak ada harapan, sumpah sudah diucap dan ia tak dapat menariknya.
**
Semuanya sudah siap. Penghulu, pelaminan, undangan yang memenuhi ruangan, dan mempelai yang bahkan tak ia cintai.
"Jabat tangan saya." Pinta lelaki tua yang ada di hadapannya.
"Setelah ini ikuti saya."
"Baik pak." ucap Widi gemetar sembari menyambut uluran tangan penghulu yang sudah berumur itu.
"Saya nikah dan kawinkan.."
Ctar. Ctar. Ctar.
Tiba-tiba suasana mencekam sesaat setelah bunyi petasan yang tak diduga-duga itu. Hening. Semua orang bertanya tanya dalam hati, sebagian lagi saling bergumam, dan sisanya hanya merapalkan doa demi kelancaran acara pada hari itu.
"Hentikan!" suara seseorang yang ditengarai sudah menyalakan mercon tanpa permisi itu.
"Widi, siapa itu?" Ayahnya bertanya penuh keheranan.
"Apakah anda tidak bisa menilai? Pakaian saya sudah hitam hitam begini! Ha!" lelaki itu menantang.
"Eh, kamu ndak usah kurang ajar sama orang tua ya." sahut ayah Widi yang kini sudah melangkahkan kaki menyambut lelaki dengan pakaian serba hitam itu.
Widi termenung, mengelus dada, hingga menarik napas panjang.
"Dasar perek bego." gumamnya.
Lelaki itu tersenyum saat Ia berhasil menangkap sosok Widi.
"Saya ada urusan dengan Widi. Saya ini seorang dept-collector." Ucapnya lantang. Seketika Ayah Widi tak bisa menggerakkan anggota tubuhnya. Ia kaget, sangat kaget malah saat mengetahui Widi terikat utang.
"Be-benarkah?" tanyanya gugup.
"Apakah saya terlihat bercanda?" Ia menegaskan suaranya.
Semua orang hanya terdiam dan mulai membicarakan Widi dalam gumaman. Ada yang menilai Widi sebagai anak yang kurang ajar hingga anak yang tak tahu diuntung karena semua warga sudah tau jika Widi sudah dibiayai oleh Pak Dira, ayahanda Dara.
"Seberapa besar?"
"Utangnya terhitung sebesar 21 juta. Belum termasuk bunga." tukasnya sembari membuka buka buku notes panjang yang disampul motif batik.
"Sebesar itu?" suaranya melemah, hampir mirip seperti bisikan yang tak mungkin didengar oleh siapapun.
"Ya, serahkan anak itu sekarang."
Ayah Widi hanya mengangguk dan berjalan menuju pelaminan yang sempat ia tinggalkan tadi. Sesampainya, Ia merenggut lengan widi dengan paksa dan menyeretnya kepinggir. Ia menampar keras wajah Widi. Napasnya naik turun dan wajahnya merah padam karena malu, marah, dan perasaan lain yang tak dapat Ia gambarkan.
"Ayah! Ada apa?" tanyanya sambil menahan panas bekas tamparan ayahnya itu.
"Ada apa! Ada apa gundulmu! Apa yang sudah kamu lakukan di kota? Ha?!"
"Widi kuliah, Ayah. Tidak lebih." Widi meyakinkan.
"Lantas mengapa kamu punya utang sebesar itu pada rentenir? Untuk apa uang itu? Untuk main wanita? Judi? Untuk mabuk mabukan?" Ayahnya mendesak.
Hah? Widi tak habis pikir, skenario macam apa yang sedang Bagas pikirkan?
"Jawab Ayah! Kamu masih punya mulut!"
"Widi tidak mengerti ayah. Sumpah, Widi berkata jujur."
"Halah! Palingan ini cara kamu untuk menjelek-jelekan ayah dimata warga dan Pak Dira-kan? Agar kamu bisa membatalkan pernikahan ini."
Widi tak menjawab.
"Ayo pernikahan ini kudu tetep berlangsung."
Akhirnya Widi diseret kembali menuju pelaminan. Senyumnya memudar saat Ia melihat Bagas hanya terdiam menyaksikan dirinya.
"Hentikan! Tak ada pernikahan tak ada kawin kawinan! Anak itu kudu ikut saya sekarang." Bagas membentak semua orang yang hadir. Sekali lagi, hening. Tampangnya yang garang itu berhasil menakut-nakuti seluruh penjuru ruangan. Tanpa terkecuali.
"Ada apa ini?" Pak Dira bertanya.
"Maaf bapak yang budiman, saya hanya berurusan dengan pemuda tanggung itu." ucapnya sembari menunjuk Widi yang saat ini sudah duduk manis dipelaminannya.
Langkah Bagas menerobos kerumunan membuat semua mata tertuju pada dirinya. Waktu seakan berhenti, tak ada yang mencegah atau menghalangi dirinya. Mungkin warga kampung takut akan sosoknya yang kerap digambarkan garang dan tak kenal ampun, padahal saat ini Bagas merasa sangat takut, keringat dingin sudah membasahi dahi hingga punggungnya. Inilah keahliannya, membuat dirinya sendiri tak merasa takut pada apapun.
"Kemari!" Bagas menyeret kasar tangan Widi.
"How did you get here?" Widi berbisik.
"It didn't matter, dear." Bagas juga memelankan suaranya seperti yang dilakukan oleh Widi.
"Baiklah, saya akan mengurus semua ini hingga tuntas, hingga habis. Entah siapa 'saya' atau 'dia' yang akan segera habis!" pungkasnya.
Tak ada yang mencegah, bagus! Semua rencana berjalan dengan lancar. Senyum Bagas mengembang.
"Apakah ada surat tugasnya?" suara seseorang menghentikan langkahnya.
"Mampus Lu, bego!" sekali lagi, Widi berbisik.
"Apakah saya membutuhkannya?" tanyanya dengan nada sarkastik.
"Kakak gua jauh lebih pinter daripada gua, hati hati." Widi memberi tahu.
"Tentu, dikota besar sudah jarang sekali adanya rentenir. Paling, yang masih eksis hingga saat ini hanyalah bankir."
"Tidak, saya tidak berasal dari lembaga keuangan. Saya memang punya seorang tuan yang mengutus saya kemari." jawabnya diplomatis.
"Aha! Bahkan anda tak berani menatap mata saya saat menjawab." Kakak perempuan Widi memojokannya.
"Ayah" panggil perempuan itu santai.
"Ini hanya akal akalan Widi agar bisa kabur. Desi tadi juga memergoki mereka saling berbisik."
Bagas kalah, Ia tak bisa membalas statement itu.
"Lihat ayah, bankir gadungan ini tak berkutik." ejeknya.
"Benar itu? Widi?" ayahnya memastikan.
"Ayah, Widi tidaak.." Ia tak berhasil menyelesaikannya.
"Ah! Persetan!"
Bagas menarik Widi dan membawanya berlari. Bagas tak peduli dengan keributan yang terjadi, dengan posisinya sebagai buronan singkat hingga ia menemukan mobil jemputannya. Ia hanya peduli jika Ia akan bahagia. Ya, sebentar lagi.
**
Segerombolan orang orang marah masih mengejarnya meski perlahan jumlah mereka menyusut sedikit demi sedikit.
"Lu, Bego!" Widi mengeraskan suaranya.
"Hahahaha."
Widi tersenyum. Mereka masih saling memandang. Mereka sudah lupa seberapa langkah yang sudha mereka ambil saat itu, yang jelas mereka sudah lelah.
"Sampai kapan kita terus berlari?"
"Sampai Kau mencintai Aku." ucap Bagas ringan.
Widi menghentikan langkahnya.
"Lu gila, gua ga mau rencana gua percuma gara-gara lu berhenti mendadak kaya gini. Ayo." bujuk Bagas sambil menarik Widi untuk kembali berlari. Namun, Widi mematung.
"Gas, You said that we should stop if I have loved You, am I wrong?"
"What?" tanya Bagas, lirih.
"Yes I did, i do it everyday."
"I love you more. Please, do not stop for runing." Bagas menarik Widi dan Widipun mengikutinya.
"Then, should we stop?"
"Yes, sampai kamu mau nikah sama Aku."
"Oke, Aku ga bakalan berhenti."
"Lu gamau?" Bagas bertanya.
"Of course not!"
"Okay, call me broken hearted man from now." ucapnya.
"hey, broken hearted man. You can't marry me. Just stay with me a whole day, a whole months, a whole years, just with me. Will you?"
Bagas senang bukan kepalang, menengok kearah Widi berkali-kali untuk meyakinkan dirinya apakah ini nyata. Senyumnya mengembang, merekah, sama seperti kelopak bunga yang menunggu embun untuk bertengger diatasnya.
"YES I WILL." Teriaknya.
Bagas berbalik kearah Widi dan mencumbunya sekali lagi. Ciuman rindu yang sudah terlampau lama Ia tahan. Ia tak peduli dengan warga yang mengejarnya. Ia tak peduli jika terkejar, yang jelas Semua rindu itu Ia tumpahkan dalam satu ciuman itu. Di bibir dan tak lupa, tepat dikening Widi lalu Ia menenggelamkan pemuda itu dalam pelukannya.
"Bibir kamu rasa rokok." Widi memprotes.
"Kamu akan mendapatkan yang jaub lebih baik setelah ini. Aku janji. Tapi, pengejaran ini belum berakhir. Ayo!"
Bagas tak tahu setelah ini apa yang harus Ia lakukan. Menyelesaikan masalah keluarga Widi adalah yang utama. Tapi hal itu masih 'nanti'. Ia hanya menyimpulkan senyum bahagia yang belum pernah Ia lakukan sepanjang hidupnya.
"Kenapa?" tanya Widi tenggelam dalam napasnya yang mulai terengah-engah.
"Lagi mikir, Thailand apa Belanda" ucap Bagas dengan senyum jahilnya.
"Belanda aja."
"Oke, tapi Aku ga tau gimana cara kerja KUA disana."
"hah?"
Bagas tak menjawab, Ia lebih memilih menggenggam erat tangan Widi sembari menantang takdir yang tak semestinya Ia songsong.
SELESAI.
Terima kasih untuk para pembaca yang sudah mampir dan membaca cerita di blog ini
From : Cerita Kaum Pelangi

No comments:
Post a Comment