Tentang John Dan Masa SD (Part Ending)
By. Yb20+
Rasa sesak di dadaku bercampur rasa malu membuatku tak tahan lama-lama di kelas,aku buru-buru meninggalkan tempat itu.
“Wahyu kamu mau kemana sebentar lagi jam kedua!” seru John dia mengejarku.
“Aku mohon jangan ikuti aku John aku butuh sendiri”.
“Tapi Wahyu lima menit lagi kita masuk jam kedua”.
“Aku mohon John aku mohon..” lirihku
“Oke tapi nanti kamu segera kembali ya?” pintanya John menghawatirkan ku, entahlah sebenarnya aku malu juga sama kamu John.
Aku mengurung diriku di toilet rasanya aku tak punya muka buat ketemu siapapun aku malu kenapa harus aku yang menjadi bahan olok-olok si Dudung, anak sombong itu kenapa tak ada puasnya di mempermalukan aku di depan teman-teman terlebih di depan John.
“hikz...” tak kuasa akupun menangis sendiri di dalam toilet. Ya Tuhan adakah yang lebih memalukan dari ini mungkinkah John akan menjauh setelah tau bahwa Ayahku penjual nangka.Harusnya aku tak terlalu berharap banyak padanya.
"John aku sayang kamu hikz.. aku nggak mau kamu jauhi aku.." tapi di satu sisi aku yakin John bukan anak yang mengelu-elu kan derajat buktinya selama ini dia mau berteman denganku walau dia tahu aku anak miskin entahlah mungkin sebaiknya aku menjaga hatiku ini darinya karena bagaimanapun rasa sayangku memang nggak wajar aku harus kuat untuk bisa menjauh darinya karena kalau nggak aku akan hancur oleh perasaanku sendiri.
Mataku lebam setelah puas menangis di dalam toilet satu jam tadi akupun kembali ke kelas.
“Wahyu dari mana saja kamu?” Tanya Bu Endang padaku.
“Aku ketiduran Bu di Kantin” Jawabku lesu.
“Kamu sakit Wahyu? Kelihatanya kamu nggak sehat gitu, ya udah mendingan kamu pulang saja! John.. tolong anterin Wahyu ya sampe rumah” Bu Endang memerintah John buat mengantarku pulang.
“Ayo Wahyu ini tas kamu aku ambil sepedaku dulu ya?” Ujar John, kita berdua keluar bersama dari kelas itu.
Aku memalingkan pandanganku seolah tak menghiraukannya kemudian aku melangkah meninggalkannya.
“Wahyu tunggu.. Hei kamu mau kemana? Tunggu Wahyu tunggu...!” teriaknya, aku mempercepat langkah ku agar dia tak bisa mengejarku tapi percuma dia malah menyetir sepeda nya dan kemudian dia berhenti di hadapanku
“Stop Wahyu berhentilah dulu, kamu kenapa sih? Kamu marah sama aku apa salahku? Apa kamu sakit? Akuu binggung sama kamu, sikap kamu tiba-tiba nggak jelas gini, oke aku minta maaf kalau memang aku salah, aku tahu kamu sensitif tapi aku mohon kattakan aku harus bagaimana?” wajah John makin binggung menghadapiku.
“Kamu nggak salah apa-apa kok John, aku yang salah, aku anak orang miskin dan nggak pantas punya teman, aku harusnya sendiri atau kalaupun berteman harus dengan anak orang miskin juga, jadi aku mohon kamu nggak usah menantarku pulang biarkan aku pulang sendiri....”
“Wahyu kok tiba-tiba bicaramu kaya gitu, oke aku ngerti kamu tadi habis di permalukan sama si Dudung, tapi itu kan nggak ada hubungannya sama aku”.
“Udahlah John aku mohon aku harus pulang dan mulai sekarang kamu nggak usah deket-deket lagi sama aku” aku berlari meninggalkannya, sakit itulah yang aku rasakan sekarang, aku tak peduli walaupun John teriak sekeras apapun.
“Wahyu kamu itu egois, kamu nggak mau dengerin pejelasanku dulu, aku benci kamu Wahyu..........!” teriakannya sayup-sayup terdengar di telingaku dan mulai hilang tertelan jarak. John tak mengejarku mungkin dia kesal padaku atau aku memang telah membuatnya jadi benci padaku. Tapi mungkin memang itu lebih baik dari pada suatu hari nanti aku yang sakit walaupun sebenarnya aku telah merasakannya kini.
Emosiku masih belum surut.
“Ya Tuhan apa hidupku harus selalu seperti ini kebahagiaan yang sebentar itu harus hilang dan lenyap” aku menyesali diri aku benci hidup ini, aku benci diriku aku benci.
******
Sesampai di rumah suasana begitu sepi , aku nggak tau Ibu di mana mungkin tidur, atau sedang di rumah tetangga. Aku merasa kehilangan damai di rumahku sendiri, Ibu bahkan tak menyambutku saat pulang sekolah, memang nggak ada yang memperdulikanku aku sakit, aku dihina, atau bahkan aku matipun nggak akan pernah ada yang tahu.
“Wayudin Muta’ali kasihan sekali yang punya nama ini hidupnya akan selalu menderita dan lebih kasihan lagi itu adalah aku, aku adalah Wahyudin, aku benci namaku aku benci....” aku mulai membuka isi lemari dan mencari dokumen-dokumen penting milik keluarga ku, dan akhirnya kutemukan selemar Akta kelahiran atas namaku.
“Inilah nama itu..” terpampang jelas nama lengkap di kertas ini, akupun mulai meroobeknya perlahan dan kemudian aku jadi bersemangat untuk merobeknya lagi menjadi keping-keping yang kecil, aku menaburkannya ke atas, aku puas walaupun kemudian aku menangis dan aku menyesal.
“Wahyudin...........! sedang apa kamu duduk di bawah lemari? Terus ini kertas apa yang berserakan?” Manda datang menggagetkanku aku terhenti dari tangisku, Manda memeriksai kepingan kertas itu kemudian dia mulai menyusunnya.
“Ya ampun inikan Akta kelahiran kamu, kenapa kamu robek-robek? Kamu udah mulai gila ya Din? Bu.. Ibuu..... ini Bu Wahyudin ngambek dia sobekin Akta kelahirannya sendiri..........!” Mandabertteriak memanggil Ibu, akuu sedikit gemetar, aku takut Ibu marah atas perbuatanku.
“Ada apa ini Manda?” Ibu keluar dari kamarnya dan menghampiri kami, sepertinya dia sedang nggak enak badan.
“Ini Bu, Akta kelahirannya Wahyudin dia robek sendiri, dia mulai gila tuh Bu, masa Akta kelahirannya sendiri di robek-robek” ujar Manda
“Wahyu kamu kenapa?” tanya Ibu ku. Aku terdiam dan tak mampu menjawabnya, Ibu menatapku sedih, aku memang tak bisa menutupi rasa bersalah. Aku mulai terisak meneruskan sisa-sisa tangisku Ibu binggung dia cuma ikut sedih dengan apa yang aku lakukan.
“Wahyu, Ibu memang salah selama ini Ibu tak pernah bisa memahami kamu, Ibu jadi nggak tahu apa yang hharrus Ibu lakukan, harusnya kamu cerita kalau ada masalah bukannya ngambek seperti ini” tutur Ibu ku, tiba-tiba Ayahku datang dan memergoki kami.
“Ada apa ini? Kok pada ngumpul di sini?” Tanya Ayah
“Ini Ayah, Wahyudin udah mulai gila, masa Akta kelahirannya sendiri di sobek-sobek’’ jawab Manda menjelaskan
“Benar itu Wahyu?” Ayah menatapku tajam
“Iya Ayah aku yang menyobeknya, aku mau ganti nama, aku nggak mau nama bagus, aku nggak butuh itu Yah, harusnya Ayah kasih aku nama sederhana saja, kaya Duloh, Imin, atau Maman, atau yang jelek juga nggak apa-apa” jawabku dengan sedikit terisak.
“Maksud kamu apa Wahyu?”
“Iya buat apa Yah kalau namaku bagus terus hidup kita miskin seperti ini, tiap hari aku di hina, terus nggak bisa seperti teman-teman, yang uang jajannya banyak di sekolah, bisa beli ini itu, terus pakai sepeda bagus, juga punya Ayah yang berwibawa dan di hormati, bukan penjual nangka seperti Ayah yang suka bercanda dengan anak kecil di sekolahan, yang selalu bikin mereka ketawa, Ayah bukan Badut kan?!” akupun meluapkan emosi di depan Ayahku.
“Hentikan Wahyu, cukup!”
PLAKK......!!!! Ayah menamparku
“Anak macam apa kamu ini Wahyu? Kamu mau seperti abangmu si Samudera jadi anak durhaka, dan nggak menerima orang tuamu sendiri”. Seru Ayah yang tiba-tiba juga amarahnya keluar, aku kaget dan menangis menahan rasa sakit tamparan dari tangan Ayahku. Selama ini Ayah memang tak pernah memukulku, karna memang aku juga jarang menghabiskan waktuku bersamanya, aku tak sedekan itu sama Ayah, berbeda dengan aku sama Ibu yang tiap hari selalu bersamanya dan mengurusiku.
Kalaupun tiba-tiba Ayah memukulku itu karena aku sudah melewati batas norma-norma dan etikaku sebagai seorang anak. Aku tak kuasa menahan tangisku begitu juga Manda yang ikut mengeluarkan air mata kala melihatku tersakiti. Tapi Ibu, Ibu kemudian menjerit dan tubuhnya seketika mengejang dan jatuh kalau bukan Manda dengan sigap menagkapnya, mungkin kepala Ibu dengan keranya membentur ubin lantai. Beruntung tenaga Manda sekuat itu, dan kemudian membaringkannya di lantai.
“Ibu......!” teriakan Manda membuatku panik dengan kepala Ibu di pangkuannya, Manda sekuat tenaga menahannya agar kepala Ibu tak jatuh.
“Wahyudin cepat ambil sendok!” teriak Manda panik, aku buru-buru ke dapur dan mengambilkannya.
"Ini Manda” aku memberikan sendok itu pada Manda, perlahan Manda memasukan sendok itu ke mulut Ibu yang bergemelatuk dan penuh busa air liur, Manda berusaha menahan sendok itu agar lidah Ibu tak tergigit karena kuatnya pagutan muluut Ibu yang tak sadarkan diri, kemudian tubuh Ibu mulai lemas dan tertidur. Ayah yang sedari tadi panik dengan mulutnya yang terus berdo’a kini terlihat mulai tenang dan lega, Ayah mengangkat tubuh Ibu kedalam kamarnya.
“Manda ayo bamtu Ayah!” ujar Ayah, Manda menurut dan perlahan mulai membantu Ayah mengangkat tubuh Ibu, Ayah sepertinya keberatan, tapi beruntung Manda yang membantunya, sehingga tubuh Ibu berhasil di pindahkan ke kamarnya.
Aku mulai memikirkan diriku.
“Ya Tuhan aku memang pembawa masalah hikzz...” lagi-lagi air mataku keluar dan menyesal dengan apa yang telah aku lakukan
“Ayah benar, aku memang anak durhaka, mungkin setelah ini Ayh akan mengusirku, aku terdiam dan merenungi diriku.
“Ibu maafkan aku Bu, aku telah membuatmu sakit” dari balut pintu aku tenngok Ayah dan Manda yang tengah menunggu Ibu yang terbaring di tempat tidurnya. Aku sedih melihat keadaan keluargaku yang seperti ini, terlebih aku malah mempersulit keadaan mereka, mungkin aku memang tak pantas menjadi anak mereka dan bagian dari keluarga mereka. Dengan perasaan yang berkecamuk di dadaku, aku sengaja untuk melangkahkan kakiku keluar rumah, mungkin dengan begitu aku sedikit mendapatkan ketenangan.
"maafin Wahyu bu.. Wahyu nggak bermaksud membuat ibu jadi sakit hik.. hik" dengan berlerai air mata aku pun melangkahkan kakiku tanpa tujuan, kutinggalkan ibuku yang terbaring lemah tak berdaya itu. Pikirku biarlah Ayah dan Manda yang akan mengurusnya.
Aku cuma bingung apa yang harus aku lakukan rasanya semua orang tak peduli padaku tak terkecuali Ibu dan Manda kenapa semua orang tak mengerti keinginanku. Aku hanya pengen seperti teman-teman yang lain punya ibu yang sehat yang bisa selalu menemani kalau anaknya ada acara di sekolah dan Ayah yang berwibawa sehingga bisa kubangga kan di depan teman-temanku bukan ayah yang cuma penjual buah nangka seperti Ayah.. Kenapa ya Tuhan semua ini nggak adil buatku..
Kenapa Bang Samudera yang jelas-jelas udah hidup mapan tak pernah ingat akan penderitaan keluarganya di kampung. Lihat aku bang aku menderita abang jahat tidak pernah mau menolong kami disini apa abang tak pernah sadar atas apa yang dapatkan sekarang adalah jerih payah ayah, ayah kita tanpa terasa aku mulai sadar kalau ternyata langkah ku sudah terlalu jauh.
"ya Tuhan ini dimana ya.. Aduuuh aku tersesat deh kaya nya aduuuh.." aku mulai mengingat-ingat jejak langkah ku tadi, mulai dari aku lewat daerah persawahan kebun-kebun hingga aku menyeberangi jembatan.
Matahari mulai nampak lelah hingga menenggelamkan separuh wajahnya.
"aku harus pulang.. aku takut ayah marah lagi bisa-bisa aku di usir lagi dari rumah, tapi aku capek banget..mana dari siang nggak makan, ya Allah berikanlah hamba pertolonganmu.." sebait doaku mungkin berguna hingga tak lama kemudian sesosok bersepeda motor lewat dengan cepatnya melewatiku yang sedang berjalan tak tentu arah ini.
"ya Tuhan, harusnya tadi aku minta tolong sama orang itu, tapi nggak ah.. Siapa tahu dia itu orang jahat.." akhirnya akupun mencoba melanjutkan perjalanan ku ini meski masih mencoba menerka aku tetap optimis untuk bisa menemukan jalan pulang ku kembali. Tiba-tiba sepeda motor itu kembali dan mendekat ke arahku makin lama makin dekat dan tiba-tiba berhenti di hadapanku. Aku gemetar.
"Ya Tuhan lindungilah hambamu ini.." do’aku dalam hati. Sosok itu.. dia seperti tak asing Ya Tuhan bukannya dia orang yang selama ini hadir dalam mimpiku?. Laki-laki itu mulai mencopot helmnya
"De kamu mau kemana sudah sore begini ada di hutan sendirian lagi kamu sama siapa disini?" ucap laki-laki itu.
Suaranya.. Suaranya mirip banget sama orang yang ada di mimpiku motornya, bajunya juga. Ya Tuhan apa aku masih mimpi?
"De? Kamu kenapa kamu baik-baik saja kan?" aku terdiam rasanya tak cukup akal sehatku menerima keadaan ini.
"Aku... Aku baik-baik saja Bang.." suaraku gugup menjawabnya
"Adik darimana kok sampai berada di hutan sore-sore begini, sudah mau maghrib loh De, nggak baik anak kecil kaya kamu berada di hutan sendirian sore-sore begini.”
“Aku dari rumah temen Bang, aku nggak tahu jalan pulang" jawabku setengah putus asa.
"Kok bisa? apa kamu lupa sampai-sampai bisa tersesat di hutan seperti ini atau jangan-jangan kamu sengaja di buang oleh orang tuamu di hutan ini?"
"Nggak Bang aku cuma.." aku kehabisan kata-kataku dan terdiam. Aku nggak tahu apa harus kukatakan lagi padanya, di satu sisi aku takut kalau dia benar orang jahat, tapi di sisi lain cuma dia yang aku harap untuk menolongku dan mengantarku pulang sampai kerumah.
"Begini saja saya akan antar kamu pulang kalau kampong kamu deket, tapi kalau kampung mu jauh saya akan antar cuma sampai jalan raya saja bagaimana?" ungkapnya, aku masih membisu aku cuma bisa menganggukan kepalaku.
"Nama kamu siapa De, terus kampungmu dimana?"
“Namaku Wahyu bang, aku tinggal di kampung jingga..” jawabku pelan
“oke saya tahu yasudah ayo ikut saya naik motor” ajaknya. Aku masih terdiam dan ragu-ragu.
“Ya Tuhan semoga orang ini bener-bener mau membantuku mengantarku pulang,” gumamku
“Dik ayo naik, cepat keburu gelap nanti kita kemalaman di jalan” setelah akhirnya aku menaiki motor dan membonceng di belakangnya, Pria ini akhirnya mengajakku ngobrol dan dia mulai menceritakan tentang dirinya tentang namanya dan profesinya sebagai seorang prajurit.
“Oh ya Wahyu ini sudah mahgrib kita sholat dulu ya di depan sana ada Masjid, kita berhenti dulu ya?” tutur Bang Arif.
“Iya Bang” tak banyak kataku ucapkan, keplaku sedikit pusing, perutku semakin melilit, setelah sampai di depan Masjid, akhirnya kita turun di sini.
“Wahyu kamu kenapa? Kok mukamu seperti menahan rasa sakit gitu?” ucap Bang Arif khawatir.
“Kamu sakit ya?” Dia mulai memegang kepalaku, keningku di sentuhnya dengan telapak tanganya.
“Ya Tuhan badanmu panas sekali!” ucapnya panik
“Setelah sholat kita langsung makan ya, terus nanti Abang beli obat” lanjutnya. Setelah selesai sholat kina menuju ke sebuah Warung yang tak jauh dari Masjid itu. Aku dan Bang Arif lantas makan di Warung itu.
“Wahyu ayo makan yang banyak, habis ini langsung minum obat ya!” melihat aku yang tak nafsu makan Bang Arif sepertinya tak tega.
“Bang, apa seorang anak itu berhak mendapatkan kebahagiaan?” lirihku tiba-tiba, Bang Arif menatapku penuh tanya.
“Kok kamu tiba-tiba ngomongnya gitu? Kamu lagi dalam masalah wahyu? Kalau begitu ceritain aja semua sama Abang siapa tahu Abang bisa kasih solusi” jawabnya
“Sebenarnya aku malu Bang”
“Malu kenapa? Wahyu kalu kamu nggak cerita gimana Abang mengerti masalahmu apa, Abang janji Abang nggak akan ceritain kesiapa-siapa kok itu juga kalu Wahyu nya percaya sama Abang” ucapnya menyakiniku. Aku berusaha mempercayainya, anggap saja Dia Malaikat yang menolongku di saat aku butuh pertolongan, dan bukankah selama ini memang Dia yang selalu hadir di setiap mimpiku itu.
“Baik Bang, tapi abang janji ya jangan ceritain masalah ini pada siapa-siapa!” ucapku tegas, kemudian akhirnya akupun menceritakan semua tentang hidupku, tentang keluargaku, tentang masa-masa di mana aku tak seperti teman-teman lain yang terlihat bahagia dengan orang tuanya, dan tentang John sosok yang selama ini mengisi hari-hari ku.
"Apa yang kamu rasa itu serius Wahyu?" lirih Bang Arif, setelah mendengar tentang John dan apa yang selama ini kurasakan padanya.
"Iya Bang , aku sama sekali tak bisa untuk melupakannya, aku.. aku sayang dia Bang" Aku tahu apa yang kurasakan ini salah tapi Bang Arif dia sama sekali tak heran dengan kata-kataku dia coba memahamiku dengan sikapnya dan kelembutannya.
“Aku malu Bang” lirihku
“Malu? Malu kanapa Wahyu?” jawabnya
“Harusnya ini nggak usah aku ceritakan, aku takut Abang nggak mau lagi berteman dengaku setelah ku ceritakan semuanya tentang hidupku ini Bang”
“Wahyu dengar, begitu ada seseorang yang coba mempercayai saya sebisa mungkin, saya coba untuk menghargai orang tersebut, Wahyu kamu percaya kan sama Abang? Abang janji apapun keadaan kamu, Abang akan selalu jadi teman kamu Yu” Bang Arif memegang tanganku erat, perasaanku seketika menjadi tentram.
“Makasih ya Bang” ucapku, Bang Arif menganggukan kepalanya, matanya yang masih menatapku itu seakan ada sesuatu di dalam dirinya yang mau dia katakan, tapi munggkin karena keadaanku yang lagi sakit begini, jadi mungkin dia tak tega untuk mengutarakannya
“Wahyu ini di minum dulu obatnya” Bang Arif memberiku sebutir Pil kecil yang kemudian aku telan.
“Ini namanya Paracetamol Yu, Abang lupa kalu Abang masih menyimpannya di dalam Tas Abang”
“Makasih ya Bang sudah baik sama aku, aku jadi nggak tahu apa yang akan terjadi kalau Abang nggak menolongku sore tadi”
“Psssssssssttttt.... Sudahlah Wahyu anggap saja Takdir yang mempertemukan kita, dan semoga besok atau lusa kita bisa ketemu lagi, gimana apa mau Abang antar pulang sekarang?”
Aku mengangguk betapa leganya setelah Bang Arif akhirnya memutuskan untuk mengantarku pulang segera. Ayah, Ibu dan Manda pasti khawatir aku belum pulang sampai Jam segini padahal biasanya Jam segini aku lagi Ngaji di Surau, tapi bagaimana kalau kedatanganku, malah membuat mereka marah padaku. Ayah, Ibu, Manda maafkan aku, aku menyesal atas apa yang telah aku lakukan hari ini.
Secepat kilat Bang Arif mengendarai Motornya, perasaanku mulai tak karuan, aku takut menghadapi Ayah dan Ibu.
“Wahyu kamu gemetar lagi? Apa kamuu demam lagi?” perlahan Bang Arif memelankan laju kemudinya, kemudian dia menghentikan Motor hijau bernomor Plat Dinas itu.
“Aku takut Bang, aku takut Ayah marah hikzz....” aku mulai menangis.
“Wahyu percayalah sama Abang, orang tuamu pasti khawatir, mereka pasti pengen banget kamu pulang! Udah jangan menangis lagi ya! Percaya sama Abang, Ayah, Ibu kamu pasti nggak akan marah”
“Tapi Bang...”
“Lihat mata Abang Wahyu, semua pasti akan baik-baik saja” Bang Arif mencoba meyakinkanku. Bang Arif orang se dewasa dia masih mau peduli sama aku, di saat aku membutuhkan pertolongan dan membutuhkan seseorang yang mau mengerti aku, dia datang mungkin di saat tepat, entahlah, apa dia di utus Tuhan atau cuma kebetulan yang pasti keberdaannya ini telah membuatku tentram.
******
Beberapa menit kemudian, Aku dan Bang Arif sampai di rumahku terlihat beberapa orang ramai berada di teras rumahku.
“Wahyu Ya Allah, Alhamdulillah akhirnya kamu datang juga!” Suara sambutan para tetanggaku membuatku bingung . Ya Tuhan ternyata lebih dari apa yang kupikirkan, para tetenggaku ternyata sepeduli itu pada keluargaku mungkin ada beberapa juga yang telah keliling mencari-cari keberadaanku. Tak kulihat Ibu menyambutku tiba-tiba Ibu keluar dari dalam rumah bersama Ayah dan Manda serta merta mereka memelukku bergantian. Curahan tangis bahagia tertumpah dari mata Ibu dan Manda.
“Um, Ayah, Ibu kenalin ini Bang Arif yang menolongku” ucapku seraya menunjuk laki-laki gagah disampingku, dia tersenyum. Ramah tamah pun terjadi sosok Bang Arif yang mungkin sebagai Pahlawan itu kini dipuja oleh keluarga dan para tetenggaku meski begitu Bang Arif masih tetap sederhana dan tak sombong, ucapannya pun sangat sopan ketika bicara dengan para orang tua.
“Ibu Bapak semuanya,terima kasih buat semuanya tugas saya buat mengantar pulang si Wahyu sudah selesai kini saatnya saya pamit” seceria dan sebijaksana saat dia bicara itulah yang membuatku simpatik pada laki-laki berbaju loreng itu. Iya dia berjanji padaku untuk menemuiku lagi membawaku pada petualangan-petualangan yang telah ia janjikan. Bahwasanya laki-laki itu harus tahan banting , tidak cengeng, kuat dan selalu tegar menghadapi semua masalah hidup.salah satu pesan yang dia ucapkan padaku sebelum dia kembali ke tugasnya. Terima kasih Bang, untuk hari yang begitu berarti ini dengan motor hijau tunggangannya Bang Arif melesat jauh bak pangeran berkuda yang gagah berani.
Tamat . . .
From : Cerita Kaum Pelangi

No comments:
Post a Comment