Tentang John Dan Masa SD (Part 2)
By. Yb2O+
Suara langkah kaki itu makin lama makin mendekat dan aku semakin gemetar ketika dia mendekatiku.Iya, mau apa Dudung mendekatiku apa dia mau membikin aku malu lagi seperti dua tahun lalu. Apa tidak cukup kebenciannya padaku selama ini. Aku nggak akan mau cari masalah sama kamu Dung walau sebesar apapun kebencian ku padamu.kesombonganmu pun aku tak peduli aku tahu di darahmu juga masih ada darah kakek kita.aku lebih menghargai itu daripada kita musuhan,walaupun untuk dekat seperti dulu lagi juga itu rasanya nggak mungkin kita memang sudah beda haluan.
"wahyu!"seru nya sinis selama dua tahun ini kita memang tak pernah bertegur sapa apalagi buat ngobrol kaya dulu.Aku bingung harus bersikap apa padanya aku gugup menghadapinya.
"iya Dung ada apa?" ucap ku tergugup
"ada titipan dari ibu kamu, hhh.. Sebenarnya sih males bawa-bawa ginian karena kebetulan aku berangkatnya lewat depan rumah kamu dan ketemu sama ibu kamu dia menitipkan ini padaku" Dudung memberikanku Nasi bungkus, apa bener itu dari ibuku?biasanya ibuku tak pernah ngasih aku bekal apapun kalau aku ke sekolah.
"ayo terimalah, kata ibu kamu kamu belum sarapan.."
"e, iya Dung makasih ya tapi ini bener dari ibu aku?"
"ya iyalah wahyu kamu pikir aku kerajinan bawa-bawa in ini buat kamu hmmh,, satu lagi ya bilang sama ibu kamu lain kali nggak usah nitip-nitip lagi aku malu bawa-bawa nya, ngerepotin aku ajah.." ucapnya sinis seraya berlalu meninggalkanku.
*****
"Assalamualaikum Anak-anak.." dengan penuh ceria Bu Endang datang memasuki kelas kita.
"waalaikum salam Bu Guru.." semua Anak menjawab serempak termasuk aku
"bagaimana keadaan kalian pagi ini semoga baik saja ya murid-muridku, oh ya sebelum kita belajar ada yang mau ibu sampaikan dulu pada kalian. kita kedatangan teman baru di kelas kita, Nak John ayo masuk" tak lama kemudian seorang anak laki-laki dan seorang nenek-nenek memasuki kelas ini,
Anak laki-laki itu sepertinya keturunan tionghoa. Matanya sipit tapi nggak sesipit warga keturunan chinese lainnya, rambutnya yang lurus dan kasar berdiri-diri seperti landak saja. Dia tersenyum malu-malu sepertinya gugup menghadapi teman sekelas.Dan nenek tua berkerudung itu mungkin Neneknya tapi entahlah akupun baru pertama melihat mereka.
"ayo dek John perkenalkan dirimu sama teman-teman barumu" ujar Bu Endang menanyai Anak sipit itu.
"selamat pagi teman-teman mm, perkenalkan namaku John, nama lengkapku John Alam Mulyana" ucap nya memperkenalkan diri. Beberapa anak perempuan terlihat berbisik-bisik membicarakannya. Sepertinya mereka memuji-muji ketampanan anak itu.
"oh ya anak-anak kalian sudah tau kan nama teman baru kalian, namanya John dia pindahan dari Riau loh, ada yang tahu propinsi Riau terletak di pulau mana? Mm.. Wahyu coba kamu Jawab?" seketika Bu Guru menanyaiku. Aku yang sedang memikirkan Anak cina itu respek menjawab.
"China Bu.." ucapku
"Huuuuuuuuuh...." anak-anak ramai menyorakiku aku pun tersipu, ya Tuhan aku baru sadar kalau jawabanku salah.
"Wahyu kamu Salah..,Yaudah Aini coba kamu jawab?" kata-kata Bu Guru mencemoohku. Aku masih belum bisa menahan malu ku ya Tuhan bodoh sekali aku tadi memikirkan anak itu. Aduuh ada apa ya dengan pikiranku kenapa aku nggak biasanya seperti ini.
"oh ya Anak-anak karena dek John belum membawa alat-alat sekolah nya. Jadi hari ini dia nggak bisa ikut belajar bersama kalian, tapi dek John mau memilih dulu kursi yang buat belajar besok, jadi besok nggak usah bingung nyari tempat duduk lagi.. Anak-anak adakah bangku yang kosong buat temen baru kalian?"ibu Endang menyerukan suaranya
"di sini saja John.. disini saja John..!" sepertinya anak-anak itu mereka mencari perhatian John sebenarnya memang nggak ada bangku kosong selain tempat duduk disampingku dan di tempat paling belakang. Aku memang memilih posisi duduk yang berhadapan dengan meja Guru yaitu di depan. Anak-anak lain mana mau karena kalau dekat guru mereka akan di suruh menulis kecuali aku, makannya aku duduk sendirian di posisi depan ini dan bangku sebelahku memang kosong.
"di situ saja Bu.." John menunjuk tempat yang kosong di sebelahku mau nggak mau sekarang aku ada teman.
"oh bagus-bagus nak John, iya enakan di depan biar lebih fokus belajar nya, Wahyudin ajak John duduk di samping mu" Bu Endang memerintahku
"iya Bu.." aku hanya mengiyakan nya. Aku sedikit grogi kala John menghampiriku.
"hai Wahyudin, besok aku duduk di sini ya? Ohya nama lengkap kamu siapa?" ucap John dengan ramahnya. Dia kemudian mengulurkan tangannya.
"Wahyudin Mutaali.." ucapku seraya menjabat tangannya.
*****
Pagi ini seperti biasa aku dan Manda memulai perjalanan menuju sekolah ku. Sebenarnya kalau bukan Manda yang selalu perhatian padaku. Aku ingin sekali bisa berangkat sekolah bersama teman-teman sebayaku. Sayang nya itu nggak mungkin terjadi.karena pribadi ku yang tertutup dan itu membuatku tak punya banyak teman dan jarang bergaul kecuali hanya dengan satu teman saja, iya aku cuma bersahabat dengan sahabatku yang bernama Alim, cuma dia yang tau pribadi ku dan mungkin dia juga mempunyai pribadi yang sama denganku. Spesial, kami menyebutnya itu. mempunyai rasa suka dengan sesama laki-laki dan mempunyai rasa yang aneh ini mungkin bagiku adalah suatu petualangan selain juga penderitaan. Meski Alim tak menganggapnya begitu,Alim cuma lebih bisa menikmati nya katanya dia pengen banget punya pacar laki-laki yang bisa selalu bersama menemaninya sepanjang hari dan selalu berdua kemana-mana.
Aku pikir apa Alim tidak terlalu jauh berfikir seperti itu sedangkan kita saja masih SD. kok dia bisa ya mempunyai pikiran seperti itu.
Aku tahu dia sepertinya naksir sama teman sekelas nya yang bernama Subkhi. Anak yang populer di sekolahku itu meski otaknya tidak terlalu cerdas tapi dia selalu di gandrungi anak-anak perempuan karena ketampanannya dari murid kelas lima dan enam mana ada sih yang tidak suka sama yang bernama Subkhi itu.tak terkecuali si Alim yang selalu saja tak berputus asa untuk selalu mendekatinya meski si Subkhi selalu menghindar kalau dia dekati.
Aku pun sampai dikelas rupanya panjang umur juga si Alim sobatku yang dari pagi aku pikirkan ternyata dia sudah menungguiku di ruang kelasku di bangku ku pula.
"Alim?" kejutku
"wahyu lama banget sih, dari pagi aku tungguin kamu.." maki nya, rambutnya yang lurus berponi itu bergerak ke kanan dan ke kiri membuatnya tampak cantik seperti anak perempuan.
"hihi,, sory tadi ban sepeda kakakku kempes lim, ditengah jalan kita mompa ban dulu lim.." ujarku beralasan
"mm yaudah kita ke kantin yu beli sarapan.."
"tapi lim uang saku ku ngga cukup, ini cuma ada buat makan siangku"
"wahyu tenang aja aku yang traktir deh, kamu boleh makan apa aja sesukamu di kantin nanti aku yang bayar oke"
"kamu uang dari mana lim? Tumben kamu jadi royal gitu.."
"yaudah yuk nanti aku ceritain di kantin hehe.." ujar nya riang
Suasana kantin di pagi hari memang ramai banyak anak-anak yang sarapan di situ ada dua kantin di sekolahku masing-masing punya nama sendiri.
Kantin badak, kantin ini favorit anak laki-laki nggak heran semua yang makan disini adalah anak laki-laki semua selain kantin ini berjualan mainan ala anak laki-laki juga kantin ini juga membolehkan hutang buat para murid makannya tak jarang anak laki-laki di sini pada punya hutang di kantin Badak.
Satu nya lagi kantin Sirih terbayang kan kalau disini kantinnya para anak perempuan selain anak perempuan kantin ini juga di minati para guru karena tempat nya yang bersih makanannya juga bersih dan enak tapi soal harga dikantin Sirih memang agak lebih mahal jika di bandingkan dengan kantin Badak.
"wahyu? Gimana nih kita ke kantin mana makannya?" pertanyaan Alim membuatku bingung
"ke badak aja lah lim?" jawab ku
"tapi Yu, aku pengen makan ketopraknya kantin Sirih uuhh pasti enak ya.." wajah Alim penuh ekspresi saat membayangkan enaknya makan ketoprak di kantin sirih
Akhirnya Mak Esah membawakan dua piring ketoprak pesanan kami aku dan Alim pun tersenyum senang..
"hmm Yu,, katanya di kelas mu ada murid baru ya..?" Alim mengawali obrolan kami di meja kantin sirih yang telah banyak pelanggan nya ini.
"iya lim, murid baru itu juga duduk disebelahku, tapi kemaren itu dia baru mampir doang soalnya dia nggak bawa alat-alat belajarnya jadi cuma berkenalan sama temen sekelas terus nyari bangku buat duduk, abis gitu langsung pulang sama neneknya.." jawabku menjelaskan
"oohh.., terus terus dia cakep nggak.. Hehe terus namanya siapa Yu?" aku menatap aneh wajah Alim kenapa sih dia begitu ingin tahu sama murid baru itu
"Yu.. Ayo dong jawab namanya siapa?" Alim terus mendesakku aku sedikit kesal dengan perlakuan nya
"John.." jawabku singkat
"apa apa?"
"John..!"
"sekali lagi dong kurang denger.."
"Alim,kamu itu bisu apa tuli sih? Sudah ku bilang namanya John.. J O H N .." aku pun sampai mengejakan karena kesal oleh sikap si Alim
"oooh John, John ya hehe.. tapi nama lengkap nya dong Yu"
"nama lengkapnya John Alam Mulyana" Alim tersenyum puas dia melanjutkan kembali menyuapi mulutnya dengan ketoprak yang pedas itu.
selesai makan kita pun langsung masuk kelas masing-masing.
"Wahyudin kan..? Wahyudin Mutaali"nampak anak laki-laki bermata sipit dengan seragam putih merah rambut jabrik nya yang setengah basah itu nampak berdiri seperti landak itu menyapaku,postur tubuh nya walau lebih besar dariku.iya dia adalah John murid baru yang baru kemarin kenalan sama anak-anak sekelas itu.John begitu nampak gagah untuk anak seusianya
"Kamu udah tau namaku kan Din? Kalau lupa.. John Alam Mulyana"serunya dia kemudian menyodorkan tangannya aku terdiam menatapinya sampai agak lama kemudian akupun tak membalas jabatan tangannya
"jangan panggil aku Din aku nggak suka, cuma kakakku yang boleh panggil aku Din, panggil aku Wahyu!" ujarku cemberut John menatapku aneh
"oh ya Din mm,, maksudku Wahyu apa aku boleh duduk?"
"duduk aja kan kemaren udah di kasih tahu sama Bu Endang kalau itu tempat dudukmu.." jawabku masih dengan nada kasar
"yaudah makasih ya Wahyudin.."
"iya sama-sama " entah kenapa tiba-tiba jadi ada perasaan aneh saat melihati murid baru ini aku menjadi gugup rasanya mau bicara sama dia tapi aku malu
Beberapa menit kemudian anak-anak berlari menuju kelasnya masing-masing. Aku yang sedari tadi menikmati kegugupanku karena tempat dudukku yang beriringan dengan John, anak keturunan tiong hoa ini entah memilikki daya magis apa sampai aku di buat kaku dari tadi mematung karena tak tahu harus berbicara apa dengannya. Untung bel tanda masuk sekolah menyelamatkanku dan Ibu guru wali kelasku langsung datang mengucap salam.
"selamat pagi anak-anak assalamualaikum.." begitulah tiap pagi di sekolahku dan tiap hari juga aku selalu mengalami hari yang sama belajar,menulis ,membaca,berhitung dan semua yang dikerjakan setiap anak sekolah itu aku juga mengalaminya kadang membosankan tapi sejak ada John sedikit banyak hidupku jadi berubah.
*****
"Wahyu tunggu.." dengan napas tersengal John mengejarku
"tadi penggarismu ketinggalan.." John menyodorkan benda itu padaku
"makasih John.." ucapku datar sambil menerima penggaris itu aku langsung memalingkan tubuhku dan pergi
"Wahyu..?" John kembali memanggilku
"ada apa?"
"kamu nggak naik sepeda?"
"aku nggak punya sepeda"
"mm, aku boncengin ya mau ngga?"
"makasih deh john nggak usah repot-repot"
"Wahyu aku serius!" John menatapku tajam seolah dia meyakinkanku kalau dia memang benar-benar ingin mengajakku untuk naik sepedanya. Aku diam dan berfikir panjang.
"yuk??" Secepat kilat John mengambil sepedanya aku seperti terhipnotis oleh bujukannya. Entah kebahagiaan darimana yang menghampiriku.aku seperti mimpi selama ini tidak pernah ada yang memperlakukan aku seperti ini.
Tentang hidupku yang sesepi ini.aku sadar selama ini aku egois hingga tak memberi kesempatan pada orang lain untuk memahamiku.dan selama ini aku lebih banyak diam dari pada mengekspresi kan apa yang ada di hatiku.Bahkan keluargaku sendiri tidak pernah mengerti apa yang aku mau selama ini. Tapi John menepis semuanya dia orang pertama yang membuat hatiku seperti lilin yang terbakar api.
Setelah pelajaran yang diberikan Bu Endang selesai.saatnya murid-murid meninggalkan kelasnya bersamaan.
"Wahyu kita pulang bareng lagi yu?" dengan manis John menawarkan jasa nya padaku.
"kalau kamu nggak keberatan sebenarnya tadi aku udah janjian sama Alim buat pulang bareng, tapi yaudah deh aku ikut kamu John soalnya anak kelas 6B itu kadang pulang sampai jam dua.." jawabku
"beneran? Alim nggak apa-apa kalau kamu tinggalin?" John meyakinkanku. aku menganggukan kepalaku. Entah kenapa sebenarnya aku lebih senang pulang sama John daripada pulang bareng sama sahabatku sendiri si Alim. Aku pun bingung tapi aku merasa nyaman di dekat John ada sesuatu di benakku yang membuatku merasa bahagia kalau didekatnya.
"Jooohnn.. Jooohn sini deeehh..!"
"suara dudung, ada apa ya dia memanggil John? Jangan-jangan dia mau menjelek-jelekanku di depan John" gumamku , aku dan John yang berjalan belum terlalu jauh dari pintu kelas kini terhenti oleh panggilan Dudung.
"Wahyu aku di panggil tuh, aku kesana dulu ya sebentar, sepertinya Dudung mau ngomong sesuatu padaku" ucap John meminta ijin padaku aku pun mengiyakannya
"Yaudah kamu kesana aja aku biar nunggu disini aja"
"kamu ikut aja yoo.. Siapa tahu Dudung juga mau ngomong sama kamu.." aku terdiam dan tak merespon kata-kata John. Secepat itu suasana hatiku jadi berubah malas karena melihat wajah Dudung yang sombong itu.
"mm,, yaudah biar aku sendirian aja yang kesana.." sepertinya John terlalu pintar untuk mengerti dan membaca raut wajahku kalau aku memang tak ingin berdekatan dengan anak sombong itu. John pun berlalu dari hadapanku. Aku cuma bisa melihatnya dari jauh.
John nampak senang bercanda dengan Dudung ,Aini dan Andi. Kembali ada yang terasa perih di dadaku ini. Sepertinya aku memang nggak pantas berteman dengan kamu John. kamu memang lebih pantas dengan mereka. Rasa sesak di dadaku membuatku tak tahan berlama-lama berdiri di koridor sekolah yang sempit penuh dengan Anak-anak yang keluar masuk kelas dan juga yang pulang ke rumahnya masing-masing itu. Beberapa anak terlihat berdiri mengobrol di tengah-tengah koridor kelas ini termasuk Dudung dan genk nya yang sibuk bercanda dan ketawa-tawa dengan John teman baru yang nyaris akrab denganku.Tapi aku pikir nggak ada gunanya aku lama-lama menunggu dia. pikirku toh dia juga pasti akan pulang bersama genk nya Dudung.
Akhirnya kuputuskan untuk pulang sendiri. Aku nggak boleh berharap padanya aku memang nggak pantas berteman dengan dia, harusnya aku sadar itu. Tapi buat apa sedih aku kan masih punya Alim dan dia satu-satunya teman terbaikku dia paling berharga dari pada John atau siapapun. Sepanjang perjalanan pulang aku sibuk bergulat batin dengan diriku sendiri.
Hari berikutnya di SDN pelangi jingga nampak lengang. Pagi ini kayak nya anak-anak banyak yang datang terlambat. Memang, mendung yang gelap ini membuat pagi ini masih saja kelihatan buta padahal jam di dinding sekolah sudah menunjukkan pukul 07.08,cuma ada bebearapa anak di kelas ini yang sudah mulai duduk di bangkunya masing-masing.
Sebentar lagi mau hujan beruntung tadi Manda naik sepeda ngebut aku jadi nggak sampai basah gara-gara kehujanan. Rintik-rintik di luar jendela membuatku tertarik untuk memandangnya. Mungkinkah ada musim hujan lagi yang kulihat di SD ku tercinta ini. SDN Pelangi Jingga, hidupku di sini masihkah tahun depan aku bisa merasakan suasanamu keramahanmu,ilmumu, dan pendidikanmu lebih dari aku sebagai anak sekolah yang haus ilmu, mungkinkah aku bisa suatu hari mengabdi padamu, tiba-tiba keinginanku muncul. Andai aku jadi seorang guru dan mengajar disini. Tentunya hari-hariku akan menyenangkan. Melihat anak-anak sekolah terus setiap hari mengajari mereka hingga mereka jadi pintar bukankah itu hal yang sangat luar biasa.
"Wahyu..!" ternyata John dari tadi memperhatikan aku yang sedang menatapi air hujan dari balik jendela.
"oh, John kamu kehujanan? Rambutmu basah!" "iya nih untung tadi aku keburu nyampe kelas hehe.." John terkekeh seraya menyeka rambut landaknya dengan sapu tangan birunya.
"Wahyu, kamu kemaren kemana aku sampai bingung nyariin.."
"aku..mmm,, akuuu oh ya aku mau ke kelas 6B dulu John, lupa aku ada janji sama si Alim.." dengan bergegas aku buru-buru meninggalkan John.
"Wahyu tunggu kamu belum jawab pertanyaanku, kamu kemaren kemana, kamu kan udah bilang mau pulang bersamaku.."setengah lari John sibuk mengejarku. langkah ku terhenti
"Maaf John aku kemaren buru-buru ibuku sakit"
"ibumu sakit? Wahyu kamu nggak marah kan sama aku?"
"nggak lah john ngapain juga marah sama kamu, kamu nggak salah apa-apa kok, yaudah aku nemuin si Alim dulu ya John"
"Wahyu aku ikut, aku juga pengen kenal sama si Alim boleh kan..?" sepertinya aku terjebak sama kata-kata ku sendiri ya Tuhan kenapa susah sekali menghindar dari John.
"ya udah.." dengan sangat terpaksa aku membolehkannya di satu sisi sebenarnya aku pengen banget deket sama kamu John. Tapi aku takut suatu hari kamu mengecewakanku John aku cuma nggak mau berharap untuk bisa lebih dekat sama kamu John aku takut sakit.
"kemarin ngobrol apa aja sama Dudung?" tanyaku sambil jalan menuju ke kelas 6B akupun cari tahu tentang pertemuan mereka kemarin.
"Dudung?hehe rahasia dong, kenapa? Cemburu ya..?" ujarnya renyah
"iihh John apaan sih, emangnya aku pacarmu cemburu sama kamu lagian kalau aku jadi cewek juga ogah banget ya suka sama kamu.."
"jangan bohong ahh, buktinya kamu sekarang lagi ngehindar dari aku kan,biar kamu nggak bisa suka sama aku ya kan,kamu takut kan jatuh cinta sama aku.. hayooo ngakuu?" John menggodaku aku tersipu. Aku sedikit heran sepertinya John punya indera ke enam buktinya selama ini dia selalu tahu tentang perasaanku walaupun itu cuma sekedar candaan semata.
"udah ah John candaanmu itu nggak lucu.." aku pun pasang mimik ngambek.
"jiaaah dia ngambek.." gerutu John dibelakangku.
Sampai di kelas 6B
"si Alim nya mana Yu? Kok nggak ada di kelas padahal kan ini udah mau bel loh!" seloroh John. Ya Tuhan sekali lagi aku memang bodoh padahal jelas-jelas tadi malam si Alim pamit padaku mau ke Jakarta dia nggak bisa masuk sekolah karena di ajak jalan-jalan ke Jakarta oleh saudaranya.
"yuk kita balik ke kelas kita aja yuk Yu..?" John mendesak ku aku pun tak berkutik. Kebetulan bel tanda masuk sekolah sudah berbunyi. Aku pun akhirnya memasuki kelasku bersama anak keturunan tionghoa itu.
"eh, hujannya mantap ya enak dingin.." kedua tangan John menadah air hujan yang turun dari genting. Ingin rasanya aku mengikutinya menadahi air hujan yang jernih itu.
"Wahyu awasss!!" dengan jailnya John mencipratkan air yang ditangan nya itu. Tak pelak aku pun basah terkena cipratannya.
"aachh.. Yaah John kamu jail banget sih, nih rasakan pembalasanku.. Hahaha.." aku pun akhirnya membalas serangannya hingga kita berdua saling menyerang.
Tak ada yang lebih membahagiakan selain dekat denganmu John. Hari-hariku yang dulu hampa rasanya kini berubah ceria. Aku nggak tahu kalau misalnya kamu tiba-tiba pergi dari hidupku mungkin aku memilih mati saja.
Kebahagiaan baruku adalah setiap ke sekolah aku selalu bertemu dengan kamu John. Bisa dekat dengan kamu itu rasanya menyenangkan, mengobrol,bercanda, jajan bareng atau bahkan pulang bareng sama kamu.itu yang selalu aku mau dan memang kamu selalu bisa untuk mengantarku pulang sampai di rumah.
*****
Lomba puisi antar kelas sudah mulai dekat dan besok acaranya dimulai.
Aku bingung semalam epilepsi Ibuku kambuh lagi padahal dia janji akan datang ke Acaraku untuk melihatku membaca puisi di pentas. Tapi apa ibu pagi ini udah sehat ya?
"Buu? Ibu jadi kan datang ke acara Wahyu hari ini?kalau ibu belum sehat ya nggak apa-apa ibu istirahat ajah.." lirihku ibu masih terbaring lemah di tempat tidurnya. Aku sama sekali tak mempunyai harapan bahwa ibu akan datang aku memang harus siap di sekolah nanti. Saat acara di mulai dan siswa-siswa lain dengan bangga membacakan Puisi di depan orang tua mereka masing-masing. Sementara aku, aku akan membacanya sendiri tanpa harus bangga di depan orang tuaku di depan ibuku yang sakit ini..
"wahyu? Maafin ibu ya nak, ibu selalu saja mengecewakan kamu, kalau gitu biar Manda saja ya yang mendampingimu sebagai wakil ibu.
"iya bu nggak apa kok, kalau ibu masih sakit Wahyu juga nggak kenapa-kenapa, Manda lagi ada kegiatan penting di sekolah bu jadi.. Biar Wahyu sendirian aja .." mengubur harapan itu memang lebih baik daripada aku sedih dan tak menerima kenyataan. Aku ngerti keadaanku dari kecil, dan aku memang harus belajar dewasa karenanya.
"Assalamualaikum.." suara salam dari luar sampai ke telingaku sepertinya suara itu tak asing
"Wahyuuu ada temen kamu tuuh.."teriakan Manda memaksaku keluar dari kamar ibuku.
"John..! Kok tumben pagi-pagi udah sampai ke rumahku?" ucapku setengah terkejut melihat John. Anak laki-laki yang aku suka pagi-pagi sudah berada di depan rumahku
"hehe, heran ya.. Pagi-pagi aku udah sampai sini. Aku baru dari rumah Bibi Njum nganterin makanan tadi di suruh nenek, bibi Njum itu besannya nenekku. nenekku lagi selametan kebetulan Bibi Njum kan tetangga an sama kamu jadi aku sekalian mampir nyamperin kamu ke sekolah" kedatangan John sedikit menghiburku paling nggak aku tak lagi bersedu sedan memikirkan acara puisi nanti yang tanpa kehadiran ibuku.
"oh ya ini ada sedikit makanan dari nenekku.." John menyerahkan box makanan itu padaku
"aku kebagian juga John?"ujarku tersanjung
"iya lah kamu kan seseorang yang teramat berarti buat hidupku Yu, jadi apa sih yang nggak buat kamu.." aku tersipu, lagi-lagi John selalu memancing perasaanku. Aku nggak tahu harus bersikap apa sama dia.Yang jelas saat ini semua kesedihanku hilang saat aku di dekatmu John.
"yaudah ayo dimakan dulu Yu, kan kamu mau ikut lomba jadi kamu harus semangat ya!"
"apaan tuh? Bagi dong Dinn.." Manda menghampiri kami
"Nasi kuning Man, dari neneknya John yaudah ayo makan bareng.." jawabku.
Setelah makan dan pamitan sama ibu aku John dan Manda berangkat ke sekolah bersama.
Begitu ramai suasana di sekolahku pagi ini. Hiruk pikuk para siswa membuatku bising.
Panggung yang berdiri buat para peserta beradu bakat membacakan puisi yang di lombakan telah berdiri megah. Kursi-kursi buat para undangan pun telah terjejer rapi.setiap tahun sekolah kami selalu mengadakan acara ini.Para siswa datang dengan di temani ibu mereka masing-masing kecuali aku. Tapi itu tidak membuatku patah semangat beruntung sekali aku punya teman seperti John, dia selalu ada di setiap aku lagi membutuhkan seseorang buat bersandar.
"yang sabar ya Wahyu kan masih ada aku sebagai ganti ibumu.." ucap John berusaha menghiburku. Aku tersenyum simpul seraya berterima kasih padanya karena cuma dia yang selama ini mengerti perasaanku.
"oh ya nenekku juga mau datang loh, aku udah bilang sama nenek bahwa sahabat ku si Wahyu mau ikutan maju ke pentas jadi Nenek harus datang ya? Aku bilang begitu sama nenekku loh Yu.."ucapnya antusias.
"oh ya? Kamu terlalu berlebihan John.."
"nggak berlebihan kok, kan kemaren aku lihat kamu latihan itu sudah bagus banget, aku sampai terharu tau nggak dengernya.." John tak pernah berhenti menyanjungku, memujiku dan menghiburku entah terbuat dari apa hatinya, tak hentinya dia memperlakukan aku seolah aku ini istimewa.
"oh ya kostum mu dong di pakai, lihat tuh anak-anak udah pada di pakai"
"yaudah aku kekamar mandi dulu ya John.."
"oke, aku tunggu dari luar ya..?"
Kemeja putih,celana panjang putih,peci hitam.. Ibu yang telah mempersiapkan ini semua dari kemarin, sebelum akhirnya epilepsi nya kambuh dan tubuhnya mengejang dia masih sempat memasukkan kostumku ini ke dalam ransel sekolahku.
"bu, andai ibu sehat ibu pasti melihatku sedang berdiri di atas pentas itu dan membacakan puisi untukmu bu.." aku pun merenung menatapi diriku didalam cermin.
"waaahh kerennya! Wahyu kamu cakep banget pakai kostum serba putih" lagi-lagi John tak berhenti memujiku aku sedikit tak percaya diri.
"udaahh, ganteng kok" John berusaha meyakinku kalau aku udah sempurna.
"Wahyuu, ya Tuhan kamu cakep banget.." Alim datang menghampiriku dan John di depan Toilet.
"Yaudah yoo kita ke depan panggung, acaranya bentar lagi dimulai loh.." ajak Alim begitu tak sabar untuk melihat acara lomba puisi antar kelas itu.
Lomba puisi antar kelas di bagi tiga kategori kategori pertama. Kelas satu dan kelas dua pesertanya.
Kategori ke dua kelas tiga dan kelas empat
kategori ke tiga kelas lima dan kelas enam.
Aku masuk kategori ke tiga.
Masing-masing kategori berjumlah sepuluh peserta jadi setiap kelas di ambil lima peserta.
"Wahyu itu nenekku datang, aku jemput nenekku dulu ya kamu tunggu disini" ucap John seraya meninggalkanku
"aku duduk mematung di antara ratusan siswa dan beberapa diantaranya adalah peserta lomba puisi antar kelas.
"dooorr.. Wahyu kamu diem aja sih, mana ibumu belum datang juga" Alim membuyarkan lamunanku nampak ibunya di samping dia.
"ibuku sakit Lim.." lirihku aku berusaha untuk tersenyum di depannya walaupun ada yang terasa sakit di hatiku. Aku tak mau lagi berharap aku akan menang atau puisiku bagus ku bacakan. Pikirku percuma saja aku tampil dengan bagus sementara di sini nggak ada orang tuaku yang melihatku dan membuatku bangga.
"Yaudah yang sabar ya nak Wahyu moga ibumu cepat sembuh ya.." tutur ibunya alim menguatkanku.
"Wahyu ini nenekku dateng nih mau lihat kamu baca puisi di pentas ya kan Nek?" tiba-tiba John datang dengan Neneknya. aku bahagia semua teman mendukungku Alim,John kalian sungguh berarti buatku.
Acara di mulai.
Mulai dari pembukaan, terus Lomba puisi pun di mulai dengan kategori pertama. Dengan peserta anak-anak kelas satu dan dua. Suasana Panggung pun jadi begitu meriah dan lucu.
Sampai pada kategori kedua aku masih menikmati tingkah anak-anak kecil itu di atas pentas aku Alimdan John tiada berhenti ketawa kecil, menertawakan para peserta kecil itu.
"hihi lucu ya Yu, sampai sakit nih perutku gara-gara ketawain si Maman tadi.."
"iya haha tau ngga John itu mah bukan puisi tadi si Maman mah nyanyi, perutnya itu loh goyang-goyang mulu haha.." aku pun ikut ketawa membicarakan Maman peserta kelas tiga itu,karena perutnya yang goyang-goyang terus saat baca puisi.apalagi musik pengiringnya tiba-tiba berubah jadi dangdut sontak semua penonton ketawa melihat tingkah laku Maman dan musik pengiring nya. "tapi kreatif juga ya idenya si Maman aku sih jago in dia buat jadi juara.." sahut Alim menimpali pembicaraan kita.
"Wahyu?" lirih John tiba-tiba tangan nya memegang tanganku dengan lembut. Pandangannya begitu kuat menatap mataku. Aku tak kuasa menahan tatapannya kutundukkan muka ku dari pandangan John.
"minum dulu Wahyu, ini ada air,nenek yang bawa dari rumah.." John mengulurkan botol yang berisi air minum itu padaku. mendadak perasaan dag dig dug yang aku rasakan tadi itu hilang. aku pikir John mau mengatakkan apa padaku, kalau cuma nawarin minum kenapa harus selembut itu John.
"makasih ya John. Aku minum dulu airnya.."
setelah kategori pertama dan kedua selesai kini saatnya kategori ketiga dimulai. Yaitu peserta dari kelas lima dan kelas enam. Panitia lomba mengumumkan.
"baik lah kita langsung saja panggilkan peserta pertama dari kategori tiga ini dari murid kelas enam Alim juana..!" suara MC menggema dari pengeras suara itu nama Alim yang di sebut pertama buat maju ke atas pentas. Aku tersenyum melihat Alim yang sedikit gugup mau melangkahkan kakinya ke atas pentas itu.
"semangat ya lim..!" ujar ku. Berbanggalah Alim karena ibunya yang mendampingi kini bisa melihat Anaknya berunjuk bakat dihadapannya sedangkan aku, mungkin aku hanya melakukannya untuk diriku sendiri.
Setelah Alim turun dari panggung terlihat mukanya ceria dan bersinar. Seolah sudah mendapatkan apa yang dia inginkan.
"gimana tadi penampilanku Yu, John?" tanya nya pada kita berdua
"Alim hebat tadi puisinya bagus banget, moga menang ya?" ujar John memujinya aku cuma bisa tersenyum mendengar kata-kata John. Mungkinkah John akan memujiku juga saat aku turun dari pentas nanti, hatiku pun penuh tanya.
"Baiklah kini kita panggilkan lagi peserta kedua kategori tiga ini, dari anak kelas enam lagi Ananda Wahyudin Mutaalii.." seolah ada yang memukul dadaku keras-keras aku pun gugup setengah mati.
"Wahyu.." lirih John dia meraih kedua tanganku
"jangan gugup ya? Lihat mataku, ada aku di sini yang selalu akan mendukungmu, aku yakin kamu pasti bisa!" lirihnya seraya mengeratkan pegangan tangannya di kedua tanganku
"kata-kata itu yang aku butuhkan sekarang John,"mata kami saling memandang, tatapan teduhnya seolah menyejukkan hatiku hingga hilanglah semua gugup yang aku rasakan saat ini. Perlahan terlepaslah tangannya dari tanganku dengan perasaan yang sudah terlalu baik aku pun melangkah pergi menuju panggung lomba itu.
"ayo Wahyu kamu pasti bisa..!!" teriaknya seolah memanggilku aku pun menengok dan tersenyum ke Arahnya.
Bersambung . . .
[Next]
From : Cerita Kaum Pelangi

No comments:
Post a Comment