Tentang John Dan Masa SD (Part 1)
By. Yb2O+
Kadang bagi sebagian orang masa-masa SD adalah masa kecil yang terlewatkan begitu saja. Tapi buatku masa SD itu adalah hal yang sangat berarti yang seumur hidup nggak bisa aku lupakan.
Hari yang berlalu sungguh tidak terasa, dan tentang cinta yang beberapa tahun lalu itu membuatku kadang suka tersenyum sendiri, John.. Terima kasih untuk semua yang kau beri padaku itu semua lebih dari sekedar indah buatku.
Kampung jingga, Agustus 1998
"Wahyudiiiin bangun.., udah siang tauu kamu ngga sekolah? Nanti kena hukum baru tau rasa loh.." suara Manda, kakakku mengusik membuat tidurku mulai tak nyaman lagi
"iya iya.. Aku berangkat kok, yaudah tunggu nanti bareng berangkatnya"rengek ku manja aku menggeliat kan badanku dan berlalu meninggalkan Manda yang sejak tadi berusaha membangunkanku. Manda, dia kakak perempuan ku tersayang walau kadang suka membuatku kesal tapi sebenarnya dia begitu perhatian padaku, tapi kadang aku yang suka iri padanya. Manda selalu saja di manja oleh ibu, apa yang menjadi keinginan nya ibu selalu menurutinya. Mulai dari Manda yang suka di belikan baju-baju bagus ataupun dibeliin sepeda, kenapa ibu selalu lebih sayang pada Manda? Apa karena dia perempuan atau memang aku yang terlalu sensitif.
Manda bilang
"Din kamu itu anak laki-laki, laki-laki nggak boleh terlalu manja, kalau terlalu manja itu nggak sehat buat perkembangan jiwa kamu, salah-salah nanti kamu bisa jadi gay lagi" nggak tahu kenapa kata-kata Manda itu kadang suka terngiang di telingaku.
******
kedua kaki Manda tidak berhenti mengayuh sepedanya
"Manda.. Biar aku aja yang nyetir ya, kamu apa nggak capek?" rengekku padanya, setiap hari aku selalu diantarkan tiap berangkat sekolah meski Manda sudah masuk SMP dan sekolah kita berjauhan dia selalu setia mengantarkan ku ke sekolah tiap pagi, kecuali kalau pulang aku selalu jalan kaki karena Manda mempunyai jam pelajaran yang lebih dari aku, dia selalu pulang sore sedang aku paling telat jam satu siang sudah sampai rumah.
"udah lah Din kamu duduk aja yang manis bentar lagi juga sampai, udah biar aku yang nyetir" jawab Manda dengan napas kembang kempis
"tapi Manda, aku kan anak laki-laki, anak laki-laki kan harus kuat dan tidak boleh cengeng kamu kan pernah bilang kaya gitu padaku.."
"iya Din tapi untuk yang satu ini nggak usah ya? Plis.."
"ahhh Manda pelit bilang ajah nggak boleh" aku cemberut. Manda kemudian menghentikan sepedanya
"kamu ngambek Din? Yaudah nih nyetir gantian." tawar Manda padaku.dengan mulut manyun aku memalingkan mukaku
"kenapa? Yaudaah kalo nggak mau.. Dasar ngambekkan" perlahan aku turun dari sepeda biru kepunyaan Manda itu kemudian aku berjalan tanpa menghiraukan Manda.
"diiin.. diiiin.. Wahyudiiin.. kamu gitu aja ngambek sih, tungguin dooong ayo naik lagi ke sepeda" Manda mengejarku dengan sepedanya dia mencegatku dan menghentikan langkahku.
"udahlah Manda, aku sadar kok kalau selama ini Ayah dan ibu lebih sayang sama kamu dari pada sama aku, buktinya beli sepeda juga cuma buat kamu doang sementara aku.. Biarlah mulai sekarang kamu ngga usah nganterin aku ke sekolah lagi!" ucapku marah padanya
"diin, kamu itu sensitif banget sih dengerin aku, Ayah sama Ibu itu sayang sama kita kalau selama ini kamu merasa di anak tiri kan itu cuma perasaanmu saja Din, Ibu sayang kok sama kamu buktinya dia selalu membeli kan barang yang sama buat kita kecuali baju itu kan karena kamu anak laki-laki, makannya kadang ibu suka membeli kan aku baju dengan harga yang mahal dan memang rata-rata baju anak perempuan itu lebih mahal dari pada baju anak laki-laki. Gitu loh din.. Jadi kamu nggak usah iri sama aku ya? Wong kita sama-sama di lahirkan dari rahim yang sama kok.." Manda menasehatiku panjang lebar dengan kata-katanya aku pun akhirnya mau juga di bujuk buat naik sepeda kembali.
Sampai di sekolah
Sepagi ini ruangan masih sepi tampak satu anak perempuan dengan rambut nya yang berkuncir kuda namanya Aini dia dulu akrab sekali denganku Aini anak yang manis dan pintar dia juga baik hati. sebenarnya rumahnya juga tak jauh dari rumahku, dulu.. Kita selalu berangkat sekolah bersama sejak peristiwa waktu kelas empat itu kita jadi jauh.
SDN Pelangi Jingga 1996
Aku, Aini,Dudung, Andi kita adalah genk, hmm.. Kita merupakan anak-anak yang cerdas ketua genk nya si Dudung dia sepupuku, tapi keluarga kita jauh dan mungkin perang dingin, mungkin karena keluargaku lebih miskin dari keluarga mereka yang mungkin lebih berada. Ayahku dulu sering meminjam uang sama mereka sampai satu hari mereka terlibat konflik sampai akhirnya keluarga aku dan keluarga Dudung jauh dan tidak pernah saling menegur.
Suatu hari di kelas empat diadakan tugas belajar kelompok membuat gambar Peta seperti layak nya ketua genk dudung yang selalu mengatur semua kegiatan kami dari mulai tempat,waktu,dan biaya buat tugas kelompok.
"Wahyu,Andi,Aini, kalian nanti malam datang kerumahku ya, bawa duit seribu rupiah, dan bahan-bahan yang buat tugas kelompok nanti aku yang beliin,aku talangin dulu pakai uangku gimana kalian setuju kan?" seloroh dudung tegas
"oke Dung aku setuju.." Aini dan Andi telah menyampaikan keputusannya sedang aku, aku bingung uang seribu itu besar sedangkan uang sakuku aja cuma lima ratus. Mungkin nggak ya ibu mau membeeriku uang sebesar itu? Tapi apa ibu punya uang.
"Wahyu, kok kamu diem ajah.. gimana kamu setuju nggak?" ujar Dudung membuatku tambah bingung akhirnya tanpa mengambil resiko aku bilang iya, aku menganggukkan kepalaku
"haha bagus semuanya, kali ini pasti kelompok kita juara dan siapa lagi yang berani menyaingi kelompok kita betul ngga semuanya.." Dudung membanggakan dirinya sementara Andi dan Aini mendukungnya aku, aku cuma ikut ketawa kecil
"yaudah semua ayo kita masuk kelas bentar lagi bel masuk bunyi" pungkas Dudung
pulang sekolah aku langsung menemui ibuku
"assalamualaikum buu.." ibuku sedang terbaring lemah di tempat tidurnya
"Wahyu kamu udah datang nak? Manda mana?" lirihnya
"Manda masih ada kegiatan bu di rumah Pak Bambang, ibu kenapa? Ibu abis kejang lagi?" aku memperhatikan wajah ibuku sepertinya epilepsi nya habis kambuh kasihan ibuku sejak lima tahun lalu dia menderita epilepsi tepatnya setelah hamil adikku terus ibu keguguran kata dokter ada jaringan syaraf nya yang nggak beres aku juga tak mengerti apa kata dokter tapi sejak itu ibuku jadi sering kejang dan dari mulutnya suka keluar busa.
"ibu belum masak Yu, nanti kamu nunggu Manda yang masak ya.. Yaudah kamu sana mandi aja dulu terus sholat"
"baik bu, tapi bu Wahyu mau bilang sesuatu dulu sama ibu"
"bilang apa?"
"ibu nanti malem wahyu mau belajar kelompok sama Dudung, ibu ada uang ngga nggak banyak sih bu cuma seribu buat patungan beli kertas dan krayon Wahyu mau bikin Peta bu"
"Wahyu Ibu lagi nggak punya uang nak, tadi saja ibu belanja nya ngutang di warung, yaudah nunggu ayah kamu datang ya" ini yang selalu nggak mau kulakukan minta uang pada ibuku sama juga aku berharap sesuatu yang nggak mungkin aku tahu ibu nggak akan pernah mengasih karena dia sendiri juga nggak punya uang, setiap hari ibu cuma dikasih jatah uang yang nggak banyak oleh Ayah, karena ayah juga memang berpenghasilan sedikit. Aku benci hidup seperti ini aku benci hidup miskin semua ini gara-gara Abang Samudera. Coba Abang Samudera tidak minta kuliah di ITB pasti Ayah tidak akan menjual sawahnya. Dan pastinya keluargaku pasti masih bisa hidup berkecukupan dan pastinya aku masih bisa hidup seperti teman-teman yang lainnya tiap hari di kasih uang banyak sepeda baru dan mainan baru.
"Din, ngapain bengong di depan pintu sendirian, kamu udah makan?" Manda datang menyapaku sepertinya dia kecapekan habis pulang sekolah
"Din tau nggak besok ada festival sulap di alun-alun kecamatan aku mau lihat sama teman-teman satu kelas, tapi aku mau minta uang dulu ahh..sama ibu" ucap Manda antusias "ibu abis kambuh dia ada di kamarnya.."lirihku
"kamu serius Din yaudah aku masuk dulu.."
sesaat kemudian Manda keluar dari kamar ibu tangannya membawa selembar uang seribuan.
"uang dari mana kamu Man?" tanyaku
"dari tabungan ibu aku di kasih sama dia.."
aku sedikit tersinggung oleh ucapan Manda kenapa dia minta cuma buat nonton sulap dikasih sedangkan aku minta buat tugas sekolah nggak di kasih ibu jahat ibu pilih kasih. Aku buru-buru pergi meninggalkan Manda
"Din kamu mau kemana? Tunggu dulu Diiinn!" manda berteriak mengejarku
"heiii kamu mau kemana? Ini ada titipan dari ibu.." Manda mencegat ku
"Diin .. Ini ada uang dari ibu katanya nanti malem kamu ada tugas kelompok" Manda memberiku uang seribu itu
aku tidak bisa berkata-kata aku sedikit malu sama Manda, aku menundukan wajahku di depannya
"yaudah yuk kedapur, katanya kamu belum makan, kita bikin nasi goreng kesukaanmu yuk Din" aku pun tersenyum senang menatap Manda.
kampung jingga 1996
Setelah aku pulang dari surau aku buru-buru melangkahkan kakiku ke rumah Dudung. Manda terlihat asyik belajar sendiri sambil di temani musik dari radio yang di dengarnya. Suara merdu almarhumah Nike Ardilla mendayu-dayu menambah syahdu suasana kampungku malam ini.
"Din kamu jadi belajar kelompok?" tanya manda padaku
"iya, aku berangkat dulu ya"
"tapi kamu belum makan, udah sana makan dulu" bujuk Manda hawatir
"Nanti aja lah Man paling sejam lagi aku pulang, nanti makan nya abis pulang dari rumah Dudung aja, aku berangkat dulu Man" kutinggalkan Manda yang sedang asik dengan buku-bukunya. Suasana kampungku malam ini senyap sekali. beberapa rumah sudah mulai gelap tanda para penghuninya mulai beristirahat ke peraduannya masing-masing. Kampungku memang belum seramai itu apalagi yang punya televisi disini belum banyak jadi cuma beberapa orang tertentu saja yang memilikinya termasuk orang tuanya Dudung. Sampailah aku di depan rumahnya Dudung dan Aini ternyata sudah mulai berkumpul.
"Hai Wahyu, ayo masuk..!" sapa Dudung dia sepertinya senang sekali aku datang tak lama kemudian Andi juga datang kami pun mengerjakan tugas bersama tak lupa Dudung menyiapkan minuman dan kue-kue kecil. Kita semua larut dalam suasana hangat yang penuh keakraban.
"oh ya temen-temen besok seperti biasa ya kiita kumpul lagi disini tugas kita kan masih belum selesai, besok habis isya kita kerjakan lagi tugas kita oke.." setelah mengakhiri tugas kita seperti biasa Dudung selalu memberikan komando Aku,Andi dan Aini pun serempak mengiyakan apa katanya.dan sebelum kita pulang kita bercanda ria dan bercengkerama sampai malam pun nyaris membuat kita kelelahan.akhirnya aku pulang dengan perasaan bahagia.
Sahabat, begitu membuat hidup kita berarti walau tak sesempurna malaikat atau nabi tak bisa dipungkiri kita memang membutuhkannya tak mempunyai sahabat berarti tak mempunyai curahan kasih sayang walaupun ada keluarga di tengah hidup kita yang selalu menyayangi kita tapi peran sahabat juga masih lebih berarti dari itu.
******
Setelah sholat maghrib aku masih menemani ibuku yang masih sakit. Aku sengaja tak berangkat ngaji ke surau untuk menemani ibuku karena Manda lagi ada kegiatan dengan teman-temannya sedangkan Ayahku dia lagi ikut tahlil dirumah tetanggaku yang kemarin meninggal dunia.
"Wahyu.." lirih ibu memanggilku dengan lembut
"ada apa bu? Ibu mau minum apa mau kekamar mandi?"
"ibu cuma mau kamu di sini tiduran di samping ibu, ibu pengen membelai kepala kamu rasanya ibu sudah lama tak melakukan itu, maafin ibu ya nak akhir-akhir ini ibu seperti kurang kasih sayang ke Wahyu.." ibu menatapiku dalam matanya berkaca-kaca ibu sepertinya mengerti apa yang kurasakan selama ini. kasih sayangnya mungkin lebih dari sekedar uang atau apapun yang berharga di dunia ini kasih sayang ibu adalah segalanya buatku.
Aku berbaring di samping nya, ibu mulai membelai-belai rambutku dengan kelembutannya sambil bercerita tentang masa kecilnya yang indah aku pun larut dalam masa lalu ibu yang menyenangkan itu.
Malam di kampungku begitu sepi dan damai tak banyak aktifitas orang-orang di sini. Hanya suara jangkrik yang menambah dinginnya suhu udara yang kian menurun. Hingga lelap pun tak terkira terbuai oleh mimpi-mimpi masa depan yang indah.
Dimana hanya ada aku dan laki-laki itu.. sosok misterius yang sejak kecil terus mengikutiku dia berjanji akan selalu menjagaku sampai aku bertemu dengannya di alam nyata.
"Wahyu kamu itu begitu mulia,suatu hari kamu akan mendapatkan kebahagiaanmu bersama orang yang akan menyayangimu lebih dari dirimu sendiri.." ucap sosok di mimpi itu
"siapa dia bang? Ayahku,Ibuku,Kakakku?" aku memanggilnya dengan sebutan Bang karena dia seorang laki-laki. Dia memakai pakaian perang kebesarannya kemana-mana dia selalu bawa senapan
"bukan! dia anak seumuran kamu, dia baik, suatu hari dia akan menjagamu walau akhirnya dia meninggalkanmu, tapi jangan hawatir rasa sayang dan cintanya yang akan tetap ada hingga kamu sendiri bahagia walau tak selalu ada di sampingnya" aku seperti paham dengan apa yang di ucapkan sosok itu hingga dia mengajakku pergi keliling hutan dengan sepeda motor yang dibawanya
"wahyu, sepertinya kita tidak bisa lama-lama disini aku harus pergi ada tugas yang harus ku kerjakan" aku merasa sedih saat dia pamit mau tak mau aku harus merelakannya
"Wahyu kamu jangan sedih ya,kita pasti akan ketemu lagi kok " dia berusaha mengajakku tersenyum
"tapi bang aku belum tahu nama abang siapa? Selama ini kita, selalu ketemu tapi abang nggak pernah ngasih tahu nama abang.."
"namaku oh hehe.. Iya maaf abang lupa ngasih tahu Wahyu, nama abaaaang.." lama lama pandanganku mulai kabur sosok dan suara itu mulai tak jelas juga di telingaku dan hilang.
perlahan-lahan ada wajah ibu samar-samar terlihat didepan mataku
"Wahyu bangun nak udah pagi, mandi dulu terus sholat.." suara ibuku menyadarkanku ya Tuhan ternyata tadi aku mimpi.
"bu.. Ini udah pagi ya? Yah kok ibu nggak membangunkanku tadi malem, bu tugas belajar kelompokku itu kan belum selesai, bu aku mau ke rumah Dudung dulu.." rengekku manja aku takut kena marah sama Dudung kalau semalam aku tidak datang kerumahnya untuk mengerjakan tugas itu.
"Maafin ibu nak, kamu tahu kan semalem ibu masih sakit ibu juga ketiduran, di sekolah juga kan nanti bisa ketemu sama Dudung, ini masih pagi nak Dudung juga mungkin belum bangun udah kamu mandi dulu terus sholat, ibu yakin Dudung juga maklum in kamu kalo kamu nggak bisa dateng.."
"tapi bu Wahyu nggak enak sama Dudung" aku berusaha menuruti apa kata ibuku walaupun aku tahu Dudung itu seperti apa sekali dia marah yaudah tidak ada ampun lagi bagiku.
Hiruk pikuk anak-anak pagi ini membuatku sedikit tak menentu.perasaanku tak enak. kenapa Aini berangkat pagi-pagi sekali tanpa menungguku. Biasanya dia selalu setia setiap untuk berangkat bareng bersamaku
"itu dia Aini, Ainiii.. Tunggu..!"teriakku terlihat Aini berjalan beriringan berdua bersama Ratna, napasku kembang kempis mengejar mereka yang baru memasuki pintu gerbang sekolah
"Wahyu..? Kemana aja semalem di tungguin aku pikir kamu sakit?" seloroh Aini pandangan matanya naik turun seolah memastikan kalau aku baik-baik saja.
"aku.. Semalam nungguin ibuku Aini, ibuku sakit terus aku ketiduran gitu, oh ya tugasnya gimana? Udah selesai kan?" langkah Aini terhenti dia seperti menyimpan sesuatu di hatinya, sesaat dia terdiam
"tugas nya di kerjakan ulang, yang kemarin itu salah.."
"terus..?" aku pun penasaran rasanya ingin sekali mendengarkan Aini ngomong panjang lebar tentang apa yang terjadi semalam
"nanti malem tugas nya dilanjutin kembali tapi di rumahnya Andi"
"kok di rumahnya Andi?"
"iya, tapiiii.."
"tapi apa Aini..?" Aini seperti berat menggerakkan bibirnya matanya tak berani melihatku, pandangannya jauh entah kemana.
"tapi kamu tidak boleh ikut kata Dudung"
"kata Dudung? Maksudnya gimana Aini?" aku seperti tak pernah mengerti dengan apa yang di katakan nya.
"iya, kamu di keluarkan dari kelompok kita" langkah Aini semakin jauh sementara aku yang masih bingung memikirkan kata-katanya.Ya Tuhan kenapa Dudung tega mengeluarkan aku dari kelompoknya padahal dia belum tahu alasanku kenapa semalam aku nggak datang.
Aku masuk kelas dengan wajah murung rasanya tidak ada semangat di jiwaku yang membuat aku tersenyum
"Wahyu..!" Dudung menghampiriku wajahnya nampak tak bersahabat seolah dia menuduhku dengan tatapannya bahwa selama ini aku ingin mencari untung sendiri. Aku mengerti apa yang di pikirannya. Dudung terrlalu sombong dengan kecerdasannya seolah tidak pernah ada yang menyaingi dirinya dan kecerdasannya. Walaupun itu aku, andai aku bisa lebih berani sedikit dari dia.Ah, tapi aku ngga bisa. Aku merasa diriku lemah dan tak punya apa-apa.
"ini uangmu, kamu cari kelompok lain saja buat bikin tugasmu, kita sudah cukup dengan bertiga kok.." ucapnya sinis. Aku merasa direndahkan rasanya aku malu sekali apalagi banyak teman-teman di dalam kelas yang memperhatikan pembicaraan kita.
"tapi Dung dengerin dulu penjelasanku, semalam aku.."
"udahlah wahyu bilang aja kamu malas dan pengen nyerahin tugas itu ke kita sementara kamu di rumah enak-enakan tidur, memang yah buah jatuh itu tak jauh dari pohonnya.."ungkapnya
"maksud kamu apa ngomong kaya gitu Dung?"
"denger ya teman-teman semua, Wahyu itu pemalas karena ayahnya juga pemalas kalau bukan pemalas ngapain juga sawahnya dijual padahal itu salah satu peninggalan kakek kita kakek aku dan Wahyu, untung orang tuaku yang membelinya kalau nggak warisan kakek bisa jatuh ke tangan orang." suara Dudung lantang seperti membacakan pengumuman aku malu sekali rasanya seperti di telanjangi di depan umum
"maaf ya Dung kok malah kamu ngomong nya begitu,itu urusan orang tuaku, jadi kamu nggak usah beber-beberin aib keluarga kami, harusnya kamu ngerti itu"
"kenapa! Aku bicara fakta kok emang nyatanya harta keluargamu habis kan gara-gara bapakmu itu, sekarang kamu ngerti kan rasanya miskin itu seperti apa, nggak enaklah makannya itu karna perbuatan orang tuamu sendiri udahlah Wahyu semua orang juga udah tau kok iya nggak temen-temen.."
"Huuuuuuuuhhhhhh" anak sekelas serempak menyoraki ku,aku seperti tak punya muka
"denger ya Dung semua nggak seperti yang kamu lihat, kamu nggak tahu apa-apa soal keluargaku." aku pun pergi meninggalkannya dan kelas itu.
Jujur aku tak kuat untuk menahan tangisku ya Tuhan entah seberapa besar kebencian Dudung tehadap keluargaku sampai-sampai aku di bikin malu kaya gini. Aku memilih menyendiri di belakang sekolah untung bel masuk masih setengah jam lagi tak peduli perutku yang lapar karena belum di isi sarapan. Harusnya jam segini aku udah ada di kantin buat sarapan
Aku bersandar pada dinding belakang sekolah mataku berkaca-kaca aku merasa dunia ini tak adil.ya Tuhan kenapa aku dilahirkan oleh keluarga miskin, rasanya aku tak sanggup hidup seperti ini
"Udahlah Wahyu jangan sedih terus.." suara itu tiba-tiba muncul dari sampingku
"Aliiim?" aku menengok nya ternyata ada teman sekelasku yang dari tadi memperhatikanku
"masuk yuk, udah mau bel tuh" bujuk Alim
"aku malu lim.., aku.. Aku pengen pulang saja.."
"yang sabar Wahyu, aku ngerti kok perasaan kamu, udahlah anggep aja kejadian tadi memang nggak terjadi, yaudah yang penting kamu positif aja aku yakin semua ini pasti ada hikmah nya buat kamu ke depannya jadi jangan putus asa aku siap kok buat jadi temen kamu.." kata-kata Alim adalah secercah sinar yang menerangi kegelapan dihatiku. Aku baru sadar kalau teman atau sahabat itu tak hanya cuma buat gaya-gayaan semata tapi lebih untuk berbagi seperti Alim yang rela menjadi temanku disaat aku sedang putus asa seperti ini.
"oh iya kelompok ku kurang satu Yu, mending kamu gabung ke kelompok kita aja ya ada si Nuril, sama si Doni"
"serius kamu Lim?"
"serius lah Wahyu, tapi kita abis sekolah loh ngerjain nya nggak apa-apa kan, soalnya kalau malam aku ngantuk.."
"oke deh lim, mmm.. Makasih banyak ya Lim kamu udah baik sama aku, selama ini aku buta aku pikir selama ini aku cuma bisa berteman sama Dudung saja ternyata.."
"udahlah udah, yang penting kita sekarang berteman oke?" sejak saat itu Alim resmi menjadi sahabat baikku karena cuma dia yang bisa mengerti perasaan ku bahkan sisi yang terdalam ku sekalipun.
SDN Pelangi Jingga 1998
kulihat Aini masih sibuk mengerjakkan PR nya entahlah sepertinya dia kesulitan mengerjakannya. Tapi apaa dia memang semalam nggak mengerjakannya ya atau mungkin dia ketiduran.
Tergugah hatiku untuk membantu Aini, dia masih terlihat sibuk menghitung jari-jari untuk PR matematika yang diberikan pak Zul kemarin Rabu. Bagaimanapun juga Aini dulu suka membantuku dan aku ingin sekali membalas kebaikannya dulu.
Tapi langkah itu dengan serta merta menyurutkan niatku untuk Mendekati Aini
"Lagi-lagi dia yang selalu mengusik hidupku kenapa harus kamu yang memasuki kelas ini setelahku Dung?biasanya juga kamu masuk terlambat.mungkin tak cukup dengan peristiwa dua tahun lalu itu Dung. Aku benci kamu aku benci wajah sombongmu."gumamku membatin keinginanku untuk kembali menjalin persahabatan dengan Aini urung sudah.
Wajah sombongnya nampak terlihat jelas di tengah pintu, perlahan dia berjalan memasuki kelas yang baru hanya di isi oleh aku dan Aini, tapi sepertinya menuju ke arahku. Ah, mau apa anak sombong itu mendekatiku apa dia mau bikin gara-gara lagi.Aku merasa gugup langkah Dudung makin lama makin dekat dan..
Bersambung . . . .
[Next]
From : Cerita Kaum Pelangi

No comments:
Post a Comment