Saturday, 13 February 2016

"Malam Penuh Bintang" by Ali Alvent [Short Story]



================================
MALAM PENUH BINTANG (Oneshoot)
By : Ali alvent phoenix
================================

Genre : Boys Love Story
Rating : 12+

-----------------------
Happy Reading
-----------------------

Terkadang aku merasa kesal pada orang tuaku. Kenapa? Karena mereka suka banget pindah-pindah rumah. Kayak manusia purba jaman dulu gitu. Dan hari ini adalah kepindahan yang ketujuh kali, semenjak aku SD sampai SMA sekarang ini. Kali ini aku pindah dari Jakarta ke Bandung. Padahal waktu sekolah di Jakarta, aku sudah punya beberapa teman yang cukup dekat denganku. Dan sekarang aku harus mulai dari awal lagi di sekolah yang baru dengan teman baru dan tentunya suasana yang baru pula.


“Semuanya harap tenang! Hari ini kita kedatangan murid baru dan dia akan bergabung di kelas ini,”seru Bu Laksmi. “Silahkan perkenalkan diri kamu di depan teman-teman!”katanya padaku.

“Perkenalkan, namaku Areza Putra Bintani. Kalian bisa memanggilku Reza atau Arez. Aku pindahan dari Jakarta. Terima kasih,”kuperkenalkan diriku di depan puluhan mata yang begitu asing bagiku.

Dari puluhan mata yang begitu asing tersebut, aku mendapati sepasang mata dari seorang murid cowok yang duduk di bangku paling belakang, yang tampak begitu indah, namun tatapannya sangat sendu. Aku memang belum berkenalan dengannya secara pribadi, tapi rasanya aku bisa merasakan kalau cowok itu sedang sedih berat.

“Ada yang ingin kalian tanyakan pada Arez?”seru Bu Laksmi.

“Nggak ada, Bu…….,”jawab semua murid, kecuali cowok yang duduk di bangku paling belakang itu.

“Kalau begitu, Arez silahkan duduk!”suruh Bu Laksmi.

Aku yang sangat penasaran pada cowok yang duduk di bangku paling belakang pun berniat untuk duduk di sebelahnya, yang kebetulan kursinya masih kosong. Aku berjalan perlahan menuju kursi yang kosong di belakang di samping cowok bermata sendu itu. Kemudian matanya yang indah itu menatap kearahku dengan tatapan sendu, aku langsung tersenyum semanis mungkin. Cowok itu membalas senyumku. Tapi sayang, senyum yang ia lepaskan untukku itu adalah senyum yang dipaksakan. Mungkin dia enggan tersenyum saat itu, tapi karena tuntutan tata krama pada orang baru, akhirnya dia membalas senyumku, walaupun tampak dipaksakan. Aku langsung duduk di sampingnya. Semua murid menoleh ke tempat dimana aku duduk sekarang, tapi kemudian pelajaran dimulai dan wajah-wajah yang menatapku tadi kembali menatap papan putih.

“Oh ya, kita kan belum kenalan. Aku Arez,”aku mengulurkan tanganku pada cowok di sebelahku.

“Yusuf Azio Pradana. Panggil aja Yusuf!”cowok itu menjabat tanganku.

Setelah perkenalan itu, tak terjadi percakapan apapun di antara kami, sebab kami sibuk mencatat apa yang dijelaskan oleh Bu Laksmi. Jam terus berganti. Aku dan Yusuf masih belum melanjutkan percakapan. Aku tak berani memulai percakapan dengannya dan sepertinya dia juga tak ingin bicara denganku. Sampai akhirnya bel istirahat pun berbunyi. Semua murid berlarian keluar kelas untuk istirahat, tak terkecuali denganku. Setelah kenyang, aku segera kembali ke kelas.

“Ssstt…Rez!”panggil Gugun dengan sedikit berbisik sambil melambaikan tangan padaku.

Aku pun membalikkan tubuhku, memutar arah tujuanku yang semula hendak duduk di bangkuku bersama Yusuf, kini berganti menuju Gugun dan teman-temannya berada.

“Ada apa, sih, Gun?”tanyaku.

“Eh, Rez! Tadi kenapa kamu milih duduk sama Yusuf, sih? Sama Tegar kan bisa!”bisik Gugun.

“Memangnya kenapa sih, kalau aku duduk sama dia? Dia anaknya baik kok,”kataku dengan nada yang sangat rendah.

“Yusuf memang baik, tapi dia itu anak yang dingin, jarang senyum. Sampai-sampai dia dapat predikat ‘Prince Ice’,”tambah Ratih.

“Aku yakin, kamu enggak akan tahan lama-lama duduk sama dia,”bisik Dimas.

“Menurut aku sih, dia itu bukannya dingin, tapi agak pendiam saja,”tambahku.

“Lepas dari sifatnya yang dingin itu, menurutku dia itu cowok terkece, terganteng, terkeren, dan terseksi di sekolah ini. Selain wajahnya yang rupawan, otaknya juga encer,”jelas Melani, sambil sesekali melirikkan matanya pada Yusuf. Aku pun turut melirik Yusuf.

Yang dikatakan Melani memang benar. Dengan kulitnya yang putih bersih tanpa noda, wajahnya yang ganteng, rambut hitamnya yang sedikit gondrong, dan bibirnya yang kemerahan, kurasa Yusuf memang layak mendapatkan predikat yang telah disebutkan oleh Melani tadi.

“Rez, sebaiknya kamu segera pindah sama Tegar! Sebelum kamu mati beku,”bisik Gugun.

“Kita lihat saja nanti!”aku meninggalkan Gugun, Ratih, Dimas, dan Melani. Aku kembali duduk di sebelah Yusuf.

Bel masuk berbunyi selang beberapa menit setelah aku duduk di sebelah Yusuf. Jam pelajaran bahasa Indonesia telah di mulai. Bu Astuti mencatatkan materi di papan putih, sedangkan kami menyalinnya. Tiba-tiba aku dihampiri oleh rasa bosan. Pelajaran bahasa Indonesia kali ini begitu membosankan, ditambah lagi manusia tampan yang duduk di sampingku itu masih tak mau bicara padaku. Aku melihat Gugun menoleh kearahku. Ingin sekali rasanya aku berteriak minta tolong padanya untuk membebaskanku dari rasa bosan yang memerangkapku. Akhirnya bel pulang sekolah berdering dengan kencangnya. Sorak-sorak semua murid pun mengiringi suara bel yang cukup mengganggu itu. Semua murid segera membereskan buku mereka, menenenteng tas dan keluar dari kelas beramai-ramai. Aku masih sibuk membereskan buku-bukuku, sedangkan Yusuf sudah menenteng tasnya dan mendahuluiku keluar dari kelas. Aku mempercepat gerakanku saat membereskan bukuku kemudian lari keluar kelas untuk menyusul Yusuf, namun aku tak melihat Yusuf.

“Cepat banget sih, jalannya itu anak,”gerutuku.

Aku mempercepat langkahku menuju gerbang sekolah. Aku melihat Yusuf tengah berdiri di tepi jalan sedang menunggu bis. Tak lama kemudian sebuah bis berwarna merah bergambar mawar hitam berhenti di hadapan Yusuf. Tanpa pikir panjang lagi, dia pun naik. Aku juga naik bis yang sama dengan Yusuf itu. Aku naik dari pintu belakang, jadi dia tidak tau kalau aku satu bis dengannya. Selama di dalam bis, aku terus memerhatikan Yusuf yang sedari tadi menujukan pandangannya pada jalanan yang ada di luar sana. Tatapannya begitu sendu. ‘Apa yang sebenarnya sedang kamu pikirin sih, Yus’ batinku dalam hati. Bis berhenti di sebuah halte. Ada beberapa orang yang sedari tadi menunggu bis di halte itu pun segera naik bis itu. Aku melihat Yusuf turun di halte tersebut. Entah kenapa aku sangat ingin tau apa yang akan dilakukan oleh Yusuf dan aku pun turun juga, padahal rumahku masih jauh. Aku terus mengikuti langkah Yusuf yang tak kunjung kuketahui kemana tujuannya. Saat itu Yusuf tak sadar bila aku membuntutinya. Tiba-tiba saja Yusuf berbelok ke kanan saat ada pertigaan. Aku sempat kehilangan jejaknya, tapi kemudian aku melihatnya memasuki sebuah toko alat-alat seni lukis. Entah apa yang akan dia lakukan di dalam sana. Aku bertambah penasaran, kemudian aku pun turut memasuki toko tersebut. Masih sama seperti tadi, Yusuf tak menyadari keberadaanku.

Yusuf berpindah-pindah dari rak satu ke rak lainnya. Dia melihat-lihat alat-alat seni yang terpajang di dalam toko itu. Ada kuas lukis, pallet(tempat menuangkan cat), kanvas, krayon, pensil gambar, pensil warna, spidol, buku gambar, gliter, dan masih banyak lagi benda-benda yang berbau seni di dalam toko itu. Yusuf yang saat itu sedang berdiri di rak yang berisi macam-macam pensil gambar, tiba-tiba menoleh kearah rak berisi kumpulan cat minyak dimana aku berada. Aku terkejut dan dengan sigap aku langsung menunduk. Saat sedang bersembunyi dari Yusuf itu, aku melihat sebuah peristiwa yang mencengangkan. Dengan mata kepalaku sendiri, aku melihat Yusuf mengambil satu dari masing-masing jenis pensil gambar yang ada di rak di depannya itu, kemudian memasukka pensil pensil itu ke dalam saku celana abu-abunya. Sesekali aku melirik pada pemilik toko yang duduk di belakang meja kasir sambil membaca majalah. Ternyata aksi yang tergolong nekat dari Yusuf itu tak disadari oleh Ibu pemilik toko itu. Setelah selesai dengan pensil gambar, Yusuf beralih ke rak berisi buku gambar. Dia mengambil satu buah buku gambar yang terlihat cukup tebal. Aku memerkirakan isinya ada lima puluh lembar. Aku melupakan Yusuf sejenak. Muncul ide gila dalam otakku untuk ikut melakukan apa yang dilakukan oleh Yusuf di awal tadi, tapi sasaranku bukanlah pensil gambar, tapi bolpen warna. Aku mengambil bolpen warna merah, biru, hijau, dan emas, kemudian langsung kumasukkan dalam saku celanaku seperti yang dilakukan Yusuf. Entah kenapa aku merasakan sensasi yang luar biasa saat melakukan hal itu. Untuk pengalihan, aku mengambil satu buah pensil gambar dan membawanya ke kasir. Setelah membayarnya, aku segera keluar dari toko itu dan kembali mengikuti Yusuf. Di depan sana ada perempatan. Yusuf berbelok ke kanan dan aku pun segera mengejar langkahnya. Sialnya aku kehilangan jejaknya. Aku sama sekali tak melihat batang hidungnya di sekitar situ. Dia menghilang begitu cepat seperti hantu.

“Jangan-jangan rumahnya ada di sekitar sini,”gumamku. “Berarti tak jauh dari rumahku dong,”aku tersenyum sendiri kemudian berjalan lurus meneruskan perjalanan pulang.

Keesokan harinya, aku berangkat diantar oleh supirku, Pak Mujio. Saat sampai di tengah perempatan, dari lorong sebelah kanan, aku melihat seorang cowok yang kuyakini adalah Yusuf. Dia sedang berjalan dengan santainya menuju perempatan. Sekarang aku benar-benar yakin kalau rumahnya ada di serkitar sana.

“Den Reza kenapa senyum-senyum sendiri?”Pak Mujio membuyarkan lamunanku.

“Ahh, Bapak kepo banget sih,”

Pak Mujio kembali memacu mobil menuju sekolahku tanpa ingin tau lagi apa yang sudah membuatku tersenyum sendiri tadi. Sampailah aku di sekolahku. Pak Mujio turun dari mobil kemudian membukakan pintu mobil untukku, lalu aku pun turun.

“Pak, aku nanti enggak usah dijemput, ya! Aku mau pulang jalan kaki saja,”kataku.

“Lho! Memangnya kenapa, Den? Nanti kalau saya ditanya sama Tuan bagaimana, Den? Terus Bapak jawab apa?”Pak Mujio jadi banyak tanya.

“Lagian aku bosen naik mobil terus. Sekalian mau liat-liat daerah sini. Pokoknya nanti Bapak enggak usah jemput aku! Titik. Sudah, jangan banyak nanya lagi!”aku meninggalkan Pak Mujio.

Aku berlari menuju kelasku. Disana masih sedikit muridnya. Hanya ada Dimas dan Melani. Mereka sedang sibuk mengerjakan PR Matematika.

“Sibuk ngapain sih?”tanyaku.

“Kamu bagaimana sih? PR Matematika gitu kok. Kamu sudah selesai?”kata Dimas.

“Oh iya! Aku lupa,”aku langsung berlari ke mejaku, mengeluarkan LKS dan buku tugas Matematikaku, dan mulai mengerjakan.

Tiba-tiba Yusuf datang dan duduk di tempatnya. Seperti biasa, dia langsung menyandarkan kepalanya pada tembok. Setiap hari dia selalu seperti itu, tak pernah terlihat ceria, selalu murung. Aku meliriknya sebentar. Aku ingin bertanya padanya, tapi aku takut. ‘Aku harus berani bertanya padanya’ batinku. Aku tersenyum padanya. Dia pun membalas senyumku tadi. Akhirnya suasana sedikit mencair. Aku pun melanjutkan percakapan.

“Eh, Yus! Tadi aku lihat kamu di perempatan jalan sana. Rumah kamu sekitar situ, ya?”tanyaku.

“Ya, yang belokan ke kanan,”jawabnya datar.

“Tau, enggak, Yus, rumahku juga di sekitar situ. Kalau kamu belok ke kanan, aku masih lurus,”

“Begitu, ya,”

Responnya yang dingin itu benar-benar membuatku kesal. Hampir saja aku kehabisan kesabaran, tapi demi bisa dekat dengannya aku kembali mengisi ‘amunisi’ kesabaranku, agar bisa lebih sabar menghadapi sifat dingin dari Yusuf itu. Aku harus bisa mencairkan es yang ada dalam dirinya. Bel pulang sekolah berbunyi. Semua murid mengemasi buku mereka dan segera pulang. Yusuf mengangkat tasnya dan pergi meninggalkan aku yang sedang mengemasi bukuku.

“Yus, tunggu aku!”aku menghentikan langkahnya saat dia sampai di depan pintu.

“Ada apa, Rez?”

“Kita kan, searah, jadi pulangnya bareng, ya,”

“Ayo kalau gitu,”

Aku tersenyum girang lalu menyusul langkahnya yang sedikit jauh di depanku. Kami berdua menunggu bis di tepi jalan. Tak lama kemudian ada bis yang datang dan kami pun naik bis tersebut. Di dalam bis, kami duduk bersebelahan. Walau kami duduk bersebelahan, tapi kami seperti duduk sendiri. Kami saling diam. 

Aku tak mau mengawali percakapan, begitu juga dengan Yusuf. Bis pun berhenti di halte untuk menaikkan penumpang. Selagi orang-orang di halte itu naik ke bis, kami turun di halte itu. Kami berjalan beriringan. Masih seperti di dalam bis tadi, tak terjadi percakapan antara aku dan Yusuf. Sampai akhirnya, dengan tidak tau malu, cacing-cacing di perutku meronta-ronta. Maklum saja tadi pagi aku tidak sarapan dan ditambah lagi waktu istirahat tadi, aku juga tidak jajan. Yusuf menatapku kemudian tersenyum, sambil geleng-geleng. Mukaku memerah. Aku benar-benar malu. ‘Dasar cacing bodoh!’ hardikku dalam hati.

“Kenapa kamu melihatku seperti itu? Lucu, ya? Ketawa saja sepuasnya!”aku sedikit kesal.

“Kamu benar-benar lapar, ya?”tanya Yusuf.

“Tadi pagi aku enggak sarapan, terus waktu istirahat aku enggak jajan,”jawabku sambil memegangi perutku yang masih keroncongan.

“Kita makan dulu, yuk! Aku tau tempat makan yang enak,”

“Benarkah? Ayo kita kesana! Aku sudah lapar,”aku mempercepat langkahku meninggalkan Yusuf.

“Rez, tempatnya belok ke kiri, bukan lurus. Kamu gimana sih?”

“Enggak bilang dari tadi,”aku malu.

Aku hanya berjalan mengikuti Yusuf saja, sebab dia yang paling tau tempat-tempat disini. Sedangkan aku yang orang baru disini tak begitu tau tempat-tempat disini. Dan ditambah lagi aku jarang keluar rumah, kalaupun keluar rumah harus ditemani oleh Pak Mujio. Tak terasa aku dan Yusuf sudah berdiri di depan sebuah Café.

“Selamat datang, Mas Yusuf,”sambut seorang pelayan.

Aku dan Yusuf duduk di meja nomor tujuh. Entah kenapa Yusuf lebih memilih duduk di meja nomor tujuh, daripada duduk di meja kosong lainnya.

“Yus, kenapa sih, kita kok, duduk di meja ini, padahal kan meja yang kosong banyak?”tanyaku.

“Ini meja kesukaanku,”jawabnya datar.

“Pesan apa Mas Yusuf?”tanya seorang pelayan.

“Seperti biasanya saja, Mbak Lia,”jawabnya. “Kamu pesan apa, Rez?”

“Sama kayak kamu saja,”jawabku.

“Ditunggu, ya!”pelayan langsung pergi ke dapur untuk menyerahkan pesanan kami pada koki wanita yang ada di sana.

“Yus, kamu sering kesini, ya?”tanyaku.

“Betul,”jawab Yusuf dengan nada datar seperti di awal-awal tadi.

“Pantesan pelayannya tau nama kamu. Ternyata kamu pelanggan café ini, ya,”kataku.

Tak lama kemudian Mbak Lia datang bersama makanan pesanan kami. Di atas nampan yang di bawanya, ada dua burger dan dua jus alpokat.

“Silahkan, Mas Yusuf!”kata Mbak Lia sambil meletakkan burger dan jus alpokat di atas meja kami.

“Makasih, Mbak,”kata Yusuf.

“Sama-sama. Selamat menikmati,”Mbak Lia beranjak dari meja kami. Kemudian beralih ke meja lain untuk melayani pengunjung lainnya.

“Aku berani bertaruh, ini pasti menu yang biasanya kamu makan disini kan, Yus,”kataku.

“Yap, tepat sekali,”jawabnya. Kemudian menggigit burgernya.

“Yus, kenapa sih, kamu dingin banget?”tanyaku.

“Dingin? Enggak,”katanya sambil menyentuh telinganya.

“Bukan itu maksudku, tapi sikapmu padaku dan anak-anak lain,”jelasku. Yusuf meletakkan burgernya.

“Tidak bisakah kamu tidak membahas sikapku ini?”tanya Yusuf, sambil menatapku. Aku tak berani menatapnya. Tatapan matanya membuat jantungku berdebar.

“Maafkan aku, Yus! Aku hanya ingin kamu bersikap sedikit ramah pada teman-teman, agar kamu tidak dinilai buruk oleh teman-teman,”jawabku sambil menundukkan kepalaku.

“Biar saja mereka menilaiku buruk! Toh, itu hak mereka,”

“Tapi aku enggak suka kalau kamu dijelek-jelekin sama mereka,”

“Ada apa denganmu, Rez? Kenapa kamu begitu memerdulikanku?”mata Yusuf terus menatapku dengan tajam. Seakan dia mencoba membaca pikiranku. Aku tak menjawab pertanyaannya itu. Sebab bila Yusuf tau kalau aku menyukainya, pasti dia akan menjauhiku dan semuanya akan jadi kacau.

“Apa salah bila aku memerdulikan sahabatku sendiri?”kini aku yang menatap matanya.

“Huh, apa maksudmu aku? Sejak kapan kamu menganggapku sahabat?”Yusuf menggigit burgernya.

“Sejak kita duduk di bangku yang sama. Apa kamu enggak menganggapku sebagai sahabatmu?”aku menyedot jus alpokatku.

“Kamu adalah orang pertama yang bisa dibilang cukup akrab denganku, Rez,”Yusuf menyedot jus alpokatnya.

“Berarti aku ini sahabat pertamamu, ya?”tanyaku sambil mencondongkan tubuhku ke depan.

“Kurasa begitu,”Yusuf juga mencodongkan tubuhnya ke depan. Wajahku dan wajahnya sangat dekat. Aku segera menarik tubuhku ke belakang. Mendengar jawaban Yusuf tadi, aku tersenyum saja, tapi sebenarnya dalam hati aku sudah melonjak kegirangan. Saat ini 
hatiku benar-benar bahagia. Seperti seorang musyafir yang tengah kehausan dan menemukan oasis di tengah padang pasir. Aku benar-benar tak menyangka kalau aku ini sahabat pertama Yusuf. 

Aku terus menatap wajahnya. Saat di menggigit burgernya, dia tampak begitu manis. Saat dia mengunyah lalu menelan burgernya, dia terlihat manis. Begitu juga saat dia menyedot jus alpokatnya, dia tampak sangat manis bagiku. Apapun yang dia lakukan, selalu tampak manis bagiku.

“Kamu kelihatannya senang sekali mendengar itu,”Yusuf membuyarkan lamunanku.

“Ya, iyalah, aku senang banget,”

“Memangnya apa yang kamu harapkan dari orang yang dingin sepertiku ini?”

“Aku tak mengharapkan apa-apa darimu. Yang kuharapkan hanya menjadi sahabatmu,”

“Apa kamu akan tahan dengan hawa dingin dariku?”

“Selama api persahabatan masih menyala, aku akan pasti akan tahan dengan hawa dingin itu,”

“Semoga kamu tidak mengingkari kata-katamu itu,”Yusuf mengacungkan kelingkingnya.

“Aku janji akan selalu ada untukmu,”aku mengaitkan kelingkingku pada kelingking Yusuf.

Disini, di café ini, aku dan Yusuf mengikatkan tali persahabatan. Meja, kursi, mesin kasir, makanan, minuman, lampu, dan semua yang ada di dalam café ini menjadi saksi bisu persahabatan kami. Aku yang dulu hanya teman bagi Yusuf, kini sudah menjadi sahabatnya. Untuk hal ini aku sudah selangkah lebih maju untuk bisa lebih dekat dengan Yusuf. Dan itu adalah sebuah kemajuan yang sangat pesat. Aku tak mau terlalu memerlihatkan kalau aku senang bisa menjadi sahabatnya dan bisa selalu dekat dengannya, sebab bila itu kulakukan mungkin Yusuf akan curiga, jadi aku harus lebih bersabar. 

Sesampainya di rumah, aku langsung masuk ke kamarku, kurebahkan tubuhku yang penuh keringat ini di atas ranjangku. Kupejamkan mataku, kubayangkan wajah tampan Yusuf. Aku benar-benar tak bisa menghilangkan wajah Yusuf dari memoriku. Ingin rasanya hari cepat pagi, agar aku bisa segera bertemu dengan Yusuf.

“Reza, darimana saja kamu, jam segini baru pulang?”seruan Mamaku itu membuyarkan lamunanku.

“Eh, Mama. Anu, Ma, itu…anu..”aku jadi gugup.

“Anu, anu. Anu apa? Kalau ngomong itu yang jelas!”

“Tadi aku main sama anu, Ma,”bicaraku makin tak jelas.

“Ya….ampuuuuunnn, Reza! Kamu mainan sama anunya siapa? Sudah Mama bilang jangan mainan anunya orang sembarangan,”bicara Mama ikut enggak jelas.

“Yusuf, Ma. Maksud aku itu Yusuf,”akhirnya bicaraku sudah mulai jelas.

“Yusuf? Siapa Yusuf? Jadi kamu mainan anunya Yusuf?”

“Yusuf itu sahabatku, Ma. Tadi aku main sama dia, tapi bukan main yang begituan. Main yang beneran. Tadi aku makan siang sama dia di café,”jelasku.
“Ohhh….kirain Mama, kamu mainan anunya Yusuf,”

“Ihh…Mama, pikirannya jorok,”

“Ya sudah! Cepat mandi sana! Baumu seperti ikan asin,”

“Oke, Ma. Eh, Ma! Papa kemana?”

“Papa kamu ada lembur hari ini, jadi pulangnya agak malam,”kemudian Mama meninggalkanku di kamar.Oh ya, aku belum bilang pada kalian kalau Mama sama Papaku 
sudah tau kalau aku gay. Mama sama Papaku menerima apa adanya orientasi seksualku. Mereka selalu mendukungku, agar aku selalu kuat menghadapi kehiduapanku sebagai gay. Aku rasa tidak semua orang tua mau menerima dengan lapang dada terhadap melencengnya orientasi seksual anaknya. Dalam hal ini aku termasuk gay yang beruntung, karena di dalam dunia gay yang kejam ini, aku dilahirkan di antara dua orang yang sangat toleran dan menghormati orientasi seksualku. Ya. Mereka adalah Mama dan Papaku yang sangat aku sayangi. Tapi lucunya Mama sama Papaku itu berbeda prinsip dalam mendidikku. Papaku pernah bilang kalau apapun yang aku lakukan asalkan itu masih positif, Papa akan selalu mendukungku. Sedangkan Mama selalu mewanti-wanti aku, agar tidak mainan sama anunya orang sembarangan. Mama juga pernah berpesan, agar aku jadi ‘Smart gay’, ‘Selective gay’, harus sedikit jual mahal sama cowok, dan bla-bla-bla masih banyak lagi..

Keesokan harinya saat jam istirahat berlangsung, aku tidak melihat Melani di dalam gengnya(Dimas, Gugun, dan Ratih) saat di kantin.

“Gun, Melani kemana?”tanyaku pada salah satu teman satu gengnya Melani.

“Si Melani tadi sih, disini sama kami, tapi tiba-tiba dia balik kekelas. Katanya hapenya ketinggalan,”jelas Gugun.

“Tumben, kamu nyariin Melani. Ada apaan sih?”Ratih penasaran.

“Kemarin dia janji ke aku, katanya dia mau ngasih aku film kartun terbaru yang ada di laptopnya. Ya sudah, kalau gitu aku samperin dia saja di kelas,”

“Kamu enggak makan atau minum dulu, Rez?”tawar Dimas.

“Enggak lapar,”kemudian aku meninggalkan mereka. Aku pun segera berlari keluar kantin menuju kelas.

“Kamu kenapa, Rez? Kayak habis liat setan saja,”kata Mika yang tadi sedikit kaget dengan kedatanganku.

“Kamu liat Melani?”tanyaku.

“Kayaknya dia di ke kebun belakang sama si Yusuf deh,”jawab Mika, sambil memainkan gadgetnya.

Aku segera berlari menuju kebun belakang sekolah. Jantungku terus berdebar mendengar bahwa Melani sedang berduaan bersama Yusuf. Dalam hati aku terus berharap kalau Melani dan Yusuf jangan sampai berduaan. Sesampainya aku di kebun belakang, aku mendapati sebuah bayangan yang ada di balik pohon jambu disana. Aku yakin kalau itu adalah Yusuf. Ternyata tidak ada Melani disana. Aku bisa sedikit bernapas lega. Perlahan aku menghampiri bayangan itu.

“Sendirian saja, Yus? Melani mana?”aku sedikit berbasa-basi. “Kata Mika, tadi kamu sama Melani,”

“Tadi memang sama Melani, tapi sampai sini kami pisah. Awalnya dia ngajakin aku ke kantin, tapi aku nolak, soalnya ada banyak orang. Aku enggak suka,”jawabnya.

“Syukur deh, kalau gitu,”gumamku.

“Kenapa memangnya kalau aku sama Melani?”tanya Yusuf, sambil berbalik menatapku. Aku jadi deg-degan. Mukaku pasti sudah memerah.

“Eh, enggak apa-apa kok,”dalihku.

“Enggak apa-apa gimana, jelas-jelas tadi kamu bersyukur banget aku enggak lagi sama Melani,”

“Disini panas. Balik ke kelas yuk, Yus!”aku meninggalkan Yusuf.

“Tunggu, Rez!”tiba-tiba Yusuf menangkap tanganku dan aku pun berhenti.

Rasanya tubuhku seperti terbakar. Panas sekali. Ini bukan panas karena sengatan matahari, tapi karena tanganku merasakan panas dari tangan Yusuf. Panas dari tangan Yusuf itu menjalar ke seluruh tubuhku.

“Ada apa, Yus?”tanyaku dengan nada lirih.

“Nanti malam aku jemput kamu, ya,”Yusuf melepaskan tanganku.

“Memangnya mau kemana?”tanyaku penasaran bercampur senang.

“Pokoknya kamu tungguin aku saja! Jangan ketiduran!”

“Heemm, baiklah. Aku siap,”

Ada rasa penasaran bercampur senang berkecamuk dalam diriku. ‘Entah akan diajak kemana aku malam minggu ini. Mungkinkah dia mau mengajakku kencan?’ batinku dalam hati. Aku benar-benar tidak sabar menunggu malam hari. Kalau saja aku bisa memohon pada Tuhan, aku akan memohon agar Tuhan segera membawa matahari ke peraduannya, tapi itu sungguh permintaan yang konyol dan tak mungkin terjadi. Kalau pun itu dapat terjadi, pasti seluruh dunia akan gempar. Dan pastinya aku lah yang akan dipersalahkan, gara-gara permohonan konyolku pada Tuhan. 

*****

Jarum-jarum pada jam dindingku terus berputar pada tempatnya. Detik demi detik kuhitung. Jam demi jam kulewati dengan perasaan berdebar. Malam ini aku tak tenang. Aku terus mondar-mandir dalam kamarku, seperti ayam yang mau bertelur. Sesekali kulihat keluar rumah melalui jendela kamarku yang masih terbuka. Ada sedikit rasa kecewa yang hinggap saat tak kutemukan Yusuf di luar sana, tapi aku tetap sabar menanti. Lama-lama aku merasa lelah mondar-mandir dalam kamarku dan aku pun duduk di tepi ranjangku sambil menatap jam yang menunjukkan pukul sebelas malam.


‘Miaw….miaw….’ sayup-sayup terdengar suara kucing dari luar rumahku. Entah kucing siapa yang keluyuran malam-malam begini. Awalnya aku mengacuhkan suara kucing itu, tapi lama kelamaan suara kucing tersebut semakin terdengar ganjil di telingaku. Aku beranjak dari dudukku lalu berjalan menuju jendela kamarku untuk melihat keluar rumah. Betapa senangnya hatiku saat melihat keluar rumah melalui jendela kamarku, aku melihat orang yang sedari tadi membuatku gelisah sedang berdiri di luar sana sambil melambaikan tangannya padaku. Kulempar senyumku padanya kemudian aku segera berlari keluar kamar menuju halaman untuk menghampiri Yusuf.

“Kamu lama banget sih, Rez,”Yusuf tampak sedikit kesal.

“Sorry! Tadi aku kira suara kucing itu adalah suara kucing tetanggaku. Eh, ternyata itu suara kamu,”kataku sambil memasukkan kedua telapak tanganku ke dalam saku celanaku. 

“Wow, ini motor kamu, Yus? Keren banget,”

“Ya iyalah. Masa’ motornya tetanggaku,”jawabnya datar.

“Eh, kita mau kemana sih, Yus?”tanyaku.

“Pokoknya kamu ikut saja. Dah, cepat naik!”Yusuf menaiki motornya kemudian aku pun naik juga.

Semula, Yusuf melajukan motornya secara perlahan, namun tiba-tiba dia menambah kecepatannya. Aku yang kaget pun dengan otomatis langsung memeluk pinggang Yusuf. Kali ini motor Yusuf melaju dengan kecepatan yang sama seperti tadi dan aku pun masih memeluk pinggang Yusuf. Malahan pelukanku itu semakin erat, karena malam ini terasa sangat dingin. Dengan berani, aku menyandarkan kepalaku di pundak Yusuf kemudian kupejamkan mataku sejenak. Kurasakan ada yang menggenggam jemariku kemudian diremas pula jari-jariku. Tanganku yang semula terasa dingin karena angin malam, kini mulai sedikit terasa hangat.

“Rez, jangan tidur dulu, ya!”suara Yusuf bercampur dengan suara angin. 

“Kalau kamu tidur, nanti kamu bisa ketinggalan pertunjukannya,”

“Pertunjukan apaan sih, Yus?”

“Pokoknya nanti kamu akan tau sendiri,”

Motor Yusuf yang semula melaju kencang, kini mulai melaju dengan perlahan. Aku membuka mataku kemudian melihat ke kanan dan ke kiri. Aku tak tau tempat apa itu. Maklum saja aku bukan orang asli sini. Ditambah lagi gelapnya malam membuat aku tidak bisa mengamati tempat itu dengan mataku. Tiba-tiba Yusuf menghentikan motornya di tepi danau. Motornya itu dia parkir di bawah pohon cemara.

“Ini dimana, Yus?”tanyaku sambil turun dari motor Yusuf.

“Ini tempat favoritku. Setiap malam minggu, aku selalu kesini. Pada jam yang sama. Dulu-dulu, aku selalu kesini sendiri, tapi kali ini untuk pertama kalinya aku mengajak seseorang ke tempat ini. Saat siang, tempat ini terlihat biasa-biasa saja, tapi saat malam hingga fajar, tempat ini akan menjadi tempat yang sangat indah dan romantis,”jelas Yusuf.

“Indah? Romantis? Mana? Enggak ada. Semuanya hanya terdiri dari pohon, batu, rumput, air danau, dan suara binatang malam. Sama seperti tempat-tempat lainnya,”kataku sambil berjalan di samping Yusuf.

Pertunjukkannya belum dimulai, Rez, jadi sabar dulu!”katanya.

“Pertunjukkan apa sih, Yus? Kamu bikin penasaran saja,”

“Duduk sini, Rez!”Yusuf yang sudah duduk duluan memintaku untuk duduk di sampingnya. Dan aku pun duduk di sampingnya.Tiba-tiba Yusuf merebahkan tubuhnya di tanah yang ditumbuhi oleh rerumputan. Matanya memandang ke langit malam. Di malam yang gelap seperti ini, aku seperti melihat pancaran cahaya dari mata Yusuf. Matanya benar-benar berbinar-binar bak bintang di langit. Senyum manis mengukir di wajahnya yang tampan itu.

“Tidur sini, Rez! Pertunjukkan akan dimulai,”katanya. Aku pun menurut saja.

“Pertunjukkan….”kata-kataku tak berlanjut. Karena Yusuf menyilangkan telunjuknya di depan bibirku.

“Tunggu dan lihat saja!”

“Lihat, Yus! Ada bintang jatuh,”aku terkejut karena melihat sebuah bintang yang jatuh.

“Itu masih belum apa-apa, Rez. Ini baru permulaan,”kata-kata Yusuf membuatku penasaran.

Setelah beberapa saat, ada satu lagi bintang jatuh di langit sana. Kemudian muncul lagi, lagi, lagi, dan lagi, hingga langit malam penuh dengan ribuan bahkan mungkin ratusan ribu bintang jatuh. Ternyata itu bukan sekedar bintang jatuh, tapi hujan meteor. Aku benar-benar kagum, hingga tak bisa berkata-kata lagi. Kurasakan ada yang menggenggam telapak tanganku dengan sangat eratnya. Aku sadar tangan itu adalah tangan Yusuf, tapi aku tak memerdulikannya. Aku masih terpaku melihat fenomena hujan meteor yang begitu menakjubkan itu.

“Banyak sekali bintang jatuhnya. Kalau begini caranya, aku bisa mengucapkan beribu-ribu permohonan,”kataku.

“Kenapa tidak kamu lakukan?”tanya Yusuf. Tangannya masih menggenggam tanganku.

“Ya, enggak mungkin lah. Itu kan bintangnya banyak banget. Kalau setiap satu bintang, aku harus mengucapkan satu permohonan. Itu kan bintangnya ada ribuan, masa’ aku juga harus mengucapkan beribu permohonan? Berbusa dong, mulutku,”

“Kamu enggak perlu mengucapkan beribu permohonan, Rez! Cukup satu permohonan saja. Maka bintang-bintang yang lain akan ikut memohon agar permohonanmu dapat terkabulkan. Coba bayangkan! Bila semua bintang jatuh itu ikut memohonkan permohonanmu, aku yakin pasti Tuhan akan mengabulkannya,”kata Yusuf sambil menatapku dengan matanya yang berbinar bagai bintang itu.

Jantungku berdebar kencang seperti genderang perang. Darahku memanas sepanas lava gunung berapi. Kalau saja di atas kepalaku terdapat lubang, pasti berliter-liter darahku akan menyembur keluar melewatinya. Mendadak Yusuf mendekatkan wajahnya ke wajahku. Langsung saja aku bangun dari tidurku dan duduk sambil melihat bulan melalui pantulan dari air danau. Melihat aku bangun, Yusuf juga ikut bangun dari tidurnya. Tiba-tiba saja Yusuf memelukku dari belakang dan pelukannya itu sangat erat kurasakan. Dapat kurasakan hangatnya hembusan napas Yusuf memenuhi leherku dan itu membuat dadaku terasa berdesir seperti debur ombak di lautan. Tangannya membelai lembut wajahku kemudian menghadapkan wajahku ke wajahnya. Perlahan tapi pasti, Yusuf mengecupkan bibirnya yang ranum di atas bibirku yang tipis, kemudian bibirnya itu mulai bermain-main dengan bibirku. Aku hanya diam, tidak melakukan penolakan ataupun membalas ciuman itu.

“Saat ini aku sedang ciuman dengan boneka manikin, ya? Sama sekali tidak ada balasan,”sindir Yusuf.

Aku tersenyum mendengar sindiran dari Yusuf itu, kemudian langsung saja kusambar bibir Yusuf yang merah dan ranum itu. Dan terjadilah pertarungan sengit antara bibirku dan bibir Yusuf. Lama sekali pertempuran itu berlangsung, tapi tak kunjung ada yang kalah. Dalam pertempuran ini aku tidak mau kalah, begitu juga dengan Yusuf. Kami berdua saling memertahankan diri, agar tidak tumbang. Aku sungguh tak menyangka, Yusuf yang biasanya begitu dingin padaku, kini malah berubah jadi begitu hangat, panas malahan. Sesekali hembusan angin malam menerpa tubuh kami dan dia pun mendinginkan jiwa kami yang panas oleh api cinta. Kemudian Yusuf memererat pelukannya sedangkan aku memainkan tanganku di leher dan rambut Yusuf, dan itu menyebabkan api cinta dalam jiwa kami semakin berkobar-kobar. Kami pun menyudahi ciuman kami dan merebahkan tubuh kami di atas tanah sambil menatap ke langit malam yang penuh bintang.


*****TAMAT*****

From : Cerita Kaum Pelangi

No comments:

Post a Comment