-------------------------------------
Hiduplah Sekali Lagi, Bu.
By. Robynokio
-------------------------------------
Thank's for mom
Thank's for mom
Di pagi yang begitu sepi tanpa banyak suara dari lantai bawah, tiba-tiba aku dikagetkan oleh teriakanku sendiri. Kepalaku pening, tertunduk ke bawah seperti ada bayang-bayang pekat meraksasa di kepala.
Aku berimipi kembali menjadi anak berumur 7 tahun, saat ibu masih hadir dalam setiap langkah hidupku. Saat setiap pagi tidak sesepi ini. Saat wangi masakan menyengat membuatku ingin sekali cepat-cepat melepaskan diri dari cengkraman selimut yang begitu hangat.
Ibu mulai menghembuskan napas terakhirnya pada saat aku berumur 10 tahun. Sebagai seorang laki-laki, aku tak ingin menangis karena keadaan ini. Mengertilah aku lelaki yang paling benci menangis. Hingga sudah bertahun-tahun rinduku kepada Ibu tak pernah aku luapkan. Aku biarkan ia bungkam di dalam dada. Terkubur dalam kegelapan, seperti halnya Ibu.
Dalam mimpiku tadi, aku sedang berjalan dengan Ibuku di kala senja lahir di antara saup-saup obrolan para penghuni komplek. Aku kembali ingat, dulu setiap sore kami selalu bergandengan tangan berjalan menuju taman. Taman itu selalu penuh dengan pedagang di kala senja, sehingga aku sangat senang saat ibu mengajakku menuju tempat itu karena aku boleh jajan sepuasnya.
Aku yang saat itu sedang bermain di taman tiba-tiba mencium aroma jagung bakar dari salah satu pedagang di taman. Sontak saja aku langsung meminta ibu untuk membelikannya.
Dengan tersenyum, Ibu pergi membelikanku jagung bakar. Kita duduk di sebuah kursi taman tepat di belakang dari pohon besar untuk menikmati sebuah jagung bakar.
Saat itu aku hanyalah seorang anak kecil, yang sedang dengan semangat memakan jagung bakar sehingga kini bentuknya menjadi acak-acakan. Saat aku melihat jagung kepunyaan ibu, aku merasa tertarik, karena ibu memakan rapih setiap biji jagungnya.
“Ibu, tukeran dong, aku mau jagung yang rapih.“ kataku egois.
Namun Beliau sambil tersenyum menukarkan jagunnya dengan jagungku.
Mimpi pagi ini membuatku benar-benar merindukan sosok Ibu yang telah lama pergi. Rumah besar ini menjadi tak terawat tanpa kehadiran ibu. Aku terduduk di atas kasurku, aku tersenyum sendiri saat mengingat mimpi tadi, dan bahkan aku tak kuasa meneteskan air mata. Ah sial! Aku menangis!
"Ibu, kapan kau pulang, Bu.” Tanyaku sembari mencoba menarik napas panjang dan menyeka air mata yang tak sengaja menetes ini.
Entah kenapa rasa rindu akan kehadiran Ibu begitu besar sekali hari ini, dan entah kenapa aku bisa mengingat segala kenangan yang sejatinya tak pernah aku mau ingat sebelumnya.
.
====
.
Tempatku terbangun sekarang ini adalah kamar Ibuku. Dulu setiap malam Ibu selalu hadir di sini, Ia rela terjaga berjam-jam hanya untuk melindungiku dari gigitan nyamuk. Tanganku mengusap pelan kasur yang di mana di situ pernah ada sosok seorang Ibu yang tertidur.
Aku menarik napas panjang sekali lagi, terduduk sebentar di pinggir kasur lalu berjalan ke luar. Saat berjalan keluar menuju ruang televisi, satu kenangan kembali tersirat dalam kepala.
Di atas sofa merah muda yang kusam itu, pernah duduk sesosok Ibu yang senantiasa membuka pelukannya saat aku baru bangun dari tidurku. Tapi tidak hari ini, sosok bayangan itu kian menghilang dari benakku. Bahkan saat aku bangun dari tidur tak ada lagi yang rela membuka pelukannya untuk memeluku.
Beberapa langkah kemudian, aku menghampiri kulkas kusam dua pintu berwarna abu abu. Kubuka perlahan kulkas itu dan tampak kosong di dalamnya, hanya ada botol air putih tersimpan di sisi lemari es. Keadaan ini sangat berbeda saat ibu dulu masih hadir di rumah ini. Potongan buah favoritku, semangka, selalu ada di dalam kulkas, dan berbagai macam permen selalu menghiasi setiap sisinya.
Tapi kini, bahkan aku tak melihat ada apa-apa di dalam sana.
Aku berjalan kembali, menuju sebuah dapur kusam untuk mencari sisa makanan bekas tadi malam. Dari seluruh tempat di rumah ini, dapur adalah tempat yang paling aku benci, aku paling benci jika mengingat sudah begitu usangnya dapur ini karena tidak lagi dipakai, tak ada yang memasak seperti dulu lagi.
Dulu setiap hari aku selalu mendengar seseorang sedang memasak. Namun tidak lagi. Aku rindu nasi goreng yang wanginya selalu menganggu tidur pagiku. Walaupun rasanya hambar, namun aku belum pernah menjumpai ada masakan seenak masakan Ibu.
Tanpa sadar air mata kembali mentes begitu saja. Aku benar-benar rindu Ibu. Sudah hampir 12 tahun berlalu tanpa Ibu, dan aku masih belum bisa ikhlas melepaskannya. Aku berjalan gontai keluar rumah seperti orang gila, tak peduli sudah seberapa terlambat aku untuk pergi bekerja hari ini.
Aku berjalan menuju pasar tak peduli berapa pun jauhnya pasar itu, aku terus berjalan, berharap menemukan Ibu di sana. Dulu Ibu setiap pagi selalu mengajaku pergi ke pasar. Namun sesampainya di sana tak kunjung aku jumpai sosok Ibu.
“Ah mungkin ada di tempat lain.” Pikirku.
Aku kembali berjalan dan kini aku pergi menuju rumah tanteku yang sudah kosong, berharap aku menemukan Ibu di sana. Namun sama seperti tadi, tak ada Ibu di sana.
“TAMAN!” Kataku yang tiba-tiba tersentak. “Taman. Ibu pasti ada di taman! mimpiku tadi pagi juga tentang Ibu di taman, aku harus ke taman.” Kataku dengan pikiran yang kian kacau
Aku berlari, kini aku berlari, ku kuras semua tenagaku berharap menemukan Ibu di sana. Sesampai di taman, aku langsung melihat ke segala sisi, mencari seseorang yang paling aku rindukan saat ini.
“Ibu, lihat, banyak pedagang baru, Bu, sekarang aku tak akan minta dibelikan Ibu lagi, aku sudah bisa menghasilkan uangku sendiri. Ibu, Ibu di mana? Ibu aku ingin ibu pulang. Aku rindu padamu, Bu.“ kataku sambil mendongakan kepala ke atas
Aku kini berjalan gontai, pikiranku sudah kembali normal lagi. Aku sudah menyadari bahwa kini Ibu bukan ada di dunia ini lagi, melainkan di surga. Aku berjalan terus hingga tanpa tersadar di depanku terdapat sebuah pohon besar. Pohon tempat di mana dulu aku dan ibu selalu duduk berdua menikmati matahari senja.
Melihatnya, entah kenapa hatiku begitu sakit. Berulang kali aku menggigit bibir agar tak menangis. Aku perlahan menghampiri pohon itu dan duduk di kursi yang sama. Aku terdiam menahan tangis, mirip seperti seorang anak kecil yang kehilangan Ibunya.
Saat sedang duduk termenung, tiba-tiba tercium aroma yang enak sekali, aroma itu sudah tampak tidak asing lagi bagiku. Ah, aku ingat, ini aroma jagung bakar. Ternyata aromanya masih sama seperti dulu.
Dengan cepat aku merogoh dompetku dan mendatangi pedagang jagung bakar tersebut
“Pak, beli 2 ya.” Kataku.
Warna jagung itu masih sama seperti dulu. Aku bawa jagung itu dan kembali duduk di tempat yang sama. Ku genggam satu jagung di tangan kiriku dan aku taruh satu jagung di sebelahku.
“Makanlah, Bu. Hari ini aku yang traktir. Aku membelinya dengan uangku sendiri loh, Bu. Ibu bangga kan sekarang? Ibu ke sini dong, temani aku di sini seperti dulu lagi. Pokoknya aku tidak akan mulai makan sampai Ibu datang.” Ucapku
Tetapi selang satu jam berlalu aku menunggu, Ibu tak kunjung datang.
“Ibu, kenapa ibu tidak datang? Aku tidak akan menukarkan jagung aku dengan jagung ibu lagi kok, bahkan aku bisa membeli seluruh jagung itu hanya untuk Ibu. Ibu tolong, kembalilah.” Air mataku menetes deras membasahi jagung yang tengah aku genggam.
Dan tetap tak ada siapa-siapa yang datang. Bahkan ketika anak kesayangan kecilnya ini menangis, ibu tetap tidak datang. Kenapa Tuhan begitu tega? Tak bisakah Tuhan mengizinkan Ibu turun sebentar dari surga dan duduk di sini memeluk aku?
“Ibu, aku ingin manja seperti dulu lagi. Aku tetap tidak akan makan sampai ibu tiba."
Dan akhirnya aku simpan jagung yang tengah aku genggam bersebelahan dengan jagung yang satu lagi.
Aku menangis, kini aku benar benar menangis, suasana taman yang ramai tampak tak aku pedulikan lagi. Aku tak malu lagi menangis demi Ibu, aku sekarang menangis dan berharap Ibu akan datang lalu merangkul dan mengusap air mataku.
Perlahan lahan, jagung yang menjadi saksi bisu itu kian mendingin, Tertiup hembusan angin taman layaknya sebuah kenangan yang tertiup jauh dan tak dapat kembali lagi..
PS: Teruntuk seorang sahabat baik dan untuk foto ibunya yang selalu ia simpan rapih di dalam dompet. Hingga hari ini.
Aku cerita aku merindukan Ibuku sangat. Aku menangis karena rindu, tapi tak kusangkan benar-benar aku tak mengira ceritanya jauh lebih sesak. Kita menangis berdua, kita sama-sama merindukan Ibu kita.
Kamu hebat, sobat. Di antara seluruh teman yang lain, Tuhan memilihmu untuk mengemban musibah ini. Karena Tuhan tahu di antara kita semua, saat itu kamulah yang paling kuat dan yang paling mampu.

No comments:
Post a Comment