"Maaf"
By. Shin
===============
Part : 01
Genre : BL Stories
Rate : 12+
===============
.
Ku buka gerbang pintu rumahmu. Tanpa permisi. Kenapa? Apa aku tak boleh? Aku biasa seperti ini, saat kau masih menerimaku. Saat kita masih biasa bermain bersama. Tidak untuk saat ini, di mana kau terus menghindariku.
Ku lihat Mbok Ijah yang tergopoh-gopoh menghampiriku. Wajahnya agak terkejut.
“Aldonya ada mbok.” Aku bertanya padanya, padahal aku yakin Aldo pasti ada di rumah.
Mbok Ijah yang setia menemaninya itu. Ramah dan keibuan.
Wajah Mbok agak tertunduk, ada gurat khawatir dari wajahnya.
“den, ada yang mau Mbok bicariin sama Aden.” Ucapnya pelan, setelah melirik kamar lantai dua yang berbalkon itu, kamar Aldo.
Mbok mengajakku duduk di teras. Ia hendak duduk di lantai, tapi langsung aku papah agar ia duduk dikursi juga sepertiku.
Wanita paruh baya, yang menjaga Aldo seperti keluarganya sendiri. Selalu ada untuknya.
Aku berterimakasih padanya, karena selama ini sudah ada untuk Aldo.
“Den Aldo sudah beberapa hari ini, nggak mau makan. Uring-uringan terus. Di dalem kamer terus, nggak mau keluar. Mbok udah bilang sama tuan, sama nyonya sama Mbak Sonya juga. tapi tetep aja, kaya gitu.
Den Aldo Cuma bilang iya. Tapi nggak pernah di makan makanannya”
Aku kaget mendengar ucapan Mbok. Jika sampai seperti itu. Mungkin masalahnya memang benar-benar besar.
.
Aku berjalan ke kamarnya, membawa nampan berisi sepiring nasi dengan lauk kesukaannya dan segelas air putih. Ku ketuk pelan pintu kamarnya dan langsung masuk.
“ada apa lo ke sini?” Tanyanya langsung tertuju. Dia tau jika ini aku.
Ia duduk di ranjang, menghadap balkon. Tak membalikkan tubuh untuk melihatku. Aku menghampirinya, duduk di sebelahnya. Ia tak melihatku. Matanya terpaku melihat ke luar sana.
“hei, makan dulu yuk” ucapku juga tanpa basa-basi. Nampan yang kini ada di atas pahaku. Berusaha aku sodorkan padanya.
Aku melihatnya, ku perhatikan wajahnya yang terlihat tirus. Anak ini.
“lo ke sini Cuma mau nyuruh gua makan? Heh, Mbok pasti udah cerita sama lo.” Ucapnya dengan seyum sinis.
“iya,” aku hembuskan nafas dan kupasang senyumku. “sekarang makan dulu.” Ucapku pelan padanya. Ia hanya diam tak menanggapi.
“nanti gua makan, taruh aja di meja.” Ucapnya dingin.
“taruh di meja? Kan gua ke sini Cuma mau liat lo makan.” Ucapku pelan, tak mau menuruti perkataanya.
Ia menatapku, dan langsung membuang muka. Diam cukup lama, aku juga tak berkata apa-apa. Aldo Mengambil sepiring makanan yang sejak tadi ada di pangkuanku.
Kau memakannya, pelan dan lahap. Aku senang, paling tidak kamu makan. Kamu mau makan. Jangan menyiksa diri lagi. Jika melihat kondisimu yang seperti ini. Untuk masalah yang merisaukanmu itu. Aku tak peduli lagi, aku terima jika kau tak mau menceritakannya padaku. Aku terima. Asalkan kita bisa seperti dulu lagi. Asal kan kita bisa bersama lagi.
Aku takkan menuntut banyak padamu. Aku tidak akan. Tapi aku mohon jangan menghindariku lagi.
Memakannya bersih tanpa sisa. Menengguk air di gelas hingga habis. Terimakasih.
“lo udah liat gua makan kan.”
Dia ingin mengusirku sekarang. Aldo Aldo. Tak apalah. Paling tidak, kau sudah makan.
“okeh, gua udah liat lo makan. Gua cabut sekarang.” Aku berdiri, membawa nampan yang telah bersih. Sebenarnya aku tak mau pulang. Tapi, karena kau tak mengharapkanku di sini. Maka, aku harus pergi.
Aku pergi, berjalan dan melihat sekeliling kamar. Masih seperti biasanya. Rapih dan tertata. Ruang tidur yang luas dan nyaman. Hanya saja saat ini, terasa kaku dan berbeda. Suasana yang kaku. Dan terasa sedikit sakit di sini, dadaku terasa sakit. Hatiku terasa sakit.
Karena kau tak menginginkanku ada di sini.
“fan” kau memanggilku. Aku berbalik “iya”.
“kenapa lo nggak pernah terima tiap ada cewe yang nembak lo?” pertanyaan yang seperti ini, kembali ia bahas. Aku melihatnya, bertanya tanpa mau melihat ke arahku.
“kenapa ya? Eehhmm, emang gua nggak tertarik kok sama mereka.”
“kenapa lo nggak tertarik?”
Kenapa? Aku tak tau harus menjawab apa. Aku tak tertarik, ya- aku tak tertarik. Hanya itu saja. Tak ada penjelasan lebih. Aku masih tak mengerti kenapa ia menanyakan hal itu padaku. Kenapa harus menanyakan hal itu.
aku dan Aldo, kita sama. Tipe anak yang menarik di mata perempuan. Ada beberapa anak perempuan yang menyatakan suka padaku, dan itu lumayan. Tak ada satupun dari mereka yang aku terima. Semuanya aku tolak, karena aku merasa meraka itu biasa saja. Tak menyenangkan. Aku lebih baik bersamamu seharian penuh, dari pada harus menerima mereka.
Tapi kau berbeda, semua pernyataan cinta itu. Kau terima. Kau jadikan mereka pacar. Cap playboy juga kau sandang. Kau memacari mereka tak lebih dari 2 minggu. Membuat mereka menangis dan patah hati. Kau keren sekali. Tapi anehnya. Tak ada yang jera untuk jadi pacarmu.
“kenapa?” kembali ia bertanya. Membuyarkan apa yang sedang aku pikirkan.
Ku lihat ia berdiri, berjalan ke arahku. Kembali menatapku dengan pancaran sendu itu. Kita hanya diam, saling menatap. Lama, ternyata lama.
Ia mengambil nampan yang sejak tadi aku pegang. Menaruhnya di atas meja yang ada di samping ku. Ia kembali berjalan mendekatiku.
Seperti saat itu, melingkarkan tangannya di pinggangku. Mendekap tubuhku erat. Menaruh wajahnya dibahuku.
Bisa kurasakan jantungnya yang berdegup dengan kencang. Nafasnya yang menyapu telingaku. Hangat dan cepat.
“lo nganggep gua Cuma teman kan? Lo nganggep gua Cuma teman kan?”
Kalimat yang keluar berulang-ulang itu kembali muncul. Sama seperti saat itu. Kenapa ia menanyakan itu padaku? Kita teman. Kita sahabat. Kau teman terbaikku.
Ku usap punggungnya seperti saat itu. Ku taruh juga wajahku di bahunya. Kita saling memeluk sekarang.
Peluk aku, seerat yang kau mau. Luapkan semua rasa gundah yang menggelayutimu. Mungkin kau tak mau berkata lebih. Jika sebuah pelukan erat ini bisa meringankanmu, peluk aku selama yang kau mau.
“kita temen, kita emang temen. Gua nganggep lo sebagai temen baik gua.”
Cukup lama ia memelukku, tepanya kita saling memeluk. Ia melepaskan pelukannya. Menatapku lagi.
Menyentuh pelan pipiku. Aku agak canggung sebenarnya. Saat Ia menyentuh pipiku. Menggerakkan ibu jarinya mengusap tulang pipiku.
.
Aku merasa canggung. Aku merasa malu melihatmu seperti ini. Tapi aku berusaha untuk tetap tahan. Aku tak mau kau- aku tak tau, aku tak mau kau seperti apa.
Ia mendekatkan wajahnya padaku. Itu membuat jantungku berdegup makin kencang. Dan aku merasa, wajahku memanas? Apa aku marah? Tidak, bukan marah. Rasa malu dan aku merasa gugup. Aku merasa malu? Kenapa?
Untuk beberapa detik, kau terus melakukan itu. Kita diam- saling menatap. Aku tidak menepis atau menampik apa yang kau lakukan sekarang. Aku hanya diam. Aku merasa ada sesuatu yang berbeda.
Rasa haru dan debaran. Debaran??? Aku berdebar??? Kenapa?
“ini masalahnya.”
Aku tak menggubris apa yang kau katakan. Suaramu terasa begitu pelan. Belum pernah aku merasakan hal ini sebelumnya. Aku hanya bisa berdiri kaku, tak tau harus melakukan apa.
Aku merasa . . . . tak ingin cepat berakhir. Biarkan waktu berhenti dan aku bisa terus menatapmu seperti ini. Tapi kenapa? Kenapa??
Kau menutup matamu, mendekatkan wajahmu jauh lebih dekat. Kurasakan ujung hidungmu menyentuh hidungku. Apa yang terjadi sekarang.
Aldo, apa kau ingin menciumku?
Ku rasakan hidungmu bergerak menyentuh pelan hidungku, menyentuh pipiku dan . . . bibirmu mencium bibirku.
Kau menciumku??
Bibirmu sedikit menekan bibirku. Aku hanya diam.
Dan aku tak menolak??
Kenapa???
Ada apa denganku???
.
Aku duduk di tepian ranjang. Kita hanya duduk. Peristiwa tadi sangat mengejutkan.
Aku teguk segelas jus Alpukat yang Mbok bawakan untuk kita. Ku pegang gelas itu dengan erat. Ku mulai berpikir. Itu maksud dari kalimat yang kau ulang-ulang tadi? Saat kau memelukku.
“maaf” kata maaf kau lontarkan.
“untuk apa?” untuk kejadian tadi? Untuk apa kau minta maaf? Aku juga tidak menampik saat kau melakukan itu. Jadi, bukan hanya kau saja yang harus meminta maaf, aku juga. karena hanya diam, tak melakukan apapun.
Ruangan yang sunyi ini, telah melihat apa yang kita lakukan tadi. Dinding bergeming, mungkin ia melihat. Semuanya, jadi saksi bisu. Benar kan?
Mereka bisu, tidak bisa menceritakan apa yang baru saja terjadi. Mereka takkan bercerita pada siapa pun kan??
“ini, alesan lo ngehindarin gua?” aku mencoba mengawali. Karena ia hanya diam.
“gua nggak ngganggep lo Cuma temen. Lo yang selalu ada buat gua. Perhatian lo, tingkah lo -Gua ngerasa kacau. Gua sadar, gua emang nggak beres.” Aldo diam. Menghela nafas panjangnya. Menahan sesuatu. Apa yang kau tahan? “Gua nggak suka, liat lo deket sama cowo lain. Gua selalu lemes, gua takut kalo lo nerima cewe-cewe yang nembak lo. Gua takut, lo nerima salah satu dari mereka. ” Suaranya pelan dan parau, wajahnya memerah.
Itu yang ada dalam pikiranmu? Kau yang mengungkapkan perasaanmu padaku. Kau yang kini berada di sampingku dan mengatakan bahwa kau menganggapku lebih dari teman.
“itu, alesan lo ngindarin gua?” kembali aku mengulang pertanyaan itu.
tapi, jika hanya karena takut aku menerima salah satu dari mereka. Ia tak perlu menghindariku, pasti ada alasan lain. Alasannya- karena kamu suka- sama- aku.
“itu karena lo!”
Iya jelas karena ku. Aku tau itu. Tapi kenapa? Belum jelas alasannya kau menjauhiku. Itu bukan jawaban. Atau mungkin, karena kau menyukaiku- kau berusaha menghindariku?
“gua tau, lo juga sama kaya gua.” Ucapnya sambil tersenyum. Tapi untuk apa senyum itu, jika ia sambung dengan tawa yang tak menyenangkan.
“gua sama?” apa aku juga. . . tunggu Do, aku tidak paham.
Pikiranku sekarang tumpang tindih. Tak mengerti dan tak paham. Dengan kondisiku sendiri. Dari reaksiku yang tak menepis saat kau menciumku. Jantungku yang berdebar dengan cepat, rasa malu, gugup rasa canggung, Kekhawatiranku. Pikiranku yang penuh akan dirimu. Bagaimana denganku? Bagaimana denganku?
“lo nggak pernah nyadar, tentang kondisi lo sendiri. Perhatian lo ke gua, itu yang nunjukin kalo lo juga nggak nganggep gua Cuma temen. Dan itu yang bikin gua kacau.”
Tunggu, jadi- aku- . .
Bodoh.
Bagaimana bisa ada orang yang sebodoh diriku? Yang tak mengerti dengan kondisi diri sendiri.
Ia yang kini tertunduk. Memalingkan wajahnya. Melihat ke arahku.
“gua kacau. dan itu semua, gara-gara lo”
Gara-gara aku? Wajahnya yang tadi tertunduk kini tersirat menyalahkanku. Kau menatapku tajam- penuh rasa kesal. Kau menyalahkanku?
Tunggu, setelah membuatku bingung. Dengan rasa sadar yang tertinggal. Kini kau menyalahkanku? Kau yang mengatakan bahwa aku juga menganggapmu lebih dari teman. Kau juga yang menciumku, dan jelas kau menyukaiku.
Sekarang kau menyalahkanku?
Aku. . Aku yang tak peka terhadap diri sendiri? Aku mengenaskan. Oh tuhan, kenapa aku begitu bodoh. Tak mengerti, bahwa selama ini aku menyukainya.
Wajah lesunya kini berubah, ia menggebu merona merah dam marah.
Tapi kenapa do? Kenapa kamu terlihat begitu marah padaku? Gara-gara aku? Apa maksudnya?
“Gua peluk, lo diam. Lo tenang kan? Tapi gua nggak. Karena dalam pikiran lo, lo mikir kita temen. Lo sadar nggak sih, perhatian lo, ambigu di mata gua. Perlakuan lo bikin gua mikir, gua- kalo gua nggak beres. Gua ngerasa tertekan sama perasaan yang gua punya.”
Karena kebodohan ku, karena aku yang tidak peka. Itu yang kau pikir membuatku tenang. Kau berpikir bahwa aku ini orang yang sangat bodoh. Begitu kan?? Ya, tapi kamu benar Do. Kamu benar. Dan maaf sekali, ternyata aku memang- bodoh.
“gua selalu mikir. Apa lo sengaja bikin gua kaya gini? Tapi muka polos lo nunjukin kalo lo tuh emang bego. Lo emang tulus.”
Aku tak tau, kenapa kau berpikiran seperti itu. Sungguh aku tak memiliki maksud lain dalam perhatian yang aku berikan. Tapi jika ternyata kau mengartikan demikian. Aku . . .
“gua bingung, kenapa gua nggak ngerasa seneng dengan perasaan yang gua punya. Kenapa gua ngerasa tertekan. Kenapa gua ngerasa idup gua nggak beres. Lo yang bikin gua kaya gini.”
Lagi, kalimat yang kau lontarkan adalah kalimat yang menyalahkanku. Kau benar-benar menyalahkanku.
“lo tau nggak sih, gua senyam-senyum mikirin lo. Lo lagi apa? Ngapain? Tapi rasa jijik timbul dalam diri gua. Gua cowo dan gua mikirin cowo. Gua nggak terima kondisi gua kaya gini. Kenapa gua harus kaya gini? Tapi mau gua pungkiri segimanapun juga. ternyata ini gua.”
Do, aku tak pernah tau jika ternyata kau benar-benar merasa terbebani. Aku tak pernah tau, jika kamu memikirkanku seperti itu.
‘Aku merasa jijik’? Kenapa?
Tak pernah sekalipun aku merasa jijik pada diri sendiri. Saat aku memikirkanmu, saat aku mengkhawatirkanmu. Aku tak merasa jijik. Karena saat itu aku bodoh, aku yang bodoh tak menyadari bahwa aku, menyukaimu. Apa- jika saat itu aku sadar bahwa aku menyukaimu. Saat aku memberikan perhatian padamu, saat aku terus memikirkanmu. Apa mungkin, aku juga akan merasa jijik pada diriku sendiri?
“gua selalu berpikir, kalo lo harus nggangep gua Cuma temen. Gua nggak mau nyalahin lo. Tapi nyatanya. Lo emang nggak kaya gitu. gua berharap tadi lo nonjok gua. Biar gua nggak nyalahin lo lagi.”
Itu tak mungkin terjadi, tak pernah terpikir sedikitpun aku memukulmu. Melayangkan tinjuku padamu.
“maaf” kata maaf ini, aku lontarkan. Membalas semua kalimat panjang lebarmu.
Kau menatapku tajam, saat aku meminta maaf padamu.
“lo sengaja? Lo bikin gua dalam posisi pecundang. jangan kaya gitu, lo malah bikin gua makin tertekan. Sialan lo. Lo sengaja jadi candu buat gua kan? Lo sengaja biar gua kaya gini kan?”
“maaf Do, gua nggak ada maksud untuk itu.” Aku selalu ada untukmu, bukan bermaksud untuk seperti itu.
“BUAT APA LO MINTA MAAF” kau berteriak kencang padaku.
Kau menatapku dengan penuh benci. Berdiri tepat di depanku. Urat lehermu mengeras. Nafasmu memacu tak menentu. Begitu besarkah rasa tertekan yang kamu miliki, karena menyukaiku?
Tanganmu mengepal. Tak apa, pukul saja aku. Luapkan semuanya saat ini. Tapi- kau duduk kembali. Duduk tepat dihadapanku. Menunduk, tak mau melihatku. Linangan bening itu pun, membasahi pipimu.
“gua pikir, dengan nyalahin lo karena kondisi gua saat ini bakal bikin tenang. Tapi nggak. Jadi gua harus gimana? Gua mau tenang. Gua nggak tahan tertekan.”
“gua pikir, dengan ngindarin lo. Perasaan gua bisa beres lagi. Tapi itu Cuma pikiran gua. Karena ternyata, ngindarin lo malah bikin gua kacau.” Dia tertawa. Mungkin mentertawakan kondisinya.
“gua pikir dengan nyalahin lo,perasaan gua bakal balik. Gua pikir semuanya bakal baik lagi. Tapi ternyata nggak.”
Do, aku sungguh tak mengerti. Kenapa kau begitu tertekan dengan rasa yang kau punya? Karena, suka ya suka. Cinta ya cinta. Kenapa harus ada rasa tertekan di dalamnya.
Aku tak mengerti, kenapa kau harus merasa tertekan.
Dan, apa alasannya kamu tidak mau menerima rasa yang tumbuh dalam hatimu- untukku?
Ya, kau yang membuatku tau bagaimana sebenarnya diriku.
Kau yang kini tertekan, dan kau pikir semuanya terjadi karena ku.
Kau menyalahkan ku, karena pemberian perhatianku padamu. Apa mungkin, aku- sejak dulu menyukaimu? Aku yang meberikan perhatian ini, atas rasa suka yang kumiliki padamu? Dan aku tidak menyadarinya?
Maaf, jika ternyata. Aku yang membuatmu seperti ini.
Maaf, jika aku telah membuatmu menyukaiku. Maaf, jika ternyata hal itu membebanimu.
Meskipun, aku masih tidak mengerti. Kenapa kau harus merasa tertekan. Kenapa kau harus merasa terbebani? Kenapa kau tidak bisa menerima kondisimu sendiri?
Aku takkan bertanya lebih, karena memang aku yang membuatmu seperti ini. Kondisi yang kau anggap menjijikan.
Baiklah. Aku bisa sadar sekarang. Dan aku katakan, aku mencintai mu. Dan kau juga mencintaku.
Tapi, kenapa ada rasa tertekan dalam dirimu, karena rasa suka yang kau miliki.
Kau yang kini menundukkan wajah. Terus melinangkan bongkahan bening itu.
Kau yang terlihat sangat tertekan. Dan entah tekanan apa itu. Apa mungkin kondisi yang tidak bisa menerima diri sendiri, yang membuatmu tertekan? Begitu mengerikankah saat kau sadar bahwa kau mencintaiku?
Ku peluk tubuhmu erat, dan kau kini menangis dalam pelukanku. Kupeluk kau dengan hangat. Jelas sekarang, pelukanku tidak ambigu lagi. Pelukanku adalah karena aku mencintaimu.
“maaf, aku minta maaf.”
Kau hanya menangis, menaruh kepalamu di dadaku. Kau menangis tanpa henti.
Aku mohon jangan menangis lagi.
"The End"
From : Cerita Kaum Pelangi
From : Cerita Kaum Pelangi

No comments:
Post a Comment